Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Hadirnya Sebuah Perkara


__ADS_3

Dengan hati diliputi tanda tanya besar, Mayang terus melangkah memasuki rumah. Sebuah pemandangan mencengangkan pun tersaji di depan mata yang sontak membuat gadis itu membeku di tempatnya.


Beberapa pria dengan stelan jas serba hitam tampak berdiri mendominasi ruang tamu, sementara ibu, ayah dan adiknya bersimpuh dengan wajah tertunduk dalam di hadapan pria yang duduk di atas sofa. Jelas ia bertanya-tanya, gerangan apakah yang sudah terjadi pada keluarganya.


Menyadari kehadiran Mayang, secara serentak tiga orang yang tengah dalam tekanan itu menoleh ke arah Mayang yang berdiri di ambang pintu. Tatapan mata penuh kesedihan pun tak terelakkan. Namun, tiga orang itu masih setia bungkam saat Mayang mendekat dan mencoba menanyakan.


“Ayah, Ibu, apa yang telah terjadi?” tanyanya sambil ikut bersimpuh dan menatap keluarganya satu per satu dengan ekspresi menuntut penjelasan.


Bukannya menjawab, ketiganya justru menunduk takut-takut.


“Owh, jadi ini gadis yang bernama Mayang itu?”


Mayang sontak menoleh ke arah sofa dan dengan beraninya menatap mata sang pria yang bertingkah layaknya seorang penguasa itu. Kenapa ia berpikir begitu? Sebab hanya pria ini yang duduk dengan santai di saat yang lainnya berdiri tegap seperti sedang siaga. Sementara pemilik rumah justru bersimpuh di lantai layaknya orang teraniaya.


“Jawab!” sentak pria itu lagi sebab melihat Mayang hanya diam memperhatikannya saja.


Bukan hanya Mayang saja yang terkejut. Namun, tiga orang anggota keluarganya pun tak lepas dari keterkejutan. Bahkan gigil takut, Isak tangis serta peluh dingin mulai mewarnai tiga orang tadi, tetapi hal berbeda justru ditampakkan oleh Mayang. Selain memang memiliki sikap pemberani, ia bahkan masih diliputi rasa penasaran sebab hingga kini belum mendapatkan penjelasan.


Balik menatap pria bernama Billy itu tanpa sedikit pun rasa gentar, ia pun menjawab dengan lantang.


“Iya, saya Mayang. Bisakah Anda jelaskan kenapa Anda bersikap tidak sopan dan mengusik ketenangan keluarga kami?”


“Mengusik ketenangan keluarga kalian?” Billy mengulang pertanyaan Mayang dengan nada mengejek, lantas tertawa terbahak sambil menggelengkan kepalanya.


Sejurus kemudian, tangannya bergerak mengambil sesuatu yang diletakkan di sisi kanan, lantas mengambilnya untuk ditunjukkan kepada Mayang.

__ADS_1


“Apa kau tahu ini apa?”


Mayang sontak membulatkan mata. Ia hapal betul dengan benda yang tengah pria itu pegang. Ialah buku yang telah ia baca habis-habisan. Lantas, kenapa bisa ada di tangan pria itu?


Ah, benar kan dugaannya. Buku itu bukanlah buku biasa pada umumnya. Ia sendiri sempat curiga buku itu kelak akan menghadirkan perkara, dan benar saja, kan. Kini saatnya telah tiba.


Meski rasa takut mulai menyergap, tetapi Mayang berusaha bersikap tenang dan mencoba menanyakan baik-baik pada Billy.


“Apa yang terjadi dengan buku itu?”


“Ayahmu telah mencurinya dari perusahaan kami!” tegas Billy seraya menuding Anwar dengan jari telunjuknya.


Sontak perkataan Billy itu membuat Mayang membelalak. Ditatapnya wajah sang ayah dengan seksama dan menuntut penjelasan.


Dengan ekspresi sedih, Anwar pun menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Demi Allah yang bersaksi, Ayah tidak mencuri buku ini, Nak,” jawab Anwar penuh keyakinan.


“Bohong!” bentak Billy.


Melihat ayahnya diperlakukan sedemikian rupa, jelas saja Mayang tak terima. Ia balik menatap Billy dengan tajam, lantas berucap dengan nada memperingatkan.


“Tolong jangan tuduh ayah saya dengan tuduhan tidak benar. Ini fitnah namanya, dan saya bisa memperkarakan anda pada polisi,” ancamnya dengan nada tenang walau sejujurnya Mayang sendiri gemetaran.


“Mau memperkarakan? Silahkan! Karena pada akhirnya ayahmu lah yang kelak akan masuk bui. Rupanya kau belum tahu seperti apa kekuasaan kami?” tegas Billy dengan sikap arogan. Dengan lengan kanan bertumpu pada lutut kanannya, ia mencondongkan wajah dan menatap Mayang dengan ekspresi meremehkan.

__ADS_1


Melihat bagaimana penampilan Billy serta segala yang pria itu miliki, mendadak Mayang pun ciut nyali. Ia menundukkan kepala dan menelan mentah-mentah keangkuhannya. Ia tahu ayahnya bukanlah pencuri. Namun, melawan orang yang berkuasa sepertinya justru akan menghancurkan diri sendiri. Tak ada yang bisa ia lakukan selain bertanya apa keinginan mereka.


“Jadi, apa yang kalian inginkan dari kami? Buku itu, bukan? Kami tidak butuh. Silakan bawa dan segera angkat kaki dari rumah kami!” tegas Mayang dengan nada pengusiran seraya menunjuk pintu keluar.


Alih-alih menuruti keinginan Mayang, Billy justru terbahak menanggapi pengusiran gadis itu. Semakin takut, empat anggota keluarga itu saling berpelukan dengan tubuh gemetaran.


“Kau pikir dengan mengambil kembali buku ini semua masalah terselesaikan? Hohoho, sama sekali tidak, Nona! Kau telah membacanya, dan kami pun tak bisa melepaskanmu begitu saja.”


Sontak Mayang melebarkan mata. “Maksudnya?” tanyanya dengan ekspresi tidak mengerti.


Tanpa gadis itu duga, tiba-tiba sang ayah bergerak mendekati Billy dan memeluk kaki pria itu demi untuk memohon.


“Tolong, Tuan, bebaskan putri saya. Bawalah saya kepada Bos untuk mempertanggung jawabkan semuanya.”


Tak rela ayahnya berbuat demikian, Mayang lantas menarik Anwar sambil berkata dengan nada memohon.


“Ayah, jangan lakukan itu. Dia bukan Tuhan dan dia lebih muda terlepas dari segala tuduhannya. Ayah tak bersalah. Ayah tak perlu merendahkan martabat sendiri dengan memeluk kaki tukang fitnah ini!” Mata Mayang tersorot begitu tajam ke arah Billy.


Jelas, pria itu berang. Ia sontak bangkit dan berucap dengan garang.


“Cepat! Ayo kita pergi dan bawa juga gadis ini!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2