
Tiba di sebuah hunian berukuran besar, sopir memarkirkan mobil Brian di halaman yang luas itu. Kedatangannya memang sengaja dirahasiakan, jadi tak ada acara penyambutan khusus dari si pemilik rumah.
Keluar dari mobil, pria berperawakan tinggi dengan stelan jas rapi itu membantu istrinya turun, lalu berdiri tertegun. Sejenak ia menatap rumah besar yang meninggalkan banyak kenangan itu sebelum kemudian terkejut saat tiba-tiba Mayang meraih tangan lantas menggenggam jemarinya erat.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Menatap lekat suaminya, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Mayang. Bukan tanpa alasan ia bertanya. Namun tingkah laku Brian yang tak seperti biasanya itu terbaca oleh dirinya.
Brian menatap Mayang lantas menggeleng samar. "Tidak ada. Aku hanya merasa suasana rumah ini sekarang sudah berbeda dengan yang dulu."
"Setelah kau bicara dengan ayahmu, aku yakin suasana akan kembali seperti dulu." Mayang terseyum tipis dan itu menular pada suaminya. Pria itu membelai lembut pipi sang istri, dan mengucapkan kalimat terima kasih.
"Selamat datang, Tuan Brian ... dan Nyonya." Seorang wanita berpakaian pelayan datang dengan tergopoh untuk menyambut Brian dan Mayang yang muncul di teras depan. "Maafkan kami karena tidak menyambut kedatangan Tuan dengan baik," lanjut wanita paruh baya itu dengan wajah penuh sesal.
"Tak apa, Bibi. Kami memang sengaja datang tanpa pemberitahuan." Brian menoleh pada Mayang sekilas sebelum kemudian mengembalikan pandangan pada wanita itu.
"Tuan, izinkan saya memanggil Tuan Hans sebentar. Saat ini beliau sedang duduk bersantai di taman belakang." Pelayan bernama Mirah itu setengah membungkuk lalu berbalik badan. Namun ia urung melangkahkan kaki sebab Brian buru-buru melarangnya.
"Tidak perlu, Bi. Biar kami saja yang pergi datang padanya."
"Baik, Tuan." Mirah mengangguk sopan, lantas menarik diri dan menepi untuk memberi Brian dan Mayang jalan.
***
Taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga nampak begitu asri dan menyegarkan mata. Di sisi kanan taman dengan letak yang tak jauh, terdapat sebuah kolam berukuran kecil yang dihuni beberapa macam ikan dengan berbagai warna.
Seorang pria paruh baya tengah duduk termenung di tempat tak jauh dari sana. Sendirian dan tenggelam dalam lamunan. Diiringi suara gemercik yang berasal dari air mancur, dan baginya itu sungguh-sungguh membuatnya merasa damai.
Di sisi kanannya, nampak bingkai foto berukuran sedang yang sengaja diletakkan di atas meja. Sesekali pria itu menatap gambar si gadis cantik dan terkadang pula mengusap bingkai itu penuh kelembutan.
Sepi. Ia sudah terbiasa dengan hal ini. Tanpa orang-orang terkasih yang mengisi kekosongan hati. Ia bahkan ikhlas menjalani semua ini. Sekarang ia lebih banyak menggunakan waktu luangnya untuk merenung dan beribadah.
Menatap punggung pria paruh baya itu, langkah Brian tiba-tiba berhenti. Tentu saja hal itu sontak membuat Mayang yang bergandengan dengan Brian mau tak mau ikut berhenti.
__ADS_1
"Sayang," bisik Mayang penuh tanya. Wanita itu menatap lekat wajah suaminya yang lagi-lagi nampak bimbang.
Brian membalas tatapan istrinya. Namun tanpa mengeluarkan sepatah kata. Jujur, ia masih benci pada lelaki itu hingga merasa berat untuk memaafkan, tetapi hutang budi ini benar-benar terasa menyiksa hati dan Brian merasa perlu sesegera mungkin mengakhiri.
Apa daya, melihat pria itu kesepian benar-benar membuat hatinya merasa kasihan. Rasa iba akhirnya membuat Brian menyadari, manusia yang pernah jahat, tak selamanya akan jahat. Terlebih Hans sudah menunjukkan itikad baik dengan menolong mereka. Bukankah itu artinya Hans menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikinya?
Brian mengangguk mantap sebelum kemudian berucap, "Aku sudah siap."
***
"Ayah ...."
Hans yang tengah tenggelam dalam lamunan langsung tersentak saat mendengar suara yang sudah tak asing baginya. Antara percaya dan tidak, panggilan itu bahkan telah lama tak pernah menyapa indera pendengarannya.
Melempar pandangan ke sumber suara, pria itu sontak bangkit dengan raut seperti tak percaya. Ia bahkan melepas kaca mata dan mengucek-kucek matanya hingga terasa perih hanya untuk meyakinkan dirinya.
"Brian?" lirihnya dengan kening yang mengerut.
"Brian, Mayang, kalian ...."
"Iya, Ayah. Kami datang," sahut Brian cepat.
***
Dengan mata yang masih basah, Hans membawa Brian dan Mayang untuk duduk di kursi taman, dengan suara gemercik air yang merdu mengiringi pembicaraan hangat itu tentunya. Brian duduk di samping Mayang, sedangkan Hans berada di kursi yang berseberangan.
Sungguh sesuatu yang tidak pria paruh baya itu sangka-sangka. Pria yang sempat begitu membenci ia itu telah membuka hati dan mau memaafkannya.
Karena begitu bahagianya, ia tanpa segan berlinangan air mata sebagai luapan perasaan. Mereka bahkan berpelukan agak lama untuk melepaskan kerinduan yang diam-diam menyelimuti hati selagi kata maaf itu belum terucap.
"Ayah sangat senang kalian mau datang." Sambil mengusap mata, Hans membuka percakapan. Lelaki itu lantas tertawa geli menyadari sikap kekanakannya sendiri yang sudah tua masih menangis.
__ADS_1
"Maaf karena Ayah telah merusak segalanya," lanjut Hans lagi. "Hubungan baik kita, kebahagiaan serta kedamaian yang dulu pernah menghiasi, semua hancur karena ketamakan Ayah. Andai saja Ayah bisa ikhlas menerima kepergian Lena, mungkin hal ini takkan terjadi. Ayah memang tidak berguna, pantas untuk di--"
"Ayah, berhentilah menyalahkan diri sendiri." Brian memotong perkataan ayah mertuanya sebelum kemudian melanjutkan lagi. "Semua yang terjadi adalah takdir, dan kita harus berusaha ikhlas untuk menjalani."
Suami Mayang itu diam sejenak selagi menatap wajah Hans lekat-lekat dan menyondongkan tubuhnya ke depan dengan mimik penuh sesal.
"Ayah ... maaf, karena Brian bersikap angkuh selama ini."
Hans terkekeh di antara sisa-sisa air matanya. "Kau sudah benar dengan mengambil tindakan itu. Sekarang Ayah sadar, sikap pendendam hanya akan menghancurkan."
Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Mirah datang dengan seorang pria membawa koper di tangannya.
"Tuan, Pengacara Haris sudah datang." Wanita berpakaian pelayan itu berucap sopan.
"Oh, Haris." Hans seketika bangkit untuk sekadar memberi penyambutan pada tamunya. "Silahkan, silahkan," ucapnya memberi instruksi untuk bergabung seraya mempersilahkan dengan tangannya.
Brian dan Mayang juga tampak bangkit dari duduknya untuk menyambut jabat tangan Haris.
"Apa kabar, Tuan Brian?" tanya Haris selagi mereka bersalaman.
"Baik, Pak Haris." Meski masih merasa bingung akan kedatangan Haris, tapi Brian berusaha bersikap tenang dan menyambut tamu mertuanya itu dengan ramah.
Keempat orang itu lantas sama-sama duduk usai saling menyapa sebagai bentuk formalitas.
"Sesuatu yang kebetulan kita bertemu di sini, Pak Haris. Apa kedatangan kami mengganggu pertemuan kalian?" Pertanyaan Brian ditujukan pula pada Hans.
Seperti yang Brian tahu, Haris adalah pengacara pribadi sang ayah mertua sejak lima belas tahun lalu. Sebagai orang luar dengan kedatangan yang tak direncanakan, tentu Brian merasa tak ingin mengganggu urusan mereka berdua.
"Sama sekali tidak, Brian. Justru Ayah yang sengaja mengundang Haris untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting denganmu dan juga Mayang."
Bersambung
__ADS_1