Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Rujak-rujak


__ADS_3

Usai memutus sambungan VC nya dengan Brian, tangan kekar itu meremas ponsel nya sambil melangkah mendekati Milly dengan tatapan tajam penuh ancaman.


Entah mengapa harga dirinya seperti tengah di permainkan oleh gadis aneh itu. Gadis yang baru ia jumpai dua kali itu bahkan telah berani memperlakukannya di depan umum.


Eh, kenapa dia mendekat kemari. Apa dia marah gegara aku lempar sandal? Oh my God, Milly kau dalam bahaya, huaaa ...!


"Ba-bapak mau apa!" Panik, Milly yang merasa dirinya terancam bergerak mundur perlahan seiring dengan langkah Billy yang mendekat. Diliriknya sebuah pisau dapur yang berada di samping cobek, lalu Milly menggerakkan tangannya untuk meraih pisau sekenanya.


"Bapak jangan macam-macam sama saya ya, kalau bapak tetap nekat, saya terpaksa akan menusuk bapak!" Ancamnya dengan mengacungkan sesuatu yang ia pegang di tangannya yang gemetar dengan tatapannya yang fokus pada wajah Billy.


"Buahaha!!" Bukannya merasa takut, Billy justru tergelak kencang melihat tingkah Milly.


Mata Milly seketika membeliak karena terkejut mendengar gelak tawa Billy. Sambil menelan ludahnya berat, ia pun memberikan diri untuk bertanya. "Ke-kenapa Bapak tertawa! Apanya yang lucu?!"


"Lo mau jadiin gue bumbu rujak, hah!" Seru Billy di sela-sela tawanya sambil membungkuk mencondongkan wajahnya mendekat pada Milly.


Sedangkan si gadis tampak mengernyitkan keningnya bingung. Sesaat kemudian ia menggeser pandangannya ke arah sesuatu di tangannya. Dan gadis itu terperanjat saat tahu bukanlah pisau yang ia pegang melainkan ulekan bumbu rujak.


Astaga, kenapa bisa salah ambil begini si, benar-benar memalukan sekali. Gerutu Milly kesal.


Seketika itu juga diletakannya ulekan itu kembali di atas cobek. Menunduk kaku sejenak, gadis yang seketika pipinya merona merah itu mendongak dan menatap Billy malu-malu.


"Mau nusuk kok pakai ulekan! Kalau mau ngancam orang lihat-lihat dulu senjata yang yang kau bawa!" Tutur Billy sambil menonyol dahi Milly dengan hari telunjuknya. "Dasar nggak ada ahlak." Ledeknya kemudian sambil memalingkan wajah dan bersedekap dada.


Tak terima mendengar kata-kata makian dari Billy, seketika Milly mendengkus kesal sambil menatap Billy dengan bola mata yang membulat sempurna.


"Hey Pak, kenapa si Bapak suka sekali mengatai saya nggak ada ahlak! Saya tersinggung Pak! Gadis seksi cantik dan baik hati begini dibilang nggak ada ahlak! Situ waras Pak?!" Ledek balik Milly sambil berkacak pinggang dan menatap Billy dengan keangkuhannya.


"Makin ngelunjak kamu ya, ngatain saya nggak waras!"


"Ye, siapa yang ngatain Bapak nggak waras, saya kan cuma nanya. Kalau Bapak merasa, ya berarti alhamdulillah. Berterima kasihlah pada saya Pak, karena sudah diingatkan ,,,." Ledek Milly dengan bibir menyebik.


"Benar-benar kurang ajar ya nih orang ...!" Geram Billy sambil menggertakkan giginya berusaha menahan amarah. Bahkan kepalan tangannya sudah terangkat dan hampir-hampir saja melayang ke wajah Milly andai saja Billy kehilangan kendali dan melupakan jika Milly adalah seorang wanita.


"Oh, jadi Bapak mau main kasar terhadap wanita lemah seperti saya?!" Seolah tak gentar, Milly malah berucap dengan nada menantang. "Ada undang-undang nya loh Pak, Bapak bisa di tuntut karena telah melakukan kekerasan terhadap wanita. Dalam sekejap Bapak bisa menghabiskan waktu dengan bersenang-senang di dalam penjara .... Uh ,,, bahagianya saya karena terbebas dari hutang."


"Cih, sebelum kau melaporkan ku ke polisi, justru kau yang lebih dulu ku habisi." Ancam Billy dengan seringai licik di bibirnya.


Ia pun kembali membungkukkan badan dan mencondongkan wajahnya mendekat pada wajah Milly. Sementara jemarinya dengan dengan cepat meraih dagu Milly dan memaksa gadis itu menatap wajahnya.


"Katakan padaku, kau ingin ku habisi dengan cara apa, heum???" Tanyanya dengan nada suara yang menggoda.


Milly yang merasa terkejut seolah merasa tubuhnya seperti membeku seketika. Dengan jarak sedekat ini dengan pria tampan itu membuatnya benar-benar tak bisa menguasai diri.


Entah mengapa meski terlihat sedang begitu marah, hal itu sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan lelaki yang tetap terlihat begitu berwibawa ini.


Sesiran jantung Milly semakin bergetar tak terkendali. Bahkan seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Untuk beberapa saat dua pasang netra dengan emosi yang membara itu saling beradu. Bahkan hangatnya embusan napas Billy terasa hangat menyapu lembut wajah merona Milly.


Masya'allah nih cowok ganteng banget. Matanya ,,, hidungnya ,,, ya ampun, tipe gue banget .... Astaghfirullah, eling Milly, eling! Jangan sampai kamu naksir sama cowok galak macam dia, idih amit-amit!

__ADS_1


Mengerjapkan mata berkali-kali, Milly berusaha menguasai dirinya yang sepertinya mulai terpesona pada pertemuan kedua. Menelan slavinanya susah payah, Milly lantas menepis keras lengan kuat Billy hingga cengkeraman lelaki itu terlepas.


"Jangan sok ya pak, mentang-mentang Bapak lelaki yang maaf nih ya,--" Milly melirik sinis. "Merasa kuat dan hebat." Lanjut Milly lagi. "Justru Bapak yang akan habis terlebih dulu oleh saya. Apa bapak mau di hajar massa kalau sampai saya panggil semua teman-teman ghibah saya?!" Gertaknya kemudian dengan nada mengancam.


Billy tak bisa menahan keinginannya untuk tertawa setelah mendengar ucapan Milly hingga lelaki itu tergelak kencang sambil membungkuk dan memegangi perutnya.


"Ya Allah, Milly ,,, pagi-pagi sudah ngelawak saja ya. Kamu itu lucu tau nggak," Billy terdengar seperti memuji namun seringainya nampak begitu meremehkan. "Bisa apa teman-teman ghibah mu itu hah? Paling juga ngerumpi, ngegosipin orang. Ingat woy ,,, ghibah itu dosa!" Billy lagi-lagi menonyol dahi Milly, hingga tubuh gadis itu sedikit terdorong ke belakang.


Gadis tanpa alas kaki itu menyebik sambil mengusap dahinya pelan. Lalu mengangkat pandangannya menatap Billy penuh ancaman.


"Jadi bapak belum tahu the power of girls squad kami, hah?!" Tampak menggebu-gebu, Milly bahkan sampai menyingsingkan lengan kemejanya. "Biar saya tunjukkan sekarang pada Bapak." Geramnya kesal lalu tangannya meraih peluit yang berada di meja.


Milly lantas meniupnya keras hingga beberapa kali seperti dirinya tengah dalam situasi genting saja. Karena begitu nyaringnya lengkingan peluit itu, sampai-sampai membuat Billy harus menutupi kedua telinganya dengan jemari.


Dan tanpa Billy duga, akibat dari tiupan peluit yang Milly lakukan tadi, para gadis-gadis seluruh penghuni kontrakan itu tampak muncul secara bersamaan dengan berbagai penampilan dan barang bawaan.


Ada yang muncul dengan berpenampilan sudah rapi, ada yang dengan mulut berbysa karena sedang menggosok gigi, bahkan ada pula yang tampak masih mengenakan penutup mata karena baru bangun tidur.


Seketika Billy menurunkan tangannya yang semula menutupi kedua telinganya sambil membelalakkan mata menatap keseluruh penjuru kontrakan dengan begitu banyak memperlihatkan penampakan wanita dari jendela maupun berdiri di ambang pintu dengan menatapnya Penuh ancaman.


"Butuh bantuan Mill?!" tanya seorang gadis yang sepertinya adalah ketua dari semuanya. Sedangkan Milly hanya mengangkat tangannya sebagai instruksi untuk bertahan pada mereka.


"Astaga, kau benar-benar memanggil mereka semua?!" Billy menatap Milly keheranan.


"Ha-ha-ha! Bapak masih belum percaya dengan girls squad kami? Mau lihat the power of teman-teman ghibah saya. Sekarang Bapak tinggal pilih, rumah sakit atau kuburan?" Tersenyum puas, Milly dengan santai melipat kedua tangannya di dada.


"Oke, aku mengalah dan kau menang." Geram Billy kesal saat terpaksa harus mengakuinya meski berat hati.


"Ish Bapak, kalau memang kalah ya bilang aja kalah Pak, pakai bilang mengalah lagi ,,,," goda Milly sambil menyenggol tubuh Billy dengan bahunya.


Sabar Billy, sabar. Jagoan memang selalu kalah duluan. Kau harus memiliki hati yang besar serta dada yang lapang untuk menghadapi gadis nggak ada ahlak di depan mu ini.


Menggertakkan gigi merasa jengkel, Billy harus rela harga dirinya turun gara-gara di nego oleh gadis aneh di hadapannya ini. Bagaimanapun juga Ia tak ingin kejadian memalukan di pasar tadi kembali terulang lagi.


"Oke, saya kalah dan kamu yang menang." Lirihnya sambil tersenyum manis semanis madu.


Milly membelalak tak percaya. "Uhhh ,,, manis sekali." Pujinya dengan mata berbinar senang. Lantas pandangan Milly pun tertuju pada bahu Billy yang tampak kotor akibat ulah sandal jepit keramatnya.


Tangannya lantas bergerak mengibas lembut jas Billy. Terkekeh kecil, gadis itu pun berucap agak sungkan. "Maaf ya pak, sepertinya sandal jepit saya terlalu menyukai anda sampai-sampai dia meninggalkan bekasnya di jas mahal anda ini."


Terkejut, Billy segera menoleh dan memutar bola matanya untuk melirik bahunya. Dan benar saja, ada bekas sandal jepit swallow di sana.


"Sial!" Umpatnya kesal dengan menatap Milly dengan sorot mata tajam.


"Eits, nggak boleh marah." Sergah Milly dengan nada menggoda sambil memutar bola mata melirik ke sekitar seolah sedang mengingatkan bahwa Billy sedang dalam ancaman.


Mendesah kasar, Billy lagi-lagi harus rela dirinya berada di bawah ancaman.


"Oke! Aku tidak akan marah. Cepat bubarkan mereka dan segera buatkan rujak yang enak untuk bos saya, mengerti??" Sambil menatap tajam, Billy berucap penuh penekanan.

__ADS_1


"Beres Bapak, anda tenang saja ,,,," ucap Milly dengan tersenyum bangga. Lalu gadis itu berbalik badan dan menatap ke sekeliling ke arah teman-temannya.


"Dengar guys, semuanya aman terkendali! Dan dia bilang dia sudah jinak kok!" Ucapnya sambil melirik pada lelaki di belakang yang tengah menatapnya muak. "Jadi terima kasih atas perhatiannya dan silahkan kembali beraktifitas dan semoga hari kalian menyenangkan!" Serunya seperti sedang pidato saja.


Billy kembali di buat terperangah saat para gadis itu tampak patuh pada perintah Milly dan secara bersamaan mereka kembali dengan aktifitas mereka masing-masing.


"Ha-ha-ha ,,, hebat kan saya Pak?" Tanya Milly sambil terkekeh.


Tak menjawab, Billy hanya bergeming fan memutar bola matanya malas. "Buruan bikin rujaknya!" Desaknya kemudian penuh tuntutan.


"Eh iya maap, sampe lupa kalau saya ini pedagang rujak buah. Tadi berasa mau konser aja." Sambil tersenyum penuh kemenangan, Milly melanjutkan lagi kegiatan membuat rujaknya. Sambil sesekali melirik pada Billy yang tengah duduk dengan wajah kesal.


"Sudah siap Pak," ujar Milly sambil menyodorkan lima kotak mika rujak buah pesanan Billy yang terbungkus dalam satu kantong plastik.


Setelah mendongak menatap Milly, Billy pun segera bangkit dari duduknya sembari tangannya bergerak menerima kantong plastik dari tangan Milly.


"Terimakasih. Ini gratis kan??" Tanyanya asal.


"Enak aja Bapak bilang gratis. Lalu dari mana sata dapatin uang untuk bayar hutang saya ke bapak?!"


Tanpa bicara, Billy pun mengambil dompet dari sakunya dan mengambil selembar uang pecahan seratus ribuan.


"Nih, ambil kembaliannya sekalian."


"Eh enak saja, nggak bisa begitu Pak!" Protes Milly kesal. "Bapak beli, saya juali. Uang bapak lebih ya saya angsuli!" Ucap Milly sambil menahan Billy yang sudah hendak melangkah pergi.


"Terserah!!" Billy hanya bisa menggeram kesal. Ia pun menuruti keinginan Milly untuk menunggu uang kembaliannya.


"Sebentar ya Pak," Milly bergegas berlari kecil menuju meja untuk mengambil uang kembalian. Namun setelah sibuk mencari, Milly tak kunjung menemukan dompet yang ia cari. "Kemana ya Pak?" Tanyanya dengan wajah panik dengan pandangan mengedar ke sekitar.


"Apanya?"


"Dompet saya, tadi kan ada." Milly masih berusaha mencari. Dan Billy tampak memperhatikan gadis itu dengan heran.


"Waduh Pak, sepertinya dompet saya tidak ada. Jadi mohon maaf, uang kembalian Bapak enggak ada, he-he." Milly nyengir tersipu malu.


"Sialan, sengaja kan?! Modus doang kan? Senang sekali kamu bikin saya kesal, hah!" Umpat Billy dengan geram, kemudian berlalu pergi melangkah menuju mobilnya.


"Terima kasih banyak ya! Sampai jumpa besok lagi! Jangan kapok dan sering-sering beli rujak saya ya Pak!" Serunya dengan riang pada Billy yang sudah membuka pintu mobil. Dan lelaki itu hanya memutar bola matanya malas lalu masuk ke dalam mobil. tak butuh waktu lama, mobil itu pun melaju meninggalkan tempat itu.


"Syukurlah dapat penglaris." Milly tersenyum girang sambil mencium uang itu. "Oh iya, dompet ki mana ya?" Milly bertanya pada dirinya sendiri sambil berisaha mencari lagi keberadaan dompetnya. setelah beberapa lama, ia pun terhenyak saat mengingat sesuatu.


Dengan segera ia pun meraih kantong plastik yang terletak diantara plastik belanjaan tadi. Gadis itu berbinas sebang setelah berhasil menemukan dompetnya.


"Kau di sini rupanya." Milly mendekap sayang dompetnya. "Untung kamu ngumpet sebentar, aku jadi dapat bonus kan ,,, nggak tau deh aku harus seneng atau gembira ha-ha-ha ...! Duh Milly, kamu hebat sekali si ,,,." Ucap Milly pada dirinya sendiri dengan suka cita. Lalu di letakkanya dompet itu di atas meja.


"Rujak-rujak! Rujaknya kakak-kakak dan adik-adik!" Teriaknya menjajakan dagangannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2