Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Takut


__ADS_3

Pagi ini Mayang bangun pagi-pagi sekali. Entah mengapa semalam dia sulit sekali untuk tidur. Pikirannya melanglang buana entah kemana. Hanya wajah Tuan muda yang selalu muncul di pelupuk matanya.


Walaupun sudah melakukan berbagai cara untuk melupakan dan mengusir bayangan itu, tetapi Mayang tetap tak bisa. Wajah Tuan muda juga selalu hadir dalam mimpi yang membuat tidurnya pun tak tenang.


Setelah membersihkan diri Mayang bergegas pergi menuju dapur. Ia ingin menyeduh kopi dan menyiapkannya di meja makan sebelum tuan muda turun untuk sarapan. Ia ingin menghindari pertemuan dengan tuan muda untuk meminimalisir debaran jantungnya.


Kopi sudah siap, saatnya untuk bersembunyi.


Tok tok tok terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Siapa lagi kalau bukan Tuan muda, membuat Mayang bergegas lari menjauhi ruang makan.


Bu Kuswara yang melihatnya tampak bingung dan merasa aneh. Mayang menempelkan telunjuknya di bibir seperti mengisyaratkan agar wanita itu tutup mulut.


"Silahkan, Tuan." Bu Kuswara menarik kursi dan mempersilahkan Brian untuk duduk di sana.


Harum semerbak aroma kopi sudah menari-nari membelai indra penciuman Brian. Lelaki itu tak melihat keberadaan Mayang di sana dan langsung paham maksud dari gadis itu tak muncul di meja makan untuk sarapan bersama.


"Panggil Mayang untuk sarapan. Katakan aku menunggunya," titah Brian tanpa melihat wajah orang yang ia suruh.


"Baik, Tuan." Bu kuswara yang menjawab. Lalu menarik diri untuk mencari keberadaan Mayang di tempat persembunyiannya.


Bu Kuswara berjalan menuju ke dapur. Ia yakin gadis itu ada di sana sebab melihat sendiri tadi Mayang berlari menuju ke sana ketika mendengar suara langkah kaki tuan Brian. Setelah sampai di dapur, Bu Kuswara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Ia menghela nafas panjang melihat sepasang heels beserta kaki pemakainya di samping kulkas besar di dapur itu.


"Kemari Mayang," panggilnya tanpa mendekat. Dilihatnya pula sepasang kaki itu tampak bergerak mundur ketika ditarik oleh pemiliknya.


"Mayang keluarlah. Aku tahu kamu di situ." Bu Kuswara menaikkan volume suaranya.


Dasar seperti bocah. Benar apa yang Tuan muda katakan. Apa tidak ada tempat yang bagus lainnya untuk bersembunyi selain di samping kulkas?


"Mayang, percuma kau bersembunyi begitu kalau kaki dan bajumu saja masih kelihatan!Kalau tuan muda tahu kau akan ditertawakannya nanti!"


Mendengkus lirih, Mayang akhirnya keluar dari tempatnya bersembunyi begitu mendengar kalimat terakhir Bu Kuswara. Mimik mukanya terlihat lucu karena ketakutan membuat Bu Kuswara bekerja keras menahan tawa.


"Ayo ikut aku. Tuan muda sudah menunggumu di meja makan," ajak Bu Kuswara, lalu berbalik badan hendak melangkah. Namun, kakinya urung berjalan lantaran si gadis menolak ajakannya.


"Kenapa tidak mau?" tantanya penasaran dengan alis yang bertaut.


"Saya ... saya takut ...," jawab Mayang lirih lalu menggigit bibir bawahnya.


"Apa yang kau takutkan? Tuan muda tak sejahat itu, Mayang. Ayolah, sebelum tuan muda semakin marah dan membuatmu akan lebih kerepotan nantinya." Bu Kuswara menarik tangan Mayang tanpa mempedulikan wajah panik gadis itu.


Sampai di tempat makan, Bu Kuswara menarik sebuah kursi dan mempersilakan Mayang untuk duduk di sana.


Melirik Brian sekilas, Mayang lalu duduk dengan hati-hati. Dipandangnya sang tuan muda yang sedang menikmati kopi buatannya dengan hati-hati. Pemuda itu rapi dan tampan seperti biasa. Diliriknya pula piring makan Tuan muda yang masih tampak utuh dan belum tersentuh.


Apa dia benar-benar sedang menungguku untuk sarapan?


Keadaan masih hening. Bahkan ketika Brian mengembalikan cangkir kopi pada tatakannya pun nyaris tak memperdengarkan suara. Pria itu begitu rapi dalam segala tindakan. Ah, Mayang yang seorang wanita jadi minder dibuatnya. Gadis itu hanya tertunduk lemah sambil menggigit bibir bawah.


"Kau dari mana saja?" tanya Brian membuka percakapan tanpa memandang muka orang yang ia tanya.


Mayang yang tak merasa dirinya yang ditanya hanya bergeming tanpa bersuara. Hal itu sukses membuat Brian geram.


"Hey! Aku bertanya padamu! Berani sekali kau mengabaikanku!"


Mayang terlonjak saat Brian membentak. Ia sontak mengangkat pandangan dan mendapati Brian tengah menunjuknya sembari menatap dengan tajam.


"Sa-saya dari belakang, Tuan," jawabnya tergagap. Ia langsung menunduk demi menghindari tatapan nyalang itu.


Melihat ketakutan di wajah Mayang membuat Brian akhirnya sadar. Mungkinkah dirinya yang keterlaluan saat memberi teguran?


Brian menghela napas demi menghalau rasa tidak nyaman di hatinya. Pandangannya beralih pada piring berisi roti gandum berselai, lalu memindahkan dua potong ke piring Mayang.


"Ayo cepat sarapan," titahnya kemudian.


Mayang menggeleng lemah. "Saya sarapan nanti saja tuan."


Penolakan Mayang itu sontak membuat Brian menghentikan makannya. Ia membuang napas kasar lalu memberi perintah pada seluruh pelayanan yang ada di sana.


"Tinggalkan kami."

__ADS_1


Mayang mendelik melihat seluruh pelayan pergi meninggalkan mereka, tak terkecuali Bu Kuswara. Ia semakin panik menyadari tatapan Brian sama sekali tak beralih dari dirinya.


Ia memperhatikan Brian yang menancapkan garpu pada roti, memotong sisinya dengan pisau dan tiba-tiba menyodorkan sendok itu ke depan mulutnya.


"Aa'." Brian membuka mulutnya seperti mengintruksikan pada Mayang untuk membuka mulutnya juga. Melihat Mayang hanya melotot bingung, ia pun berucap dengan nada tegas. "Cepat makan."


Mayang terpaksa membuka mulutnya karen Brian seperti memaksanya. Ia baru ingat, segala ucapan Brian adalah perintah. Ia tak mungkin bisa menolaknya.


"Nah, begitu."


Tanpa Matang sangka, rupanya Brian tersenyum senang setelah dirinya makan. Pemuda itu bahkan tak segan memujinya.


"Kau manis sekali."


Dipuji seperti itu bukannya senang Mayang malah tersedak makanan. Buru-buru Brian menyodorkan gelas berisi jus jeruk sebelum dirinya meminta.


"Minumlah."


Mayang menerima itu lalu meminumnya setengah bagian. Melihat dirinya sudah kembali tersenyum rikuh, Brian ternyata menyuapinya lagi.


"Terima kasih, Tuan. Tapi saya bisa makan sendiri, kok," tolak Mayang dengan halus.Tapi laki-laki itu tak hanya geming. Ia tetap memaksa Mayang membuka mulutnya tanpa peduli penolakan Mayang. Akhirnya Mayang terpaksa memakan dan menelan makanan dari tangan Brian.


Brian mengambil makanan yang ketiga lalu menyodorkannya lagi ke mulut Mayang. Tanpa banyak alasan lagi Mayang pun membuka mulutnya. Menolak pun percuma, Tuan muda pasti akan tetap memaksanya. Dan ternyata ....


"Hap." Mayang dibuat mendelik saat Brian memasukkan makanan itu ke mulutnya sendiri. Pemuda itu bahkan menertawainya yang menatap Brian dengan wajah bodoh.


Kesal bercampur malu, akhirnya Mayang refleks menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua belah tangan. Dalam keadaan seperti itu ia masih bisa mendengar Brian mengatainya di sela tawa.


"Makan sendiri dong, keenakan kamu disuapin terus."


Mayang menatap Brian dengan tatapan penuh kekesalan. Dia yang maksa dia juga yang menarik makanan itu lagi.


Dia sedang mengerjai ku rupanya.Membuat ku kesal saja. Rasanya pengen garuk tembok lalu lempar drum ke arahnya. Huh sebal sebal sebal!


"Apakah Tuan pernah lihat kalau saya lagi marah?" Mayang melontarkan pertanyaan itu untuk menarik perhatian Brian dan itu berhasil. Pemuda itu kini tengah menatapnya seperti ingin mendengar kata-kata selanjutnya.


"Memangnya seperti apa?" Nada bertanya Brian jelas bukan karena penasaran. Melainkan untuk melihat seperti apa gadis itu saat sedang marah.


"Saya suka makan orang," jawab Mayang penuh penekanan.


"Iya." Mayang pun tak kalah antusias.


"Bagaimana cara makannya?" Brian tersenyum dengan kepalan tangan bertopang dagu. Tampak antusias menatap Mayang.


"Akan kutusuk orang itu seperti ini." Mayang menancapkan garpu pada roti dengan keras. "Dan kupotong-potong seperti ini." Mayang memotong roti di piringnya tanpa ampun. "Lalu kumakan seperti ini." Mayang lalu memakan roti itu dengan kasar.


Brian tergelak melihat ekspresi kekesalan yang Mayang tunjukan. "Kau ini ternyata lucu juga ya. Lalu apa kau ingin tahu bagaimana caraku makan orang saat sedang marah?"


"Bagaimana?" tanya Mayang pula penasaran.


"Begini," jawab Brian seraya menarik tubuh Mayang dengan kuat hingga tubuh gadis itu terjerembab di pangkuannya. Seperti tak memberi ampun, Brian menahan tubuh Mayang agar gadis itu tak bisa kabur lagi dari pangkuannya.


Mayang terkejut ketika sadar dirinya telah berada di pangkuan Brian. Seketika jantungnya berdesir hebat. Panik bukan kepalang, ia pun meronta sekuat tenaga.


"Lepaskan saya Tuan ...!" pekiknya sambil menepuk-nepuk dada Brian tanpa sadar.


Brian sama sekali tak terpengaruh. Ia hanya bisa tersenyum menikmati kepanikan gadis itu. Mata sayunya menatap wajah gadis yang tengah gusar itu dengan lekat. Ia tak sadar jika Mayang semakin tak tahan jika berlama-lama seperti ini. Gadis itu merasa jantungnya seperti mau meledak.


"Diam!" bentak Brian yang sudah kewalahan menenangkan.


Mayang refleks diam terpaku karena terkejut.


"Bisakah kau bersikap tenang sebentar saja? Aku ini bukan orang jahat! Aku tidak akan melakukan apa pun kepadamu." Suara Brian terdengar lirih dan serak. Namun, ia sukses membuat Mayang diam seribu bahasa.


Kedua insan itu saling memandang satu sama lain. Saling menelisik dan mencoba mencari sesuatu arti di balik tatapan mata yang saling beradu.


Sama-sama bisa merasakan debaran jantung yang berdesir seperti tanpa sela dan tak ada celah bagi keduanya untuk menghindar. Tak ada alasan untuk menolak rasa cinta yang semakin menggelora.


Brian menyentuh rambut Mayang yang sedikit berantakan karena aksi berontaknya tadi. Dengan lembut, ia meyelipkannya di balik telinga Mayang.


"Apa kau takut padaku?" tanya Brian masih dengan suara lembut.

__ADS_1


Mayang menatap wajah Brian dengan seksama sebelum menganggukkan kepala. Mayang melihat wajah Brian yang bersemu merah, serta tatapan yang teduh saat menatap wajahnya.


Tapi entah mengapa ia malah menganggukkan kepala seakan mengatakan kalau dia benar-benar takut. Padahal ia tahu sendiri, lelaki yang tengah memangkunya kini sangat baik. Mayang bahkan bisa merasakan jantung yang bersarang pada rongga dada bidang Brian itu berdentum dengan kencang.


Debaran itu mirip dengannya. Seolah jantung mereka berdetak dalam waktu yang bersamaan bahkan dengan intonasi yang sama pula. Apa itu artinya tuan? Ah tidak mungkin! Mayang mencoba menepis apa yang sedang di pikirkannya.


Walaupun sekuat tenaga Mayang berusaha menepis, tapi tak bisa dipungkiri jika ia merasakan kenyamanan saat bersama dengan Bruan. Lelaki ini mampu menghangatkan hatinya yang sebelumnya terasa dingin bagaikan es. Menyembuhkan dahaganya dari belai kasih sayang seorang lelaki terhadap wanita.


Tapi Mayang teringat kembali akan status Brian yang telah memiliki kekasih. Ia tak ingin dituduh memanfaatkan kesempatan hanya kenangan masa lalunya bersama lelaki ini. Ia tak ingin menjadi benalu dalam hubungan Brian dengan kekasihnya. Ia tak ingin berharap banyak dan sebisa mungkin membunuh perasaan itu meski Brian telah menunjukkan sinyal-sinyal perasaannya. Walaupun hatinya terasa perih seperti tertusuk sembilu.


Tak terasa bulir air mata menetes dari sudut mata Mayang.


"Hey kau menangis?" Brian menyadarinya. Ia melihat air mata yang hanya setitik itu. Dengan cepat Mayang membuang pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan.


"Tidak, Tuan. Saya tidak menangis." Mayang menunjukkan senyum manisnya.


"Kenapa kau sampai menangis begitu? Apa kau setakut itu padaku?" Brian tak mudah dibohongi begitu saja. Brian tampak kebingungan dan tiba-tiba ia juga merasakan sesal. "Maafkan aku karena selama ini perlakuanku buruk padamu."


"Tidak, Tuan. Bukan begitu. Anda adalah manusia paling baik yang pernah saya temui. Sungguh ...." Mayang berusaha meyakinkan. "Anda adalah penyelamat saya."


Maafkan saya jika saya terlalu banyak berharap pada Anda. Saya tidak pantas untuk itu Tuan. Saya sadar itu tak baik."


"Benarkah? Tapi aku tak merasa begitu," bantah Brian sambil tersenyum.


Plis tuan saya mohon, jangan terlalu banyak tersenyum pada saya karena senyum anda itu mengandung bisa yang mampu membunuh saya secara perlahan. Saya tak bisa menahan sakitnya perasaan cinta ini. Mungkin Anda tak pernah merasa jika saya mencintai Anda. Mungkin Anda hanya akan menganggap ini sebagai gurauan jika saya mengatakannya pada Anda.


"Tuan mohon lepaskan saya, saya takut kekasih Anda marah melihat kita seperti ini?" mohon Mayang dengan senyum miris. Andai saja Brian tahu ia bahkan ingin menangis sejadi-jadinya, mungkin pria itu tak akan menjawabnya dengan gaya santai seperti sekarang.


"Dia tidak sedang disini. Dia tak akan melihatnya." Brian malah menyeringai.


Apa maksud anda? Apa anda ini bukan tipe lelaki yang setia? Mayang bergumam dalam hati. Tanpa sadar ia menautkan kedua alisnya.


"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau pikir aku ini bukan lelaki setia?"


Sial. Tebakan Brian tepat sasaran. Kok dia bisa tau yang sedang Mayang pikirkan.


Mayang melongo. Merasa malu dengan pikiran buruknya sendiri.


"Sudah pergi sana!" Brian mendorong tubuh Mayang agar gadis itu berdiri. Ia terlihat kesal. Brian lantas menggerutu. "Gara-gara ini kau jadi berfikiran macam-macam kepadaku." Brian memalingkan wajahnya dari Mayang membuat gadis itu merasa bersalah.


Mayang yang telah dalam posisi berdiri itupun langsung meminta maaf dengan posisi setengah membungkuk.


"Maafkan saya yang berfikir buruk tentang Anda Tuan. Saya janji tak akan mengulanginya lagi."


Ya Tuhan, sebenarnya drama apa yang sedang kami perankan saat ini?


Brian bangkit dan berdiri lalu membetulkan jasnya yang sedikit berantakan.


"Apa Tuan sudah akan berangkat ke kantor?" tanya Mayang yang sedari tadi memperhatikan Brian.


"Iya, aku sudah cukup terlambat hari ini." Brian menjawab tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, lalu mengayunkan langkah menuju ke luar, sementara Mayang mengikutinya di belakang.


Setelah beberapa langkah Brian tiba-tiba berhenti dan memutar tubuhnya secara mendadak. Untung saja Mayang fokus dan langsung bisa mengerem langkahnya secara mendadak pula. Ia pun bisa menghindari tabrakan lagi seperti semalam.


"Mayang, aku harap kejadian tadi tak membuatmu mengubah pandanganmu terhadapku." Ucapan Brian itu terdengar serius dan memohon, membuat Mayang yang tak menyangka jadi tertegun dibuatnya. Namun, melihat ketulusan yang terpancar dari sorot teduh mata Brian, akhirnya ia mengangguk mengiyakan.


Mobil Brian sudah jauh meninggalkan rumah, tetapi Mayang masih berdiri terpaku di tempatnya sambil memandangi ujung jalan yang tadi dilalui mobil Brian.


"Mungkin Tuan ingin aku melupakan kejadian tadi..." Mayang mencoba menyimpulkan sendiri maksud perkataan Brian tadi, lalu menyeret langkahnya masuk ke dalam rumah.


Bersambung


Selalu tinggalkan jejak ya kakak


Jangan lupa like👍


komentar 💬


Favorit ❤


Voting jika karya ini layak dihargai

__ADS_1


dan Rating bintang lima ya


terimakasih


__ADS_2