
Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, akhirnya Billy membelokkan mobilnya memasuki basemant sebuah gedung apartemen. Milly yang baru menyadari jika tempat itu bukanlah sebuah rumah sontak menatap Billy dengan ekspresi kebingungan. "Loh, kok ke sini?" Tanyanya kemudian dengan wajah penasaran.
"Mau kemana lagi? Apartemenku kan di sini." jawab Billy santai sambil mengendalikan setir mobilnya. Menoleh ke arah istrinya sekilas, ia menipiskan bibir. Ia bisa menangkap keterkejutan di wajah istrinya yang tampak kebingungan saat mereka melewati lorong basemant itu. Tak ingin membuat istrinya larut dalam kebingungan, ia pun lantas bertanya, "Kenapa? Kau kecewa aku tidak memiliki rumah?"
Milly yang semula masih mengamati pemandangan luar jendela pun sontak menoleh saat mendengar Billy bertanya. "Ah tidak ,,, bukan begitu maksud saya." jawabnya sambil meringis penuh sesal. "Maaf kalau saya salah bertanya." lirihnya kemudian.
"Kenapa harus meminta maaf?" Billy malah mengernyit keheranan. Sementara Milly hanya tersenyum kecut sebagai jawabannya, sebelum kemudian gadis itu kembali menoleh dan memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Tak lama kemudian, Billy pun membelokkan setir mobilnya, lantas memarkirkannya dengan baik.
Setelah mematikan mesin mobilnya, Billy segera keluar dan berjalan menuju bagasi untuk mengeluarkan barang-barang Milly. Semangat Milly sendiri, gadis itu masih berdiri di samping mobil dengan pandangan yang masih mengedar ke sekeliling. Namun saat Billy sudah mendekat dengan tangan menarik koper yang berisi pakaiannya, gadis mungil itu buru-buru menyunggingkan senyum yang nampak sedikit canggung.
"Ayo." Ajak Billy kemudian dengan pandangan seolah menuntut, sebelum kemudian berjalan mendahului hingga mereka sampai di depan lift. "Masuklah." Titah Billy saat pintu lift terbuka. Mengangguk samar, Milly lantas melangkah masuk menuruti perintah suaminya.
Berdiri dengan posisi selangkah di belakang Billy benar-benar membuat tubuh Milly yang mungil itu tampak tenggelam. Hanya berdua di dalam satu ruangan seperti ini benar-benar membuat dada gadis itu terasa sesak. Meskipun mereka telah beberapa kali terjebak dalam kebersamaan, namun rasanya tak seperti sekarang.
Milly tak memiliki alasan untuk menolak permintaan Billy tinggal bersamanya. Terlebih dengan status mereka yang sudah menjadi suami istri. Namun demi keamanan dirinya sendiri lah yang lebih utama. Billy telah menjelaskan dan memberikan pengertian kepadanya panjang lebar sebelum akhirnya gadis mungil itu menyanggupinya.
Namun menyatukan dua manusia dengan karakter yang berbeda dalam satu atap bukanlah perkara yang mudah. Karena tak bisa dipungkiri, ketidak cocokan dan perbedaan selalu berhasil memecah belahkan suatu hubungan. Bahkan tak sedikit pula pertumpahan darah terjadi antara saudara sedarah meski mereka tinggal di bawah satu atap.
__ADS_1
Menatap punggung lebar di hadapannya, tanpa sadar tangannya bergerak meremas ujung kemejanya. Jantungnya kian berdegup kencang seiring dengan hatinya yang kian dilanda kekhawatiran. Ada rasa ketakutan yang semakin mengganjal perasaannya. Takut tidak bisa membawa diri, sebab beberapa bulan ini dia terbiasa dengan kebebasan dengan hidupnya yang seorang diri.
Kesempurnaan hidup yang Billy miliki benar-benar membuat Milly ciut nyali. Tak seharusnya dia berada di sini, di tempat asing ini. Jujur ia tak suka, sebab Milly merasa ini bukanlah habitatnya. Gadis liar seperti dia tak seharusnya berada di lingkungan yang penuh dengan hiruk pikuk kemewahan. Ia suka kemiskinannya. Ia suka kesederhanaannya. Milly merasa belum siap jika seluruh dunia akan memandangnya sebelah mata.
Dentingan yang berbunyi saat lift berhenti pun berhasi membuyarkan lamunan Milly. Gadis itu segera langkah mengikuti Billy yang telah lebih dulu keluar.
"Masuklah." Ucap Billy setelah membuka pintu apartemennya. Mempersilahkan gadis cantik yang masih tampak canggung itu untuk masuk lebih dulu.
Milly berdecak kagum begitu ia memasuki apartemen milik suaminya itu. Bangunan apartemen ini sangat mewah, hingga membuat gadis itu takjub saat mata beningnya menjelajahi setiap sudut ruangan.
"Aku naik ke atas dulu untuk membawa barang-barangmu ke kamar." pamit Billy yang hanya di balas anggukan oleh Milly.
Mata bening gadis itu membulat saat bersirobok dengan Tv flat yang besar beserta home teather yang canggih dan sudah pasti mahal. Melihat sofa empuk di sana, Milly tak tahan untuk duduk dan merasakannya. "Lembut." ucapnya sembari mengusapkan jemarinya di sana.
Suara derap langkah yang semakin mendekat membuat Milly sontak bangkit dan lantas mengayunkan langkah menjauh dari sana. Berdiri dengan tangan saling bertaut di depan, Milly tersenyum rikuh menyambut Billy yang datang. Turun dengan seyuman yang mengembang, lelaki itu bahkan terlihat lebih fresh dengan pakaian berbeda. Ia bahkan telah mengganti pakaiannya.
"Apa kau lapar?" tanya Billy membuka percakapan. Sambil menunduk, ditatapnya gadis mungil yang hanya berjarak kurang dari satu meter dengan dirinya.
__ADS_1
"Kan baru aja makan ayam geprek dua porsi, Pak." dengan wajah merengut, Milly berucap dengan nada mengingatkan. "Masih kenyang banget, lah."
"Hem," Billy menggumam sambil menipiskan bibir menanggapi perkataan Milly. "Kalau lapar kau bisa mencari makanan di kulkas dapur. Atau kau ingin makan sesuatu sekarang, biar aku pesankan." tambahnya sambil merogoh ponsel dari saku. "Kau mau makan apa?"
"Ah tidak, saya tidak lapar, Pak." cegah Milly saat Billy sudah akan menelpon satu nomor.
"Baiklah," balas lelaki dengan jas navi itu santai, lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Diam sejenak, Billy seperti sedang memikirkan sesuatu, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada gadis di depannya.
Milly yang memperhatikan gelagat Billy pun tampaknya mengerti kegelisahan yang tengah lelaki itu rasakan. Hingga akhirnya membuat gadis bermata bulat itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada apa ya Pak? Ada masalah?" tanya Milly kemudian.
"Emm, tidak ada sih. Cuma, aku harus kembali ke kantor sekarang. Ada suatu pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Billy terus terang. "Tidak apa kan kalau kau kutinggal sendirian? Kau bisa melakukan apapun di dini saat aku tidak ada, dan pakailah kamar di atas untuk beristirahat, sepertinya kau sangat lelah."
Lagi-lagi Milly hanya bisa tersenyum kaku. Sejujurnya memang dia merasa sedikit lelah. "Bapak tidak takut meninggalkan saya sendiri di sini? Ehem ,,," Milly berdehem kecil. "Maksud saya, Bapak nggak khawatir saya akan melakukan apa-apa selagi Bapak nggak ada?" tanyanya seolah sedang memperingatkan.
Billy tertawa geli menanggapi pertanyaan Billy. "Memangnya kau berani melakukan apa? Asal kau tahu ya, banyak mata-mata yang tak terlihat di sini." jawab Billy sembari menunjukkan seringai mengancam di bibirnya.
__ADS_1
Milly yang menanggapi serius perkataan Billy pun seketika terkesiap dan membelalakkan mata. Entah saking terkejut atau kah karena takut. "M-mak-maksud Bapak, hantu?" tanyanya kemudian dengan suara terbata. Dan mimik lucu gadis itu benar-benar membuat Billy terpingkal dalam hati.