
Billy melangkah semakin jauh meninggalkan dua orang yang saling mencinta namun tanpa status itu.Tubuh tegap dengan pembawaan nya yang selalu terlihat cool itu terlihat berjalan dengan tenang namun langkah nya terdengar mengintimidasi.
Di dukung dengan wajah yang tak bersahabat,tanpa ekspresi dengan tatapan tajam yang ia tunjukkan membuat siapapun karyawan yang berpapasan dengan nya spontan memberi hormat pada orang pertama kepercayaan Presdir Wahana Group tersebut.Kharisma dan wibawa yang secara langsung tertular dari presdir karena telah menjadi pendamping beberapa tahun terakhir ini membuat dirinya sama di takutinya seperti orang lain takut pada Presdir.
Setiap langkah yang ia ayunkan tak pernah terlewatkan tanpa kewaspadaan. Tanggung jawab besar untuk menjaga keamanan Presdir serta Perusahaan Wahana Group membuat nya menjadi orang yang perfecsionis.Segalanya harus berjalan lancar dan sesuai dengan perencanaan yang matang.
Billy sudah menyentuh handle pintu ruangan Presdir,namun sekelebat bayangan seseorang yang seperti sedang berlari membuat nya merasa tak tenang hingga memutuskan untuk mengikutinya.
Karla yang merasa gelisah setelah Brian meninggalkan nya tanpa alasan tampak kelimpungan berada di meja kerjanya.Lama menunggu kedatangan lelaki tampan itu,namun yang di tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ia memutuskan untuk mencari nya.Hari ini ia sudah berhasil untuk membuat lelaki itu menoleh padanya hingga ia merasa percaya diri untuk melanjutkan misinya mendapatkan lelaki itu.
Saat mengetahui Tuan dan Nyonya besar tengah berada di ruang Presdir tanpa Brian disitu membuat Karla tahu ia harus mencari Brian kemana.Ia melangkah kan kakinya setengah berlari melewati lorong demi lorong ruangan di gedung pencakar langit itu.
Sampai di depan sebuah pintu yang tampak terbuka,dengan suara yang terdengar menggema memantul di dalam ruangan dengan disain mewah itu membuat Karla tersenyum.Merasa senang telah menemukan apa yang ia cari.
Gadis itu sudah mencapai ambang pintu dengan bibir yang akan terbuka untuk sekedar menyapa tiba-tiba terhenti oleh jemari kuat yang tiba-tiba membekap mulut nya dari belakang.Dadanya terasa sesak saat tangan kuat lain mencengkeram dan menyeretnya tanpa ampun menjauhi ruangan itu.
Ia meronta menciba melepaskan diri namun sia-sia hingga orang itu membenturkan tubuh nya di dinding dengan keras lalu menahan nya dengan mencekik lehernya hanya dengan tangan kiri nya saja.
Dengan ketakutan yang teramat sangat ia masih bisa mengenali manusia yang telah melakukan ini padanya.
"Sss sekretais Billy..."Suara Karla tertahan oleh tekanan kuat tangan Billy di lehernya.Tangan nya mencoba menarik tangan Billy agar cengkeraman tangan itu terlepas,namun tenaga kecil nya tak sebanding.Usaha nya sia-sia.
"Sudah berkali-kali ki peringatkan padamu agar jangan mengusik kehidupan pribadi tuan muda."Bisikkan ancaman mematikan itu terlontar dari mulut lelaki yang sedang di penuhi dengan amarah.Ia tak pernah main-main dengan ucapan nya."Kau hanya bekerja di sini dan ku harap kau jangan melebihi batasanmu."Jari telunjuk nya yang terlihat bergetar itu seperti akan menancap tepat di bola mata Karla karena terlalu dekatnya.
"Lepaskan aku Billy."Karla yang seluruh tubuhnya telah gemetar namun tak membuatnya tunduk dan menyerah begitu saja."Saat aku telah menjadi nyonya Brian,aku sendirilah yang akan mengusir mu dari tempat ini!Kau bahkan tidak akan bisa melihat Brian setelah nya.Dan untuk selamanya!"Gadis itu terlihat menyeringai.
"Lakukanlah sebisa mu.Aku orang pertama yang akan menggagalkan rencanamu bahkan sebelum tuan muda tau."Billy semakin menekan cengkeramannya.
Klara tertawa remeh meski dia dalam penekanan."Ancaman mu tidak berlaku bagiku selama Brian masih bersamaku.. uhuk.. uhuk.."Klara terbatuk-batuk membuat Billy melemaskan tekanan nya.
Lelaki itu menghempaskan tubuh malang Klara dengan keras ke lantai."Pergi lah keruangan mu dan kembalilah bekerja."Ucap Billy dengan nada paksaan.Ia tetap berdiri di tampat sampai gadis itu tak terlihat lagi.
Billy membetulkan jas dan dasi nya yang sedikit berantakan lalu melanjutkan pekerjaan nya lagi berjalan menuju ruangan Presdir.
Klara masih berjalan dengan tertatih seraya memegangi lehernya.Umpata-demi umpatan serta sumpah serapah kotor terlontar dari mulut nya untuk lelaki yang mampu bertindak tanpa ampun bahkan dengan wanita sekalipun.Ia tak akan pernah melupakan kejadian ini seumur hidup nya.
Sementara di dalam ruangan sepeninggalnya Billy tadi,Mayang masih terlihat sangat gugup.Ia tanpa sadar meremas sendok dan garpu yang ia pegang sejak ia memulai makan tadi.Kini ia merasa perutnya tiba-tiba merasa kenyang dan tak ingin meneruskan makan nya lagi.
"Kenapa berhenti makan nya?"Brian yang tiba-tiba sudah duduk di kursi yang berada di samping Mayang bertanya.Ia tak menyangka ternyata dirinya membuat Mayang terkejut hingga berjingkat.
Hey sejak kapan dia duduk disitu!Kenapa mengagetkan ku seperti ini!
"Saya sudah kenyang."Mayang menjawab singkat.Ia tak berani menatap lelaki yang tengah duduk menghadap pada nya itu.
__ADS_1
"Kenyang bagaimana?Kau bahkan baru memakannya beberapa sendok tadi."Brian merebut sendok serta garpu dari tangan Mayang dengan paksa lalu menarik piring makannya juga agar lebih dekat dengan nya.
Hey kenapa anda mengambil piring makan saya?Anda tidak akan memakan nasi sisa saya kan??
Brian memasukkan kan nasi sayur serta lauk dalam sendok makan Mayang yang ia rebut tadi.Lalu menyodorkan sendok terisi penuh itu ke mulut Mayang.
Apa ini?Kenapa anda menodong saya dengan sendok terisi penuh begini?
Mayang melirik kearah lelaki yang antusias ingin menyuapinya itu.
"Kenapa melihatku begitu?Cepat buka mulut mu!"Brian bicara dengan nada memaksa.Tak ingin mendapat penolakan dengan sorot matanya yang ia bulatkan sempurna.
Mayang ragu-ragu tapi mau membuka mulutnya.Dan "hap" sendok terisi penuh itu sukses mendarat di dalam nulut Mayang hingga rongga di dalam sana menjadi sesak karena terlalu banyak isi yang masuk.
Mayang kesulitan untuk mengunyah dan lalu menutupi mulutnya dengan dua telapak tangan nya.Dengan susah payah ia menelan makanan itu ke tenggorokkan nya.
Brian tergelak melihat wajah Mayang yang menurutnya lucu itu.Lalu mengambilkan segelas air putih dan meminumkan nya pula langsung ke mulut Mayang.Gadis itu terpaksa meminumnya beberapa tegukkan.
Apa dengan semua wanita dia begini?Menyuapi saat makan seperti yang dia lakukan terhadap Karla juga?
"Tuan sudah ya... Saya sudah kenyang."Pinta Mayang dengan halus.Ia menatap laki-laki dihadapan nya itu dengan wajah memelas.
Ohhh kenapa dia terlihat semakin tampan dengan rambut yang berantakan seperti itu... Dia cute sekali.. iihh gemas gemas gemas! Kenapa aku ingin sekali menggigitnya seperti menggigit permen kenyal.
"Tuan apa yang anda lakukan?"Mayang merasa bulu kuduk nya merinding.
"Perutmu masih kempes.itu tanda nya kau belum cukup kenyang.Ayo makan lagi!"Lagi-lagi menodong dengan sendok yang terisi penuh.
Mayang menatap sendok yang di pegang Brian sebelum membuka mulutnya.
"Apa kau tidak percaya padaku sampai-sampai kau perlu melihat isinya dulu?"Brian berlagak seperti ibu yang sedang memarahi anaknya.
"Maaf tuan,,, anda menyuapi saya terlalu kebanyakan.Saya kesulitan mengunyah nya."Mayang berbicara dengan mulut yang masih terisi sambil mengunyahnya.Dan di sudut bibirnya masih tertinggal sebutir nasi di sana.
Entah kenapa karena melihat itu membuat Brian memiliki niatan nakal terselip di pikiran nya.
"Kau ini seperti anak kecil ya!Makan saja belepotan."Brian menaruh sendok yang ia pegang kembali di piringnya."Sini aku lap!"Ucap Brian seraya mencondongkan tubuh nya mendekati Mayang.Dan tangan nya yang mengarah kebibir gadis itu.
Mayang benar-benar berfikir kalau Brian akan membersihkan sisa makanan di mulutnya dengan jemari tangan nya sehingga ia menegakkan kepalanya agar memudahkan Brian untuk membersihkan nya.Ia tak menaruh curiga sedikitpun.
"Dimana yang kotor biar saya bersihkan sendiri."Ucap Mayang kemudian seraya meraih tisu lalu kembali pada posisi sebelum nya.
"Biar aku saja."Brian mengambil tisu dari tangan Mayang lalu tangan kirinya merengkuh tengkuk leher Mayang agar posisi mereka lebih dekat.Tangan kanan nya yang memegang tisu mulai beraksi dengan menempelkan tisu itu di dagu Mayang yang bahkan tanpa ada sisa makanan disana.
Entah mengapa Brian merasa bibir Mayang mengandung pemanis alami yang membuatnya kecanduan ingin menyesapnya lagi dan lagi.Berada sedekat ini membuatnya tak bisa menahan hasrat yang kian bergejolak merambat ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Wajah polos Mayang yang terlihat tanpa curiga sedikitpun membuat Brian gemas ingin segera melahap nya.Brian melepaskan tisu di tangan nya dan membelai lembut pipi Mayang.Tatapan matanya nya sayu menatap mata Mayang yang seketika membulat karena terkejut.
Wajah Brian semakin mendekat hingga nafas hangat mereka saling beradu.
Tanpa bicara Brian menyatukan bibirnya dengan bibir mayang dengan lembut dan menyesapi sisa makanan disana.
Mayang yang sempat berjingkat karena terkejut pun tak dapat melakukan perlawanan atau pun berontak karena karena ia sendiri sudah terhipnotis dengan serangan lembut Brian yang membuat pertahanan nya melemah.Ia hanya bisa meremas lengan Brian tanpa ia sadari.Matanya terpejam seiring semakin dalam nya ciuman Brian karena bibirnya yang memang sudah terbuka saat ia terkejut tadi.Jemari Brian kemudia bergeser lembut menyusuri leher jenjang Mayang sehingga menimbulkan rasa geli yang membuat suara desahan lolos keluar dari bibir Mayang yang masih berpagut dengan Bibir Brian.Lelaki itu justru semakin memperdalam ciuman nya dengan lidah nya yang menjelajah lembut menyusuri rongga mulut gadis itu memainkan lidah nya.
Nafas Mayang tersengal hingga ia mendorong tubuh Brian memaksa nya untuk melepaskan pagutan itu karena ia mulai kehabisan nafas.
Brian mengusap Bibir Mayang yang basah akibat ulah nya dengan lembut.Gadis itu tertunduk dengan wajah bersemu malu tak mampu membalas tatapan Brian yang tetap menghujaninya dengan tatapan penuh hasrat.
Brian menggenggam lembut jemari Mayang yang gemetar dan basah karena keringat dingin untuk menenangkan gadis itu.
"Mm..maaf saya harus menemui nyonya."Mayang melepaskan tangan Brian dari nya dengan lembut sebelum ia berlari meninggalkan lelaki yang tampak menyeringai puas itu.
Mayang berlari hingga nafasnya terengah-engah lalu berhenti dan bersandar di dinding lorong yang sepi untuk menenangkan diri.Mengumpulkan kembali kewarasan nya yang sempat hilang karena wajah tampan Brian yang telah menghipnotis nya.Kenapa ia jadi gampangan seperti ini sekarang.
Agak lama Mayang bersandar di situ dengan mata yang terpejam.Tiba-tiba ia merasa hembusan angin hangat menyapu lembut di wajah nya.Ia spontan membuka mata.
Duuaarr!Wajah tampan tuan Brian yang sedang tersenyum manis terpampang nyata di hadapan nya.Seketika membuat Mayang gelagapan.Ia ingin segera berlari bamun tangan kekar itu berhasil meraih perut Mayang dan mengangkatnya dari belakang dan memutar tubuh mereka agar gadis itu tak kabur lagi.
Brian menurunkan kaki Mayang berpijak ke lantai tanpa melepaskan tangan nyasehingga ia sepwrti memeluk Mayang dari belakang.Keduanya saling berpandangan dan tertawa bersama saat Brian menunjukkan heels Mayang yang ia tenteng di tangan kirinya.
"Apa kau ingin seperti ayam yang berjalan tanpa alas kaki?!"Ucap Brian sambil tertawa menggoda membuat Mayang tersipu malu.Brian lalu melepaskan pelukan nya.
Saat Mayang akan meraih nya,Brian menarik tangan nya tiba-tiba sehingga Mayang hanya berhasil meraih angin dan tangan nya tetap kosong.
"Tuan jangan begitu..."Rengek Mayang dengan senyum malu-malu.
"Biar aku yang pakaikan!"Brian berjongkok dan menekuk sebelah lututnya bertumpu pada lantai.Pelan-pelan ia memakaikan heels Mayang satu per satu.
Saat mereka berjalan menuju ruang kerja nya,Brian meraih jemari Mayang dan menggandenganya mesra.Mereka saling melempar senyum sebelum akhirnya tertunduk malu-malu.
Saat Mayang dan ibunya pulang pun Brian mengantar mereka sampai ke depan lobby.Seolah tak rela gadis itu meninggalkan nya bahkan hanya untuk pulang.
Setelah mobil itu menghilang dari pandangan,Brian pun kembali ke ruangan nya untuk melanjutkan kembali pekerjaan dengan semangat sejuta watt karena suntikan semangat dari Mayang.
Gadis itu benar-benar luar biasa....
Brian tersenyum sambil bersandar di kursi kerja nya yang empuk.Ua membelai lembut bibirnya dengan senyuman penuh arti.
Billy hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bos nya yang sedang di mabuk cinta itu.
Bersambung
__ADS_1