
Suara panggilan dari tempat peribadatan sudah berkumandang. Namun tak seperti biasanya, Brian masih enggan beranjak dari tempatnya. Lelaki berpiyama putih itu justru semakin mengeratkan pelukannya ditubuh sang istri.
Menepuk lembut lengan sang suami, Mayang berusaha membangunkan. "Sayang, bangun yuk. sudah jam lima." Ujarnya seraya menoleh, melirik sekilas pada Brian yang ia tahu lelaki itu sudah terjaga. Hening. "Sayang ,,," panggilnya lagi saat tak terdengar juga suara sahutan Brian.
Mayang berusaha melepaskan rangkulan suaminya namun sia-sia. Sebab lengan kekar itu masih betah melingkar di perutnya dan menolak melepaskan. Mendesah kasar, wanita yang wanita berambut panjang itu kembali berucap mengingatkan. "Sayang ,,, kalau istrinya lagi hamil nggak boleh mager loh."
"Emmm ...." Lenguh Brian sembari membenamkan bibirnya di ceruk leher sang istri. Aroma tubuh Mayang yang wangi membuatnya betah berlama-lama menyesapi.
Merasa merinding bulu romanya, Mayang spontan mengapit wajah Brian dengan pundaknya. "Sayang geli ah." ringisnya tak tahan.
Bukannya berhenti Brian justru semakin menjadi saat menggoda sang istri. Bahkan jemarinya semakin bergerilya nakal di area favoritnya pada tubuh molek Mayang.
"Sayang jangan nakal!" Sentak Mayang mulai kesal. Bahkan tangannya mencubit gemas lengan Brian.
"Aaa!" Brian memekik saat menarik lengannya. "Ish, sakit tau!" Keluhnya kemudian. Lelaki yang tengah memaksa membuka mata itu seketika merengut kesal saat mendapati istrinya tengah menyeringai puas.
"Biarin."
"jahat ya, aku di cubit ...."
"Habisnya susah di ajak bangun, aku kan jadi kesal."
"Sayang, perempuan hamil nggak boleh kesal. Apa lagi berdiri di pagar." Tutur Brian santai sembari memejamkan matanya lagi.
"Kok pagar?" Mayang yang dalam posisi membelakangi suaminya itu menoleh heran.
Ditatapnya Brian yang terpejam itu penuh selidik. "Sayang kau sedang tidak mengigau kan? Siapa yang berdiri di pagar?"
"Mana ku tahu Sayang, bukannya tadi kau sendiri yang bilang?"
"Hah?" Mayang terdiam sejenak selagi mengingat-ingat yang tadi dia katakan. "Ih Sayang!" Mayang menepuk bahu Brian setelah berhasil mendapatkan kembali rangkuman kata-katanya. "Bukan berdiri di pagar tau. Tapi ma-ger, malas gerak. Nggak lucu deh, becandanya garing ih."
"Oh salah ya?" Brian terkekeh meski matanya terpejam.
"Ih pasti sengaja diplesetin kan?"
"Tidak." Brian menggeleng pelan. Tanpa sadar pelukannya pada sang istri melonggar dan hal itu tentu tak disia-siakan oleh Mayang. Wanita dengan surai hitam itu segera beringsut melepaskan diri. "Yah, kok kabur si?" Lelaki beriris sehitam jelaga itu terlihat kesal kehilangan kehangatannya.
"Bangun dulu Sayang." Tutur Mayang, lalu membantu suaminya menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Wanita yang membiarkan rambutnya tergerai itu lantas duduk tepat di sisi suaminya. "Laporan dulu pada Sang pemilik alam. Udah gitu, baru deh rebahan ...." Bujuknya pelan sambil menepuk paha Brian.
"Janji ya." Desah Brian lemas, sambil menyandarkan kepala di pundak istrinya.
"Iya." Balas Mayang penuh keyakinan sambil menepuk pipi suaminya.
Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terdiam. Brian yang merasa nyaman pada akhirnya kembali merangkul istrinya dengan tangan kiri. sementara tangan kanannya membelai lembut perut rata Mayang, lalu menyapa. "Selamat pagi anak Ayah, sudah bangun belum?"
Tersenyum bahagia, Mayang pun berkata. "Sudah dong, Ayah."
"Mana dong, Ayah mau lihat. Ciluk baa dulu yuk Sayang."
Mayang membeliak seketika. Terkejut mendengar perkataan suaminya. Ia tahu yang Brian maksud bukanlah ciluk baa buka tutup muka, melainkan berhubungan badan. Hal yang belakangan ini begitu mereka rindukan.
__ADS_1
"Sayang belum boleh." Sahut Mayang cepat
"Kok belum boleh terus, dibolehkannya kapan?"
"Mungkin besok." Mayang menjawab ragu.
"Kok besok lagi. Kemarin bilangnya besok. Hari ini bilangnya besok lagi. Trus kapan sekarangnya ...?!" Gerutu Brian kesal.
Mengusap pundak suaminya, Mayang berusaha menenangkan. "Sayang, sabar dulu ya, aku kan belum periksa lagi. Bisakah kau hubungi dokter kandungan untuk mengatur pertemuan?"
Tersenyum senang, Brian menjawab begitu antusias. "Tentu, Sayang."
Mayang membereskan bantal serta selimut usai sang suami bangkit. Menatap Brian yang menguap sementara wajahnya masih terlihat lesu, membuat Mayang menaruh curiga.
"Sayang kok masih lesu begitu seperti semalaman tidak tidur saja?"
Menghentikan langkahnya seketika, Brian lantas berbalik badan dan memasang senyuman. "Aku tidur, Sayang. Memang siapa yang tahan semalaman tidak tidur?"
"Biasanya kau begitu jika sedang ada masalah." Tuduh Mayang dengan wajah polosnya.
"Tidak." Brian menegaskan. Tak ingin berdebat, ia segera melangkah menuju kamar kecil meninggalkan istrinya yang masih bengong menatapnya.
"Sayang, aku belum selesai bertanya, kok main pergi saja?"
"Kebelet, Sayang!" Balas Brian yang sudah berada di dalam.
"Oh ,,, kebelet rupanya. Aku pikir menghindar."
"Hah?!"
***
Billy membawa mobilnya menuju kontrakan istri sirinya yang baru sehari pagi itu. Masih tersisa pening di kepala. Rasa bersalah pada Ratih begitu menyiksanya hingga semalaman ia hanya bergulang-guling dan tak dapat memejamkan mata.
Billy bukan bermaksud sengaja untuk ingkar janji. Namun kepulangannya yang begitu larut membuat kedatangannya untuk menjemput Milly itu sia-sia. Keadaan kontrakan yang sudah gelap gulita membuat Billy meyakini penghuninya di dalam sana sudah pasti terlelap dalam buaian mimpinya.
Berangkat dengan persiapan matang lahir dan batinnya, Billy berharap gadis itu tak berani lagi meremehkannya seperti dipertemuan-pertemuan sebelumnya.
Sudah membelokkan mobil di pelataran kontrakan, Billy bisa melihat Milly yang tampak terkejut melihat kedatangannya. Terlihat sekali tubuh gadis tiba-tiba terpaku, mematung di tempatnya.
"Bapak ngapain kemari?" Milly melontarkan pertanyaan tatkala Billy sudah mendekat. Pertanyaan yang terdengar aneh karena status mereka yang telah menjadi suami istri. Mana ada seorang istri yang merasa aneh saat didatangi suaminya. Mendongakan kepala, gadis mungil itu menatap Billy penuh curiga.
"Untuk apa lagi, tentu saja beli rujak!" Menjawab ketus, Billy berhasil membuat Milly merasa kikuk. Beginilah cara lelaki yang mengenakan stelan jas berwarna navi itu menetralkan keadaan. Bersikap biasa seperti sebelumnya tampaknya cukup ampuh untuk mengusir rasa canggung.
"Ah ya benar." Milly terkekeh kecil, lalu melangkah mendekati lapaknya. "Kenapa tiba-tiba saya lupa kalau saya jual rujak." Tuturnya pada diri sendiri, sebab yang diajak bicara kelihatannya tidak tertarik untuk menjawab karena sedang sibuk dengan gawainya.
Tangan ramping gadis mungil itu tampak cematan meramu bumbu rujak serta menghiris buah-buahan. Sambil sesekali melirik pada lelaki yang tengah duduk setengah membungkuk dengan dua siku bertumpu pada lutut.
Tangan lelaki yang tampak kekar namun lembut itu tengah dengan lihai memainkan ponselnya. Entah karena begitu seriusnya atau begitu acuhnya, lelaki berkulit kuning langsat itu bahkan tampak tak peduli dengan sekitarnya saat tiba-tiba salah seorang teman Milly yang juga penghuni kontrakan itu datang dan menyapa Milly.
"Mill, rujak satu dong." pinta gadis dengan rambut yang dipoles warna coklat.
__ADS_1
"Boleh." Milly menjawab santai.
Selagi menunggu Milly menyiapkan rujak untuknya, gadis manis dengan rambut sebahu itu melirik pada Billy. Dengan seribu pesona yang Billy miliki, gadi yang mengenakan celana jeans itu seketika terpana menatap pria acuh dihadapannya.
meneguk ludahnya berat, tangannya pun bergerak mecolek lengan Milly tanpa menoleh. "Ada cogant kok nggak mau ngenalin sih?"
Milly yang tadinya fokus mengulek bumbu seketika mengangkat pandangannya. "Siapa?"
"Ya elah, itu." Tunjuk gadis itu pada Billy. Namin sedetik kemudian ia membelalak kaget. Tiba-tiba wajahnya terlihat ragu. "Eh tunggu. Lo bisa lihat dia kan?"
"Ya bisa lah, lo pikir dia lelembut?!" Milly menjawab asal lalu kembali fokus pada ulekannya.
Melihat reaksi Milly yang biasa saja membuat gadis yang bernama Ina itu keheranan. Bagaimana mungkin Milly tak tertarik dengan lelaki paling tampan yang pernah ia lihat itu. Hal itu benar-benar menggelitik hatinya ingin segera bertanya.
"Mil, dia siapa si?"
"Orang, lah."
"Ya elah, kucing di kutub utara juga tau kalau dia itu orang. Tapi dia itu siapa? Lo bilang jomblo, tapi banyak amat cowok yang datang ke sini? Dia bukan Indra kan?"
"Ya bukan lah." Milly menjawab cepat.
"Reyno?"
"Ish bukan!" Milly menekan ucapannya sembari melirik Billy yang masih tampak acuh. "Jangan naksir, dia sudah ada yang punya."
"Yah patah hati dong gua." Ina memasang cemberut muka cemberutnya. Lalu sesaat kemudian ia kembali menatap Billy penuh puja. "Tapi kalau ganteng dan tajirnya kayak gitu, gue rela biarpun cuma kebagian jadi selirnya."
"Hah?!" Milly melebarkan mata, menatap Ina penuh ancaman. "Gue jitak pala lu ya?! Mau gua cekek?!"
"Ya elah Mill, lu habis makan kumbang? Kok ngamuk gitu?" Ina menatap ngeri pada Milly yang mendadak garang. "Kasih bocoran lah, nama dia siapa?"
"Namanya Billy, puas lo!"
"Halo Bang Billy," Ina menyapa Billy kemudian. Sambil melambaikan tangan, gadis itu memasang senyum ter-unyu-nya. Bukannya mendapat balasan, ia malah mendapat tatapan malas dari lelaki yang di pujanya.
Menyebikkan bibir, Ina lantas menggerakkan tangannya mencolek Milly lagi. "Ganteng-ganteng jutek amat Mill."
"Itu sih belum apa-apa, tunggu aja pas dia berang. Bakalan di cakar lo." Bisik Milly di telinga Ina.
"Gue rela tau Mill biarpun dicakar, asalkan diriku terjamah olehnya."
"Bucin lu." Tukas Milly pula. "Eh lo tau nggak, dia yang nolongin gue pas gue jadi korban hipnotis waktu itu."
"Hah dia?!" Ina histeris tak percaya. "Yang kamu bilang orangnya judes!"
Terkejut, Milly membekap mulut Ina, memberi isyarat untuk gadis itu untuk segera diam setelah melihat Billy dengan wajah yang memerah dan membelalak kearahnya.
"Yang katamu nggak bisa senyum, omongannya pedes kaya seblak level seratus?"
"Tuhan ,,,," rasanya Milly ingin menangis darah tatkala melihat perubahan wajah pada Billy, ia segera berjongkok dan melindungi dirinya dari tatapan suaminya itu dengan meja. "Mati aku."
__ADS_1
Bersambung