
Saat melewati beberapa orang penjaga di gerbang utama rumahnya, Brian menghentikan mobilnya sebentar. Membuka kaca mobil lalu menjentikkan jari agar seorang pengawal mendekat.
"Tuan kembali secepat ini, apa ada masalah tuan muda?" Tanya seorang pengawal yang masih muda dan lumayan tampan dengan stelan jas yang ia kenakan.
"Apa istriku memanggil kalian tadi?" Bukan nya menjawab Brian malah balik bertanya. Dengan memperlihatkan wajahnya yang tak bersahabat pula.
Penjaga itu mengerutkan kening sebelum akhirnya bicara. " Tidak tuan," jawabnya dengan wajah penuh kebingungan. " Apa nyonya muda merasa terancam?"
Tanpa menghiraukan pertanyaan pengawal itu Brian lalu mengibas kan tangan nya agar pengawal itu menjauh. Brian kemudian melajukan mobilnya menuju halaman.
Seorang pengawal datang menyambut dan membukakan pintu saat melihat mobil Brian berhenti di halaman rumah.
"Tuan muda cepat sekali kembali?" Tanya nya sembari menerima kunci mobil dari Brian.
"Apa istriku memanggil mu?" Tanya Brian dengan wajah penasaran.
"Tidak Tuan muda, apa ada masalah dengan nyonya?" Tanya pengawal itu khawatir.
"Cepat bawa masuk mobil ku ke garasi." Perintah Brian dengan suara datar dan mengabaikan pertanyaan dari pengawal itu.
Brian pun bergegas masuk kedalam rumah.
Brian berjalan mengendap - endap menuju ke kamarnya. Berharap sang istri tak menyadari nya karena ini adalah sebuah kejutan.
Namun sepertinya bukan mayang lah yang mendapat kejutan itu, melainkan Brian sendiri yang di bust terkejut karena dirinya rak menemukan sang istri di dalam kamarnya.
Darah Brian mulai mendidih karena nya. Beraninya sang istri tak mematuhi perintah nya untuk tak beranjak dari kamar. Lalu kemana dia?! Karena rasa kesalnya, Brian pun mematikan lampu kamar sebelum ia memasuki ruang ganti pakaian.
Tak lama kemudian Mayang muncul dengan membawa camilan serta potongan buah di tangannya. Namun ia di buat terkejut dan setengah takut karena keadaan kamarnya kini berbeda dengan sat ia tinggalkan tadi.
Jiwa petarung nya pun bangkit seketika untuk melawan rasa takutnya. Ia menaruh sesuatu di tangannya itu dengan hati - hati di nakas agar tak menimbulkan suara.
Di bawah temaramnya cahaya yang minim, Mayang mengendap - endap menuju tempat dimana suaminya menyimpan pemukul baseball. Ia mengambil pemukul itu dan menggenggam nya kuat - kuat dengan kedua tangan nya seolah ia siap untuk menghajar penyusup itu.
Mayang meningkatkan kewaspadaan nya dengan memasang mata dan telinganya agar lebih jeli dalam melihat dan mendengar sedikitpun hal yang mencurigakan.
Mayang seketika menurunkan pemukul yang sempat terangkat itu karena ia tak menemukan hal yang mencurigakan sedikit pun di kamar ini.
Kalau tak ada siapapun disini, lalu siapa yang membuka pintu dan mematikan lampu?
Fikiran Mayang kembali di hinggapi rasa. curiga. Ia kembali mengangkat pemukul baseball itu. Meski tak ada apapun di sana.
Apa mungkin Lena kembali karena cemburu padaku? Tapi bukan kah dulu Lena tak menempati kamar ini? Apa dia ingin mengambil lagi Brian dariku? Huh, tak akan kubiar kan. Aku akan tetap memukul mu meski kau datang dalam wujud yang mengerikan.
__ADS_1
Braakk!
Suara hentakan di lemari pakaian terdengar keras hingga membuat Mayang terkejut dan spontan menoleh ke sumber suara.
Ya tuhan! Itu benar - benar Lena. Apa dia sedang mengamuk dan menghamburkan seluruh isi lemari pakaian ku? Dia dendam padaku dan datang di saat aku sendiri seperti ini. Kau licik Lena. Kau ingin menyerang ku saat aku tak ada teman.
Tiba - tiba tubuh Mayang terasa gemetar. Tangan nya mulai basah oleh keringat dingin. Ia memaksa mengayunkan kakinya yang lemas untuk melangkah mendekati pintu ruang pakaian.
Matan nya terbelalak seketika saat melihat handle pintu yang berputar seperti akan di buka dari dalam. Tangan gemetar nya spontan terangkat untuk siap mengayunkan pukulan baseball itu pada siapapun yang ada di dalam.
Saat pintu mulai terbuka, Mayang segera mengayunkan tangan nya tanpa melihat dulu siapa yang ada di balik pintu itu karena ia memejamkan matanya.
Namun Mayang membuka matanya seketika saaat merasa tekanan dari pemukul itu terasa berat dan bukan malah mengenai sasaran. Mayang membelakak kan mata nya begitu melihat Brian tengah berdiri di hadapan nya dengan tangan kiri menangkap pemukul itu.
Dan yang membuatnya bergidik ngeri adalah Brian yang tampak bertelanjang dada yang membuat perut sixspac nya jelas terlihat sedang menatapnya dengan sorot mata tajam. Itu pertanda kalau suaminya sedang sangat marah saat ini.
"Ss... sayang," lirih Mayang terbata karena bibir yang gemetar. "Kau sudah kembali?" Mayang memberanikan diri untuk bertanya meski rasa takut melanda nya. Ia menyadari kesalahan nya yang tak menghiraukan larangan suaminya.
"Iya! Aku pulang." Jawabnya dingin sembari menarik pemukul itu dengan kuat sehingga kini berpindah ke tangan nya. "Dari mana saja kau?" Tanya Brian kasar dengan nada dan pandangan mengintimidasi.
Ia menaruh ujung pemukul itu di pundaknya yang tanpa sehelai benang pun. Brian melangkah perlahan mengelilingi Mayang dengan tatapan mengerikan.
"Dari mana saja kau!!" Brian mengulangi pertanyaannya dengan nada lebih tinggi dari yang pertama karena Mayang masih juga belum menjawabnya.
"A' aku dari dapur." Suara Mayang terbata. "Aku keluar untuk mengambil makanan sebentar." Jawab Mayang sembari tertunduk.
"Alasan!" Brian mendengus kesal. "Begitu banyak pelayan untuk apa kau melakukan nya sendiri!"
"Aku hanya tak ingin merepotkan mereka," Mayang menegakkan wajahnya menatap Brian dengan wajah memohon.
"Memang untuk itu kan mereka ada disini!" Ucapan Brian sekali lagi membuat Mayang tertunduk.
Mayang menyadari kesalahannya. Brian memperlakukan nya dengan baik. Fasilitas lengkap dengan segala kemudahan. Dengan seluruh cinta kasih yang tercurah darinya. Ia telah mengecewakan dengan tak menghiraukan kan larangan nya.
"Sayang maafkan aku." Mayang meraih lengan Brian. "Aku janji tak akan mengulanginya lagi." Mayang menatap manik mata Brian dengan penuh permohonan.
Untuk beberapa saat Brian tampak luluh dan menatap wajah sang istri dengan tatapan teduh nya. Karena bagaimanapun ia tetap tak tega saat melihat istrinya mengiba seperti itu.
Namun ia menginginkan yang spesial malam ini, maka muncullah rencana dadakan di kepalanya. Ia ingin melihat sejauh mana Mayang mencoba merayu dan membujuk untuk mendapatkan maaf nya.
Sepertinya seru jika bisa membuatnya yang meminta malam pertama ini lebih dulu. Batin Brian dalam hatinya.
Seketika Brian menajamkan pandangan nya kembali. Di tepis nya tabgan Mayang yang masih memegangi nya dengan kasar. Ia mengangkat tangan yang memegang pemukul itu agak tinggi hingga terlihat seperti sedang akan memukul.
__ADS_1
Mayang yang merasa terancam segera menutup mata dan membentengi kepalanya dengan kedua tangan nya. Namun tak seperti yang ia duga, ternyata Brian justru melempar pemukul itu tepat di atas ranjang.
Brian menatap sengit pada Mayang yang telah membuka matanya. Lalu ia berlalu begitu saja meninggalkan istrinya yang masih berdiri terpaku menuju pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.
Sebelum keluar Brian menyempatkan untuk melirik istrinya yang masih terlihat sedih. Brian menutup pintu itu setengah membanting dari luar.
Apa dia benar - benar sedang marah? Tapi aku hanya keluar sebentar untuk mengambil makanan saja. Tidak perlu semarah itu kan, apa aku perlu pura - pura menangis? Lagipula siapa yang tau kalau dia tiba - tiba pulang dan muncul dihadapan ku tanpa baju begitu! Batin Mayang dalam hati.
Mayang mengayunkan langkahnya menuju pintu balkon, lalu membukanya dengan hati - hati agar tak menimbulkan suara. Saat pintu terbuka di lihat sang suami yang sedang berdiri sembari memegangi pagar pembatas balkon.
Punggung Brian yang lebar dan kekar dan rambutnya yang basah tampak berkilau di bawah sinar rembulan. Lelaki itu sama indahnya dengan rembulan yang tampak indah dan terang menyinari seluruh alam.
Demgan perlahan Mayang melangkah ke arah Brian. Menelusupkan tangan nya di pinggang sang suami lalu memeluknya dengan penuh kelembutan.
Brian yang terkejut pun berjingkat sebagai reaksi keterkejutan nya. Ia menggerakkan kepalanya untuk menoleh pada sang istri yang tengah memejamkan matanya. Brian pun seketika memejamkan mata agar lebih dalam merasakan kehangatan yang tersalur dari tubuh Mayang.
Mayang menggerakkan leher lalu mendongak kan kepalanya untuk menatap wajah sang suami yang sepertinya tak bereaksi.
"Sayang..." Panggil Mayang lembut lalu mengecup pundak Brian dengan bibirnya.
"Hemmm," jawab Brian sembari sedikit menoleh sebagai bentuk respon nya.
"Kau masih marah...?" Tanya Mayang sembari mengusap dada Brian dengan lembut menggunakan jemari tangannya.
Brian hanya tersenyum tanpa bicara sepatah kata pun.
"Sayang,,, berbalik lah kemari dan lihat aku...!" Rengek Mayang dengan suara manja.
Brian pun seketika memutar tubuhnya supaya tubuhnya berhadapan dengan tubuh sang istri. Senyumnya tampak tersimpul saat dia bersedekap dan menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas balkon.
"Kau ingin menunjukkan apa padaku hemm?" Tanya Brian sembari memiringkan kepalanya dengan satu alis yang terangkat.
Mayang tersenyum sembari melirik kasur angin yang berada di balkon itu. Mayang meraih kedua pergelangan tangan Brian lalu menyatukan jemari mereka.
"Sayang kemarilah, ikuti aku." Ucapnya sembari melangkah mundur dengan tangannya menarik tangan Brian agar lelaki itu mengikuti nya.
Mayang terus bergerak mundur hingga kakinya menyentuh kasur. Di lepaskan nya tangan Brian dan kemudian ia menjatuhkan diri terlentang di atas kasur.
Brian tampak tersenyum heran sembari berkacak pinggang karena istrinya mulai bersikap nakal.
"Sayang,,, bagaimana kalau kita melakukan nya disini?"
Bersambung
__ADS_1