
Sore itu, Milly yang pulang lebih awal dari kantor memutuskan untuk bersih-bersih apartemen selagi mengisi waktu luang. Dengan hanya mengenakan pakaian rumahan, ia membersihkan lantai dengan penghisap debu pada ruang demi ruang secara bergantian. Tak cukup itu, ia juga mengelap semua hiasan dan furniture yang sedikit berdebu dengan menggunakan kemoceng.
Melihat tatanan, kerapian serta keindahan apartemen yang begitu sempurna dan nyaman itu membuatnya semakin terkagum-kagum terhadap Billy. Pria itu benar-benar seseorang yang pembersih, rapi dan dan sangat teratur dalam segi apapun. Semua yang ia lakukan seolah sudah melalui perhitungan yang sangat matang. Hal itu tentu saja berbanding terbalik dengan dirinya yang urakan.
Sebagai seorang wanita ia benar-benar merasa malu, sebab dari segi apapun, dirinya benar-benar kalah telak jika dibandingkan suaminya. Hal ini Membuatnya semakin bertekad untuk memperbaiki diri hingga ia merasa pantas bersanding dengan Billy.
Melewati sebuah pintu yang tertutup rapat, entah mengapa rasa penasaran untuk melihat keadaan di dalamnya begitu menggelitik hati, hingga gadis yang menguncir rambutnya ekor kuda itu seketika menghentikan langkah.
Menarik alat penghisap debu itu mendekati pintu, Milly lantas menempelkan daun telinganya pada daun pintu, berusaha mendengarkan jika saja memang ada suara dari dalam. Hening. Gadis itu menarik diri dengan alis bertaut selagi berpikir.
"Jika memang di dalam tidak ada apa-apa, kenapa dia melarangku untuk masuk ke sana? Tidak mungkin dia mendapatkan kekayaan melalui pesugihan hingga menjadikan ruangan ini sebagai tempat spesial, bukan? Sepertinya dia tidak akan marah jika aku masuk sekedar untuk bersih-bersih saja," Milly menggumam seraya menimbang-nimbang. Hingga gadis mungil itu memutuskan untuk benar-benar memasukinya. Terlebih pintu itu tidak dalam keadaan terkunci.
Meletakkan alat penghisap itu di depan pintu, Milly terperangah selagi menyapu seluruh ruangan melalui pandangan. "Apa ini ruang kerja? Atau ruang senjata? Kenapa banyak sekali koleksi senjata di sini?" Milly melangkah perlahan mendekati lemari kaca yang nampaknya di desain khusus untuk penyimpanan senjata.
Dengan bola mata yang membulat sempurna, gadis beriris coklat itu meneguk salivanya berat selagi mengamati benda-benda yang tersaji di sana. Entah siapa sebenarnya sosok suami sirinya itu hingga membuatnya mengoleksi benda-benda semacam ini. Ada begitu banyak jumlah senjata Laras panjang, pistol, bahkan busur serta anak panahnya.
Bergeser dari situ Milly kembali terperangah dengan beberapa koleksi samurai milik Billy lainnya. Entah semuanya memang selalu ia gunakan atau hanya sekedar sebagai hiasan, yang jelas hal itu benar-benar membuat Milly dicekam ketakutan.
"J-jadi karena ini, dia melarangku masuk ke sini." bergidik ngeri, Milly mengusap tengkuknya saat sekelebat bayangan buruk tentang Billy merasuk di hati. Berniat menarik diri, Milly yang melangkah mundur tanpa sengaja membentur meja kerja berukuran lebar hingga membuat jantungnya berdetak kencang.
Ia yang terkejut segera berbalik badan, namun naas. Tangannya yang spontan bergerak tanpa sengaja menyenggol sebuah hiasan mungil berbentuk kotak yang terbuat dari kaca hingga benda itu terjatuh membentur lantai.
Terperangah, tangan Milly spontan membekap mulutnya yang hampir saja berteriak mendapati serpihan beling kaca berserakan mengotori lantai. Membelalak tak percaya, namun nyatanya ia telah membuat hiasan itu pecah dan hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Astaga. Apa yang kulakukan," lirihnya dengan bibir pucat yang bergetar. Panik, ia segera bergerak menekuk lutut dan berjongkok. Matanya menatap nanar puing-puing itu dengan pandangan berkaca-kaca, sementara tangannya yang gemetar mulai bergerak memungutinya perlahan.
Membolak-balik untuk memeriksa, Milly berusaha mengamati benda yang ada ditangannya. Dari bagian yang masih nampak utuh, ia bisa menyimpulkan jika benda itu adalah sebuah mainan anak berupa musik box dengan patung sepasang pengantin yang seolah sedang berdansa saat dinyalakan. Musik box itu bahkan masih berfungsi saat Milly menekan tombolnya, dan hal itu membuatnya sedikit tersenyum lega.
Namun senyuman itu berubah getir ketika Milly menyadari bentuk dari benda itu tak lagi utuh dan tak cantik seperti semula. Memijat pelipisnya yang seketika pusing, Milly menghela napasnya berat. Sambil mengacak rambutnya kasar, gadis itu berucap. "Ya ampun, kenapa aku se-ceroboh ini. Sudah tahu tempat ini terlarang untukku, tapi aku masih nekat juga untuk masuk. Entah apa reaksinya nanti jika tahu aku masuk dan merusak sesuatu miliknya. Astaga, aku harus bagaimana."
Terduduk lemas dengan posisi bersimpuh, tanpa terasa bulir bening meluncur dari netra bening yang berkaca-kaca itu. Sesal. Itulah yang Milly rasakan sekarang. Alih-alih membuat Billy senang, ia pasti akan mendapatkan hukuman atas pembangkangan.
Ia ingat betul bagaimana lelaki itu berpesan penuh penekanan saat pertama kali ia datang beberapa waktu silam. Dan lagi-lagi rasa penasaran mengantarkannya pada jurang penyesalan. Dia bisa saja berbohong dengan tidak mengakui telah memasukinya, namun kerusakan yang telah dibuatnya tak akan membuat Billy percaya begitu saja.
Di tengah kegamangannya, suara derap langkah yang terdengar membuat Milly terkejut bukan kepalang. "A-apa dia pulang? Ini masih sore, tidak seharusnya dia datang sekarang. Ya Allah aku harus bagaimana."
Menyeka air mata, Milly lantas bangkit dari posisinya. Suara derap langkah yang semakin mendekat itu membuatnya semakin panik dan gugup saja. Menatap pintu yang terbuka, Milly yang sudah berdiri kembali berjongkok selagi meringis dan menggaruk kepalanya.
Ah entahlah. Karena tangannya yang gemetaran, Milly yang berniat menaruh kembali bagian mainan musik box itu ke atas meja, justru tanpa sengaja menyentuh sebuah benda berwarna merah yang lebih mirip sebuah tombol. Dan tanpa gadis itu sangka, sedetik usai tombol itu tersentuh, suara nyaring mirip alarm pun terdengar bersamaan dengan lampu yang menyala dan padam bergantian hingga menciptakan suasana yang mencekam.
Milly memperhatikan ruangan itu dengan mata yang terbelalak. Ia meyakini Billy sengaja membuat sebuah perangkap sebagai cara penjagaannya untuk keamanan sesuatu miliknya. Sungguh sesutu di luar dugaannya. Merasa berada dalam zona bahaya ia pun mengambil ancang-ancang untuk melesat pergi dari sana.
Namun naas, karena suasana yang remang-remang membuatnya tak bisa melihat alat penghisap debu yang sengaja ia letakkan. Hingga kakinya tersandung dan membuatnya terjatuh dan tersungkur.
Sebelum ia bangkit, ia masih sempat meraih mainan musik box yang terlepas dari tangan sebelum kemudian menggenggamnya dengan erat.
Entah datangnya dari mana, sebuah lengan kokoh berhasil menarik dan merengkuh tubuhnya begitu erat hingga keduanya jatuh terjerembab bersamaan pada lantai. Dengan kondisi tengah kegelapan, membuatnya tak mampu menangkap wajah orang itu dengan pandangannya.
__ADS_1
Hanya suara Milly yang terdengar memekik kesakitan ketika sikunya terbentur lantai selagi lelaki itu menjatuhkannya. Selebihnya ia hanya diam dalam kepasrahan. Entah siapa dia, yang jelas Milly merasakan aman saat merasa lelaki itu justru melindunginya. Tubuh kekar itu bahkan menindihnya, seolah merelakan dirinya sebagai perisai pelindung.
Dalam keadaan mencekam itu Milly bisa merasakan sesuatu yang melesat terdengar bertubi-tubi, seolah-olah benda tajam tengah menghujam dan melakukan penyerangan ke arah yang memang sudah ditentukan.
Deru napas serta deguban jantung yang terdengar seirama dan melebur saat suasana menegangkan itu telah berlalu. Hening. Lampu pun kembali menyala dengan normal dan kebisingan alarm pun kembali tenang. Namun pertautan dua pasang netra yang saling beradu pandang itu lebih terasa menegangkan. Keduanya masih membisu diam seribu bahasa. Hanya pertukaran embusan napas yang terasa hangat menyapu permukaan kulit dan menimbulkan senyar berbeda yang menimbulkan sensasi syahdu yang merambat di kalbu.
Entah demi apa, keduanya seakan tak ingin berkedip dan melewatkan keindahan yang yang tersaji di depan mata. Namun sedetik kemudian, ekspresi Billy yang semula begitu lembut mendadak menegang seolah dipenuhi oleh kemarahan. Segera ia bangkit dari posisinya lantas berdiri.
Tanpa peduli akan Milly yang kerepotan menyusul bangkit, ia menggeleng tak percaya saat menyapu seluruh ruangan dengan pandangan dan melihat kekacauan yang telah istri sirinya buat. Menoleh ke arah belakang, Billy menatap Milly yang baru saja berdiri dengan sorot mata yang menyalang tajam.
Meraih pergelangan si gadis, Billy lantas menarik dan mencengkeramnya begitu erat, hingga Milly memekik dan melakukan rontaan kecil. Namun tatapan tajam Billy yang seolah menusuk sanubari membuat gadis itu ciut nyali dan hanya bisa tertunduk dengan rasa bersalahnya.
"Lihat kekacauan yang kau buat. Lihat!" Billy mengguncang tubuh Milly seolah mendesak agar gadis itu mendongak. Tangan kanannya terulur dan menuding ke seluruh ruangan selagi dirinya berbicara, seolah memaksa agar Milly melihat kekacauan yang telah dibuatnya.
Melihat Milly yang tak bereaksi justru semakin menyulut amarahnya, hingga Billy semakin bergejolak melampiaskan kemarahan.
"Belum puaskah kau membuatku hancur oleh jebakan yang kau buat bersama ayahmu! Apa masih kurang, hingga kau ingin melakukan lebih parah dari ini!" mencengkeram dagu Milly dengan kasar, Billy mencondongkan wajahnya ke arah Milly, lantas berucap keras dengan tuduhan yang sangat menyakitkan. "Katakan! Apa kau adalah mata-mata yang sengaja dikirimkan untuk menyelidiki diriku!" sentaknya dengan nada mendesak, membuat Milly yang dalam kondisi terkungkung dalam cengkeraman tangan suaminya berupaya keras menggelengkan kepala berusaha menyampaikan bantahan.
Lara hati atas tuduhan itu membuat riak air yang menggenang di pelupuk mata Milly meluncur begitu saja membasahi pipi kemerahannya. Gadis itu terisak penuh kesedihan dengan pandangan mata penuh permohonan.
Alih-alih merasa iba, Billy justru tergelak keras, seolah menertawai dirinya yang begitu bodoh telah terperdaya oleh wajah polos gadis di hadapannya. Tawa yang mengandung jejak kekecewaan itu menggema di ruangan yang kini tampak porak poranda.
"Pak, tolong percayalah. Tuduhan yang Bapak layangkan itu tidak benar." ungkapan lirih itu lolos dari bibir Milly meski terdengar bergetar di sela Isak tangisnya. Gadis mungil itu berusaha melakukan pembelaan dengan sisa-sisa keberanian yang dimilikinya. "Selama ini saya rela hidup susah dan sebatang kara demi menghindari orang tua saya, Pak. Tidak mungkin saya melakukan persekongkolan setelah sekian lama di antara kami tak terjadi perjumpaan. Saya mohon, percayalah."
__ADS_1
Bersambung