Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Hanya mimpi


__ADS_3

"Sayang awas!"


Gubrak! Suara sebuah benturan pun terdengar. Dahi Milly membentur tiang di depannya sebelum kemudian membuat gadis itu oleng dan terpental ke belakang. Entah bagaimana bisa Milly lupa kalau ia tadi sedang berdiri di samping tiang penyangga lampu taman.


Billy yang panik segera mendekati istrinya dan berjongkok di samping Milly yang tengah selonjoran. Gadis itu meringis sambil mengusap pelan pelipisnya yang mendadak memerah lebam.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya sambil ikut mengusap dahi istrinya. "Aku sudah berusaha memperingatkanmu, Sayang, tapi kau tak mengindahkannya."


"Aaa ,,, sakit ...," lenguh Milly kesal sambil mengarahkan pandangan ke arah Billy penuh peringatan. Entah dia sebagai wanita maunya apa, meski Billy sudah melakukan hal yang benar, tetap saja salah di matanya.


"Iya, iya Sayang. Aku urut pelan-pelan, ya. Di bagian mana yang sakit?" tanya Billy dengan ekspresi wajah serius, sementara pandangannya mengamati setiap inci wajah istrinya dengan begitu teliti.


"Di sini," jawab Milly dengan nada manja sambil menunjuk keningnya.


Billy tersenyum lembut. "Keningmu memerah, Sayang." tuturnya dengan nada khawatir.


"Sakit ,,," lagi-lagi Milly mengeluh sambil memberengut manja. Entah disadarinya atau tidak, tingkah kekanakannya itu justru membuat Billy semakin gemas.


"Kemari, Sayang. Biar aku obati."


"Obat?" Milly mengerjap-kerjap tak mengerti. Pandangannya menyisir ke sekeliling dan tak menemukan apapun di sekitar mereka, bagaimana bisa Billy mengatakan akan mengobatinya? Lantas ia pun mendongakkan kepala dan mendapati sepasang netra yang tengah mengamatinya sambil mengerlingkan mata. "Kau bilang obat? Mana obatnya?" tanyanya kemudian dengan ekspresi penasaran.


Dengan senyuman yang masih terpatri, Billy yang tengah berjongkok dengan satu lutut bertumpu pada lantai itu bergerak perlahan menangkup wajah istrinya dengan penuh kelembutan. Sementara Milly yang sempat kebingungan hanya bisa bersikap patuh dan pasrah, membiarkan Billy melakukan apa yang dia mau. Rupanya dahi yang kepentok tiang ini membuatnya sadar dan kapok untuk membangkang.

__ADS_1


Menatap istrinya yang memejamkan mata, Billy semakin dibuat terpesona dengan keindahan yang tersaji di depannya. Alis indah bagai bulan sabit yang menaungi dua iris coklat yang berkilau indah setiap kali menatapnya meskipun dalam keadaan marah. Sementara ujung hidung lancip itu begitu sempurna berpadu dengan bibir mungil yang memerah ranum.


Billy meniup lembut dahi lebam sang istri beberapa kali. Sempat dilihatnya bibir Milly yang menipis hingga memperdalam lesung di pipinya. Embusan angin yang menerpa keningnya terasa sejuk, cukup mengurangi rasa nyeri yang kini dirasakannya.


Kelopak mata yang terpejam rapat itu mendadak terbuka dan membelalak seketika kala sebuah sentuhan benda kenyal mendarat lembut di keningnya. Agak lama, hingga pipi Milly terasa memerah akibat kecupan panas bibir Billy yang menyatu lembut di keningnya.


Dua pasang netra penuh cinta saling menyapa kala Billy menyudahi kecupannya. Pria berhidung bangir dengan rahang tegas itu menunduk, dan menghadiahi senyuman semanis madu pada istrinya yang masih terlihat linglung.


"Apa masih sakit?" tanya Billy seraya menyibak untaian rambut yang membingkai wajah cantik istrinya, lantas menyelipkannya ke belakang telinga.


"Huum ,,," Milly mengangguk samar.


Tanpa aba-aba Billy kembali mendaratkan kecupannya di sana. "Lagi?" tanyanya kemudian dengan nada menggoda.


Melihat Billy yang hanya tersenyum membuat Milly seketika mengibaskan tangan dan tertawa terpingkal. "Hahaha, jangan pikir aku gila karena benturan tadi ya, aku hanya bercanda saja. Sudah lama aku tidak tertawa jadi aku tak ingin sampai lupa bagaimana caranya."


Benar-benar alasan yang tak masuk akal yang dipilih Milly sebagai bentuk pengalihan rasa malu. Gelak tawa kencang itu jelas-jelas terdengar dipaksakan.


Cup! Billy membungkam bibir mungil yang tergeletak kencang itu menggunakan bibirnya dengan tiba-tiba hingga Milly benar-benar bungkam dan tak lagi bersuara. Hanya matanya yang membulat sempurna karena dikuasai keterkejutan yang luar biasa. Jangan ditanya apa kabar jantung mereka. Bertalu-talu memukul rongga dada, seolah ingin melompat keluar dari sana.


Lama Billy menanamkan lengkung merahnya pada bibir ranum istrinya yang merah menggoda. Lidahnya menyesapi dengan liar, membawa lidah malu-malu istrinya dan membawa pada kenikmatan bersama.


Milly yang mendapatkan serangan tanpa persiapan pada akhirnya tersengal karena kehabisan persediaan udara di dalam paru-parunya, dan membuat Billy seketika melepaskan pertautan mereka.

__ADS_1


"Maaf," Billy berucap sambil mengusap bibir Milly yang basah akibat ulahnya.


Milly seketika menundukkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan rona malu yang menyemburat manja. Namun Billy dengan cepat meraih dagunya, memaksa si gadis untuk menatap ke arahnya.


Tanpa aba-aba, Billy menangkup wajah istrinya dan melayangkan bertubi-tubi kecupan. Menghujani wajah Milly dengan begitu banyak ciuman di kening, pipi kelopak mata serta dagu, seperti yang istrinya mau. Kecupan terakhir pun berlabuh di bibir merah Milly.


Ciuman itu berlangsung lama dan semakin dalam. Sebab Milly tampaknya bersikap pasrah dan membuka mulutnya dengan suka rela. Bahkan lidahnya yang semula malu-malu kini membalas serangan Billy dan mengimbangi permainan suaminya itu. Keduanya terbuai dalam indahnya cinta dengan pertukaran saliva yang begitu panas dan membara.


Lagi-lagi dua netra yang berkabut hasrat itu saling menyapa dengan penuh cinta. Meski bibir terdiam, namun pandangan mata saling mengisyaratkan kebahagiaan.


Dengan gerakan lembut dan begitu ringan, tangan Billy bergerak membelai wajah merona malu milik istrinya. Milly memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya tatkala belaian lembut itu mengantarkan senyar berbeda yang lagi-lagi berhasil melambungkan angannya.


Namun sentuhan itu lama kelamaan berubah menjadi sebuah tepukan pelan yang bergerak bertubi-tubi. Bahkan suara wanita paruh baya sayup-sayup terdengar memanggil-manggilnya.


"Milly ,,, Milly."


Milly yang masih terpejam rapat lantas menggeliat manja, meregangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku dalam pembaringan. Suara panggilan serta tepukan di pipi berhasil mengusiknya dari tidur yang nyaman.


Ia membuka mata dan mengerjap-ngerjap kecil. Berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk menerpa netra kecoklatannya. Di depannya seorang wanita paruh baya tengah tersenyum sangat manis menyambutnya bangun.


Terperanjat, Milly berusaha bangkit dan kemudian duduk. Tangannya bergerak mengucek mata yang seolah tak percaya.


"Ibu ,,," gumamnya pelan dengan wajah kebingungan. Lantas mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ini ayunan. Batinnya dalam hati. Rupanya angin sepoi-sepoi sore itu mengantarkannya pada mimpi indah tadi. Sialan. Rupanya hanya mimpi. Batinnya kesal dalam hati.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2