Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Seorang tamu


__ADS_3

"Nyonya, Sekretaris Billy meminta anda untuk menjamu tamu." Seorang wanita berpakaian pelayan--yang secara khusus didatangkan oleh Billy dari kota--berdiri sambil menunduk sopan di sisi sofa yang Milly duduki. Milly--yang saat itu duduk di taman belakang--terkesiap dan langsung mengusap matanya yang basah, sebelum kemudian menoleh pada si pelayan dengan senyuman yang dipaksakan.


"Aku akan datang," balasnya seraya berdiri, lalu melangkah keluar mendahului pelayan tadi.


Seperti sebelum-sebelumnya, Milly hanya bertugas mengantarkan minuman serta camilan--yang sudah disiapkan para pelayan--ke ruang tamu yang saat ini menjadi kantor mini Billy.


Gadis mungil itu langsung memaku tubuhnya di ambang pintu dengan bola mata yang membulat sempurna.


Billy yang menyadari kehadiran Milly bisa melihat reaksi keterkejutan gadis itu. Mungkin tamu yang datang kali ini benar-benar di luar dugaannya, hingga gadis itu begitu shock melihat pemandangan di depannya.


Lima belas menit yang lalu, usai dua pria tadi pamit mohon diri, Billy memang menyambut tamu yang secara khusus datang dari ibu kota. Perjanjian bisnis ini memang sudah dirancang sejak dua bulan lalu, jadi sudah tidak memungkinkan untuk menundanya lagi.


Berdiri di teras depan dengan posisi tegap dan sikap terhormat, Billy memandang mobil yang datang. Mobil mewah berwarna merah cerah itu berhenti tepat di pelataran. Sebuah kaki jenjang dengan heels tinggi yang begitu menawan, tampak turun dari kursi penumpang di bagian belakang.


Pakaian formal yang menempel begitu terlihat pas dan manis di badannya yang aduhai. Rok span yang ia kenakan memperlihatkan kaki mulus hingga bagian atas lutut, dan begitu indah saat melangkah mendekat.


Billy menyambut tamu cantiknya itu dengan senyuman ramah hanya sebagai formalitas saja. Namun si wanita menganggap hal itu berbeda dan berpikir jika Billy begitu mengaguminya. Terlihat ia semakin gencar menebarkan pesonanya, yang (sebenarnya) bagi Billy itu tak ada apa-apanya.


"Selamat datang Nona Milea. Maaf membuat anda kerepotan dengan terpaksa datang ke tempat terpencil ini," ucap Billy memberikan sambutan saat gadis cantik dan berkelas itu tepat berdiri di depannya.


Milea terseyum lantas melepaskan kacamata mahal yang bertengger di atas hidung lancipnya. "Saya sama sekali tidak merasa kerepotan, Sekretaris Billy. Hanya saja--" gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan ekspresi yang Billy tangkap itu seperti meremehkan "--Saya tidak menduga anda memilih rumah ini sebagai tempat pertemuan. Saya kira kita akan membicarakan kontrak kerja sama ini di tempat yang berkelas. Kafe, hotel dan ... semacamnya, mungkin."


Billy lagi-lagi menanggapi dengan senyuman selama ia masih memiliki sisa sabar. "Maaf Nona, tapi saya lebih menyukai tempat ini."


"Kalau boleh tau, ini rumah siapa, ya?"


"Ini rumah saya." Billy berucap penuh percaya diri. Ia bahkan bisa melihat ekspresi tercengang di wajah Milea, sebelum kemudian gadis itu buru-buru merubah mimik wajahnya.


"Rumah anda?" Milea melebarkan mata seolah tak percaya, lantas tersenyum dengan begitu senangnya. "Saya bahkan merasa sangat spesial, sebab anda secara langsung membuat saya berkunjung ke rumah anda. Saya benar-benar merasa sangat tersanjung, Sekretaris." Milea nampak berbunga-bunga, tapi Billy hanya menanggapinya dengan senyum biasa saja.


"Mari silahkan masuk," ucap Billy mempersilahkan menggunakan tangan kanan, sementara tangan kirinya berada di pinggang belakang dengan sikap pria elegan. Ia lantas melangkah menyusul Milea yang berjalan di depannya.

__ADS_1


Semula pembicaraan terjadi biasa-biasa saja. Karena membicarakan masalah pekerjaan, keduanya pun bersikap profesional dengan duduk berseberangan. Billy bahkan bersikap dan memperlakukan Milea seperti pada klien-klien sebelumnya.


Namun berbeda dengan sikap Billy, hal berbanding terbalik justru nampak dari sikap Milea. Bukannya fokus pada pembicaraan pekerjaan mereka, gadis itu justru begitu terpesona dengan keindahan yang terpampang nyata di depannya.


Saat bersikap, saat berucap, bahkan saat terseyum, di mata Milea Billy seperti menebarkan bunga-bunga yang membuat dunianya semakin indah. Matanya ... hidungnya ... pipinya ... bahkan bibirnya itu yang kemerahan bagai buah delima. Milea bahkan membayangkan bagaimana manis dan nikmatnya, hingga tanpa sadar gadis itu meneguk salivanya dengan berat.


"Saya sudah menghubungi Tuan Brian dan beliau menerima proposal yang anda ajukan. Jadi Nona Milea, apa anda menyanggupi syarat-syarat yang perusahaan kami ajukan pada perusahaan anda?" tanya Billy setelah menjelaskan dengan panjang kali tinggi kali lebar yang bahkan sama sekali tidak gadis itu dengarkan (sebab lebih fokus pada pria yang menjelaskan).


Billy tahu betul jika perusahaan yang dipegang Milea berkembang pesat dan memiliki pasaran yang bagus. Jadi sudah bisa dipastikan, dengan menjalin kerja sama ini, kedua perusahaan akan saling menguntungkan.


"Saya menyanggupi apapun syarat-syaratnya." Milea berdesis tanpa berkedip saat menatap Billy.


"Bagus. Terima kasih atas kesediaan anda. Kalau begitu, kita bisa melakukan tanda tangan kerja sama ini. Silahkan Nona yang lebih dulu." Billy terseyum, lantas mengangsurkan map itu di atas meja itu ke arah Milea, tapi gadis itu buru-buru menahannya.


"Sekretaris Billy ..., kenapa mesti buru-buru sih? Saya jauh-jauh loh, datang kesini. Anda bahkan tidak sedikitpun memberi waktu pada saya untuk rehat barang sebentar."


Di situ Billy baru menyadari kalau Milly bahkan belum menyuguhkan minuman. "Oh, maaf untuk hal ini, Nona. Saya sampai terlupa untuk menjamu anda. Saya benar-benar menyesal. Pengawal!" panggil Billy pada pria bertubuh tegap yang berdiri di sisi pintu.


"Ambilkan minuman dan camilan untuk menjamu Nona Milea." Billy berucap dengan nada memerintah.


"Baik, Tuan." Pria itu mengangguk patuh sebelum kemudian berbalik badan dan melangkah meninggalkan ruangan.


Milea terseyum kagum melihat sikap sopan yang telah Billy tunjukkan. Rasa ingin memiliki semakin menggebu-gebu dan meronta-ronta di jiwanya. Terlebih, sejauh ini ia mendengar jika pria ini masih lajang dan begitu tertutup pada wanita.


Dengan penampilan yang begitu sempurna dan memesona, bahkan tak ada satupun laki-laki yang menentang kecantikannya. Hingga hal itu menumbuhkan rasa percaya diri tingkat dewa yang membuat Milea yakin bisa menaklukkan hati Billy hanya dengan satu kedipan mata.


"Hufth ... gerah ya ...." Milea mengibas-ngibaskan tangannya seperti sedang mengipas, sambil bertingkah seperti tidak nyaman.


Billy tampak mengernyit, lantas mendongak menatap AC di atas sana. Gadis itu terlihat mengada-ada, sebab suhu di ruangan itu terasa sejuk oleh alat pendingin ruangan yang bekerja dengan baik itu.


"Maaf Sekretaris, saya merasa kegerahan. Tak masalah kan, kalau saya melepaskan jas saya untuk sejenak saja?" tanya Milea dengan nada yang dibuat selembut mungkin, yang tentu saja dimaksudkan agar Billy tergoda padanya.

__ADS_1


"Silahkan." Billy menjawab datar, lantas kembali menunduk untuk memperhatikan berkas-berkasnya. Bagi lelaki itu, bukanlah masalah besar selama Milea masih bersikap sopan dan tidak menanggalkan seluruh pakaiannya di depan dia.


Sambil tersenyum, Milea melepaskan jasnya dengan gerakan perlahan, lantas menyampaikannya pada sandaran sofa. Gadis itu kembali terdiam selagi memperhatikan Billy dengan tangan bertopang dagu.


Luar biasa. Pria ini benar-benar terlihat memukau. Dia benar-benar berbeda dengan pria lainnya, yang begitu gampang tergoda hanya dengan sekali pandang. Ia bahkan terkesan mengabaikanku.


"Apa sudah lama anda memiliki rumah ini?" Pertanyaan di luar pekerjaan akhirnya tercetus dari bibir Milea yang kemudian membuat Billy mengangkat pandangan sebelum akhirnya mengulum senyum.


"Belum lama ini, Nona Milea," jawab Billy ramah, lalu kembali fokus pada berkasnya.


Milea beringsut dari duduk, lantas berpindah ke sisi kiri Billy. "Emm ... Sekretaris Billy .... Berhubung pembicaraan kerja sama telah usai, bagaimana kalau sikap formal ini kita buang untuk sementara? Bukankah lebih nyaman saat kita saling memanggil dengan sebutan nama saja? Emmm ... seperti teman, maksud saya."


Billy melirik sekilas ke arah Milea, lantas kembali menunduk untuk menatap layar laptopnya. "Silahkan panggil saya senyaman anda." Pria dengan pembawaan tenang itu berucap kemudian.


Sungguh, sikap Billy itu benar-benar membuat Milea semakin besar kepala. Gadis itu bahkan terlihat semakin nekad, hingga berani merapatkan diri dan menelusupkan tangannya pada lengan Billy.


Sontak saja hal itu membuat Billy langsung mengentikan kegiatan dan menatap ke arah Milea. Bukan karena suka. Meski Billy bisa membaca karakter gadis ini seperti apa, tapi ia tak menduga wanita berkelas seperti Milea bahkan bersikap seperti wanita tak bermoral dengan berusaha menggodanya.


Billy menatap Milea dengan sorot penuh peringatan. "Nona Milea, tolong kondisikan tangan anda." Meski berucap dengan pelan, tapi nada bicara Billy terdengar penuh penekanan yang secara langsung menyiratkan rasa ketidaksukaan. Karena begitu seringnya mengalami kejadian semacam ini, Billy pun merasa sudah biasa hingga bisa tetap bersikap tenang dan berusaha mengendalikan amarah yang berkobar.


Namun karena sikap keras kepala dan tidak tahu malu Milea, gadis itu dengan gampangnya mengabaikan. Bahkan dengan begitu tak tahu dirinya semakin mengeratkan rangkulan dan menyandarkan kepalanya pada bahu Billy dengan manja.


"Nona Milea." Billy semakin mempertegas intonasi suara, bahkan melayangkan tatapan penuh kebencian pada gadis itu. Karena sikap Milea yang begitu bebal dan tak tahu diri, Billy tepaksa mengangkat tangan kanannya bermaksud untuk mendorong kepala Milea.


Namun sebelum itu terealisasi, sosok Milly justru lebih dulu muncul di ambang pintu dan menangkap pemandangan Billy yang akan menyentuh kepala Milea.


Tentu saja Milly gusar bukan kepalang, sebab mengira Billy akan mengusap puncak kepala gadis bernama Milea itu dengan sayang.


"Mm-maaf. Saya ... saya datang di saat yang tidak tepat."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2