Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Pijatan nyaman


__ADS_3

"Sayang, jangan terlalu panik begitu. Kaki ku baik - baik saja!" ucap Mayang mencoba meyakinkan Brian yang tampak panik. Usai merebahkan tubuh sang istri pada sofa panjang di ruang tunggu, Brian buru - buru membuka sepatu serta kaus kaki sang istri lalu memijat pergelangan kaki Mayang yang sempat dikeluhkannya sakit.


"Kalau dibiarkan nanti bisa bengkak Sayang," jawab Brian sembari fokus dengan memijatnya.


Mayang hanya bisa pasrah sembari merasakan pijatan Brian yang terasa nyaman. Mayang memperhatikan bagaimana sang suami begitu lihai memijat kakinya. Dan sepertinya Brian tau bagaimana memberi pijatan yang benar pada kaki yang terkilir.


"Sayang,"


"Ya,"


"Apa kau ini tukang pijat?" tanya Mayang dengan serius, namun setelah itu ia tergelak kencang saat Brian nampak tercengang mendengar pertanyaannya.


"Kenapa memangnya? Pijatan ku enak kan??" Brian menyeringai.


"Iya." Mayang tersenyum malu.


"Anak persilatan selain diajari bela diri juga diajari pertolongan diri, Sayang. Selain berguna untuk diri sendiri, kita juga bisa menolong teman saat mengalami cidera ringan."


"Oh ,,, ku pikir kau ini hanyalah petarung bar - bar." Mayang segera membungkam mulutnya dengan jemari saat Brian menatapnya tajam.


"Apa yang kau katakan? Kau pikir aku berandalan?" ucap Brian sembari tersenyum.


"Maaf." Mayang berucap dengan penuh penyesalan.


"Apaan si Sayang,"


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar membuat sepasang suami istri itu spontan menoleh ke arahnya.


"Bisa saya masuk Tuan," suara Billy terdengar dari luar.


"Masuk Bill!" seru Brian menyahutinya. "Sayang, kita lanjutkan nanti lagi memijitnya ya, ada yang ingin ku bucarakan dengan Billy." ucap Brian sembari mengusap lembut dagu sang istri dengan ibu jarinya.


"Sayang, aku sudah sembuh."


Brian hanya menjawabnya dengan senyuman. Setelahnya lelaki itu pun beranjak menghampiri Billy yang sudah berdiri di depan pintu.


Setelah tersenyum pada Mayang untuk berpamitan, tangan Brian pun bergerak meraih dan menarik kerah jas yang Billy kenakan itu dengan sangat kasar menuju keluar ruang tunggu.


Mayang yang melihat jelas kejadian itu pun diBuat penasaran dengan perlakuan Brian terhadap Billy. Pikiran Mayang pun bertanya - tanya gerangan apa yang membuat sang suami tampak murka pada Sekretarisnya itu.


Dan tanpa kedua lelaki itu sadari, dengan tanpa menggunakan alas kaki Mayang pun mengendap - endap mencari keberadaan kedua lelaki itu yang Mayang pastikan tak jauh dari ruang tunggu.


Lamat - lamat Mayang pun mendengar suara Brian yang tengah berbicara menggema dari salah satu ruangan kosong. Mayang pun segera mendekat kearah suara itu dan berusaha mencari tahu.


Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat Mayang bisa melihat Billy yang tampak tersudut bersandar pada dinding sementara Brian tengah menekannya dengan penuh amarah. Mayang bahkan bisa mendengarkan dengan jelas pembicaraan keduanya.


Mayang terbelalak terkejut saat mendengar Brian mengatakan bahwa Alex adalah salah satu dari pelaku penyekapan padanya sepuluh tahun lalu. Dan kejutan - kejutan lain yang membuat jantung Mayang berdegub kencang.


Tubuhnya pun seketika gemetar saat rasa takut serasa menjalar di sekujur tubuhnya. Hal yang ia takutkan selama ini -yang bahkan hampir terlupa oleh Mayang- ternyata benar - benar akan terjadi.


Mayang membungkam mulutnya yang ternganga terkejut saat mendengarkan Billy menyampaikan informasi tentang peristiwa di gedung tua di kampung halamannya yang terjadi beberapa tahun lalu.


Dan Mayang menyadari bahwa gadis yang sedang di buru itu adalah dirinya. Seketika sekelebatan bayangan mengerikan pun muncul di kepalanya saat merasa dirinya dalam bahaya.

__ADS_1


Dengan kaki yang terasa lemas Mayang pun segera meninggalkan tempat itu setengah berlari, sebelum kedua lelaki itu menyadari keberadaannya. Dan Mayang pun melangkah pelan saat hampir mencapai ruang tunggu agar tak mencolok pandangan para penjaga yang bertugas berjaga disana.


Sembari tersenyum sebagai sapaan pada para penjaga, Mayang berlalu dan masuk ke ruang tunggu seolah tak terjadi apa - apa.


Di dalam ruangan, Mayang segera kembali pada tempatnya semula dengan meluruskan kaki seperti saat Brian meninggalkannya. Mencoba menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dan itu ia lakukan berkali - kali hingga dirinya merasa tenang.


Hingga pintu terbuka dan Brian tampak muncul dengan senyuman manis tersungging di bibirnya.


"Maaf Sayang membuatmu menunggu lama." Brian mengecup puncak kepala Mayang lalu duduk di ujung sofa, berniat melanjutkan lagi pijatan yang sempat terjeda.


"Sudah Sayang, kakiku sudah sembuh." cegah Mayang dengan menurunkan kakinya dari sofa. Dan beringsut merapatkan duduknya pada Brian.


"Kau serius?"


"Dua rius." Sembari tersenyum Mayang pun menujukkan dua jarinya. Yang kemudian mendapat cubitan gemas di pipinya dari sang suami.


"Oh iya, setelah ini kita mau apa?" tanyanya sembari membungkuk mengenakan kaus kaki beserta sepatunya.


"Kau sendiri ingin melakukan apa?" bukannya menjawab Brian malah balik bertanya.


"Hemmm." Sembari mencebik Mayang menggelengkan kepala.


"Bagus. Kalau begitu ikuti sesuai keinginan ku dan jangan menolak okey ...," ucap Brian bersemangat sembari tersenyum. Tangannya pun bergerak mencolek hidung sang istri.


"Memang aku harus mengikutimu apa?"


"Tidak bisa ku katakan sekarang."


"Kau pasti akan menolaknya."


"Lalu apa bedanya jika kau katakan nanti besok atau lusa aku pasti menolaknya juga kan?!"


"Nanti saja. Sekarang ikut dengan ku." Brian meraih pergelangan Mayang saat istrinya itu selesai memakai sepatunya. Kemudian menyatukan jemari mereka dan keduanya bergandengan tangan saat meninggalkan tempat itu.


Suasana sekolah yang tampak sepi kian membuat Mayang bertanya - tanya falam hatinya. Namun sang suami terlihat ceria seolah merasa ini hal biasa. Membiarkan istrinya celingukan mengamati keadaan sekitar dengan seribu pertanyaan tanpa jawaban.


Mayang melirik kesal pada Brian yang seolah dengan sengaja membuatnya tersiksa dengan rasa penasaran. Lelaki itu pun tampaknya menyadari, hingga ia pun menatap sang istri dengan alis yang terangkat seperti bertanya.


"Kita mau kemana?" Mayang kembali bertanya setelah beberapa kali Brian mengacuhkan pertanyaan itu. "Kita sudah berjalan lumayan jauh dari tempat kita tadi," tambahnya lagi meskipun Brian hanya menanggapinya dengan senyuman.


Tanpa Mayang sangka, semakin mereka menjauhi area sekolah yang sepi justru mereka semakin mendekati keramaian. Sebuah gedung olah raga berukuran besar yang berdiri kokoh sudah tampak dari pandangan mata keduanya.


Gedung itu sepertinya memang di peruntukan bagi para siswa di sekolah itu, sebab gedung itu sendiri terletak tidak jauh dari area sekolah. Letaknya pun memanfaatkan lahan kosong di area belakang sekolah.


Mayang bisa melihat perkembangan yang begitu pesat dari bangunan fasilitas serta infra struktur dari sekolah ini walaupun ia hanya singgah hanya sebentar sepuluh tahun yang lalu.


"Sayang, apa di gedung itu sedang ada acara?" Mayang tak dapat menahan rasa penasaran lagi sehingga langsung bertanya.


"Sepertinya iya."


"Jadi kau ingin membawa ku kesana?"


"Tidak apa kan?" Brian bertanya untuk memastikan.

__ADS_1


"Aku mau kau bawa kemanapun selama itu bersama mu."


"Benarkah? Ah aku jadi ingin mencium mu."


"Jangan." Cegah Mayang saat Brian sudah akan menyentuhkan bibirnya di pipi Mayang. "Ini di sekolah Sayang, jangan mengajarkan hal buruk pada adik - adik kelasmu."


Brian terkekeh. "Aku sampai lupa Sayang. Kau terlalu menggemaskan membuat aku tak jadi tahan."


"Ih gombal." Mayang mencebik dan hal itu membuat Brian berdecak sebal.


"Tidak percaya ya sudah lah. Kelak kau akan tau seberapa besar aku mencintaimu." Brian berucap dengan penuh keyakinan. Hal itu membuat hati Mayang trenyuh di buatnya.


Aku tahu sayang, aku tahu sebesar apa cinta mu pada ku. Dan aku akan mencintai mu sebesar itu pula. Mayang berjanji dalam hati.


Di pandanginya wajah sang suami yang tampak ceria itu dengan rasa syukur. Mayang tahu betul bagaimana sang suami selalu memasang wajah ceria untuk menutupi kegundahannya dihadapan dirinya.


Mayang mendengar jelas semua pembicaraan antara Brian dengan Billy tadi. Sehingga dia cukup mengerti seberapa besar rasa cinta sang suami terhadapnya.


Meski dirinya pun merasa cintanya sangat besar terhadap sang suami, namun Mayang merasa takarannya cintanya jauh dibawah Brian jika ditilik dari pengorbanan yang telah di lakukan Brian untuknya. Mayang bahkan sempat berpikir untuk pergi meninggalkan lelaki yang tengah menggandengnya ini.


"Wah kebetulan sekali ya, kita datang bertepatan dengan ada event disini."


"Benar cuma kebetulan?" Mayang bertanya setengah menyindir. Entah mengapa ia merasa ada unsur kesengajaan dalam hal ini dan bukanlah suatu kebetulan.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Hemm," Mayang mengangkat bahunya. "Aku merasa kalau hal ini sudah direncanakan."


Brian hanya tersenyum masam. Padahal ia sudah berusaha agar hal ini terlihat seperti kebetulan, tapi istrinya ternyata cukup jeli hingga menyadari setiap kejanggalan yang terjadi.


Semakin mendekati gedung justru membuat Mayang terlihat tidak nyaman. Gadis itu tampak salah tingkah saat semua mata tampak tertuju pada mereka. Para dewan guru dan entah siapapun itu tampak berbaris di depan gedung untuk menyambut kedatangan mereka.


"Sayang kenapa mereka menatapku seperti itu?" Bisik Mayang pada Brian. Wajahnya tampak gelisah dan cemas.


"Karena kau cantik,"


"Bukan! Pasti karena seragam SMP ini kan?"


Brian mengeratkan genggaman tangannya untuk menenangkan sang istri. Lantas membawanya untuk menyalami orang -orang yang menyambut mereka satu persatu.


Canggung. Mayang hanya bisa tersenyum kaku saat para dewan guru wanita memeluk dan mencium pipinya dengan perasaan bangga. Mayang belum terbiasa mendapat perlakuan seperti ini hingga dirinya merasa kikuk. Terlebih nampak begitu banyak sirot kamera yang tampak mengabadikan momen ini. Ini benar - benar kejutan baginya.


Dan pada saat keduanya mencapai ambang pintu, tepukan serta sorak riuh menggema di seluruh ruangan gedung saat menyambut keduanya. Tampak ribuan pasang mata dengan pakaian putih abu - abu dengan serempak berdiri saat keduanya melangkah memasuki gedung.


"Mari kita sambut donatur tetap kita sekaligus pendiri event tahunan ini Tuan Brian Haris Abdullah!" suara pembawa acara dengan mikropon nya terdengar nyaring memenuhi gedung itu. "Kepada Tuan dan Nyonya untuk naik ke atas panggung. Waktu dan tempat kami persilahkan."


Hal ini terasa begitu mengejutkan bagi Mayang, dan ia merasa belum siap untuk ini. Mayang menggeleng dengan wajah yang terlihat tegang. Ia menolak saat Brian menggandengnya untuk naik ke atas panggung.


"Ayo Sayang, ini momen kita," bujuk Brian dengan penuh harap.


"Sayang, a-aku malu." jawab Mayang dengan suara terbata.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2