Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Pernikahan instan


__ADS_3

"Sudahlah, jangan memasang wajah tikar yang tidak terpakai begitu." Brian yang sedang bersedekap dada sambil menyandar pada mobilnya, memperingatkan Billy yang tengah berdiri di hadapannya dengan nada bercanda.


"Kok wajah tikar?" Billy mengernyit bingung. Lelaki yang baru beberapa menit lalu melepas masa lajang itu tak faham dengan yang Brian ucapkan.


"Di tekuk begitu!" Seloroh Brian sambil tertawa. "Nikah bukannya bahagia, malah seperti dapat mala petaka. Senyum dong, perlihatkan kau sedang bahagia." Godanya pula.


"Tertawalah sesukamu Brian." Desis Billy dengan nada kepasrahan. "Aku memang lelaki payah yang patut kau tertawakan. Tak berdaya, sekalipun untuk menentukan masa depan ku sendiri. Puas kau menjerumuskan ku dalam jurang penderitaan?" Tanyanya dengan memperlihatkan gurat kekecewaan.


"Hey, bicara mu sudah seperti lelaki teraniaya saja." Sahut Brian santai. "Seharusnya kau berterima kasih padaku karena telah menikahkan mu."


"Entah pernikahan konyol macam apa ini. Aku hanya merasa sedang diperalat oleh Ayah dan anak itu. Tapi bodohnya kau malah percaya pada mereka dan turut memperangkap ku ke dalamnya." Sesal Billy terang-terangan sambil mengarahkan tatapan sengitnya terhadap Brian.


"Kau bahkan berani mengatakan aku bodoh." Bukannya marah atau kesal, Brian justru terkekeh geli sebelum akhirnya mendengkus pelan. "Terhadap bos sendiri berperilaku tak pantas seperti ini. Dimana kau taruh etika yang biasa kau junjung tinggi itu hah?!"


Tak menggubris perkataan Brian, Billy pun berucap sinis. "Pernikahan ini bukan terjadi karena keinginanku, jadi jangan salahkan jika aku tak menganggapnya sebagai istri."


Menarik sudut bibir hingga membentuk seringai sinis, Brian pun membalas,


"Jika hal itu sampai terjadi, kau akan berhadapan dengan ku."


"Terserah." Billy menjawab malas selagi membuang muka mengalihkan pandangan dari Brian. Tepat di saat itu juga, gadis yang baru saja ia nikahi tampak keluar dengan di seret paksa sang Ayah menghampiri dirinya.


Secara bersamaan dua pria yang sedang berdebat sengit itu menautkan alis menatap ke arahnya. Sambil menerka-nerka kemungkinan yang telah terjadi, sebab Ayah dan anak itu sama-sama menunjukkan ekspresi tak mengenakkan di wajah mereka.


"Karena kau telah sah menjadi suaminya, maka ku titipkan putri ku kepadamu." Tutur Ayah Milly setelah membawa putrinya ke sisi Billy. "Sekarang dia adalah tanggung jawabmu."


Saat Billy menunjukkan ekspresi heran dan tercengang, Brian justru membalas dengan santai ucapan pria paruh baya itu namun penuh keyakinan. "Bapak tidak perlu cemas mengenai putri Bapak, selama dia baik-baik mendampingi saudara saya maka kami akan baik-baik memperlakukannya. "Tapi--" Brian menatap pria berperawakan sedang itu penuh ancaman. "Sekali saja Bapak bertingkah dan melebihi batasan-batasan anda sebagai mertua, maka saya tidak akan segan-segan untuk melakukan tindakan."


"Aku mengerti, setelah ini aku tidak ingin mengusik kehidupan kalian."


Milly membelalakkan mata tak percaya. "Ayah!" Pekiknya selagi bulir bening meluncur dari pelupuk mata. Rasa sakit tak sebanding dengan rasa malu. Namun keduanya bercampur jadi satu mengiris kalbu.


Gadis dengan mata sembab itu kembali terisak tatkala rongga dada terasa sesak. Menyeka air mata dengan jemari tangan, ia lantas mengangkat pandangan. Menatap sang Ayah dengan mengiba, ia berharap perkataan dang Ayah hanya prank belaka. "Kenapa Ayah ingin sekali membuang ku? Apa salah ku, Ayah? Aku ingin pulang bersama Ayah ...." rengeknya di sela isak seraya menggenggam jemari sang Ayah dengan erat dan memohon penuh harap.


"Ayah tak bisa membawamu pulang, Milly. Ayah malu memiliki putri seperti mu." Membuang muka dari sang putri, siapa sangka kini mata lelaki paruh baya itu berkaca-kaca. Tak ada yang tahu jika dia sedang berusaha menutupi lara di hatinya, agar kelak dapat melihat sang putri tertawa bahagia.

__ADS_1


"Tapi bukannya Ayah datang untuk menjemput ku pulang?? Kenapa tiba-tiba Ayah berubah pikiran?!" Protes Milly yang nampaknya semakin kesal. Saat dirinya berharap sang Ayah iba dan meralat ucapannya, namun justru kian membuatnya terluka. Hingga isak mengiba itu berubah menjadi sedu kecewa. Mengabaikan dua pria dewasa yang masih diam dan hanya mengamati drama pelik antara Ayah dan anak ini.


Menghela napas dalam, Milly berusaha menetralkan perasaan. Saat tangisnya


sedikit mereda, ia kembali berusaha membujuk Ayahnya. "Ayah, dengan cara mu meninggalkan ku, apa Ayah tau kehidupan putri mu di sini bagaimana? Apa Ayah tau kalau putrimu ternyata tidak bahagia? Apa Ayah tau kalau hidup putrimu terlunta? Bagaimana Ayah bisa abai begitu saja?!"


"Itu sudah resiko mu menjadi seorang istri." Balas Pria bernama Sulaiman itu ringan, namun dengan tatapan penuh arti terhadap Billy. Melepaskan paksa tangan sang putri yang masih menggenggam jemarinya, ia pun berucap, "Sudahlah, baik-baik kau di sini. Ayah harus pulang sekarang karena ibu mu sendirian."


"Ibu," lirih Milly saat mengingat sosok yang paling ia cintai. Serasa ada sesuatu tak kasat mata menyumpal pari-parunya hingga menyesakkan rongga dada. "Izinkan aku bertemu Ibu, Aku rindu ibu! Maafkan karena aku bukanlah putri yang berbakti padamu." Tangis Milly kian pecah tatkala memeluk kaki Ayahnya. Berlutut di tanah ia mengharap bekas kasih pada lelaki cinta pertamanya.


"Bukan sekarang, Milly." seolah tersentuh, Sulaiman menangkup bahu sang putri dan mengangkatnya untuk berdiri. "Kau akan pulang saat suamimu menemani."


Tersentak, Milly kian putus asa. Pulang bersama dengan lelaki yang kini telah menjadi suami sirinya itu sepertinya mustahil baginya. Jangankan mengantar pulang, mau menganggapnya senagai istri saja itu sudah merupakan keajaiban. Jika di lihat dari tatapan penuh kebencian yang selama ini lelaki itu tunjukkan.


Patah hati, itulah yang Milly rasakan kini. Kehancuran hati saat ditinggal sang Ayah pergi, setelah secara terang-terangan melemparkan dirinya pada seseorang yang bahkan tidak menginginkannya.


Dengan masih berurai air mata, Milly menatap mobil yang dikendarai Ayahnya. Hubungan darah antara Ayah dan anak seolah kian terkikis dan semakin jauh, seiring semakin menjauhnya mobil yang membawa sang Ayah.


Tak ada yang tahu jika lelaki paruh baya itu pergi dengan linangan air mata. Semua orang pasti menganggapnya kejam. Tentu saja, dia memang kejam karena seolah membuang anaknya. Tapi hal itu ia lakukan semata-mata demi kebahagian putrinya, dan bukan yang lainya. Hanya doa dalam hati yang tak henti ia panjatkan untuk sang putri.


Terpaku menatap jalanan kosong, Milly terperanjat saat tepukan lembut menyapa membuyarkan lamunan pedihnya. Dibuang oleh Ayahnya. Menoleh pada pemilik tangan, Milly memaksakan senyumnya. Membalas senyuman lembut pria tampan yang ia ketahui sebagai saudara suami sirinya.


Tersenyum penuh haru, Milly pun berucap. "Terima kasih karena Tuan memahami posisi saya dan mengampuni kekhilafan Ayah saya." Menunduk selagi menyeka air mata yang lagi-lagi tumpah tanpa bisa dicegah, Milly meneruskan kata-kata yang sempat terjeda. "Pernikahan ini tak seharusnya terjadi. Ayah saya hanya salah faham. Dia tidak tahu apa-apa."


"Tapi kau suka kan!" sambar Billy penuh kebencian dari sorot matanya. Membuat Milly hanya tertunduk pilu tanpa bisa berkata-kata. Dan lagi-lagi bulir bening tampak menetes dari netranya.


Billy mendengkus kesal saat Brian menatapnya penuh ancaman. Lelaki yang masih belum bisa menerima status pernikahannya itu mengepalkan tangan berusaha mengendalikan kemarahan. Lantas membuang muka, tak bisa menerima saat lelaki yang ia pikir akan membuatnya bebas,


justru membuatnya terjebak dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.


"Jangan hiraukan ucapannya." Brian kembali berusaha menenangkan Milly. Tangannya lantas merogoh dompet dari saku celana bahan mahalnya dan mengeluarkan kartu nama. Memberikannya pada gadis yang tengah menatap bingung kepadanya ia pun berucap. "Hubungi aku jika dia membuat ulah dan menyakitimu. Aku akan memecatnya jadi saudara." Tuturnya dengan nada gurauan. Namun kata-katanya telak menohok Billy, seolah nasip sekretarisnya itu bergantung pada gadis yang baru beberapa menit ia kenal.


Tersenyum sinis sambil menggeleng tak percaya, Billy pun berucap pelan. "Luar Biasa."


Mengabaikan sikap Billy yang tak bersahabat kepadanya, Brian hanya menyunggingkan senyuman. Di usapnya bahu sang sekertaris dengan lembut seolah tengah menunjukkan empatinya. "Pengantin baru," panggilnya pada Billy dengan seringai nakal di bibirnya. "Apa sudah kau rencanakan kemana kau akan pergi berbulan madu untuk merayakan pernikahanmu?"

__ADS_1


Menepis kasar tangan Brian yang masih bertumpu di bahunya, Billy membalas sinis ucapan Brian. "Aku tidak butuh bulan madu. Pekerjaan ku lebih berharga dari itu."


Tertawa kecil, Brian memasukkan empat jemarinya ke saku celana bahannya. "Aku bisa habdle semua pekerjaanmu sementara kau berbulan madu ,,, kurang baik apa aku?!"


"Terima kasih ,,,," Billy menyinggungkan senyum termanisnya. Lalu sedetik kemudian kembali memasang wajah garang. "Tapi aku tidak butuh." Tegasnya penuh penekanan.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa." Brian mengangkat bahunya. Kemudian memutar tumit dan melangkah menuju mobilnya, dimana beberapa bodyguard tampak berjaga di sana dan salah seorang di antara mereka dengan cekatan membukakan pintu untuknya.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Brian melempar pandangannya pada gadis yang hanya diam berdiri di tempatnya. Namun gadis itu kini terlihat jauh lebih tenang jika dibandingkan saat kepergian sang Ayah tadi.


"Milly," panggilnya pelan, yang seketika membuat gadis yang masih tertunduk itu mendongak menatapnya. "Ingat, telepon aku ya." ucapnya sambil menempelkan jemari yang tiga di tengahnya terlipat dan menyisakan jempol serta kelingking seperti sedang menelepon. Lantas terkekeh kecil saat melihat ekspresi kesal yang Billy tunjukkan.


"Sial kau Brian. Kau mengancam ku?!" geram Billy penuh kemarahan.


"Tidak, aku hanya sedang bercanda dengan istrimu."


"Diam kau."


"Baiklah, aku pergi." Pungkas Brian lalu masuk dan duduk di mobil mewahnya. Menautkan jemari dan menjadikannya bantal saat tubuhnya menyandar, Brian bersikap seolah dirinya merasa sangat nyaman saat ini. Ia melempar senyuman nakal sebelum mobil yang membawanya itu berlalu dan meninggalkan tempat itu.


Lengang, menyisakan dua orang yang telah resmi menjadi sepasang suami istri. Sunyi, tak ada percakapan yang terjadi. Keduanya masih diam seribu bahasa. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Perasaan tak nyaman berkecamuk menjadi satu. Sama-sama terguncang dengan pernikahan instan yang tiba-tiba datang dan merubah status mereka dalam beberapa menit saja.


"Ehemmm," berdehem kecil, Billy memecah keheningan yang membentang. "Aku harus pergi untuk bekerja." Tuturnya tanpa menoleh pada lawan bicara.


Kelu, lidah Milly terasa tercekat. Tak mampu membuka mulut untuk menjawab. Hanya mengangguk samar sebagai jawaban. Walaupun sebenarnya itu percuma, sebab sang suami sama sekali tak meliriknya.


Mengenakan kembali kaca mata hitamnya, Billy lantas berlalu menuju mobilnya. Tanpa memberi salam perpisahan pada istri sirinya, mobilnya berlalu begitu saja meninggalkan gadis yang masih terpaku itu sendirian.


Sakit? Tentu saja hati Milly merasa sakit. Namun Milly tak menyalahkan jika lelaki itu membencinya. Entah kenapa takdir begitu mudah menjungkir balikkan keadaan. Merubah status lajangnya menjadi wanita bersuami hanya dalam waktu singkat.


Di saat dirinya sibuk memikirkan kejadian yang masih membingungkan, tiba-tiba alarm pengingat di perutnya pun berbunyi. Cacing-cacing penghuninya sudah menekan bel kelaparan. Pertanda belum ada sesuatu yang bisa dicerna, sebab si pemilik sedang sibuk mencerna keadaan.


"Astaga, lapar sekali." Milly mengelus perut ratanya. "Cacing-cacing Sayang, sabar ya,,,," Milly menggumam selagi menatap perutnya. Ia lantas menyeret langkahnya meninggalkan pelataran menuju kontrakannya. Beruntung hari ini sepi, sebab penghuni lain sedang berkutat dengan buku dan pena di meja kelasnya.

__ADS_1


"Aku lapar sekali, tapi justru yang ku dapat bukanlah nasi, melainkan suami." Milly mencebik kesal. "Saat lapar harusnya aku mendapatkan makanan, tapi ini malah pernikahan." Keluhnya sembari mengusap matanya yang kering. "Hiks hiks ... aku lapar ...!"


Bersambung.


__ADS_2