Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kaulah Calon Ibu Dari Anakku


__ADS_3

"Kenapa menasehatiku seperti itu? Seperti kau lebih baik dariku saja. Kau sendiri bahkan tak tau masa depanmu kelak seperti apa!"


Brian yang gusar malah menyerang balik Mayang dengan membalikkan fakta yang ada. Namun, alih-alih terprovokasi dan mencemaskan masa depannya sendiri, Mayang justru memiliki cara untuk melawan hingga bisa menanggapi Brian dengan santai.


"Tuan, bukankah Anda sendiri tau kalau masa depan saya tergantung pada Anda?"


Mayang menjeda ucapannya ketika mengamati wajah Brian. Pria itu menautkan alisnya, dan itu membuat Mayang kembali melanjutkan kata-katanya.


"Tuan, ingatlah. Anda adalah anak tunggal di keluarga ini. Satu-satunya penerus keluarga. Jangan buang waktu Anda dengan melajang sampai tua. Apa Anda tidak lihat bagaimana Nyonya dan Tuan besar begitu menginginkan cucu dari Anda? Lihatlah bayi ini ...."


Mayang mendekatkan bayi dalam dekapannya itu pada Brian. Mau tak mau, Brian mencondongkan tubuh dan memperhatikan wajah si bayi dengan seksama.


Bayi laki-laki itu tengah tertidur pulas. Pipi yang tembam. Bibir mungil yang merah. Sangat lucu dan menggemaskan. Brian bisa melihat jika bayi itu merasa nyaman dalam dekapan Mayang.


"Lucu, kan Tuan?" ujar Mayang yang melihat Brian tampak gemas. "Dia sangat imut dan menggemaskan, bukan? Saya yakin jika Tuan sependapat dengan saya," imbuhnya bangga.


"Kata siapa?" Alih-alih sependapat, Brian justru mendengkus lirih. Pria itu lalu cepat-cepat buang muka setelah melirik Mayang untuk sejenak. Sebenarnya ia mengakui jika bayi memang menggemaskan. Namun, gengsinya terlalu besar.


Sedangkan Mayang yang memperhatikan gelagat Brian hanya bisa menyimpul senyum. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Brian tadi. Namun, karena Brian menunjukkan sikap datar dan cenderung tak peduli, ia memilih diam dan menyibukkan diri menimang-nimang si bayi dengan posisi membelakangi Brian.


Tanpa Mayang sadari, rupanya Brian diam-diam memperhatikannya. Melihat bagaimana gadis itu memiliki sifat keibuan membuatnya seperti memiliki kembali sebuah harapan. Selama ini ia tak pernah memikirkan wanita. Berpacaran, apalagi sampai membina rumah tangga.


Entah mengapa, tiba-tiba terlintas di pikirannya, bagaimana seandainya kelak dia telah berkeluarga. Akankah ia merasakan apa yang saat ini tengah dirasakannya? Tak betah berlama-lama berada di luar dan selalu ingin cepat pulang. Selalu rindu jumpa anak istri, dan senyuman bahagia mereka menjadi obat lelah yang ampuh setelah seharian sibuk berkutat dengan pekerjaan.


Ah, itu manis sekali. Brian pernah mendengar ayahnya berkata, "Kesempurnaan seorang pria adalah ketika ia sudah dipanggil dengan sebutan ayah. Bahagia itu kita yang menciptakan. Kebahagiaan yang hakiki adalah saat berkumpul dengan keluarga. Pria sejati adalah pria yang mandiri. Memiliki pendirian teguh, berani berkomitmen dan ucapannya bisa dipegang."


Karena memikirkan ini entah mengapa dada Brian jadi berdegup kencang.Tiba-tiba ia ingin sekali menjadi ayah.Selama ini ia tak pernah memikirkan hal itu.Perkataan Mayang tadi berhasil mengetuk pintu hati nya yang selama ini selalu tertutup rapat dan Brian kini begitu ingin membuka nya.


Ia ingin Melihat dunia luar yang indah.Karena hidup bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk keluarga dan orang sekitar.Terlebih lagi untuk orang tercinta.


Karena memikirkan hal itu membuat Brian jadi terbawa suasana.Ia membelai lembut pipi baby boy mungil itu.Mayang mendekatkan bayi itu pada Brian agar laki-laki itu mencium pipi imut itu.


Brian ragu-ragu menempelkan hidung dan pipi nya pada kening bayi yang tengah pulas dalam buaian.Harum aroma khas bayi seperti menenteramkan hatinya.Lalu mengecup lagi di pipi.Tiba-tiba bayi menggeliat merasakan ciuman itu membuat Brian terlonjak.


Mayang mengisyaratkan pada Brian untuk tidak berisik lalu berdiri sambil bergoyang-goyang kan tubuh nya menenangkan bayi itu membuat Brian semakin terpana melihatnya.


Mayang kembali duduk di sofa."Tuan,,, apa saya bisa titip sebentar?"Tanya nya sambil menghadap pada laki-laki itu.


"Titip apa?"Tanya Brian penasaran.


"Ulurkan tangan anda."Perintah Mayang.Briam lalu mengulurkan tangan kirinya."Bukan begitu."Protes Mayang dengan cepat."Tangan dua... begini..."Ucap Mayang sambil memegangi lengan Brian mengatur sendiri posisi yang ia mau.Mayang lalu menaruh baby boy pada kedua lengan Brian agar lelaki itu memeluk bayi itu.


"Hey apa yang kau lakukan!Aku tak pernah melakukan ini sebelum nya kalau jatuh bagaimana?!"Brian panik saat bayi itu berada di dekapannya.

__ADS_1


"Ssstt diam jangan berisik."Mayang menempelkan jari telunjuk pada bibirnya agar Brian diam."Saya hanya akan mengambil susu sebentar."Mayang membetulkan posisi bayi agar Brian merasa nyaman."Tapi sepertinya sebentar lagi waktunya baby pup deh tuan..."


"Maksud kamu apa?Sengaja ya biar bayinya pup di bajuku?"Brian lagi-lagi kesal.


"Tidak tuan.. bayi nya pakai poko kok,,, jadi aman."Ucap Mayang sambil terkekeh.Lalu gadis itu beranjak meninggalkan Brian yang masih mendelik pada nya.


Mayang lalu berjalan menuju ruang kerja Ratih.Dari kejauhan ia melihat Bella yang tengah berjalan tergesa-gesa di susul Rendy di belakang nya.Rendy menarik lengan Bella hingga langkah gadis itu terhenti.Rendy menarik Bella ke dalam pelukan nya.


Mayang menyipitkan matanya."Apa mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar?Pantas saja Rendy sering sekali kemari,ternyata untuk mengunjungi Bella.Licu sekali melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar."Mayang tertawa kecil.


Mayang bingung harus melakukan apa.Meneruskan perjalanan dan mengganggu pasangan yang tengah di mabuk cinta atau kembali membiarkan baby boy kehausan?


Mayang tak mungkin membiarkan seorang bayi kehausan.


Persetan dengan pasangan kekasih itu.Pura-pura tidak lihat saja sepertinya lebih baik.Langkah Mayang semakin mendekat."Mau pura-pura tidak lihat bagaimana kalau di depan mata seperti ini."Mayang memalingkan wajah nya.


Bella yang terkejut karena kedatangan seseorang membuat nya mendorong keras tubuh Rendy yang tengah memaksa memeluk nya.Hingga tubuh lelaki itu terhuyung ke belakang.


"May..."Pekik Bella tertahan seperti ingin menjelaskan sesuatu.Wajah nya merona mungkin karena malu.


"Sorry iklan nya lewat ya.."Ucap Mayang sambil menutupi wajah bagian kanannya dengan telapak tangan nya agar tak melihat kedua orang itu."Lanjutin aja lagi,anggap saja dunia milik kalian berdua."Ucap Mayang diiringi tawa kecil lalu berlari meninggalkan kedua nya.


Mayang berhenti di depan pintu ruang kerja Ratih lalu masuk dengan langkah santai.


"Baby boy lagi sama Tuan Brian nyonya,saya kemari untuk mengambil botol susu."


"Apa?!"Ucap Ratih dan Alya berbarengan seperti tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Apa?Memang nya kenapa?Kenapa kalian terlihat terkejut begitu?Apa aku salah bicara?


Mayang terlihat bingung dan mematung.Mengurungkan niatnya yang sudah hendak meraih botol susu yang berada di meja.


"Dimana Brian sekarang?"Tanya Ratih antusias.Sudah bangkit dari duduk nya.


"Di sofa dekat kolam nyonya."Werrr.. Langkah Ratih secepat kilat meninggalkan ruangan setelah mendengarkan jawaban dari Mayang.


Ini sebenarnya ada apa si....


Mayang merasa penasaran.Ia meraih susu di meja."Kak Alya aku tinggal dulu ya.."Lalu cepat-cepat berlari meninggalkan Alya tanpa menunggu jawaban dari wanita itu.Sambil berlari ia mencoba mengingat-ingat sepertinya ia tak melakukan kesalahan.Tapi kenapa nyonya begitu?


Langkah Mayang terhenti saat sudah mendekati ibu dan anak yang tengah mengobrol itu.Mayang berjalan mendekat.


"Brian kamu sudah pantas lho gendong bayi,iya kan Mayang...?"Ucap Ratih meminta dukungan pada Mayang yang baru datang di tengah-tengah mereka."Kenapa kamu tidak cepat-cepat menikah saja...?"Sambung Ratih lagi sambil melirik Brian yang duduk disamping nya itu.

__ADS_1


"Betul nyonya.Saya juga sudah mengatakan itu pada Tuan tadi.."Ucap Mayang sambil tersenyum bangga.


Brian tampak salah tingkah mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh ibunya itu,lebih-lebih ibu menanyakan itu dihadapan Mayang.Dan ia sedang memeluk bayi pula.


"Karena kau putra tunggal kami,jadi carilah istri yang bisa memberi banyak anak untuk mu dan keluarga kita ya..."Goda Ratih pula.


Mayang terlihat menutup mulutnya dengan telapak tangan nya lalu secepat kilat memutar tubuh nya membelakangi kedua ibu dan anak itu.Punggung nya bergerak naik turun dengan cepat.Namun tak terdengar suara apa-apa.


Hey kenapa kau berbalik dan membelakangi ku?Kau sedang menertawakan ku kan!Apa kau fikir ini lucu!Puas kau membuat ku malu?! Brian menggumam kesal.


Mayang kembali berbalik badan setelah merasa dirinya stabildan bisa megendalikan tawanya.Ia tertunduk setelah matanya beradu pandang dengan sorot mata tajam itu.


"Sini biar ibu gendong si Boy,,"Ratih mengulurkan tangan nya agar Brian memindahkan bayi itu ke tangan ibu nya.


"Bagaimana bu,aku tidak bisa."Brian tak berani menggerakkan tangan nya.


"Kau ini bagaimana,begitu saja tidak bisa.Kau harus membiasakan ini untuk belajar.Kalau kau punya anak nanti kau juga harus membantu istri mu untuk merawat anakmu.Termasuk mengganti popok nya juga!"Ratih mengambil alih bayi itu dengan hati-hati."Mayang bawa kemari botol susu nya."Mayang yang sedari tadi berdiri kemudian melangkah mendekat menyodorkan botol susu yang sejak tadi ia pegang pada Ratih."Aku akan mengembalikan bayi ini pada ibu nya."Ratih bangkit dan berdiri lalu melangkah pergi meninggal kan Brian dan Mayang.Kedua nya menatap kepergian Ratih.


Brian memperhatikan gadis yang tengah berdiri sambil memandangi ibu nya itu lalu meraih lengan gadis itu dengan kuat hingga gadis itu terduduk du samping nya.


"Tuan apa yang anda lakukan..."Ucap Mayang lirih sambil memegangi lengan bekas genggaman tangan Brian tadi.


"Apa yang kau lakukan tadi?"Tanya Brian menyelidik.


"Apa tuan,, memang apa yang saya lakukan?"Mayang tak mengerti,ia malah balik bertanya.


"Aku tau kau tadi menertawakan ku kan?Iya kan?!"Desak Brian dengan suara agak keras.


"Oh itu..."Ucap Mayang kemudian.Tapi tiba-tiba ia ingin tertawa lagi.Mayang membekap mulut nya agar tawanya tak meledak.


"Tuh kan kau tertawa lagi!Memang nya apa yang lucu sehingga kau suka sekali tertawa seperti ini hah!"Brian semakin merasa tak nyaman.Dia menarik dan memegang lengan Mayang agar gadis itu berhenti tertawa dan mau bicara.


"Maaf tuan,maaf kan atas kelancangan saya."Mayang tersenyum dan menunduk."Saya membayang kan sepertinya berat sekali untuk calon istri anda nanti ya.Kalian sepertinya harus bekerja keras untuk mencetak banyak anak nanti.Hahaha!"Mayang tak sanggup lagi menahan tawanya yang menggelegar.Tanpa memperhatikan orang yang sedang yang sedang menatap nya dengan tajam di samping nya.


Brian mengepalkan tangan nya.Entah mengapa ia merasa kesal dan ingin sekali membungkam mulut mungil mayang yang sedang menertawainya tanpa merasa berdosa itu.Brian meraih tubuh Mayang mendekap nya tanpa ampun dan ******* bibir Mayang hingga tawa gadis itu tak terdengar lagi.


Tubuh Mayang membeku seketika.Rasa panas menjalar di setiap aliran darah di sekujur tubuh nya.Jantungnya memompa beberapa kali lebih cepat.Matanya membulat sempurna karena terkejut dan tak menyangka.Benda kenyal itu masih melekat dan ******* bibir Mayang dengan lembut.


Mayang menekan dada Bidang Brian agar lelaki itu melepaskan nya.Tetapi tenaga Brian terlalu kuat hingga nafas Mayang tersengal dan Brian melepaskan tubuh gadis itu.Mayang terbatuk-batuk.Mayang mengusap bibir nya kasar sambil menatap sengit pada Brian.Namun lelaki itu membelai bibir nya lembut dan menyeringai puas.


Rasakan kau!Siapa suruh kau menertawaiku?!Andai saja kau tahu kau lah calon ibu dari anak-anak ku nanti kau pasti menyesal karena sudah tertawa seperti itu.Sumpah!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2