
"Ibu Weni kenapa?!"Mayang terlihat panik sembari melempar pandangan kearah sumber suara.
"Sudah jangan hirau kan dia."Cegah Asmia sembari menarik tangan Mayang yang sudah berdiri agar gadis itu duduk kembali."Dia kan suka berlebihan.Lanjutkan lagi makan mu."
"Bu,aku mau lihat weni dulu sebentar ya."Mayang tak menghiraukan ucapan ibunya.Ia merasa penasaran dengan yang terjadi pada adiknya dan kemudian berlari ke arah keluar dan menemukan Weni yang sedang duduk di kursi teras sembari memegangi sandalnya."Wen kamu kenapa teriak-Teriak?"Tanya Mayang penuh keheranan.
Weni menoleh seketika ke arah Mayang."Kak lihat deh,sandal kesayangan aku putus!"Weni menunjukkan bagian depan sandal nya yang memang talinya terputus.Setahu Mayang sandal itu memang kesukaan Weni.
"Masih bagus putus nya di rumah,coba kalau di tempat umum?!Bakal se malu apa kamu,,,"Ucap Mayang mengingatkan adiknya.
"Iya si benar juga."Weni melemparkan sandal putus nya ke sembarang arah.kemudian gadis itu menadah kan tangan nya."Kakak,,,"
"Apa?"
"Minta uang,,,"
"Untuk apa?"
"Belikan aku sandal baru,,,"Rengek Weni pula dengan muka memelas.
"Ee... Tapi kakak tidak punya uang kes,"Ucap Mayang sedikit gelagapan."nanti lain kali saja ya."Bujuk Mayang pula sembari mengelus pundak adiknya.
"Tapi kakak punya kartu kan?!"Ucap Weni pula dengan nada memaksa.Pandangan penuh selidik ia lemparkan pada kakak nya yang terlihat pucat seketika.
Bagaimana ini?Aku bahkan berniat untuk tidak menggunakan kartu itu sama sekali.Tapi jika tak ku berikan pada Weni dia pasti akan curiga.
"Kata kan dulu.Apa kau sengaja memutus sandal mu supaya mendapat ganti yang baru dari ku ya?!"Tanya Mayang penuh curiga."Kau kan punya banyak sepatu,heels dan sandal untuk main,pakai saja dulu yang lain.Kenapa minta beli sekarang juga?!"
"Kakak ini kenapa pelit sekali si?!Apa tidak boleh aku menikmati sedikit dari kerja keras kakak?!Kenapa kakak jadi berubah sekarang?"Weni memasang wajah sedih nya.Ia sengaja memalingkan wajah nya dari Mayang.
"Hey jangan sedih begitu,,,"Mayang mencubit lembut pipi adiknya."Sebentar kakak ambil kartu nya ya."Mayang lantas melangkah kan kaki meninggalkan Weni.
Weni mengiringi langkah Mayang dengan pandangan nya hingga gadis itu tak terlihat."Yes!!Shopping shopping,,,"Weni bersorak kegirangan membuat seorang penjaga yang di tugaskan di situ melirik heran ke arah nya.Weni pun menghentikan aksinya dan mendekati penjaga itu."Apa yang kau lihat?!"Tanya Weni ketus."Jangan mengadu pada kakak ku ya!Kalau kau sampai mengadu akan ku pukul seperti ini!"Ucap Weni sembari melayangkan kepalan tangan nya ke dada penjaga itu.Bukan nya kesakitan,penjaga itu malah terlihat tak bergeming sedangkan Weni terlihat meringis sembari mengibas-ngibas tangan nya."Dada mu keras sekali.Memang apa yang kau makan?"Penjaga itu hanya tersenyum remeh sembari menggelengkan kepala heran.
Sebuah motor besar muncul dari arah luar gerbang.Weni mengikuti gerakan motor itu dengan pandangan nya.Seorang pemuda tampak melepas helm nya begitu mesin motor mati sembari menatap sinis ke arah penjaga yang berada di samping Weni.
"Sayang siapa dia?!"Tanya nya pula dengan nada menyelidik.
"Emm dia,,,"Weni melirik pada penjaga itu."Dia penjaga ku."Ucap Weni kemudian pada Arka, kekasihnya."Benarkan tuan penjaga,,,"Weni tersenyum sembari mencubit lengan penjaga yang tetap tak bergeming itu.
"Kalau memang penjaga mu kenapa tidak patuh begitu?"Arka yang sudah mendekat bertanya dengan nada curiga."Lagi pula aku bisa menjaga mu kok!Kau tidak perlu penjaga lain!"
"Haha cemburu ya??"Tuduh Weni sembari menuding ke arah Arka.
"Tentu saja tidak!"Jawab Arka singkat.
Mayang terlihat muncul dari dalam dengan sebuah kartu di tangan nya."Ini."Ucap Mayang sembari menyodorkan kartu itu pada Weni."Jangan boros!"Pesan nya kemudian.
"Iya iya!Belum-belum sudah bilang begitu."Weni menerina kartu itu sembari cemberut
Mayang mengarah kan pandangan nya pada Arka yang terlihat senyum-senyum."Kamu siapa?"Tanya Mayang kemudian dengan ramah.
"Saya Arka kak"Mengulurkan tangan."Pacar nya Weni."Senyum malu-malu saat Mayang menjabat tangan nya.
__ADS_1
"Oh iya kamu Arka ya,,, kakak sampai lupa."Ucap Mayang sembari tersenyum.Ia pernah melihat wajah bocah ini saat melakukan video call dengan Weni.
"Kakak kita berangkat dulu ya"Pamit Weni kemudian.Dan seoasang kekasih seusia itu pun berangkat setelah Mayang mengizinkan.
*************
Sebuah mobil mewah berwarna hitam tampak memasuki area parkir sebuah restoran mewah dan mahal.Dari kursi penumpang tampak turun seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dan bertubuh tegap begitu seorang sopir telah membukakan pintu untuk nya.
Lelaki dengan perawakan tinggi yang masih terlihat tampan meski usia nya yang semakin senja itu terus melangkah memasuki restoran kelas atas dengan membawa beberapa berkas ditangan nya.
Sikap ramah yang selalu terpancar dari senyum nya saat membalas sapaan setiap orang yang berjumpa serta menyapa nya namun tanpa mengurangi rasa hormat mereka sedikit pun.
Kharisma yang tak lekang dimakan usia.Tubuh yang masih tetap tegap dengan pakaian nya yang mewah kian membuatnya semakin berwibawa di usia nya yang sudah tak lagi muda.
Sampai di sebuah ruangan VIP ia menemukan sosok yang tengah duduk santai di sofa dengan berbagai hidangan mewah yang telah tersaji di meja.Lelaki itu tampak tersenyum lebar begitu melihat Malik datang menghampirinya.
"Kau sendiri saja rupanya?"Ucap lelaki itu setelah menengok ke belakang Malik dan tak ada seseorang pun di sana.
"Kau juga sendiri saja kan Dam?"Tebak Malik pula karena tak ada siapapun di ruangan itu selain Adam disana.
"Aku bersama putriku,tapi dia sedang ke toilet sebentar.Ku fikir kau mengajak gadis itu bersamamu?!"Ucap Adam lantang dengan nada kecewa.
"Aku tidak perlu membawa nya kemari."Ucap Malik santai sembari melempar senyum.
Raut muka Adam tiba-tiba berubah.Ia menatap Malik dengan tatapan penuh kekecewaan."Hey apa yang kau lakukan?!Kau sengaja melindungi gadis dari kalangan rendahan itu!Bukan kah kita sepakat akan mempertemukan nya dengan putriku dan membuatnya meminta maaf.Dia telah menganiaya putriku!"Adam berbicara tanpa basa-basi.
Ucapan Adam yang memperlihatkan keangkuhan nya itu membuat darah di sekujur tubuh Malik seperti mendidih.Padahal ia sudah mati-matian membela Adam selama ini dari Brian.Tapi lelaki di samping nya ini seolah tak menghargai usaha nya atas nama teman itu.Padahal ia sudah sering mengingatkan namun seolah Adam tak menghiraukan nya.
Malik melempar beberapa berkas yang ia bawa tadi ke wajah Adam tanpa menoleh padanya sedikit pun."Baca lah."Ucap Malik singkat.
"Sejak lama Brian telah mengetahuinya."Malik tampak berbicara santai namun membuat tubuh Adam berjingkat seketika."Kau tahu bagaimana Brian menyelesaikan masalah nya belakangan ini bukan??Jadi bersikap baiklah padanya jika kau ingin tetap menikmati kemewahan mu."Ucap Malik dengan nada penuh ancaman sembari menepuk bahu Adam pelan.
Adam hanya diam sembari menyeka keringat nya.Mulutnya seperti kaku tak dapat berkata-kata.Ia benar-benar tak menyangka aksinya memnggelapkan dana akan ketahuan.
Ia beranjak berdiri dan mengibas kan jas nya kemudian."Lebih baik kau tanyakan dulu pada putri mu sebelum kau menghakimi orang lain yang tidak bersalah."Malik mengayunkan kakinya beberapa langkah dan berhenti kemudian."Oh iya,"Malik menoleh pada Adam."Gadis itu adalah calon istri Brian.Kau pasti tahu se marah apa Brian jika wanita nya disakiti bukan?Aku akan mengirim undangan pernikahan nya padamu nanti."Malik tersenyum lebar dengan penuh kebanggaan setelah menyampaikan berita bahagianya sekaligus berita buruk bagi Adam.
"Malik tunggulah sebentar.Kita bicarakan ini baik-baik!"Adam berusaha membujuk Malik.Namun lelaki itu tak menghiraukan dan tetap pergi dari tempat itu.
Adam meremas berkas-berkas itu setelah kepergian Malik.
"Ayah... Ayah kenapa?"Tanya Sella yang baru tiba dengan wajah heran."Apa Om Malik sudah datang?Di mana dia?"Sella duduk di dekat Ayah nya sembari menatap wajah Ayah nya yang tampak pucat.
"Mulai sekarang lupakan Brian."Ucap Adam dengan suara lirih namun penuh penekanan.
Sella mengerutkan kening nya."Kenapa Ayah tiba-tiba berubah begitu?Bukan kah Ayah yang selalu mendesak ku untuk mendekati Brian?"
"Tapi sekarang ayah minta jauhi Brian!"Kini Adam bersuara lantang.
"Tidak!Aku mencintai Brian!"Sella pun tak kalah tegas.
"Kau harus menjauhi Brian jika ingin keluarga kita tidak jatuh miskin Sella!"Adam menatap tajam putri nya.
"Maksud Ayah?"Ucap Sella lirih dengan penuh kecemasan.Ia memperhatikan wajah ayah nya yang terlihat merah padam dan ia kini bisa merasakan hal buruk baru saja terjadi pada Ayah nya.
__ADS_1
"Brian sudah tau keburukan Ayah.Dan Om Malik baru saja mengancam Ayah.Segara jauhi Brian kalau kau masih ingin hidup enak!"Adam mendesak Sella dengan wajah frustasi nya.
Sella menggeleng kepala cepat sembari menitikkan air mata."Aku tidak bisa Ayah,aku mencintai Brian.Lakukan sesuatu untuk ku Ayah,,,"Sella bersimpuh memohon pada Ayah nya.
"Sudah cukup kau membuat Ayah berbuat nekad karena obsesi mu Sella."Adam mendorong tubuh putrinya."Ayah sampai nekad korupsi itu juga karena kau yang banyak mau!Sekarang Ayah mohon lupakan Brian."Adam terlihat memalingkan wajah dari putri nya yang sikap nya angkuh karena selama ini selalu dimanjakan oleh orang tuanya.Selalu mendapatkan apapun yang ia mau dengan mudah tanpa mau tau perjuangan berat yang di alami orang tuanya.
"Aku akan tetap berusaha Ayah.Aku tak akan mundur selangkah pun."Ucap Sella dengan semangat yang tetap membara.
"Kau tidak akan bisa karena Brian akan menikah!"Adam mengguncang tubuh putri nya agar gadis itu sadar kalau harapan nya kini telah pupus."Ayah mohon mengertilah..!"
Sella bagai mendengar suara petir di siang hari mendengar ucapan Ayah nya.Selama ini dia tidak pernah mendengar Brian dekat dengan gadis mana pun setelah kematian istrinya.Lalu siapa gadis yang akan menikah dengan nya?
Setitik air mata jatuh membasahi pipi Sella yang tampak pucat.Tangan nya gemetar meraih dan mencengkeram taplak meja.Ia bangun dan berdiri lalu mengobrak abrik seluruh isi meja yang penuh hidangan yang bahkan belum tersentuh dengan tangan nya hingga berserakan memenuhi ruangan.Raungan serta tangisan kesedihan terdengar melengking memekakkan telinga.
Ia meraih gelas kaca bening yang masih utuh dan menggelinding di meja dan melemparnya keras ke dinding hingga serpihan kacanya terpental kemana-mana.Karena belum terpuaskan amarah nya yang meluap-luap,ia mengangkat dan membalik meja yang terbuat dari kaca itu hingga pecah menimbulkan suara keras dengan serpihan yang berserakan.
Tubuh nya ambruk terkulai dengan tumpuan tangan yang tepat di serpihan kaca yang tajam.Ia pun tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari sana.
Adam memangku kepala putrinya yang tak sadarkan diri dengan tubuh gemetar dan panik ketika melihat darah di sana."Sella bangun nak."Menepuk pipi putri nya namun gadis itu tak bereaksi.Adam semakin di landa kecemasan dan ketakutan dengan keadaan putrinya."Tolong!!!"
***********
Mayang terbelalak terkejut saat Weni pulang dengan membawa banyak tas belanjaan."Apa saja yang kau beli?!Sudah ku katakan jangan boros kan!"Marah."Kau menghabiskan berapa banyak uang ku?!"
"Kakak aku hanya memakai nya sedikit."Dengan santai nya Weni berucap sembari berlalu melewati kakaknya yang sedang melotot menuju kamarnya.
Tapi masalah nya ini bukan uang ku!Ngerti nggak si!
Mayang berjalan cepat menuju ke kamar nya dan menutup pintu nya dengan membanting.Lalu mengunci pintu itu agar tak ada seorang pun bisa masuk dan mengganggunya.Ia meraih ponselnya tang tergeletak di nakas dan memencet tombol menelpon seseorang.
"Halo Sekretaris Billy,,maaf mengganggu waktu abda sebentar."Sapa Mayang setelah telepon tersambung.
"Iya Mayang,ada apa?"Suara di seberang sana.
"Maaf sebelum nya.Karena adik saya baru saja menggunakan kartu yang anda berikan untuk belanja."Mayang menggigit jarinya menahan malu."Tapi sepertinya dia belanja banyak sekali.Maaf kan dia sekretaris Billy,dia berfikir kalau itu benar-benar kartu saya."Ucap Mayang takut-takut.Tapi sedetik kemudian Mayang terbelalak bingung mendengar gelak tawa dari seberang sana.
"Kenapa kau setakut itu Mayang,,,"Ucap Billy sembari tertawa."Itu kartu milik mu.Biarkan adik mu bersenang-senang."
"Jadi apa tuan tidak marah?"
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu terimakasih tuan,,maaf sudah mengganggu waktu anda."Mayang buru-buru memutus sambungan telepon.Ia akhir nya bisa bernafas lega sembari menempelkan ponselnya di dada.
Namun di ruangan lain yang jauh di sana,,
"Siapa?"Tanya Brian walaupun sebenarnya ia sudah tau jawaban nya.Karena dua busa mendengarkan suara itu dengan jelas karena Billy mengaktifkan lounds spiker di ponselnya.
"Mayang tuan."
"Cih!Aku yang memberi kartu kenapa berterima kasih nya pada mu!"Kesal."Ingat ya!Dia itu calon istriku!"Ucap Brian tegas menandai kepemilikan nya.
"Mengerti tuan."Billy tersenyum dan mengangguk faham.
__ADS_1
Bersambung