
"Aku rela melakukan apapun demi dirimu, bahkan mengorbankan nyawaku demi dirimu." Billy terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri. "Kedengarannya seperti bualan, bukan? Tapi ini benar-benar perasaanku. Rasa yang tersimpan dari relung hatiku yang terdalam." Billy menatap Milly dengan ekspresi penuh permohonan. "Kumohon kembali dan hidup bahagia denganku," lirihnya dengan penuh pengharapan. Sementara tangannya bergerak meraih jemari Milly, lantas menghadiahi kecupan lembut di sana.
Aaaa ,,, kenapa dia tau kelemahanku .... Aku kan baik hati, mana bisa menolak orang yang memohon kepadaku. Apalagi dengan wajah mengiba seperti itu .... Milly membatin selagi menatap lelaki di depannya. Bagaimanapun juga ia manusia yang masih memiliki hati. Semarah apapun dirinya, ia masih memiliki belas kasih, terlebih pada orang yang ia cintai.
Namun kali ini berbeda. Ini menyangkut hati dan harga diri. Dibilang egois juga ia tak peduli. Sebab baginya ini harga mati. Tak bisa tergesa memberi maaf meski masih ada hati. Setidaknya ia perlu bukti seberapa besar keseriusan pria di depannya ini.
Mengerjap pelan, Milly membasahi bibirnya yang kering lantas mengalihkan pandangannya ke arah bawah samping. Sengaja untuk menghindari tatapan mengandung sianida lelaki itu. Ia tak ingin terkena racunnya dan terkapar tak berdaya menjadi budak cinta.
"Pak, maaf," ucap Milly sambil berusaha menarik tangannya, namun terasa berat karena Billy tiba-tiba menahan.
"Apa kau tau," Billy menyatukan jemarinya dengan jemari lentik Milly, lantas merekatkan punggung tangan si wanita pada pipinya dengan penuh perasaan. "Aku memiliki harapan besar pada jemari tangan ini agar kelak mau bergandengan dan menuntunku saat tubuh ini sudah bungkuk karena kekekarannya telah usang termakan usia. Dan rambut kita," Billy membelai rambut di kepala Milly dengan penuh cinta. "Akan memutih bersama seiring berjalannya waktu hingga umur kita yang yang semakin menua."
"Setinggi itukah kau menggantungkan harapanmu kepadaku?" lirih Milly bertanya dengan pandangan seolah tak percaya.
"Ya, Milly." Billy menganggukkan kepalanya samar. Lantas melanjutkan ucapan dengan nada pelan, sementara pandangannya begitu lembut saat memandang. "Aku sungguh-sungguh menginginkanmu bukan hanya untuk sekarang. Bukan hanya sebagai teman di saat senang, tapi aku ingin kita melewati kebersamaan penuh cinta hingga maut memisahkan. Tapi karena kesalahanku yang tiba-tiba mengusirmu membuat aku hampir saja kehilangan permata berhargaku. Aku sungguh menyesal telah melakukannya," terang Billy dengan nada yang menyiratkan sesal yang mendalam. Sementara bibirnya menipis, membentuk senyuman penuh kesedihan. Ada riak-riak bening pada kedua maniknya, seolah ingin tumpah dan meluber dari pelupuk mata.
Menatap ekspresi melankolis yang Billy tunjukkan, entah mengapa perasaan Milly berkecamuk tak karuan. Ia memang menanamkan rasa benci karena kemarahannya tempo hari, namun rasa cinta yang masih membara begitu kuat merajai hati dan pikirannya. Terlebih Billy sengaja datang hanya untuk meminta pengampunan, bahkan terang-terangan berani mengakui kesalahannya. Dengan kalimat-kalimat rayuan penuh cinta, pula. Wanita mana yang tak akan meleleh dibuatnya? Aaa ... kenapa aku jadi tidak tega ...!
__ADS_1
"Aku benar-benar lelaki berdosa karena telah mengusir istrinya dan Tuhan pasti akan mengutukku karena itu. Apa kau mau memberikan kesempatan pada lelaki pendosa ini untuk memperbaiki kesalahannya?"
"Jangan bicara seperti itu ,,,." Iba, tanpa sadar tangan Milly yang seharusnya menjauh justru melingkar di leher Billy. Bahkan kini hatinya direjam rasa bersalah karena perbuatan yang dilakukannya sebelum pengusiran itu. "Aku yang bersalah. Jadi di sini aku yang berdosa. Aku istrimu, tapi aku tak mengindahkan laranganmu. Aku telah berani memasuki ranah terlarangmu dan membahayakan diriku sendiri. Aku benar-benar pendosa karena tidak patuh pada suamiku sendiri," terangnya dengan sorot mata penuh kesedihan yang tidak ia rekayasa.
Billy menatap wajah Milly seolah tak percaya. Wanita itu rupanya berani mengakui kesalahannya dan hal itu sungguh-sungguh membuatnya merasa sangat bahagia.
"Maafkan aku," suara Milly terdengar begitu lirih, namun indera pendengaran Billy bisa menangkapnya dengan begitu jelas. Hingga perasaan bahagia yang bergemuruh di dada mengantarkan tangannya untuk merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya dengan begitu erat.
Begitu bersemangatnya Billy mendekap, sampai-sampai tubuh Milly terangkat dari pijakannya. Bahkan Billy tak menyadari gadis itu meringis akibat menahan sesak akibat dekapannya yang begitu erat.
Perkataan penuh syukur yang terlontar dari bibir Billy itu diartikan lain oleh Milly.
Apa ini? Jadi maksudnya aku terlalu gampangan memberi maaf, begitu? Ah kenapa jadi begini ceritanya, sih! Malah aku pakai minta maaf, pula. Harusnya kubiarkan dia mengemis sampai menangis dulu baru kumaafkan. Kalau begini ceritanya, kan kesannya aku yang sang sangat merasa bersalah dan begitu membutuhkan dia. Aaa ... menyebalkan. Lagi-lagi tatapannya yang seteduh pohon mangga itu membuat aku terperdaya. Milly yang masih dalam pelukan Billy membatin kesal di belakang.
"Pak," Milly menepuk pundak Billy untuk menyadarkan lelaki itu. "Sesak, saya susah napas," lirihnya dengan suara tercekat.
"Eh, maaf." Billy spontan melepaskan pelukannya. "Aku terlalu bersemangat, sampai tak sadar jika itu melukaimu."
__ADS_1
Sementara Milly hanya tersenyum kecut menanggapinya.
Billy menatap jemari Milly yang terkepal, lantas meraih keduanya dan menggenggamnya dengan penuh kelembutan. Mata sehangat senja itu menatap Milly begitu lekat, seolah sedang menelisik dan menyorotkan sinar penuh harap. "Jadi, apa kau mau kembali kepadaku?" tanya Billy kemudian dengan nada lemah setengah berbisik.
Tak mau membalas tatapan suaminya, Milly memilih mengamati jemarinya yang bertaut mesra dengan jemari milik sang suami. Sungguh ini di luar perkiraannya selama ini. Bagaimana bisa lelaki keras dan kaku seperti Billy bisa bersikap manis dan selembut ini. Bukannya ingin berprasangka, namun Milly rasa ia perlu bersikap waspada. Maka ia perlu menempuh langkah terakhir sebelum benar-benar memutuskan untuk kembali.
Mengulum senyum, Milly mengangguk samar sebelum kemudian menjawab, "Ya, saya mau," ucapnya sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.
"Benarkah?" tanya Billy dengan netra berbinar bahagia. Sampai-sampai ia tak menyadari jika Milly pasang ancang-ancang untuk menjauhinya.
"Tapi bohong! Week." Gadis mungil bersurai panjang itu membulatkan mata sambil menjulurkan lidahnya. Lantas memasang senyum menggoda sebelum kemudian berbalik badan dan siap untuk melenggang. Tak dihiraukannya tatapan Billy yang terarah penuh kecemasan terhadapnya.
"Sayang awas!"
Gubrak! Suara sebuah benturan pun terdengar. Dahi Milly membentur tiang di depannya sebelum kemudian membuat gadis itu oleng dan terpental ke belakang. Entah bagaimana bisa Milly lupa kalau ia tadi sedang berdiri di samping tiang penyangga lampu taman.
Bersambung
__ADS_1