Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Pagar makan tanaman


__ADS_3

"Sudah sampai nyonya? Silahkan turun." Billy sengaja membungkukkan badannya agar ia bisa menatap Mayang dengan jelas. Wanita itu masih tetap duduk termangu di jok depan mobil Billy yang menjemputnya.


Meski tak terdengar lagi isak tangis dari bibirnya, namun mata sembab nya masih tampak kosong menatap jauh kedepan sana.


"Nyonya ,,," Billy mengulurkan tangannya untuk membantu istri bos nya itu keluar dari mobilnya.


"Bawa aku pergi dari sini." Mayang mengabaikan uluran tangan Billy.


Billy menarik tangannya lalu mencondongkan tubuhnya lebih mendekat. "Nyonya ingin saya membawa anda kemana?"


"Kemanapun asal tidak disini." Mayang sedikit menaikkan suaranya. Perlakuan Brian padanya benar - benar membuatnya merasa terpukul hingga ia tak ingin mengingat lelaki itu lagi untuk saat ini. Ia butuh tempat lain untuk melupakan kepedihan hati yang teramat dalam.


"Baik Nyonya," Billy menutup kembali pintu penumpang mobilnya. Lantas berjalan mengitari mobil menuju sisi lainnya sembari memberi isyarat pada Bu Kuswara dan para pelayan yang tampak berdiri menyambut Mayang. Bu Kuswara mengangguk faham dengan isyarat yang Billy berikan.


Mayang tampak mendesah pelan sembari menyandarkan kepalanya di jok mobil saat Billy masuk kembali kedalam mobil dan memasang sabuk pengaman.


"Saya antar ke kediaman Tuan besar sekarang Nyonya?"


"Tidak mau!" Mayang menjawab cepat setengah berteriak membuat Billy tampak terkejut dengan penolakan yang Mayang tunjukkan.


Mayang menoleh dan menatap Billy dengan wajah menyesal. Tersirat kembali kesedihan di matanya. Di detik lain ia pun tertunduk untuk menyembunyikan matanya yang kembali berkaca - kaca.


"Aku hanya tidak ingin ibu mengetahui masalah kami." Suara Mayang terdengar lirih saat mengatakan alasannya. Matanya menatap jemarinya yang saling meremas di atas pangkuan nya.


"Apa anda ingin liburan untuk beberapa lama? Ke Bali mungkin? Atau kemanapun yang anda inginkan, saya bisa urus sekarang juga." Ucap Billy dengan memberikan tawaran. Sembari ditatapnya Mayang dengan lekat agar ia bisa melihat ekspresi wajah gadis itu dengan jelas.


"Aku tidak mau." Jawaban singkat Mayang membuat Billy menghela nafas dalam. Entah tipe wanita seperti apa istri bos nya ini. Gadis ini memang suka sekali kesederhanaan.


Meski selama ini ia hidup dalam belenggu sangkar emas, namun ia mengabaikan tawaran kebebasan yang menyenangkan lewat begitu saja.


Bukan hal mudah ternyata bagi Billy untuk membujuk wanita yang sedang patah hati. Mayang menolak semua tawaran yang Billy ajukan untuk menyenangkan hatinya.


Berkali - kali Billy menatap iba pada gadis yang tampak tegar meski sebenarnya ia rapuh. Mata sembab itu sudah cukup menunjukkan kepingan hatinya yang telah patah dan menyisakan luka yang amat dalam.


"Silahkan masuk." Ucap Billy saat pintu apartemen nya telah terbuka. Pada akhirnya Billy membawa Mayang ke apartemen nya sesuai permintaan Nyonya mudanya itu. Meski Billy telah menolaknya namun Mayang tetap bersikeras untuk ikut bersamanya.


Mayang tersenyum sembari melangkahkan kakinya untuk pertama kali ke tempat peristirahatan Billy. Matanya mengamati seluruh ruangan yang tampak mewah dengan desain yang elegan itu.


Mayang bisa merasakan kenyamanan tempat itu saat pertama kali memasukinya. Ukurannya yang tak terlalu besar memang cukup pas untuk Billy yang hanya seorang diri.


Billy menarik koper Mayang menuju ke kamarnya. Karena memang hanya ada satu kamar di apartemen itu.


"Apa anda lapar?" Tanya Billy setelah keluar dari kamarnya. "Saya akan mencarikan anda makanan di luar sebentar."


"Tidak, tidak perlu." Cegah Mayang seketika. "Aku hanya merasa sedikit lelah, aku ingin numpang tidur sebentar kalau boleh." Sambungnya kemudian ragu - ragu.


"Tidurlah di kamar saya. Di sebelah sana." Ucap Billy sembari menunjuk pintu kamarnya yang tertutup.


"Tidak perlu, aku bisa tidur di sofa atau di matras saja. Sungguh aku tidak mau merepotkan mu."


"Saya tidak merasa kerepotan. Saya senang bisa membantu anda." Billy tersenyum ramah. Ia menggerakkan tangannya untuk meraih pergelangan tangan Mayang. "Mari ku antar. Tak perlu sungkan ..." Ucapnya dengan ramah untuk mengusir ketegangan di antara mereka. Ia tersenyum saat melihat Mayang menatap bingung pada genggaman tangannya.

__ADS_1


Meski awalnya sempat ragu, namun Mayang pasrah saat Billy menariknya berjalan menuju pintu yang Billy tunjuk.


"Tidurlah di dalam Nyonya," ucap Billy saat mereka sydah berada di depan pintu. "Saya ada di sana jika anda butuh sesuatu." Sambungnya lagi sembari menunjuk ke arah sofa yang terletak di samping jendela.


"Terima kasih untuk kebaikan mu sekretaris Billy." Ucap Mayang tulus.


"Sudah tugas saya." Jawab Billy sopan lalu kemudian mengangguk mohon diri.


"Billy," panggil Mayang saat Billy sudah beranjak beberapa langkah dari tempatnya.


"Iya," Jawabnya sembari memutar tubuhnya cepat.


"Bisa tidak untuk berhenti memanggil ku Nyonya? Apa aku sudah setua itu? Aku lebih suka kau menganggap ku sebagai teman. Aku tidak suka bahasa formal."


"Baiklah." Jawab Billy dengan tersenyum ramah.


"Panggil aku Mayang saja."


"Iya. Beristirahat lah di dalam Mayang."


"Iya begitu." Mayang tersenyum lebar. "Aku lebih suka di panggil begitu."


Mayang akhirnya masuk kedalam kamar Billy. Pelan -pelan ia melangkah kan kakinya setelah menutup rapat pintu itu. Matanya mengamati setiap sudut kamar berukuran sedang namun tertata dengan rapi untuk seorang penghuni laki - laki.


Mayang duduk di bibir ranjang sembari mengelus sprei putih nan lembut itu. Peristiwa hari ini benar - benar menguras energinya hingga hampir habis tak tersisa.


Membuatnya kini merasa lemas tak berdaya dengan kepala pusing dan pandangan yang ber kunang - kunang.


Dan tak butuh waktu lama hingga Mayang benar - benar terlelap di alam mimpi.


Billy menekan pangkal hidungnya lelah setelah ber jam - jam menatap layar laptop nya. Meski berada di rumah namun ia harus tetap bekerja mengingat pekerjaannya yang teramat banyak.


Jam sudah menunjukkan pukul enam sore namun Mayang belum tampak keluar dari kamarnya. Ada sedikit rasa khawatir di hati Billy mengingat Mayang sudah tertidur sepanjang siang hingga sore ini.


Di tambah lagi karena dorongan Brian yang berkali - kali menanyakan keadaan istrinya sejak ia membawa Mayang tadi.


Billy mengayunkan langkahnya menuju pintu kamar. Perlahan Billy membukanya tanpa menimbulkan suara. Namun ia terkejut saat mendapati tubuh Mayang yang tampak menggigil di balik selimut.


Billy segera menghampiri, Ia menempelkan telapak tangan nya di dahi Mayang untuk mengukur suhu tubuhnya. Billy berjingkat panik saat tangannya terasa panas begitu menyentuh dahi Mayang.


Ia segera berlari keluar kamar dan kemudian kembali dengan air hangat di mangkuk dan handuk kecil untuk mengompres.


Ternyata dengan mengompres saja tak cukup efektif untuk menurunkan suhu panas di tubuh Mayang. Billy terpaksa memberikan obat turun panas dengan efek samping menimbulkan rasa kantuk jika diminum, berharap agar Mayang bisa beristirahat dengan nyaman.


Ponsel nya yang berada di dalam sakunya tiba -tiba berdering membuat Billy segera menjauh dari kamar itu agar tak mengganggu tidur gadis itu.


"Apa yang sedang istriku lakukan di apartemen mu sekarang Bill?" Suara Brian berbicara melalui sambungan teleponnya.


"Tuan," Billy menggantung kata - katanya.


"Ada apa?" Suara Brian sudah terdengar cemas dari sana.

__ADS_1


"Istri anda sedang terserang demam Tuan. Suhu tubuhnya panas sekali."


"Sial!" Brian mengumpat sembari memukul dengan keras dinding tembok dihadapannya. "Ku mohon lakukan apapun untuk menolongnya Bill, aku benar - benar tak bisa keluar dari sini sekarang." Ucap Brian kesal namun juga dengan nada memohon. Lelaki itu tampak sangat khawatir terhadap istrinya saat ini.


"Saya pasti menjaganya tuan, ini memang sudah tugas saya. Anda tak perlu khawatir."


"Jangan tinggalkan dia sendirian Bill, lakukan yang terbaik untuknya. Jangan lupa kabari aku setiap waktu." perintah Brian sebelum mengakhiri panggilannya.


Billy segera kembali ke kamarnya. Ia melangkahkan kakinya untuk mendekat lalu duduk di tepi ranjang di sisi tubuh Mayang.


Suara lenguhan Mayang membuat Billy meraih jemari Mayang dan menggenggamnya erat. Ekspresi wajah Mayang yang masih terpejam tampak lebih tenang setelah Billy menggenggam jemarinya.


"Sayang ..." Suara Mayang mengejutkan Billy hingga ia spontan melepaskan tangannya. Namun saat dilihat oleh Billy mata Mayang yang masih terpejam dengan rapat, bisa di pastikan jika gadis itu tengah mengigau.


"Sayang kemarilah dan peluk aku." Suara Mayang kembali terdengar mamun kali ini di barengi dengan tarikan di tangannya.


Billy segera naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di sisi Mayang. Entah apa yang berada di fikiran Mayang saat itu, tiba - tiba gadis itu menyambar tubuh Billy dan memeluk lelaki itu seperti dia memeluk suaminya sendiri.


Billy hanya pasrah saat Mayang melakukan itu. Gadis itu tampak semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Billy.


Sebagai lelaki normal tentu hal ini membuat Billy merasakan ada getaran lain dihatinya. Disaat kulit arinya bersentuhan dengan kulit mulus seorang wanita cantik meski dia istri bosnya sendiri.


Billy mencoba menetralkan perasaannya karena ia hanya ingin menghangatkan Mayang dengan tubuhnya agar gadis itu segera pulih dari demamnya.


Billy membetulkan posisi berbaringnya agar Mayang tang bertumpu di dadanya bisa merasakan kenyamanan. Namun gerakannya itu ternyata mengusik tidur Mayang hingga gadis itu menggerakkan tangan nya membelai permukaan dada Billy secara perlahan dan menimbulkan gelenyar aneh yang dirasakan Billy.


Billy menarik anakan rambut yang menutupi wajah Mayang lalu menyelipkan nya kebelakang telinga. Entah mengapa tangan itu tak bisa ditahan saat ingin membelai rambut indah Mayang nan harum.


Mungkin alam bawah sadar Mayang mengira lelaki yang di peluknya itu adalah Brian. Sehingga tangannya bergerak meraba wajah Billy dengan kelembutan.


Dan tanpa Billy duga, Mayang meraup wajah Billy meski dalam keadaan mata terpejam. Mayang menyambar bibir Billy dengan ganas lalu menyesapnya dengan lembut dan perlahan.


Bagaimana pun juga Billy tetap lah laki - laki normal yang memiliki nafsu. Tubuhnya tak bisa melawan saat Mayang tiba - tiba menyerangnya dengan kehangatan dan kenikmatan.


Tanpa sadar Billy pun bergerak membalas ciuman Mayang. Hisapan, kecupan serta lumatan di bibirnya membuat Mayang mengeluarkan desahan yang tertahan.


Lenguhan Mayang seolah menyulut gairah Billy yang sejak tadi telah ia tahan kini semakin berkobar. Tangan Billy bergerak menekan tengkuk leher Mayang membuat ciuman mereka semakin dalam.


Namun pada saat liontin kalung yang Brian berikan untuk Mayang bergeser dan menimbulkan suara karena gesekannya dengan kalung itu sendiri, membuat Billy tersadar pada sesuatu hal yang membuatnya secara spontan melepaskan ciuman mereka yang semakin memanas.


Billy segera beranjak dari ranjang dan melangkah lebar menuju keluar dengan wajah yang merah padam. Tangannya yang terkepal segera ia arahkan pada dinding ber cat putih di ruang tamu apartement nya senagai pelampiasan nya.


"Gila gila gila!" Teriak Billy dengan nafasnya yang memburu. "Aku benar - benar sudah gila!" Billy mengusap gusar wajahnya. Kalau saja ia tak dapat mengendalikan dirinya mungkin ia sudah memangsa Mayang saat ini juga.


Dia tak mungkin menjadi pagar yang makan tanaman. Mayang yang seharusnya ia jaga malah hampir saja ia menodai nya. Billy menghirup nafas panjang dan melepasnya secara perlahan hingga ia merasa tenang. Setelahnya ia pergi ke kamar mandi untuk melemaskan otot - otot tubuhnya yang mulai menegang tadi.


Karena ia memang hanya memiliki satu kamar dan kamar mandi yang tergabung dalam satu ruangan, Billy langsung bisa menatap wajah Mayang yang tampak masih meringkuk kedinginan begitu ia keluar dari kamar mandi.


Billy kembali naik ke ranjang dan memberikan kehangatan tubuhnya pada Mayang. Namun hanya sebatas itu dan tidak lebih. Setidaknya malam itu kerinduan Mayang terhadap Brian sedikit terobati oleh kehangatan tubuh Billy yang bersedia menjadi pengganti di malam dingin nan oanjang ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2