
Mayang mengucek mata lantas mengerjap-ngerjap untuk meyakinkan apa yang ia lihat, berharap bayangan itu menghilang andai benar-brenar tidak nyata. Namun sosok itu justru semakin jelas terlihat. Ia pun berusaha menguasai diri sepenuhnya agar tak terjebak dalam halusinasi, tapi sosok yang kini berjongkok di depannya semakin terlihat nyata dan benar-brenar ada.
Hingga tangan kokoh di balik pakaian hitam yang membungkus itu bergerak menarik tubuh dan merengkuhnya kedalam pelukan yang secara langsung membuat tubuh mereka bersatu dalam kontak fisik yang nyata. Aroma maskulin yang menyeruak menyapa rongga penciumannya yang begitu familiar itu tak bisa lagi menyangkal kenyataan jika yang memeluknya kini adalah Brian, sang suami tercinta.
Mayang menarik kepalanya dan menatap wajah si pria hanya untuk meyakinkan dirinya. Netranya yang berkilau indah sontak saja berkaca-kaca. "Sayang? Kau kah ini? Benarkah kau datang untuk menyelamatkanku?" lirihnya dengan suara yang tercekat dan hampir tertahan di tenggorokan. Jemarinya yang gemetar bergerak meraba-raba wajah prianya.
Brian mengangguk mantap dengan bibir yang mengatup. Mata elangnya pun menampakkan riak-riak bening yang hampir saja meluber keluar andai saja ia tak sanggup menahan.
Tangis Mayang pecah seketika. Gadis itu kembali merengkuh tubuh Brian dan semakin mengeratkan pelukan. Ia menyandarkan dagu di pundak suaminya seolah menyandarkan pula beban berat hatinya di sana. Wanita itu sesenggukan dan menumpahkan segala beban tertahan yang menyesakkan dada.
Tak bisa berkata-kata, Brian hanya diam membiarkan istrinya meluapkan perasaan yang berkecamuk. Namun di balik sikap diamnya, ia tengah berusaha keras meredam amarah yang ingin segera dilampiaskan. Tangannya yang tengah memeluk tubuh Mayang itu terlihat mengepal. Sementara rahangnya mengetat dengan wajah yang sudah memerah padam.
Brian mengurai pelukan mereka perlahan. Tangannya bergerak menangkup wajah Mayang, sementara matanya yang sendu menatap istrinya itu lekat-lekat. "Sekarang aku ada bersamamu, Sayang. Aku tak akan membiarkan siapapun menyentuhmu. Aku akan menghukum siapapun yang telah membuatmu ketakutan seperti ini," tuturnya seperti tengah mengucapkan sebuah sumpah dengan penuh keyakinan.
Dengan ibu jarinya, Brian mengusap pipi istrinya yang basah itu penuh kelembutan. "Aku janji akan membayar setiap tetes air matamu dengan seribu tetes darah penuh kepedihan kepada mereka. Aku akan mengganti penderitaanmu dengan beribu derita pada mereka."
Mayang tersenyum bahagia di sisa tetes air matanya. Tangannya bergerak memegangi jemari Brian yang masih menangkup wajahnya. "Aku senang kau datang, Sayang," ucapnya dengan netra yang berbinar bahagia.
Brian tak bisa berkata-kata untuk membalas perkataan Mayang. Ia juga tersenyum meski setitik bulir bening tampak meluncur dari pelupuk matanya. Ia mencondongkan wajahnya dan menghadiahi bertubi-tubi kecupan di kening, pipi, mata dan puncak kepalanya untuk meluapkan rasa bahagia.
__ADS_1
Sementara Mayang yang terlihat sangat bahagia tampak memejamkan mata, menikmati setiap perlakuan hangat dan lembut dari suaminya yang begitu ia rindu.
Sejenak mereka saling pandang dalam diam dengan bibir tersenyum tak bisa menutupi bahagia, sebelum kemudian kembali menyatukan diri ke dalam pelukan.
Untuk sesaat keduanya merasa dunia hanya milik berdua sebelum kemudian menyadari ricuhnya keadaan di sekitar. Semua tampak porak poranda saat terjadi pertempuran panas antara anak buah Alex dan Mister Wang melawan pasukan yang datang bersama Brian.
Namun keadaan seketika pun berhasil aman dan terkendali, sebab dengan jumlah personil yang Brian bawa itu jauh lebih banyak jumlah anak buah Alex serta Wang meskipun digabungkan, maka pihak Brian berhasil menguasai para geng mavia itu di bawah tekanan.
Brian menyadari jika dirinya dan Mayang tengah diperhatikan oleh Alex dari tempatnya sekarang. Namun hal itu justru membuatnya semakin berhasrat untuk menyerang Alex melalui perasaan.
Mengacuhkan keadaan sekitar, Brian kembali menangkup wajah Mayang dan menatapnya penuh kerinduan. Rasa bahagianya membuatnya tak bisa menyiakan bibir ranum sang istri yang begitu ia rindukan.
Lelaki itu menekan tengkuk Mayang dan semakin memperdalam ciuman, seolah tubuh mereka yang sudah merapat tak cukup membuatnya puas. Lidahnya bermain dan menjelajah di dalam sana dan menyesap intisari Mayang habis-habisan.
Seperti yang sudah Brian duga, Alex benar-benar terlihat tak terima melihat kemesraan antara ia dan istrinya.
Alex tampak mengepalkan tangan. Wajahnya memerah padam, sementara rahangnya menggemertak penuh amarah. Hingga tanpa aba-aba, Alex yang semula masih terduduk di lantai dengan todongan senjata oleh pihak intelijen mendadak bangkit dan melangkah cepat ke arah Brian berniat ingin melakukan penyerangan. Ia benar-benar tak terima orang lain menyentuh wanitanya.
Rasa cemburu telah menggelapkan hati dan pikirannya, hingga membuat Alex kehilangan kendali dan berniat menghabisi siapapun yang menjadi penghalangnya.
__ADS_1
Alex melayangkan tinjunya ke arah Brian yang tengah berpagutan mesra dengan Mayang. Namun tanpa diduganya, sebuah tangan kokoh berhasil menghadang dan menghalaunya, bahkan sebelum ia berhasil menyentuh seujung rambut Brian sama sekali.
Tubuh Alex terpelanting ke belakang setelah dihadiahi pukulan di wajah serta tendangan telak yang mengenai perutnya, hingga ia terhuyung dan membentur tembok di belakangnya.
Alex meringis kesakitan seraya memegangi perutnya. Setelahnya ia mengusap sudut bibir yang terasa nyeri. Alex mendengkus menatap telapak tangannya yang nampak kemerahan oleh darah dari bibirnya.
Rasa penasaran memaksanya untuk mengangkat pandangan. Dan benar saja, Billy tampak berdiri di depannya dengan posisi kuda-kuda dan penuh antispasi. Rupanya dia yang tiba-tiba muncul dan pasang badan melindungi Brian. Cih! Bagaimana bisa aku lupa jika pria ini rela menyerahkan nyawanya demi untuk lelaki sialan itu, pikir Alex dalam hatinya.
"Hadapi aku dulu jika kau ingin menyentuh Brian," desis Billy dengan seringai dan tatapan tajam.
"Kurang ajar! Akan kubunuh, kau!" teriak Alex yang kemudian mengarahkan pukulannya ke wajah Billy. Billy pun menyambutnya dengan tangkisan, hingga perkelahian antara mereka pun tak terelakkan.
Sebagai teman, rupanya Mister Wang pun tergerak untuk membantu. Hingga perkelahian dua lawan satu pun terjadi di antara mereka.
Brian mengangkat tangannya seolah memberi isyarat kepada anggota prajurit yang hendak bergerak membantu Billy. Pria bertubuh tegap dan kulit sawo matang itu mengangguk patuh dan kemudian menarik kakinya mundur selangkah.
Usai mengangsurkan sang istri pada prajurit wanita yang ada di sana agar mendapat perlindungan, Brian lantas berbalik badan meninggalkan Mayang.
Dengan tekad yang kuat, ia melangkah mantap memasuki ke area perkelahian dan mengambil posisi di tengah. Tepat di belakang Billy, tubuh mereka merapat saling memunggungi dengan bahasa tubuh penuh antispasi.
__ADS_1
Bersambung