
Masih belum habis keterkejutannya, Mayang kembali dibuat semakin terkejut dengan pemandangan di sekitarnya, di mana semua orang yang ada di sana saling menodongkan senjata.
Gerakannya begitu cepat, resik dan senyap, sampai-sampai Mayang tak menyadari bagaimana mereka memulai semuanya. Bahkan Alex dan Mister Wang yang semula terlihat akrab dan baik-baik saja kini justru saling mengancam seolah ingin menjatuhkan satu sama lainnya.
Di tengah rasa gugup dan takut yang menguasai, Mayang yang masih syok kembali dikejutkan dengan hentakan tangan yang menariknya dengan kuat, hingga membuat tubuhnya yang masih linglung itu tertarik paksa dan menubruk sebuah dada keras di depannya.
Rupanya tangan kiri Alex yang menariknya dengan sigap dan merangkulnya dengan sikap melindungi, sementara matanya masih menyorot tajam ke arah Mister Wang, dan tangan kirinya masih kokoh menodongkan senjata.
Mayang yang didera kepanikan luar biasa tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah terhadap kuasa Alex yang berupaya melindunginya. Ia membiarkan dirinya dalam rengkuhan Alex dengan pandangan kebingungan terarah ke seluruh penjuru ruangan yang hanya menyajikan pemandangan manusia yang saling mengancam.
Mayang mencari-cari sosok yang begitu ia rindukan, namun sepertinya belum ada tanda-tanda kehadirannya, hingga ia harus terpaksa bertahan dalam perlindungan Alex.
Mayang masih berusaha mencerna semua yang tersaji di depan matanya. Beginikah kehidupan mafia? Selalu menghadapi masalah dengan kekerasan serta senjata. Bahkan meski mereka bekerja sama, tak lantas tercipta saling percaya hingga menimbulkan keinginan untuk menguasai satu sama lainnya.
"Kenapa kau melakukan ini? Apa kau berniat memiliki semuanya untukmu sendiri!" Alex mulai buka suara setelah keheningan melingkupi tempat itu untuk beberapa saat.
"Jangan munafik, Alex! Aku yakin kau juga memiliki pemikiran yang sama denganku juga, bukan?" sindir Mister Wang dengan menyunggingkan seringai jahat di bibirnya.
Alex menggeleng kepala sebagai bentuk sangkalannya. "Kau salah, Wang. Selama kita bekerja sama aku tak pernah memiliki niatan jahat seperti dirimu!" bentaknya dengan nada tidak suka.
"Bohong!" sahut Mister Wang dengan nada menyangkal. "Aku tahu niat busukmu sejak lama, Alex. Maka dari itu aku datang dengan membawa sejumlah pasukan."
Alex tersenyum penuh ironi lantas menggelengkan kepalanya seolah-olah tak menyangka. "Rupanya kau sudah merencanakan ini sejak lama?"
"Ya," balas Mister Wang penuh keyakinan. Ia tampak begitu percaya diri, sebab amunisi serta anak buahnya terlihat lebih kuat dan cenderung mendominasi Alex. Namun Alex serta anak buahnya pun terlihat tidak gentar menghadapi Mister Wang serta anak buahnya, sebab ia memiliki anak buah yang begitu kuat dengan keahlian yang mumpuni dan telah teruji.
"Jatuhkan senjatamu dan berdamailah denganku jika ingin kau pulang selamat ke negaramu!" gertak Alex mengancam dengan suara lantang.
Namun Wang seolah tak peduli dengan ancaman itu. Ia bahkan tertawa terbahak seolah meremehkan dan diikuti oleh seluruh anak buahnya.
__ADS_1
"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin menguasai semua itu." Alex mendesiskan suara dengan aura mengerikan.
"Baik. Kalau begitu aku akan membunuhmu lebih dulu." Mister Wang menyahut penuh percaya diri. Senyum bangga bahkan tercetak jelas di wajahnya.
"Coba saja," balas Alex tak gentar. Masih bersikap tenang dan penuh waspada, ia melepaskan rengkuhannya dari tubuh Mayang, lantas mengangsurkan tubuh gadis itu ke belakangnya dengan tangan yang bergerak sebagai isyarat.
Mayang mengerti dengan Maksud dari bahasa tubuh Alex tersebut. Ia pun mengangguk patuh dan segera melangkah mundur perlahan dan mencari tempat berlindung yang aman di samping brangkas.
Keadaan masih hening saat dua pria dewasa itu saling menatap penuh ancaman. Sesaat kemudian, Mister Wang menunjukkan seringai diiringi kedua alisnya yang bergerak naik, seolah tengah memberikan isyarat agar Alex menyerangnya lebih dulu. Namun tubuhnya masih bersikap waspada dan penuh antispasi.
"Lempar senjata, jika kau ingin kita duel berdua." Wang berucap mengajukan syarat.
"Baik." Alex membalas menyanggupi. Keduanya pun bersama-sama melemparkan senjata usai memberi isyarat kesepakatan.
Mister Wang yang terlihat tak sabaran itu lebih dulu memulai serangan dengan melemparkan tinju mentahnya. Namun seolah bisa membaca pergerakan Wang, Alex berhasil menghalau serangan itu.
Serangan pertama yang gagal tak lantas membuat Wang patah arang. Ia kembali melancarkan serangan demi serangan dari kaki serta tangannya, namun kelihaian Alex yang juga mumpuni di bidang bela diri itu berhasil menghalau, mengelak serta membalas serangan Wang yang tak begitu berbahaya dan membuat Alex merasa terancam.
Alex tersenyum lebar penuh kebanggaan saat berhasil menjatuhkan Wang dengan satu tendangan. Ia bergerak merubah posisi tubuhnya dari yang semula dalam posisi kuda-kuda menjadi berdiri normal dengan punggung yang tegak. Tangannya lantas terulur ke depan dengan jemari yang bergerak-gerak seolah-olah mengisyaratkan supaya Wang lekas bangkit.
"Bangun dan lanjutkan permainan yang baru kita mulai. Apa kemampuanmu hanya ini saja dan kau memilih untuk menyerah dengan mudah?" tanya Alex sambil menyeringai meremehkan.
"Kurang ajar!" umpat Wang tak terima lantas bangkit dari tempatnya. Ia kembali melancarkan serangannya atas tubuh Alex dengan bertubi-tubi pukulan serta tendangan. Perkelahian berlangsung menegangkan dengan posisi imbang dan sama-sama tak terkalahkan.
Semua orang masih bertahan menyaksikan pertarungan sengit dua bos besar dengan stelan jas serba hitam yang masih imbang itu. Hingga sebuah pukulan keras Alex mendarat mulus dan telak di wajah Mister Wang dan mengakibatkan tubuh lelaki itu terhuyung ke belakang.
Alex menghentikan serangannya dan menatap Wang dengan sikap waspada. Wang sendiri tampak meringis dan menggerakkan tangannya mengusap sudut bibir yang mengucurkan noda merah pekat. Lelaki itu mendengkus usai melihat darah segar di tangannya.
"Menyerah lah, dan buang jauh-jauh niat burukmu itu!" geram Alex jengkel yang melihat begitu keras kepalanya Wang dengan obsesinya.
__ADS_1
"Tidak semudah itu Alex!" teriak Wang seraya bergerak cepat mendekati Alex, lantas menghujamkan serangannya lagi.
Seolah mendapat kode, seluruh anak buah Wang pun bergerak bersamaan memulai penyerangan pada anak buah Alex. Dan seketika suasana ruangan itu menjadi ricuh dan bising oleh suara pukulan serta perkelahian dari semua orang.
Pertarungan berlangsung sengit dan memanas, hingga dalam sekejap mata ruangan itu terlihat kacau dan porak poranda. Korban pun satu persatu berjatuhan dengan luka di sekujur tubuhnya.
Mayang yang masih berada di tempat berlindungnya semula nampak tegang menyaksikan kekacauan yang mencekam dan mengerikan itu. Tak banyak hal yang bisa ia perbuat selain tetap berlindung supaya tetap aman berada di sana.
Namun dirinya yang berdiri terpaku itu mendadak berjingkat saat dikejutkan oleh pergerakan pelan yang tiba-tiba oleh seseorang dari belakangnya. Orang itu terpaksa membungkam mulut Mayang yang hendak membuka mulut untuk berteriak.
Ia hampir saja melakukan perlawanan andai saja pria bertubuh dempal itu tak mengisyaratkan kepadanya untuk diam dengan menempelkan telunjuknya pada bibir.
"Dengarkan Nyonya. Saya adalah utusan rahasia yang ditugaskan khusus untuk melindungi anda selama di sini. Saya akan menyelamatkan Nyonya dan saya mohon agar Nyonya patuh terhadap saya." Pria itu berbicara pelan pada Mayang selagi menjelaskan.
Mayang sendiri sejenak terdiam sembari mengamati kesungguhan pria itu. Hingga pada akhirnya ia menganggukkan kepala ketika dirasa ia telah benar-benar yakin.
Pria utusan itu pun segera melepaskan tangannya yang membungkam mulut Mayang. Ia menundukkan kepalanya penuh sesal sambil berucap, "Maafkan saya karena telah lancang. Tapi saya terpaksa melakukannya agar Nyonya tidak berteriak dan mengundang perhatian semua orang."
"Sudahlah, tak perlu merasa bersalah seperti itu," jawab Mayang senang sambil mengibaskan tangannya. Namun sesaat kemudian istri Brian itu menyebik kesal dan menatap pria itu penuh kemarahan. "Apa kau sengaja mengerjaimu? Sejak awal kau sudah berada di dekatku, tidak bisakah kau memberiku sedikit kode agar aku merasa tenang! Kau hampir saja membuatku gila karena ketakutan, tau tidak!"
"Maafkan saya, Nyonya. Tugas ini bersifat rahasia, jadi tak ada yang boleh tahu sebelum saatnya tiba. Siapapun itu, meskipun itu anda sendiri, Nyonya," lagi-lagi pria itu memasang wajah penuh sesal.
"Ya sudah, lah. Terserah kau saja," jawab Mayang usai mendesah pelan. Akhirnya ia bisa bernapas lega setelah satu teka-tekinya tentang utusan yang melindunginya itu telah terjawab.
Sebelumnya ia sama sekali tak menyangka jika pria yang sejak semula telah melindunginya dari kekejaman Bianca itu adalah orang yang sejak awal dia cari. Bahkan pria ini juga yang telah menyelamatkan dirinya dari cengkeraman Alex yang hampir merenggut kesuciannya. Mayang begitu kagum atas totalitas pria itu yang berhasil menipu seluruh mata semua orang yang ada di sana.
"Sekarang, Ikuti perkataan saya, Nyonya." Pria itu berucap setengah memerintah.
"Baik." Mayang langsung membalas sambil mengangguk mantap tanpa pikir panjang lagi.
__ADS_1
Bersambung