
Suasana di gedung kantor pusat Wahana group.
Di dalam ruangan presdir, Brian tampak sedang menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya itu satu persatu. Terlebih dahulu ia membacanya dengan teliti dibantu pula oleh Billy.
"Apa agenda kita Selanjut nya, Bill?" tanya Brian setelah selesai menandatangani berkas terakhir untuk hari itu.
"Kosong. Untuk hari ini sudah selesai dan kita bisa secepatnya pulang beristirahat."
Brian mendesah panjang. Ia lantas berjalan menuju sofa lalu membaringkan tubuhnya di sana.
"Entah kenapa, hari ini aku tak ingin pulang cepat."
"Hem?" Billy menautkan alisnya heran sebelum kemudian melanjutkan tanya. "Apa kau berniat mengunjungi orang tuamu?"
"Tidak. Tidak sekarang."
Sebenarnya bukan itu yang di inginkan Brian.
"Lalu?" Billy bertanya penasaran. Namun, belum sempat Brian menjawabnya, ia lebih dulu meralat ucapan seolah-olah tahu apa yang saat ini tengah Brian pikirkan.
"Ya ya ya. Aku tahu apa yang kau inginkan."
"Apa?" desak Brian seperti tak terima.
"Kau merindukan dia."
"Cih. Kau mengada-ada," sangkal Brian, tetapi sama sekali tak mengubah pandangan Billy tentang ini.
"Bagaimana dengan orang suruhanmu?Apa dia berhasil?"
"Sudah. Ternyata yang dikatakan Mayang memang benar adanya. Ibunya sedang sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit XX,"
"Benarkah?" Tiba-tiba terbesit rasa bersalah di hati Brian. "Ceritakan padaku saat kau menemukannya kemarin."
"Okay. Aku menemukan Mayang saat ia berada di stasiun bus antar kota. Aku melihatnya sedang digandeng dua pria. Awalnya aku sempat berpikir jika mereka itu berteman. Namun, setelah kuamati pegangan mereka seperti dipaksakan, lalu dari situlah aku menyimpulkan kalau ternyata ada niat tak baik dari dua orang itu.
Saat aku, aku nyaris turun tangan hendak merebutnya dari berandalan itu, tapi melihat Mayang bisa setenang itu menghadapi mereka, jadi aku bisa apa selain nonton dari kejauhan? Pada akhirnya aku tau, ternyata Mayang memang tidak bisa diremehkan begitu saja."
"Oh ya?" sahut Brian begitu antusias. Matanya tampak berbinar dan ingin mendengarnya lebih banyak lagi.
"Mayang berhasil melumpuhkan kedua orang itu hanya dengan beberapa pukulan saja. Keren, bukan?
"Wow." Brian tampak semringah. Ia seperti mendapatkan angin segar mendengar hal ini. Satu nilai plus lagi untuk Mayang.
"Dia memang gadis yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Memang terbukti kan, dia bisa lepas dari penjagaan para pengawal kita yang begitu kerat."
Brian dan Billy tergelak bersamaan mengingat itu. Lalu kemudian mereka sama-sama terdiam setelah puas tertawa.
"Apa kau sudah tau siapa yang berniat menculiknya?"
"Rival kita."
"Sudah kuduga!" Brian bereaksi cepat dengan mengepalkan jemari tangannya. Emosinya langsung memuncak mendengar apa yang sudah ia duga keluar dari mulut Billy.
"Dia tidak akan berhenti untuk menjatuhkanku. Selama ini aku sudah terlalu sabar menghadapinya. Dia pikir kita tidak tau apa yang sedang direncanakannya! Ternyata diam-diam dia juga menyelidiki Mayang."
__ADS_1
"Apa perlu aku bereskan dia sekarang?"
"Tidak. Jangan sekarang. Aku ingin lihat sampai sejauh mana dia akan menggangguku." Brian menghela nafas panjang saat menjeda ucapan. "Sekarang yang terpenting Mayang berada di tempat yang aman tanpa orang lain tahu." Ia menoleh ke arah Billy sebelum kemudian memanggilnya. "Bill"
"Ya."
"Apa sikapku sudah keterlaluan kepadanya?"
"Kurasa tidak. Kau sudah melakukan hal yang semestinya."
"Sedang apa dia sekarang ya? Apa dia masih ketakutan dengan kata-kataku tentang buaya itu?"
"Lihatlah sendiri apa yang sedang dia lakukan saat ini." Billy menyodorkan ponselnya kepada Brian. Layar benda pipih itu menampilkan video seorang gadis bersurai panjang yang dibiarkan tergerai dengan kemeja putih lengan panjang. Dia tampak sedang duduk di atas sofa sambil memeluk lutut. Dengan wajah murung, ia tengah menatap ke luar jendela.
Sudut bibir Brian terangkat sempurna kala melihatnya. Setelah puas hati, ia lantas mengembalikan hp itu pada Billy.
"Aku ingin melihatnya secara langsung." Brian menatap Billy penuh tuntutan.
"Okay. Kita akan segera ke pulau." Dan Billy yang maha tau dengan segala yang diinginkan tuan mudanya itu pun langsung mengerti.
"Siapkan juga beberapa buku. Sepertinya dia sudah mulai bosan berada di sana."
"Baik."
***********
Mayang hanya duduk terdiam, tak banyak hal yang bisa ia lakukan di sini. Sepanjang hari ini, ia hanya duduk termenung memikirkan ibu yang sedang sakit, bahkan melupakan nasib dirinya sendiri kedepannya nanti seperti apa, ia tak peduli.
Satu hal yang ia inginkan saat ini, yaitu bertemu dengan ibunya walau hanya sekejap. Atau sekadar saling sapa melalui telepon pun tak apa. Sayangnya, satu-satunya ponsel yang dimiliki pun disita. Membuatnya sudah seperti patung bernyawa tanpa bisa melakukan apa-apa.
Karena terlalu larut dalam lamunannya, Mayang bahkan tak sadar oleh kehadiran seseorang yang rupanya telah sejak tadi mengamatinya dari kejauhan.
"Ehemmm!" Suara dehaman Brian sukses membuyarkan lamunan Mayang. Gadis itu terlonjak dari duduknya sehingga berdiri begitu saja.
Tuan Brian? Benarkah yang kulihat ini?
Mayang mengucek-ngucek mata, seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ini benar-benar dia, bukan? Lantas untuk apa dia datang?
Belum selesai dengan perang batin di hatinya, Brian sudah lebih dulu bergerak mendekatinya. Tindakan Brian itu terang saja membuat gadis itu kikuk tak karuan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Brian mendekati jendela itu lalu duduk dan memandang ke luar, persis seperti yang dilakukan Mayang tadi. Kemudian ia mengerutkan kening dan mencebik sebelum akhirnya melanjutkan kata. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja, ternyata nyaman juga duduk seperti ini."
Tak berani menjawab dengan kata, Mayang justru terlihat salah tingkah dibuatnya.
"Apa buayanya terlihat dari sini? Sepertinya kau suka sekali duduk di sini."
Mayang tersentak mendengar kata-kata itu. Seketika ia mengangkat dagunya karena terkejut, tapi di detik lain ia pun lagi-lagi tertunduk. Ia benar-benar tak memiliki nyali untuk menatap tuan muda yang terkesan tengah mengintimidasi dirinya.
Wajah mayang tampak semakin pucat kesi, bayangan mulut buaya yang terbuka lebar dan giginya yang sangat tajam kembali menghantui pikirannya.
Tubuh mayang semakin lemas, dan brug!
Mayang terduduk dan bersimpuh tepat di depan kaki Brian. Dengan tangan gemetar, ia memeluk kaki itu dan memohon dengan sangat.
__ADS_1
"Tuan ampuni saya." Tangisnya pecah seketika. "Saya tak mau jadi santapan buaya! Saya tidak mau tubuh saya rusak dicabik-cabik oleh gigi buaya yang tajam itu! Melihatnya saja saya takut, apalagi jadi santapannya."
Bukannya iba, Brian justru terpingkal melihat Mayang menangis sedu sedan. Bagaimana tidak. Brian bukannya merasa melas tetapi justru merasa gemas.
Dasar bodoh. Sapa juga yang akan menjadikanmu santapan buaya.
Entah mengapa, tiba-tiba Mayang merasa aneh dengan sikap Brian yang seperti sedang menahan tawa.Seketika ia menghentikan tangis dan menyeka air matanya.
Mendongak menatap Brian, ia lantas melontarkan pertanyaan.
"Tuan. Apa Anda sedang berusaha menahan tawa? Apa tangis saya ini terlihat lucu di mata Anda?"
"Bukannya lucu, tapi kamu makin terlihat jelek saja saat menangis," ujar Brian sambil mencolek hidung Mayang.
"Jelek, ya?" gumam Mayang polos, dan itu membuat Brian lagi-lagi tertawa.
"Kemari. Duduklah di sini." Brian membantu Mayang berdiri lalu membimbing gadis itu duduk di sampingnya. Sambil mengusap pipi Mayang menggunakan ibu jari, ia pun berkata. "Hapus air matamu."
Meski bingung dengan sikap Brian yang berubah-ubah terhadapnya, akan tetapi Mayang hanya bisa pasrah menerima segala perlakuan pria itu. Dan ketika dilihatnya Brian tengah merogoh saku dan mengeluarkan sebuah ponsel dari sana, seketika matanya langsung berbinar bahagia.
"Hubungi keluargamu," titah Brian seraya menyodorkan ponsel Mayang pada pemiliknya.
***
Selagi Mayang melepas rindu pada keluarganya melalui VC, Brian memilih menjauh demi menjaga privasi Mayang. Ia menyibukkan diri dengan membuka laptop dan memeriksa pekerjaannya.
Di sisi lain, Amara yang sudah beberapa lama berbincang dengan orang tua dan adiknya tampak terkejut mendengar pengakuan mereka.
"Kak, makasih buat hadiahnya, ya. Kakak perhatian sekali beliin kami macam-macam. Kami sukaaa sekali," ujar Weni dengan mata berbinar bahagia.
"Hadiah?" Mayang menautkan alisnya.
"Iya, hadiah." Weni membenarkan. "Hadiah yang Kakak kirim untuk kami di rumah sakit ini."
Ini pasti tuan Brian pelakunya. Mayang membatin.
Beberapa lama kemudian pembicaraan jarak jauh pun berakhir.Keluarga itu kini di liputi rasa bahagia.Mayang menyusul Brian yang sepertinya berada di ruangan itu.Ia berniat ingin mengucap kan terima kasih kepada lelaki itu.
Brian tampak sedang berdiri di depan jendela sambil melmsndang keadaan di luar.Ia sengaja memberi Mayang ruang agar bisa bercengkerama dengan keluarga nya tanpa canggung.Tanpa keberadaan diri nya di situ.
Mayang diam sejenak saat pandangan matanya menemukan orang yang di cari nya.
Tanpa rasa canggung dan malu karena sedang merasa bahagia, Mayang tiba-tiba memeluk mesra Brian dari belakang.
Brian yang tak menyangka merasa terkejut diri nya di peluk dari belakang.Dia pun tak menolak atau pun berontak.Dia malah tampak menikmati hangat nya pelukan itu.
"Tuan.. terimakasih atas kebaikan anda pada keluarga saya tuan.."Ucap Mayang lirih,tulus dari dalam hati dan masih belum melepas pelukan itu.
Brian merespon dengan melirik ke belakang.
Ia bahkan bisa melihat bayangan diri nya di peluk Mayang dari pantulan cermin.Dada nya tiba-tiba berdebar sangat kencang.
"Apa-apaan kamu!lepas kan tangan mu dari tubuh ku sekarang juga."Brian tak ingin Mayang menyadari dentuman jantung nya yang mulai tak beraturan itu.Tapi ia bahkan takmau melepas kan nya sendiri.
Mayang reflek langsung melepaskan pelukan nya karena dia juga merasa telah melewati batas."Maaf kan saya tuan,saya terlalu bahagia hingga saya lupa.. maafkan saya tuan..."Mayang tertunduk oenuh penyesalan.Ia tak mau di hukum lagi.
__ADS_1
Bersambung