
Mayang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia hanya tertunduk diam tak berani membalas tatapan Brian. Masih bingung dengan perasaannya yang berkecamuk. Bingung harus bereaksi seperti apa. Yang jelas, rasa malulah yang saat ini sedang menguasai pikirannya.
Ingin rasanya ia memiliki ilmu menghilang dalam sekejap mata, atau kalau perlu alat teleportasi agar ia bisa berpindah ke belahan bumi lain. Kemana saja asal tak bertemu dengan lelaki satu ini.
Mayang beringsut menggeser duduknya menjauhi Brian. Namun, lelaki itu malah ikut menggeser duduknya semakin menghimpit Mayang. Gadis itu ingin beranjak dan berdiri, tapi Brian menahannya dengan menekan pundak. Memaksa untuk diam di tempat.
"Kenapa diam? Ayo tertawalah lagi. Yang kencang seperti tadi," titah Brian dengan seringai nakal. Tatapannya penuh ancaman. Dia merasa menang sehingga bisa menekan gadis di sampingnya itu.
"Tertawalah jika kau ingin kubungkam lagi. Bukankah kau senang jika aku bungkam?" Brian mencondongkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Mayang. Terang saja itu membuat Mayang spontan menarik kepalanya untuk menjauh.
Mayang tak habis pikir dengan lelaki ini, bagaimana bisa sesantai itu setelah mencium wanita yang bukan kekasihnya. Apa memang dia sudah terbiasa melakukan hal seperti ini pada setiap wanita?
"Kau melirikku ...?"
Malu, Mayang sontak membuang pandangannya ke arah lain ketika tertangkap basah oleh Brian saat tengah meliriknya.
"Hemm, kau menginginkan lagi ternyata." Tangan Brian tiba-tiba mendekap bahu Mayang, sedangkan tangan satunya lagi sudah mencengkeram dagu gadis itu.
"Ampun, Tuan, maafkan saya ...." Hanya itu yang bisa Mayang ucapkan. Selebihnya ia hanya pasrah, sebab berontak pun ia kalah kuat.
"Hey, kenapa kau memohon begitu? Bukankah tadi kau tertawa-tawa begitu riang gembiranya, heum?" Lagi-lagi Brian berbicara dengan nada mengejek. Tatapan matanya tak beralih sedikit pun dari Mayang. "Suasana hatimu mudah sekali berubah, ya."
Brian mengamati wajah Mayang dengan seksama. Alis indah yang menaungi mata teduhnya. Pipi mulus kemerah-merahan. Serta bibir ranum dengan polesan gincu tipis. Cantik. Itulah kesan Brian pada sosok gadis di depannya. Tanpa sadar, tangan Brian mulai menjalar meraba menyusuri pipi Mayang.
"Tuan, tolong jangan begitu ... jangan sampai nyonya melihat Anda begini ...!"
Atas nama hormat, Mayang berusaha memperingatkan Brian dengan nada memohon. Namun, ketika pria itu seolah-olah mengabaikan peringatannya, terpaksa ia meraih tangan pria itu lalu menggenggamnya dengan erat. Tentu saja agar tak menjalar kemana-mana.
Beringsut, kini Posisi tubuh Mayang berhadapan langsung dengan Brian. Membuang jauh rasa malunya, ia harus bermuka setebal tembok untuk menghadapi laki-laki ini.
"Tuan, saya sangat menghargai Anda. Saya mohon, jangan berbuat demikian pada saya. Saya mengaku salah, saya bahkan sudah minta maaf," katanya kemudian.
Alih-alih menanggapi perkataan Mayang, Brian justru diam dengan pandangan yang sulit diartikan. Kini mereka saling beradu tatap dengan bibir bungkam seribu bahasa. Entah karena apa, Brian menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Sangat manis, sampai-sampai membuat jantung Mayang berdegup kencang dan gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menetralkan perasaan.
"Mayang." Tiba-tiba Brian menyebut nama gadis itu. Suaranya terdengar sangat lembut dan mengalun merdu di telinga Mayang.
__ADS_1
"Ya?" Masih terpesona, Mayang berusaha mewaraskan otaknya yang sempat oleng. Bola mata beningnya menatap Brian lekat-lekat.
"Bisakah kau lepaskan?"
"Apa?" Dahi Mayang mengernyit heran.
"Tanganmu meremas tanganku."
Mayang mengerjap kaget. Ia sontak menatap tangannya yang menggenggam tangan Brian untuk sejenak, dan kemudian beralih pada wajah si empunya. Ah, benar saja, saat itu Brian tengah meringis seperti kesakitan.
"Sepertinya kukumu menancap di tanganku."
Sontak saja, Mayang langsung menghempaskan tangan Brian yang ternyata sejak tadi ia remas. Gadis itu lantas memutar tubuh membelakangi Brian. Merutuki kebodohan, ia menggigit bibir bawah dan menepuk dahinya sendiri.
Benar-benar memalukan.
Menoleh ke belakang demi membunuh rasa penasaran, ia melihat Brian tengah mengibas-ngibaskan tangan yang memang memerah akibat ulahnya. Ah, tiba-tiba rasa bersalah datang menyeruak. Sontak saja ia berbalik badan dan langsung meraih tangan Brian.
"Tuan maafkan saya. Saya benar-benar nggak sengaja." Ia mendekatkan bibirnya dan meniup dengan lembut. Saat menatap Brian, ia pun memberanikan diri untuk bertanya. "Jika memang saya melukai Anda, kenapa tidak Anda katakan sejak tadi?"
"Kau menatapku seperti terpesona begitu, jadi mana tega aku menegurmu."
"Terpesona?" ulang Mayang dengan nada sulit percaya.
"Ya. Air liurmu saja sampai menetes."
"Aaow!" Brian berjingkat. Ia sontak menatap lengannya yang terasa nyeri, lantas mengalihkan pandangannya pada Mayang yang pasang wajah garang. "Salahku apa! Kenapa kau menyubitku!"
"Anda berbicara sembarangan, dan itu membuat saya tidak nyaman!"
"Hey, ini fakta!"
"Fakta? Hahaha, seperti Anda salah paham, Tuan."
Mayang tertawa mengejek, dan itu membuat Brian kesal. Jelas-jelas gadis itu tadi terpesona, sekarang sok-sok'an bilang salah paham.
__ADS_1
Geram, Brian pun meraih pergelangan tangan Mayang dan mencekalnya dengan kuat. Mayang terkejut dan langsung menatap Brian dengan ekspresi heran sekaligus takut. Pasalnya, pria itu menatapnya dengan sorot memangsa.
Namun, saat tengah hanyut dalam suasana syahdu meskipun lidah kelu, keduanya dikejutkan oleh suara derap langkah yang terdengar mendekat. Sontak saja secara bersamaan menoleh kearah sumber suara.
Seorang gadis yang tampak tersenyum ke arah mereka dan dengan tak tahu dirinya medesak memaksa duduk di tengah-tengah Brian dan Mayang. Bahkan cenderung mendorong Mayang agar gadis itu menjauh.
"Brian...aku lihat mobil kamu sudah datang,, aku cari-cari ternyata kamu di sini."Sella melingkarkan tangan nya di lengan Brian dan kepalanya bersandar di bahu Brian."Sejak kapan kamu datang?"
"Belum lama."Jawab Brian sambil tersenyum.
Mayang memperhatikan tingkah keduanya yang terlihat dekat dan mesra.Ia beringsut lalu berdiri karena tiba-tiba merasa tak nyaman duduk di tempat itu.
"Hey kamu di panggil Bella tuh."Ucapan Sella di tujukan pada Mayang yang tengah berdiri menunduk dengan lirikan sengit nya.Brian juga terlihat melirik nya dengan ekspresi wajah yang biasa.Seperti nya dia benar-benar meginginkan Mayang untuk enyah dari situ.
Mayang lalu melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang terlihat sangat dekat itu.Setelah beberapa langkah,Mayang berhenti dan menoleh berharap Brian menghentikan nya atau paling tidak menoleh pada nya sedikit saja.Tapi seperti nya Brian menikmati kedekatan nya dengan Sella.
Entah mengapa kini Mayang merasa dada nya sangat sesak.Untuk bernafas saja rasanya begitu berat.Ia mengepalkan tangan kanan nya lalu menepuki dada kiri nya pelan agar nafas nya kembali stabil.Tapi ternyata hal itu tak bekerja.
Ia teringat pada pesan Sella.lalu Mayang pergi mencari Bella.Ia sudah mencari Bella di ruang kerja tapi tak mendapati gadis itu.Mayang kemudian berfikir kalau ini hanya akal-akalan Sella saja.Mengingat yang dilakukan gadis itu padanya seharian ini memperlihatkan kalau dia sangat licik.
Dari tempat nya berdiri Mayang bisa melihat Brian yang sedang berjalan bersamaan dengan sella yang masih melingkarkan tangan nya di lengan Brian.Kedua nya terlihat mesra sambil sesekali saling pandang dan melempar senyum.
Mayang mundur dan bersandar di dinding ruang kerja yang menjadi saksi bisu betapa perih hatinya melihat kenyataan ini.Bagaimana Tuan muda bisa berbuat begitu setelah tadi berhasil mencium bibir nya mesra.
Ini hati bang,,,bukan air.Mengapa rasanya seperti di obok-obok begini!
Ini hati bang bukan trampolin,yang bisa kamu main-mainin hingga aku melayang tinggi lalu
kau hempaskan ke dasar lagi.
Tubuh Mayang terasa lunglai karena tiba-tiba merasa kakinya tak kuat menopang menahan berat tubuh nya. Bulir-bulir bening menetes membasahi pipinya.Ia mengusap kasar bibir nya dimana Brian tadi berhasil mencuri ciuman dari nya.
Memukul-mukul pipi nya dimana tadi Brian telah membelai nya lembut.Di bahu dan di bagian mana lagi.Mayang bahkan menggosok-gosokkan telapak tangan nya pada dinding karena tangan ini telah meremas tangan lelaki itu meski tanpa di sadari nya.
Mayang memukul-mukul kepala nya sendiri karena sadar akan kebodohan nya.Ia merasa bodoh karena karena terpesona dengan ketampanan tuan muda hingga membuat nya lupa diri.Ia merasa bodoh karena telah jatuh cinta bahkan berharap lebih pada laki-laki yang bahkan tak memiliki perasaan apapun terhadap nya.
__ADS_1
Sudah cukup!Cukup dengan kebodohan ini.Cukup berharap lebih pada orang yang salah!Sadar Mayang.Sadar lah!Dia bukan lagi pangeran khayalan mu lagi!Hapus air matamu dan berdiri tegarlah kembali.Kau harus bisa menopang tubuh mu sendiri.Kau bisa berdiri sendiri.Bersama lelaki itu hanya akan menyakiti hatimu.
Mayang memaksa untuk bangkit dan berdiri setelah tadi tubuh nya terkulai tak berdaya.Mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih di miliki nya.Ia menyeka sisa air mata yang tiba-tiba berproduksi lebih saat hatinya merasa teriris.Hal ini membuat nya sadar,Brian bukan lah tujuan hidup nya lagi.