Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Maaf


__ADS_3

"Ayo pulang," ajak Brian dingin sambil berjalan ke arah mobilnya,meninggalkan Mayang yang masih berdiri terpaku karena bingung.Namun pandangan nya tertuju pada bahu lelaki berkemeja putih itu.Brian melepaskan jas nya pada saat ia merasa gerah karena kepedasan tadi.


Mayang lalu mengayunkan langkah nya berlari menyusul Brian dan meraih lengan kekar itu untuk menghentikan nya.


Karena merasa terusik dengan lengan nya yang di tarik,Brian pun menghentikan langkah nya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Mayang."Ada apa lagi?"Tanya Brian dengan wajah kesal karena tak dapat berbuat apa-apa.


"Tuan,apa anda akan menghukum saya karena kesalahan saya tadi?"Mayang bertanya dengan wajah serius.


"Ya tergantung."Jawab Brian enteng sambil memalingkan wajah nya.


"Tergantung apa nya?"Desak Mayang sambil meraih dagu Brian dengan susah payah agar lelaki itu mau menatap wajahnya.


"Hey sekarang sudah berani pegang-pegang ya.."Goda Brian sambil membungkukkan tubuh nya agar wajah nya lebih dekat dengan Mayang dengan di iringi tawa membuat gadis itu tersipu.


"Maaf tuan,bukan begitu maksud saya,,"Mayang bicara dengan tertunduk lalu menggigit bibir bawah nya menahan rasa malu.


Hey hentikan!Jangan gigit bibir mu lagi.Dengan begitu kau sama saja sedang memancing ku tahu!


"Tuan memaafkan saya dan tidak akan menghukum saya kan??"Mayang menatap lekat Pada Brian.Lelaki itu seketika memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan Mayang.Ia takut tak bisa mengendalikan dirinya nanti.


"Sudah lah,ayo pulang."Lagi-Lagi Brian meninggalkan Mayang tanpa jawaban.


"Tuan berjanjilah dulu!"Mayang berteriak karena merasa belum puas hati.Ia harus mendesak Brian untuk memaafkan nya sekarang agar dia merasa aman saat hanya berdua di dalam mobil nanti.Ia merasa dirinya terancam.


"Berjanji apa?"Brian telah mencapai mobilnya lalu bersandar di bagian depan mobil itu.


Mayang tampak menyusul Brian lalu berdiri dihadapan lelaki itu."Berjanjilah untuk tidak menyakiti saya saat kita berdua nanti."Jawab Mayang lirih penuh pengharapan.


Brian malah tergelak mendengar itu.Ternyata gadis ini masih setakut itu padanya."Lalu kompensasi apa yang akan ku dapatkan untuk itu?"Brian bertanya dengan tatapan nya yang menggoda.


"Kompensasi?Kompensasi apa tuan,,, saya bahkan tidak memiliki apa pun untuk saya berikan.Saya hanya ingin jaminan keselamatan saya..."Rengekan Mayang malah semakin membuat Brian tak tahan.Ia harus memikirkan cara agar bisa mendapatkan sesuatu dari Mayang malam ini.Ia tak mau rugi dengan melepaskan Mayang begitu saja.


Kalau tidak bisa bibir bukan kah masih ada pipi Mayang yang lembut kan.Haha- otak Brian mulai berfikir nakal kali ini.


"Mayang itu apa!"Brian menunjuk ke arah kanan nya.Dan benar saja,Mayang spontan menoleh ke arah yang Brian tunjuk.Brian tak mau buang waktu dan langsung mencondongkan tubuh nya dan mendekatkan kepalanya di samping wajah gadis yang tengah menoleh itu.


Karena tak melihat apapun di sana membuat Mayang menggerakkan lehernya kembali pada posisi sebelum nya dan "cup" bibir Brian yang sudah dalam posisi siap akhirnya mendarat di pipi kanan mayang yang lembut itu.Karena terkejut Mayang pun menarik kepalanya mundur kebelakang.


"Hey kau berani mencium ku!Di tempat umum begini lagi.Dasar tak tau malu."Ledek Brian membalikkan fakta untuk mengusir canggung yang seketika tercipta.


"Tuan bukan nya anda yang mencium saya!"Memukul lengan Brian karena kesal dan Brian hanya meringis sambil menyeringai puas menerima pukulan itu.Keduanya lalu sejenak terdiam.Brian tampak menyelidik wajah Mayang dengan teliti melalui pandangan nya.


"Tuan apa yang sedang anda lihat?"Mayang terlihat salah tingkah.


"Hey apa kau tidak merasa kalau pipi mu itu merah sebelah?"Mayang langsung menyentuh pipi kanan nya.Tersipu malu."Tanggung jawab kau,yang sebelahnya lagi juga harus di cium supaya adil!Kau tidak mau pipi mu merah sebelah selamanya kan?!"Brian bicara tanpa ekspresi agar Mayang percaya.


"Bohong!"Ucap Mayang karena merasa Brian hanya mengada-ngada.


"Kalau tidak percaya ya sudah.Ayo pulang!"Brian lalu berjalan mengitari mobil nya menuju pintu kemudi.Tapi sebelum masuk ia sempat melirik mobil berwarna hitam di sebelahnya.Sepetinya ada orang di dalam sana.Tapi ia acuh saja karena ini bukan urusan nya.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil,tapi Brian belum menjalankan mobil nya juga.Ia masih saja memandangi Mayang hingga gadis itu salah tingkah.


"Tuan apa yang anda lihat?"Tanya Mayang gusar."Ayo cepat pulang.."

__ADS_1


"Apa kau terlalu grogi sampai lupa memakai sabuk pengaman mu?"


Oh iya.Aaah Tuan,,, kenapa anda bicara nya jujur sekali si...


SaatMayang akan memasang nya,tiba-tiba Brian mencegah nya."Sini aku yang pasangkan!"Memaksa.Brian mendekatkan tubuhnya untuk meraih sabuk pengaman itu.


Mayang merapat kan tubuh nya bersandar di jok dengan kepala menoleh ke sebelah kanan nya untuk menghindari kontak fisik dengan Brian.Tapi tanpa ia duga,Mayang malah seperti dengan sengaja menunjukkan pipi kirinya.


Brian yang benar-benar sedang memasang sabuk pengaman itu pun fokus nya langsung terganggu dengan pipi kenyal Mayang yang terpampang nyata di hadapan nya itu.


Jantung Brian berdesir hebat seketika saat hidung nya mulai menyusuri pipi Mayang yang polos tanpa penghalang.Mayang yang terkejut, refleks menggerakan tangan nya dan memcengkeram kerah baju Brian seolah seperti Mayang menariknya.Tak terelakkan bibir Brian pun mendarat di pipi kiri Mayang.


Brian semakin tak tahan melihat leher jenjang Mayang yang seperti menantang itu.Sehingga hasrat untuk mencicipi nya terdorong begitu saja.Brian semakin nakal memainkan bibir nya menyusuri leher jenjang itu terlebih tanpa ada perlawanan dari Mayang.Entah kenapa karena rasa geli serta hangatnya nafas Brian yang menyergap membuat tubuh Mayang seolah menginginkan hal ini.Ia malah memejamkan matanya tenggelam dalam kepasrahan.


Saat Mayang merasa Brian bertindak semakin jauh,Mayang berusaha keras untuk menguasai fikiran nya agar terlepas dari belenggu setan yang tidak benar ini.Ia hampir saja mendesah karena Brian menyentuh area sensitif nya.Mayang hampir melemah,dan di sisa tenaga nya Mayang berusaha sekuat tenaga Mendorong tubuh Brian yang fikiran nya mulai berkabut itu.Brian malah semakin erat merengkuh tubuh Mayang seolah tak mau lepas darinya.


"Tuan jangan begitu,, tolong lepaskan saya."Mayang bicara setengah mendesah.


Beruntung Brian masih bisa menguasai fikirannya dan mengendalikan diri nya sehingga ia melepaskan pelukan nya dari tubuh Mayang.


Sesaat kedua nya tampak kikuk.Mayang merapikan rambut nya yang berantakan karena ulah Brian lalu memalingkan wajah nya karena rasa malu yaang menjalar.Brian lalu menjalankan mobil nya meninggalkan area parkir itu dan mengendarainya dengan kecepatan sedang.Tak ada percakapan setelah nya.Karena keduanya sedang di kuasai oleh pergulatan batin di fikiran masing-masing.


Tapi selama perjalanan Brian di buat curiga oleh sebuah mobil yang terlihat mengikuti nya semenjak keluar dari resto tadi.Brian perlu memastikan nya agar ia tak salah langkah.


Brian lalu menepikan mobil nya di sisi jalan secara tiba-tiba.Hal ini membuat Mayang bingung.Tapi Brian membuat alasan yang masuk akal agar gadis itu tak curiga.


Brian melihat dari kaca spion,mobil itu pun tampak berhenti dan tak mau mendahului nya.Membuat Brian harus melakukan rencana kedua nya.Ia kembali menjalan kan mobil nya lurus namun bukan menuju rumah orang tua nya.


"Tuan,,kita mau kemana?Ini bukan jalan ke rumah orang tua anda kan?"Mayang bertanya dengan ekspresi bingung.


Sampai di sebuah mini market,Brian pun memarkirkan mobil nya di sana.


"Tuan,anda ingin membeli sesuatu?"Lagi -lagi Mayang bertanya karena bingung.


"Aku turun sebentar untuk membeli sesuatu dan kau tetap disini.Jangan buka pintu meskipun ada orang yang mengetuk nya.Kau mengerti?!"Brian bicara dengan nada peringatan.


"Tuan sebenarnya ada apa ini?"Mayang mulai curiga.Karena sudah beberapa kali ia melihat Brian selalu menoleh ke arah belakang serta wajah nya yang terlihat sedikit cemas.


"Tidak ada apa-apa Mayang."Brian berusaha setenang mungkin agar gadis itu tidak merasa khawatir."Aku keluar dulu dan kau harus mendengarkan perkataan ku tadi.Okay!"Brian menegaskan dengan pandangan nya yang lekat terhadap Mayang.Mayang bisa melihat ada rasa khawatir terselip di mata Brian.


"Baik tuan.."Ucap Mayang patuh.Ia menunjukkan senyum nya agar lelaki itu tak merasa khawatir padanya.


Pandangan Mayang mengikuti langkah Brian yang semakin jauh meninggalkan nya.Lelaki itu berjalan dengan santai memasuki mini market tersebut.Entah mengapa Mayang merasa seperti ada yang Brian sembunyikan darinya.


Di dalam mini market,Brian bukan nya membeli sesuatu seperti yang ia katakan pada Mayang tadi,melainkan bersembunyi dan mengintai mobil nya dari kejauhan.


Hingga beberapa menit dalam pengintaian nya,memang belum menunjukkan sesuatu pergerakan mencurigakan yang mengarah atau pun mendekati mobil nya.Hingga membuat Brian berfikir mungkin mobil tadi hanya kebetulan saja berada di belakang nya.Serta rasa takut kehilangan yang datang itu hanyalah perasaan nya saja yang berlebihan.


Namun pada saat akan mengakhiri pengintaian nya,tiba-tiba muncul dua orang yang mencurigakan tampak berjalan mendekati mobil Brian.Dan benar terjadi apa yang ia duga,mereka terlihat mengarah ke pintu penumpang di mana disitu Mayang berada.


Brian lantas keluar dari tempat nya bersembunyi sembari menekan tombol alarm di kunci mobilnya sehingga menimbulkan suara nyaring dan membuat dua orang itu berlari menjauh mengamankan diri.


Brian tergesa-gesa menghampiri mobilnya untuk melihat keadaan Mayang disana.Lelaki itu akhirnya bernafas lega setelah melihat senyum manis tersungging di bibir Mayang.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?"Brian meraih jemari Mayang dan menggenggam nya erat begitu Brian telah masuk ke mobil nya.Brian menatap Mayang penuh rasa kekhawatiran.Dan gadis itu hanya mengangguk cepat sebagai jawaban serta melempar senyum manisnya untuk mematahkan kekhawatiran lelaki yang telah melindungi nya itu."Kita harus pergi dari sini."Brian memasang sabuk pengaman nya.


"Apa kita akan pulang ke rumah anda?"Mayang bertanya tanpa mengedipkan mata.Menanti jawaban dari lelaki tempat ia menggantungkan hidup nya.


"Tidak."Brian menjawab singkat."Kita akan menjauh dari daerah ini untuk mengelabui para penguntit itu.Aku yakin mereka masih tetap mengikuti kita sampai mereka mengetahui tempat tinggal mu.Atau mungkin juga mereka sudah tau."Brian tersenyum tipis.


"Tuan maafkan saya."Suara Mayang lirih namun sarat akan penyesalan.Brian yang tadinya akan menghidupi mesin mobil pun menghentikan kegiatan nya."Saya berjanji mulai sekarang akan patuh pada perkataan anda tuan..."Mayang benar-benar bicara tulus dari hati nya.Brian hanya tersenyum menanggapi Mayang lalu mulai menjalan kan mobil nya yang entah berjalan menuju ke mana.


Entah sejauh apa Brian telah membawa mobilnya menyusuri jalan kota yang ramai dan padat hingga menyusuri jalan sepi dan berliku untuk mencari celah agar bisa meloloskan diri dari mobil yang di yakini Brian masih tetap mengikuti nya.


Brian sudah merasa sedikit lelah setelah sekian jam mengendarai mobil nya dalam ketegangan tanpa jeda tadi.Di liriknya Mayang yang tampak sudah tertidur dengan posisi setengah miring menghadap ke arahnya.


Brian menepikan mobil nya di tepi pantai yang terlihat lengang tanpa ada pengunjung di dini hari seperti ini.Hanya deburan ombak yang terlihat berkejaran berebut menuju ke tepian.


Brian melepas sabuk pengaman nya dan menyandarkan tubuh nya di kursi mobil.Ia menghela nafas dan memiringkan tubuh nya menghadap ke arah gadis yang tampak terlelap dengan berselimut jas milik nya.


Brian membelai pucuk kepala Mayang dengan lembut.Merapikan anakan rambut yang menutupi wajahnya.Wajah cantik itu seperti memiliki magnet tersendiri yang seperti menarik Brian untuk selalu memandangnya.


Brian membelai wajah Mayang dan mengusap lembut pipi itu dengan ibu jarinya.Sepertinya gadis itu merasa kan sentuhan dari Brian meskipun dalam keadaan tidur,Mayang meraih tangan yang menyentuh pipi nya walaupun gerakan nya lemah.Dan matanya sedikit terbuka namun bisa melihat jelas siapa yang berada dihadapan nya.


"Tuan..."Ucap Mayang pelan dalam keadaan setengah sadar.


""Tidurlah lagi."Brian mengusap-usap pucuk kepala Mayang agar gadis itu kembali tidur.Mungkin memang karena rasa kantuk yang teramat sangat,membuat Mayang benar-benar terlelap kembali dan tidur dengan sangat pulas nya.


Brian menatap iba pada gadis yang terlelap dalam senyuman itu.Rasa bersalah yang teramat karena telah membuat gadis itu terkekang dan terenggut kebebasan.


Brian begitu mencintainya gadis ini.Sangat sangat mencintai.Bahkan benar-benar ingin memiliki.Namun pernyataan cinta bukan lah hal yang utama bagi Brian.Ia ingin terlebih dulu membuat gadis itu mencintai nya sebelum ia menyatakan cinta nya.


Ia juga ingin seperti orang lain yang bebas mengekspresikan rasa cinta nya pada sang kekasih tanpa terhalang oleh batasan.Ia selalu ingin membuat orang yang di cintai nya merasa bahagia,bisa menikmati apapun yang ia suka,pergi kemana pun yang ia mau.


Brian ingin mengajak Mayang kemanapun gadis itu mau,ingin mengajak nya ke tempat-tempat indah di dunia ini,tapi apalah daya.Keselamatan Mayang lah yang lebih utama.


Brian bisa mengerti jika mungkin gadis ini begitu membenci nya.Menentang sikap arogan nya yang selalu melarang gadis itu melangkah menjauh dari diri nya. Yang terkadang mencuri cium semau dia.


Terlihat dari pembangkangan yang tadi ia lakukan demi untuk makan bakso dengan level kepedasan setan itu.


Brian menatap bibir ranum Mayang yang terlihat memerah saat merasakan pedas.Andai saja bukan lah cabai yang kau makan tadi,mungkin kini Brian telah melahap habis bibir itu.Namun ketika membayangkan seberapa banyak cabai yang Mayang makan tadi,ia enggan untuk melakukan nya.


Brian jadi tau kenapa terkadang wanita itu bermulut pedas.Terkadang bicara dengan kata-kata yang menusuk saat mereka sakit hati.Apa mungkin karena mereka tahan memakan cabai yang begitu banyak tanpa merasa kepedasan.Tapi kenapa malah orang lain yang merasa telinga nya pedas mendengar kata-katanya?


Brian mengecup punggung tangan yang sejak tadi menggenggam tangan nya dengan lembut lalu melepaskan nya perlahan.


"Maaf telah membuat mu merasa tersiksa bersama ku."Bisik Brian lirih.


Brian memasang kembali sabuk pengaman nya lalu menghidupkan mesin mobilnya.Sudah waktunya untuk mengantar Mayang pulang ke ke kediaman orang tua Brian.Mungkin saja ibu nya yang keras kepala itu belum memejamkan mata juga karena merasa gelisah gadis ini belum juga kembali.


Brian merengkuh tubuh Mayang dalam gendongan nya begitu telah sampai di rumah Ratih.Gadis itu masih tampak terlelap dalam buaian tidur nya yang nyaman sehingga Brian merasa tak tega untuk membangunkan nya.


Ratih membimbing Brian berjalan menuju kamar Mayang dan merebahkan tubuh gadis itu dengan perlahan agar tak mengganggu tidur nya.Wanita paruh baya itu benar-benar belum tidur hingga hari sebentar lagi pagi.


Meski Brian telah mengatakan Mayang dalam kondisi baik dan sedang terlelap dalam tidurnya melalui sambungan telepon tadi,tapi wanita ini masih belum merasa tenang tanpa melihat wajah nya terlebih dulu.


Brian kemudian berpamitan pada ibu nya untuk kembali ke rumah nya setelah menitip kan gadis itu pada keluarga nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2