
"Mayang belum keguguran Brian," jawab Lucy sembari tersenyum. Terang saja ucapan Lucy membuat Brian membelalak senang bukan kepalang. Kini mata yang sebelumnya menampakkan binar kesedihan itu berubah menjadi binar penuh kebahagiaan.
"Bersyukurlah karena janin yang telah tumbuh di dalam rahim istrimu itu sangat kuat." Tambah Lucy sambil menepuk ringan lengan Brian.
"Aku tahu Lucy, dia pasti kuat seperti ibunya." Puji Brian dengan penuh angan. Senyumnya pun terkembang terlihat begitu senang. "Aku tidak sabar ingin menemui istriku, Lucy."
"Tunggu Brian," cegah Lucy sambil menarik lengan Brian, mencoba menahan lelaki yang sudah beranjak dua langkah dari tempatnya semula.
Brian merasa tak mengerti dengan maksud Lucy yang tiba-tiba mencegahnya. Ia pun segera menghentikan langkah dan mundur ke posisi semula.
"Ada apa, Lucy?" Tanyanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Ada kabar buruknya." Jawab Lucy terlihat berat.
"Hah!" Brian berdecak sambil berkacak pinggang dan menatap sinis pada Lucy. "Kau jangan mempermainkan perasaan ku Lucy! Maksud mu apa tiba-tiba memberiku sebuah harapan jika setelah itu kau membuatku dalam kegamangan! Kau pasti akan mengatakan kalau pada akhirnya istriku akan keguguran juga kan?!" Tebak Brian tak mampu menyembunyikan kemarahannya.
"Dengar dulu penjelasan ku Brian," sedikit menekan, Lucy meminta pengertian. "Kemarilah." Tangan Lucy bergerak meraih lengan Brian dan menarik lelaki itu menuju sofa. "Duduk di sini. Ada yang ingin ku bicarakan padamu. Hanya sebentar saja."
Dengan Malas Brian menjatuhkan diri untuk duduk di sofa. Wajahnya masih terlihat kesal. Ia bahkan tak mau menatap Lucy yang duduk di sampingnya.
"Mayang butuh perawatan yang baik agar bayinya selamat Brian. Dia tak bisa hanya dirawat di rumah tanpa peralatan medis yang memadai."
"Iya aku tau! Dia yang bersikeras tidak mau!" Dengan nada tinggi Brian menjelaskan.
"Itu karena Mayang tidak tahu kalau dirinya sedang hamil. Berarti kau yang seharusnya memberinya pengertian bukan? Kau tau, hal buruk bisa saja terjadi jika perdarahan masih terus berlanjut. Karena kehamilan yang baru menginjak hitungan minggu itu masih sangat-sangat rawan. Aku seorang dokter umum, sementara istrimu harus ditangani oleh dokter spesialis kandungan. Beruntung istrimu tidak mengkonsumsi obat pereda nyeri haid sembarangan. Aku sempat curiga saat kau bilang istrimu nyeri datang bulan, makanya aku berinisiatif membawa tespek untuk memastikan terlebih dulu istrimu sedang hamil atau tidak. Sebab berbahaya jika sampai rahim istrimu terkontaminasi dengan obat pereda nyeri yang tidak disarankan untuk wanita hamil." Panjang lebar Lucy mencoba menjelaskan pada Brian.
Mendesah pelan lelaki itu mengangguk mengerti.
"Untuk memastikan lebih jelasnya keadaan janin di rahim istrimu kita perlu melakukan USG di rumah sakit." Lucy melanjutkan kembali penjelasannya. "Dan kalaupun janinmu masih selamat, istrimu harus mendapatkan perawatan secara intensif dan harus selalu dalam pantauan dokter. Begitupula setelah di perbolehkan pulang pun, Mayang perlu beristirahat total selama sekurang-kurangnya satu bulan hingga kandungannya kuat dan normal kembali. Tapi jika memang kehamilan Mayang tak bisa di pertahankan," Lucy menghentikan ucapannya sejenak sembari menatap Brian dengan rasa menyesal. Tangannya bergerak menepuk pundak lelaki dihadapannya itu, mencoba menguatkan. "Kau harus ikhlas menerimanya Brian, karena itu semua sudah takdir." Sambungnya dengan nada berat dan menatap Brian penuh harap.
Menatap sinis, Brian seolah tak terpengaruh oleh ucapan Lucy. "Jika sudah membicarakan takdir manusia memang tidak bisa menyangkal itu. Tapi setidaknya kita bisa berusaha kan?! Aku ingin bayi itu tetap bertahan di rahim istriku bagaimanapun caranya. Aku yakin istriku juga begitu menginginkan untuk hamil." Mendengus kesal, Brian membuang muka mengalihkan pandangannya.
"Aku mengerti kau begitu menginginkan keturunan, tapi sikap terlalu memaksakan itu tidak baik Brian,"
"Tidak baik bagaimana?! Aku hanya mencoba berusaha Lucy! Meskipun untuk urusan hasil bergantung pada pemberian sang pencipta. Jika memang dokter-dokter di negara ini tidak sanggup, aku bisa membawa istriku ke ujung dunia sekalipun agar bayiku selamat!" Degan penuh keangkuhan, Brian berucap dengan nada menantang. Ia benar-benar tidak suka seseorang membantah keinginannya.
__ADS_1
"Apa kau bisa memutuskan andai suatu saat dokter memintamu untuk memutuskan memilih salah satu antara istri atau bayimu?!" Sambar Lucy tak mau kalah.
Menatap tajam pada Lucy, Brian pun menggeram. "Apa maksud ucapan mu Lucy!"
"Kau tahu Brian, tidak semua wanita hamil menjalani kehamilannya dengan mulus. Aku tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi. Aku hanya berharap kau siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku melihat Mayang begitu kesakitan. Wanita hamil muda yang sudah mengalami perdarahan memiliki kecil kemungkinan janinnya dapat di selamatkan. Walaupun bisa di pertahankan, namun bisa beresiko pada ibu dari janin saat menjalani masa-masa kehamilan."
"Resiko kau bilang?!" Brian membelalak kaget.
"Yang pasti karena kandungan istrimu yang lemah dan ringkih ia tidak bisa beraktifitas normal seperti biasa. Sebab jika terjadi perdarahan lagi, bukan tidak mungkin janin di rahim istrimu akan mengalami keguguran. Kau tidak ingin istrimu kesakitan lagi bukan?" Lucy terdiam saat menatap wajah Brian yang tiba-tiba terlihat sedih. Gurat kecemasan semakin terlihat jelas dari wajah tegas lelaki di sampingnya itu.
"Brian, apa kata-kataku menakuti mu?" Tanyanya hati-hati dengan nada cemas. Tatapan Brian masih terlihat kosong, seolah sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri.
"Maafkan aku Brian, sepertinya bukan pada tempatnya jika aku berbicara panjang lebar seperti ini. Mengenai kehamilan pula. Aku bukan dokter kandungan, tidak benar-benar mengerti ilmu tentang kehamilan. Tapi aku sok tau begini. Ah aku ini sok pintar ya," kekehan kecil lolos dari bibir Lucy. Dia seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.
Menepuk bahu sepupunya, ia kembali berucap. "Jangan ambil hati perkataanku ya, untuk lebih jelasnya lebih baik konsultasikan saja pada dokter kandungan. Aku akan membantumu."
Brian mendesah pelan berusaha menetralkan perasaannya. Merubah posisi duduk Dengan kedua siku yang bertumpu pada lutut, ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
Entah perasaan apa yang berkecamuk di dadanya saat ini. Tidak mengerti harus bagaimana menyikapi. Ia bahkan bingung dirinya kini seharusnya merasa senang atau justru bersedih dengan kabar bahagia yang terselip duka.
"Baiklah. Jangan terlalu lama buang waktu Brian, aku akan kabari pihak rumah sakit untuk menyiapkan segala sesuatunya. Dan orang tuamu akan segera tiba untuk mengantar kalian ke rumah sakit dengan helikopter." Tutur Lucy dengan tatapannya mengikuti langkah Brian menuju pintu kamar.
Brian yang sudah memegang handle pintu pun menoleh mendengar perkataan terakhir Lucy. Brian sebelumnya tak menyangka sepupunya bahkan sudah terlebih dulu mengabari orang tuanya. Tersenyum bangga, ia pun berucap. "Terimakasih untuk semuanya Lucy, kau memang saudara ku yang terbaik." Ucapnya tulus.
"Tak perlu sungkan." Pungkasnya sembari menunjukkan deretan gigi putihnya.
Menarik nafas dalam dan menghelanya perlahan, Brian lantas menekan handle pintu dan membukanya. Sosoknya pun menghilang dibalik pintu kamar yang tertutup rapat itu.
Tersenyum lega, Lucy masih terpaku di tempatnya dengan pandangan terarah pada pintu kamar itu. Beruntung dia bisa memberi pengertian pada saudaranya itu hingga Brian bisa mengendalikan amarahnya.
Lucy mengerti betul bagaimana perasaan Brian saat ini. Hingga lelaki itu mudah sekali terpancing emosi serta amarah yang seolah meledak-ledak tak terkendali.
Di dalam kamar, sambil menutup pintu di belakangnya, pandangan Bertemu dengan sang istri yang kelihatannya sedang menunggu kedatangannya.
Melangkahkan kaki dengan tergesa, Brian uang sudah tak tahan segera naik ke ranjang dan mendekap tubuh sang istri dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Sayang kau tahu, Lucy bilang aku hamil. Ada benih cinta kita di rahim ku Sayang," dengan isak tangis Mayang mengucapkannya setengah berbisik. "Aku akan berjuang keras untuk mempertahankannya. Aku ingin bayi kita selamat. Aku mau di rawat di rumah sakit Sayang."
"Iya Sayang, sebentar lagi ayah akan datang untuk menjemput kita." Brian mengusap punggung sang istri yang tampak begitu bahagia. Diremasnya bahu sang istri dengan lembut sebelum melepas pelukannya. Brian tersenyum saat menatap wajah pucat istri yang kini basah oleh air mata bahagia itu menunjukkan senyumnya.
* * *
Sudah berada di rumah sakit, usai menjalani serangkaian tes dan hasil menunjukkan Mayang masih positif mengandung, kini ia berada di ruang perawatan VIP rumah sakit milik keluarga suaminya.
Meski terbaring lemah dengan jarum infus tertancap di salah satu punggung tangannya, namun binar bahagia tampak dari netranya.
Malik dan Ratih yang terlihat terkejut saat Lucy menghubungi untuk memberikan kabar, tampak setia menjaga dan berada di sisi sang menantu.
Karena Lucy merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, ia pun memberikan bahasa isyarat kepada Brian untuk berbicara berdua diluar ruangan.
"Ada apa Lucy?" Tanya Brian bingung setelah mereka berada di tempat agak jauh dari kamar Mayang.
"Brian, kalau boleh aku tahu, apa penyebab sebenarnya hingga terjadi hal seperti ini pada Mayang? Kau tidak melakukan kekerasan pada istrimu sendiri kan?" Tanpa Lucy duga sebelumya, pertanyaannya rupanya membuat Brian meradang hingga mengepalkan tangan seketika.
Menyadari kemarahan Brian, Lucy berdehem kecil dan berniat meralat ucapannya. "E-bukan begitu maksudku," Lucy menghentikan ucapannya saat Brian menatapnya tak terima.
"Kau pikir aku ini suami macam apa hah!"
"Dengarkan aku dulu Brian, bukan begitu maksudku ...!" Lucy berusaha menenangkan Brian yang tampak emosi. "Aku ingin bertanya padamu. Apakah istrimu baru saja mengalami kekerasan fisik?" Menatap wajah Brian lekat, Lucy terlihat begitu penasaran. Berusaha mencari jejak kebohongan dari sepasang netra saudara sepupunya itu, walau ia tak menemukannya.
Brian yang baru menyadari akan sesuatu, tiba-tiba mengepalkan tangan dan memukul dinding di belakang Lucy hingga membuat dokter muda itu terperanjat kaget.
Tubuh Lucy seketika gemetar dengan sepasang netra melirik pada tembok yang retak oleh pukulan Brian.
Astaga. Jika dibiarkan lelaki ini bisa-bisa merusak satu rumah sakit.
Lucy merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimans bisa dirinya lupa jika kelaki di depannya ini benar-benar menakutkan saat sedang dalam kemarahan. Menelan slavinanya susah payah, Lucy lantas memberanikan diri mengalihkan pandangannya ke arah Brian.
Dengan bibir gemetar, ia memberanikan diri untuk membuka mulut untuk bicara. "Brian tenangkan dirimu, ini rumah sakit." Lirihnya dengan takut-takut berharap agar Brian mengendalikan emosinya.
"Aku akan menghukum siapapun yang sudah melukai istri dan calon anakku." Desisnya dengan nada penuh ancaman.
__ADS_1
Bersambung