
Demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan sang tuan, Billy pun hanya bisa pasrah mengikuti keinginan gadis aneh yang sempat ia tolong beberapa bulan lalu itu.
Billy hanya bisa mengatakan, "Oke terserah lo aja!" Saat Milly menolak ajakannya untuk satu mobil bersamanya.
Gadis itu beralasan, "Maaf ya pak, kita nggak selevel bersama dalam satu mobil." Ucapnya dengan bangga.
Semula Billy berpikir entah semewah apa tumpangan gadis itu, hingga mampu menolak menumpang mobil nya yang masih kinclong dan mulus seperti pipinya artis Syahrini.
Dan yang terjadi justru di luar ekspektasi Billy. Lelaki itu justru dibuat sakit perut akibat menahan tawa saat ternyata tumpangan mewah bernama becak lah yang jadi pilihan Milly untuk mengantarkannya hingga sampai di depan pintu kontrakan.
Billy sendiri tak mengerti akan jalan pikiran gadis itu. Bukannya mencari tukang becak yang masih muda dan kuat, ia justru memilih lelaki yang sudah tua untuk mengantarkannya pulang. Dengan bawaannya yang sebanyak itu, tentu saja semakin menambah beban beratnya.
Billy bahkan sampai mengendarai mobilnya sangat pelan, hingga lelaki itu menguap ngantuk saat harus mengekori di belakang becak demi untuk mengikuti gadis itu pulang.
Perjalanan yang harusnya di tempuh hanya beberapa menit saja itu bahkan membutuhkan waktu berkali lipat saat harus di tempuh dengan kecepatan becak.
Hingga becak yang di ikuti Billy itu pun berbelok ke sebuah area yang menampakkan begitu banyak kontrakan berjejer yang terhubung dari kontrakan satu dengan yang lainnya, bahkan hanya menjadikan dinding sebagai penyekat antara kontrakan satu dengan yang lain.
Dan yang menjadi pertanyaan adalah, berapa jumlah genting yang di pakai oleh pemilik kontrakan untuk menutupi seluruh atap kontrakan itu? Hingga saat ini, hal itu memang masih menjadi misteri, sebab pak tukang sendiri pun tidak ingat untuk menghitungnya saat ia memasangnya dahulu ha-ha ...!
Usai membelokkan mobil dan memarkirnya dengan baik, Billy pun segera turun dan menghampiri Milly yang sedang menurunkan belanjaannya, di bantu oleh tukang becak yang mengantarkannya tadi.
"Teima kasih banyak ya neng," ucap si tukang becak saat Milly memberikan upah lebih padanya.
"Sama-sama Bapak," balas gadis itu ramah sambil tersenyum manis. "Hati-hati ya Pak, sampai jumpa besok pagi lagi!" Teriaknya saat pak tukang becak mulai mengayuh becaknya meninggalkan kontrakan Milly.
"Memang dasar nggak ada ahlak kau ini ya," maki Billy pada gadis yang tengah melambaikan tangan pada punggung si tukang becak. Seketika gadis itu menoleh dan menatap Billy sengit.
"Maksud bapak?" tanyanya ketus sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ngapain milih tukang becak yang sudah renta. Kalau memang niat mau bantu tuh bapak, kasih saja duit. Ngapain mesti disengsarain dulu untuk mengantarmu pulang dengan belanjaan yang berat itu!"
Milly berdecak. Dan salah satu sudut bibirnya sedikit di tarik. "Pak tua tadi itu tukang becak Pak, bukan pengemis." Tegasnya dengan tatapan remeh pada Billy. "Dasar orang kaya nggak ada ahlak." Gumamnya lirih sambil membungkuk meraih kantong belanjaannya.
"Hey, telinga ku masih normal ya! Aku mendengar apa yang kau katakan!" Sambar Billy dengan nada tak terima. Sementara si gadis hanya nyengir sambil berlalu dengan tangan penuh kantong belanjaan.
Dalam diamnya, Billy berusaha menelaah maksud dari kata-kata yang Milly ucapkan tadi. Gadis aneh ini ada benarnya juga. Tidak semua orang miskin dan lemah itu bisa dengan mudah menerima bantuan tanpa berusaha.
__ADS_1
Tukang becak tadi salah satunya. Meskipun sudah renta namun beliau tetap berusaha dan tetap bekerja. Bagaimanapun juga, biar sedikit asal dari hasil keringat sendiri itu lebih mulia dari pada hanya duduk diam berpangku tangan mengharap belas kasih dari orang.
Keberadaan Billy di kontrakan padat penduduk itu ternyata menarik perhatian para penghuni kontrakan yang rata-rata adalah gadis-gadis mahasiswi perguruan tinggi dari Universitas yang terletak tak jauh dari sana.
Mengacuhkan pandangan para gadis yang penuh puja terhadapnya, Billy dengan santai duduk disebuah kursi yang berada di teras kontrakan Milly. Sementara Milly sendiri tengah asik menggelar dagangan dan mempersiapkan lapaknya. Sebuah etalase kaca berukuran kecil untuk menempatkan buah-buahan segar yang terletak di atas sebuah meja berukuran sedang.
"Milly ,,, yuhu!" Teriak seorang gadis yang berdiri teras kontrakannya spontan membuat Milly mendongak menatap ke arahnya. Milly yang tengah asik mencuci buah itu segera melayangkan senyumnya. "Siapa tuh, kok nggak dikenalin ke kita si?!" Lanjut gadis yang tampaknya baru bangun tidur.
"Mandi dulu gih, entar juga dikenalin kok! Tenang saja!" Jawab Milly sambil mengacungkan ibu jarinya. Tanpa menoleh pada lelaki yang ternyata sedang melotot ke arahnya.
"Hey!" Sentakan Billy seketika membuat gadis yang tengah berjongkok itu menoleh. "Memangnya kapan aku bilang mau dikenalkan?!"
"Ye, siapa juga yang mau kenalkan bapak? Jadi orang jangan baperan Pak, makan hati entar." Ledeknya sambil melemparkan senyuman penuh arti yang membuat Billy seketika membuang muka karena sebal.
Untuk beberapa saat suasana pun hening. Sesekali Billy melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan teekadang ia mencuri-curi pandang pada gadis yang tengah mengupas dan menghiris buah rujakan.
Ponsel yang tiba-tiba bergetar di balik saku jas nya pun mengejutkan Billy. Segera ia mengambilnya dan mengeser icon berwarna hijau saat muncul nama Brian di layarnya.
Baru saja ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya, namun suara makian yang terdengar dari seberang sana sudah langsung membuat indera pendengarannya itu terasa panas.
Apa! Bibi! Gadis imut, ayu dan cantik ini di bilang bibi! Astaga, memang ya nggak ada ahlak nih orang! Gumam Milly kesal sambil mengulek kasar bumbu rujakan itu lagi.
"Apa kau bilang? Bibi rujakan sedang membuatkan untuk ku?" tanya Brian dari seberang sana dengan nada penasaran.
"Iya." Billy menjawab malas.
"Tutup telponnya, aku mau kita video call saja. Aku ingin melihat sendiri seperti apa cara Bibi rujakan itu membuatkan bumbu rujak untukku."
"Apa?!" Tut ... tut .... Sambungan terputus kemudian. "Hey! Aku belum selesai bicara kau main tutup seenaknya saja!" Umpatan Billy yang kesal pada ponsel di tangannya membuat Milly tergelak kencang.
"Bapak ,,, bapak ,,, marah-marah kok sama Hp." Ledeknya sambil membungkam mulut menahan tawa.
"Hey, aku bukan sedang marah sama Hp nya ya! Tapi sama orang yang ngomong di ujung sana!" Sedang berteriak-teriak kesal, Billy kembali di kejutkan dengan ponselnya yang kembali bergetar. "Sial!" Umpatnya kesal saat tahu ternyata sebuah panggilan video dari Brian yang masuk ke ponselnya. "Dia benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Istrinya yang hamil kenapa dia yang nyusahin!"
Brian menghela nafas dalam sebelum menggeser icon berwarna hijau di layar ponselnya.
"Hemmm," gumamnya saat wajah tampan sang bos ngeselin nampak tersenyum di layar ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa cemberut begitu?" Senyum Brian terlihat mengejek saat bertanya. "Oh ya, mana bibi rujakan yang kau katakan tadi? Aku ingin melihatnya." Desak Brian tak sabaran.
Memutar bola matanya malas, tangan Billy lantas bergerak menekan tombol dual kamera untuk merubah dari kamera selvi ke kamera belakang. Dan kemudian nampak lah gadis cantik dengan rambut panjang yang di ikat ekor kuda tengah mengerahkan tenaga untuk mengulek bumbu rujakan.
Brian mengernyitkan dahi menatap layar ponselnya. "Itu yang kau bilang bibi, Bill? Kurang ajar kau, sudah berani bohong sekarang!" Umpat Brian sembari tertawa.
"Hey, apa yang dia lakukan?!" Tanya Brian saat si gadis tengah menatap ke arah kamera, lalu membungkukkan badan dan mengambil sesuatu dari kakinya. Dan.
Plak!! Sebuah sandal jepit bertuliskan swallow yang tadinya melayang di udara mendarat tepat di kepala Billy. Membuat lelaki yang benar-benar tak menyangka itu terkejut hingga menjatuhkan ponsel di tangannya.
"Hey kurang ajar kau ya!" Sentak Billy sembari bangkit dari duduknya.
"Bapak tuh yang kurang ajar! Bapak sengaja merekam saat saya sedang mengulek sambel kan?! Saya tahu pak, saya itu seksi cantik dan baik hati. Tapi bapak jangan seenaknya saja merekam saya Pak. Kalau Bapak memang mau, kita bisa kok selfi berdua."
"Cih! Siapa juga yang sedang merekam mu hah! Kau terlalu besar kepala." Desis Billy dengan nada meremehkan.
Sontak saja hal itu membuat Milly dengan seketika memegangi kepalanya, mencoba meyakinkan bahwa kepalanya benar-benar tidak semakin membesar.
"Bapak bohong ya, kepala saya tidak besar kok!" Protes Milly kesal dengan bibir yang menyebik.
"Astaghfirullah." Ucap Billy sembari menepuk dahinya. "Ni orang apa emang segitu blo'on nya ya." Gumamnya pelan dengan tangan yang mengepal geregetan.
Tiba-tiba telinga Billy mendengar suara yang samar-samar. Seketika ia pun teringat akan ponselnya yang tergeletak mengenaskan dengan posisi terbalik. "Ya Allah hp ku." Lirihnya sambil memungut ponsel itu dengan hati-hati. "Syukurlah kau masih di sana." Billy menghela nafas lega saat melihat wajah Brian yang masih nampak di sana.
Wajah Brian yang tampak menegang dengan dahi yang mengkerut itu nampak cemas saat lawan bicaranya tiba-tiba menghilang dan hanya menampakkan bayangan gelap di layar ponselnya.
"Bill, kau baik-baik saja?! Apa yang barusan terjadi. Tidak terjadi gempa kam di sana?!" Cecar Brian dengan nada khawatir.
"Bukan, bukan gempa. Barusan ada orang gila yang ngamuk melempar sandal padaku,--"
Plak!! Sandal sebelah kiri pula menyusul melayang dan mendarat tepat di leher Billy sebelum terpelanting jatuh ke lantai. Laki-laki yang kehilangan ponsel dari tangannya untuk yang kedua kali itu pun segera beranjak berdiri dan menatap si gadis dengan sorot matanya yang menyalang tajam.
Namun ponselnya yang masih memperdengarkan suara sang bos membuatnya mengurungkan niat untuk menghampiri si gadis.
"Ada apa lagi sih Bill, apa barusan terjadi gempa susulan?!"
Bersambung
__ADS_1