
Kamar yang biasanya hening tak berpenghuni, kini mendadak ramai oleh kepanikan beberapa orang pelayan. Seorang pelayan tampak membersihkan dan memakai kan plester luka pada pelipis kiri seorang wanita yang masih belum sadar dari pingsannya.
Dua pelayan lain terlihat menggosokkan minyak kayu putih di telapak kaki dan tangan.
Ketiga wanita itu langsung menghentikan kegiatan ketika Brian tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Lanjutkan kerja kalian," titahnya saat ketiga pelayan itu hendak berdiri untuk memberi hormat. Pria itu lantas duduk di sofa yang berada tepat di seberang ranjang. Sofa yang dua hari ini menjadi tempat tidur gadis yang ia tawan.
Brian terlihat segar usai mandi dan mencuci rambutnya. Ia juga terlihat santai dengan baju rumahan yang dikenakan. Rambut yang panjangnya telah mencapai bahu bahkan ia sisir dengan rapi.
"Apa dia belum siuman juga?" tanya kemudian.
"Belum, Tuan Muda," jawab salah seorang pelayan.
"Pingsan saja lama sekali. Jangan-jangan dia cuma pura-pura, lagi," tuduh pria itu dengan nada mengejek.
"Coba tepuk-tepuk pipinya dengan kuat. Pasti dia langsung bangun kesakitan," titahnya kemudian.
"Begini, Tuan? "tanya seorang pelayan sambil menepuk pipi Mayang. Tak begitu kuat Memang. Hanya tepukan biasa, dan hal membuat Brian berdecak di tempatnya.
"Apaan gitu doang. Lebih keras lagi! Kalau perlu tampar, sampai dia sadar!"
"Tapi Tu–" Baru saja hendak melayangkan protes, pelayan itu seketika menelan niatnya mentah-mentah ketika sang bos besar menatapnya dengan sorot tajam. Terpaksa, ia menepuk pipi Mayang berkali-kali sesuai perintah tuan mudanya, dan ....
"Aow, sakit," ringis Mayang. Gadis itu sontak bangun sambil menyentuh pipinya yang terasa nyeri. Bola matanya seketika membulat sempurna, melihat banyak orang berpakaian putih dan hitam tengah mengerumuninya. Ia terlihat bingung sekaligus heran. "Aku di mana? Kenapa kepalaku pusing?" keluhnya sambil memijat memijat pelipis dengan pelan.
"Sudah siuman sekarang?" Suara Brian yang menggelar langsung membuat Mayang terperanjat.
Gadis itu tak menyadari jika sang tuan muda ternyata ada di sini.
Mayang tergemap. Lagi-lagi matanya membola melihat hal yang mengejutkan.
"Su-sudah, Tuan," jawab terbata sambil menundukkan kepala.
"Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian itu?" Tanpa basa-basi, Brian dengan lantang menanyakan hal itu.
Mayang yang terkejut bahkan sampai lupa menjawabnya. Gadis itu tampak meneguk slavina, hingga memaksa Brian mengulangi lagi pertanyaannya.
"Jawab! Siapa yang memberimu izin!"
"Tt–tidak ada, Tuan!" Mayang menjawab cepat sambil mengatupkan kelopak matanya. Takut, gadis itu hanya bisa menunduk.
Brian hanya bergeming. Matanya memindai sang gadis yang tanpa sadar tengah meremas ujung selimut yang menutupi kakinya hingga sebatas pinggang.
"Maafkan saya, Tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi," lirih gadis itu penuh sesal.
Brian menyipitkan mata. "Apa alasan mu memakai pakaian itu?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Saya tidak punya baju ganti, Tuan. Sudah dua hari saya hanya mengenakan satu pakaian. Anda bisa bayangkan, bukan, seberapa baunya tubuh saya," celetuk Mayang dengan wajah polosnya.
"Lantas kau bisa seenaknya memakai barang yang bukan milikmu sendiri, begitu!" Alih-alih iba, Brian justru membentak Mayang.
Mayang tertunduk lemah. Ia menyadari yang telah dilakukannya itu salah. "Bukan begitu maksud saya, Tuan. Saya terpaksa. Saya bahkan memilih yang terburuk di antara semuanya."
"Beraninya kau mengatakan baju itu buruk!" Brian makin naik pitam. Ia menggeram dan tatapannya kian tajam.
"Bukan, Tuan. Bukan begitu! Maksud saya yang terjelek dari semua–" membulatkan mata, Mayang sontak membungkam mulutnya yang ternganga. Melihat bagaimana ekspresi Brian saat ini, ia kembali menyadari jika telah mengulang kesalahan untuk yang kedua kali. Tak ada yang bisa dilakukannya selain merutuki kebodohan sendiri.
"Apa katamu tadi! Paling jelek?" Mengepalkan tangan, Brian lantas bangkit dari duduk dan mendekat kepada mayang.
Sontak saja Mayang panik. Ia beringsut mundur sambil mengibaskan kedua tangannya ke arah Brian
"Bukan, Tuan. Bukan begitu maksud saya ...."
"Diam! Aku mau sekarang kau lepaskan baju itu!"
"Hah!" Kata-kata Brian membuat Mayang kaget bukan kepalang. Refleks, gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dada, dan bersikap melindungi dirinya. Tak hanya Mayang saja yang terkejut, tetapi juga tiga pelayan yang ada di sana. Mereka bahkan kompak mendelikkan mata.
Masih belum menyadari reaksi panik yang ditunjukkan oleh Mayang, Brian bahkan masih bersikeras mendesak tanpa rasa bersalah. "Cepat lepas sekarang juga karena ini bukan milikmu!"
"Tapi tuan–" Mayang menggigit bibir bawah sambil memegangi kerah pakaiannya kuat-kuat. Ia bahkan malu untuk melanjutkan perkataan.
"Lepaskan sendiri, atau aku yang akan melepasnya!" ancam Brian. Ia nyaris saja menyentuh gadis itu andai tak menyadari kesalahan memalukan yang hampir ia buat. Gusar, ia pun mengepalkan tangan yang hendak menyentuh Mayang sebelum kemudian mendengkus kesal. Demi menghalau rasa malu yang membuatnya kehilangan muka, ia pun beranjak pergi tanpa sepatah kata.
"Gila! Apa yang kulakukan barusan!" gerutu Brian setelah berada di kamarnya. Dengan tangan kiri berkacak pinggang dan tangan kanan mengacak rambutnya, ia mondar-mandir tidak jelas. Hanya karena emosi ia nyaris melucuti pakaian seorang wanita yang bahkan tak dikenalnya.
"Tuhan, sebenarnya apa yang telah kau rencanakan untuk hamba?" lirihnya dengan nada penuh lara.
******
Pagi hari setelah subuh, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Mayang. Dia membawakan satu peces baju ganti untuk Mayang. Bajunya cantik, hingga membuat Mayang langsung suka begitu menerimanya. Tanpa pikir panjang, gadis itu pun bergegas untuk mandi. Setelah semalam berpikir keras, hari ini ia memutuskan untuk menemui Tuan Brian itu sebelum beliau berangkat ke kantor. Ia ingin menjelaskan perkara yang mengakibatkan kesalahanpahaman ini.
Agak lama Mayang berdiri di depan sebuah pintu yang ia tahu adalah kamar Brian. Harap-harap cemas ia menunggu sambil mondar-mandir karena tidak tenang. Ia bahkan merasa waktu seperti berjalan sangat lamban. Setelah beberapa waktu dalam penantian, akhirnya pintu dibuka dari dalam dan menampakkan pria berperawakan tegap dengan stelan jas serba hitam.
Terang saja ia memasang senyum sangat manis demi mengambil hati pria yang keheranan itu.
"Selamat pagi, Tuan," sapanya sambil setengah membungkukkan badan untuk memberi penghormatan.
Brian hanya menatapnya sinis dan berlalu begitu saja.
"Tuan," panggil Mayang sambil berjalan cepat demi mensejajari posisi pria yang sedang berjalan menuju tangga itu. Meski menyediakan lift, akan tetapi Brian lebih suka turun melalui tangga hanya sekadar untuk berolah raga. "Bisa saya minta waktu Anda sebentar? Sebentar ... saja. Plis," ucapnya sambil menangkubkan kedua telapak tangan di depan dada.
"Memang siapa kamu sampai aku harus memberikan waktuku yang berharga ini?" ucapnya datar dengan ekspresi meremehkan.
"Saya hanya ingin menjelaskan kalau semua ini hanya salah paham, Tuan ...."
__ADS_1
Brian tidak merespon. Dia tetap melanjutkan menuruni tangga. Melihat itu jelas Mayang geram bukan kepalang.
"Tu–Tuan!" Gegas Mayang berjalan cepat untuk menghadang Brian agar mau mendengarnya.
Brian yang keras kepala enggan menghentikan langkah, sementara Mayang yang kekeuh ingin menjelaskan juga terlihat tak gentar.
Mayang otomatis berjalan mundur menuruni anak tangga sambil berusaha menghentikan Brian meski nyatanya nihil tak berhasil. Namun, beberapa saat kemudian sesuatu hal terjadi di luar dugaan. Kaki Mayang berpijak pada tempat yang tidak benar. Kaki kirinya terperosok pada tanggal di bawahnya. Jelas hal itu membuatnya panik bukan kepalang sambil melirik arah belakang. Matanya membola ketakutan. Terlebih dengan sepatu hak tinggi yang dikenakannya.
Merasa hal buruk akan menimpanya, Mayang hanya bisa menjerit sambil memejamkan mata. Tangannya juga bergerak meraih apa pun untuk pegangan. Saat itu, hal yang terlintas di kepala hanya terjatuh. Ia bahkan membayangkan luka di sekujur tubuh, atau mungkin patah tulang, dan bahkan gagar otak.
Andai bisa meminta, Mayang ingin saat itu waktu tak bergerak. Agar ia bisa menyelamatkan diri dari petaka. Namun, sialnya itu hanya khayalan saja. Karena pada kenyataannya, tubuhnya benar-benar tersungkur dan menggelinding ke bawah.
Mayang menjerit sebisanya sambil berusaha melindungi kepala dengan kedua tangan. Bahkan ketika tubuhnya sudah mendarat pada lantai, kelopak matanya masih terkatup rapat.
Layaknya naik roller coaster, jantung Mayang berpacu sangat kencang. Tubuhnya masih gemetar. Keringat dingin bercucuran. Ia benar-benar belum siap melihat bagaimana keadaannya. Entah, berapa lama ia masih bertelungkup dengan tangan menangkub kepalanya, hingga ....
"Hey, mau sampai kapan kau akan tidur di atasku!"
Mendengar suara itu Mayang sontak membuka mata. Gadis itu terperanjat dan langsung membulatkan mata. Antara terkejut dan tak percaya, ternyata ia menindih tubuh sang bos besar.
Dengan jarak hanya beberapa senti, ia bahkan bisa melihat dengan jelas rupa bringas si pria yang tengah menatapnya dengan sorot tajam. Gegas, Mayang berusaha bangkit. Namun karena kesulitan, ia tak kunjung berhasil hingga Brian terpaksa mendorongnya sebab berpikir jika itu hanya trik untuk memikat. Terang saja tubuh Mayang tersungkur dan membentur tembok di belakangnya.
"Lama-lama kamu makin ngelunjak, ya! Beraninya menyentuhku tanpa izin!" Brian gusar. Ia bangun dan memaki sambil menuding wajah Mayang dengan geram. Ia mengabaikan ringis sakit gadis itu.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja ..." Mayang mulai menitikkan air mata. Tangan kanannya mulai memegangi kaki yang terasa nyeri.
"Pelayan! Pelayan!" Teriak Brian. Tak lama kemudian, datanglah beberapa orang pelayan wanita. "Bantu dia berdiri lalu bawa ke kamarnya!" Brian menatap Mayang sambil berkacak pinggang.
"Mari nona," ajak para pelayan sambil bersiap membantu.
Mayang berusaha bangkit. Namun, nyeri pada kakinya benar-benar menghambat usahanya. Ia meringis kesakitan.
"Cepat berdiri dan jangan menipuku lagi!" bentak Brian.
Mayang hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Ingin membela diri pun percuma. Pria kasar ini tak akan mempercayainya juga.
"Dia benar-benar kesakitan, Tuan," jelas seorang pelayan.
Brian mendesah kasar.
"Di mana para penjaga?" tanyanya kemudian.
"Sedang apel pagi, Tuan."
"Apel pagi tidak bisa apa bergantian!" geramnya. Brian bahkan lupa jika dia sendiri yang membuat peraturannya.
Karena kondisi yang mendesak, akhirnya Brian menggendong Mayang dan membawa kamarnya meski dengan terpaksa. Bisa dibayangkan, kontak fisik antara dua orang yang baru kenal itu menimbulkan rasa kikuk dan tak nyaman. Keduanya bahkan memilih mengalihkan pandangan.
__ADS_1
Sebelum pergi, Brian memerintahkan pelayan untuk mengobati kaki Mayang. Meski dingin dan terkesan kasar, setidaknya Mayang bisa melihat pria itu masih memiliki hati dan perasaan.
Bersambung