Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Penculikan part 2


__ADS_3

Mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya, lagi-lagi mereka menggunakan senjatanya untuk mengancam dan membuat Mayang tak bisa berkutik. Menggeram kesal, Mayang menghempaskan tangan yang ia remas itu sambil menatap si pemilik dengan penuh kebencian.


"Bersikap manis lah pada kami jika kau tak ingin mendengar ledakan dari benda ini." Bisik gadis itu lembut tepat di telinga Mayang namun sarat akan ancaman. Menunjukkan seringainya puas gadis itu lantas melangkah meninggalkan Mayang dan menghampiri dua temannya yang sejak tadi hanya bertindak sebagai penonton.


Meski didera rasa rakut yang luar biasa, namun setidaknya Mayang masih bisa bernafas lega. Sebab yang dilakukan tiga gadis itu hanyalah sebatas untuk menggertak saja.


Seperti yang sudah ia dengar tadi, mereka akan kehilangan nyawa jika sampai sedikit saja membuat dirinya tergores. Ini sudah menjadi bukti bahwa si penculik menginginkan dirinya dalam keadaan baik-baik saja.


Tapi siapa dalang dibalik aksi penculikan ini?


Mayang masih terbelenggu dalam kekalutan. Mencuri-curi dengar, Mayang mencoba mencari jawaban dari obrolan ketiga wanita tadi. Namun ia harus menelan kekecewaan saat belum mendapatkan sesuatu yang dia ingin dengar, sebab ketiganya benar-benar menutup rapat segala sesuatu yang menyangkut bos mereka.


Sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, Mayang berusaha mencari sesuatu yang bisa membuatnya keluar dari tempat itu, tapi sepertinya sia-sia belaka. Hanya ada satu pintu, dan itu adalah akses satu-satunya untuk keluar. Sedangkan tiga pengawal cantik itu sudah seperti anjing penjaga yang begitu setia menjaga pintu itu.


Mayang hanya bisa mendesah pelan sembari menelan keputus asaan. Entah mimpi apa dia semalam sehingga harus merasakan terkurung di tempat asing dalam ketidak berdayaan. Tanpa tahu makhluk kejam seperti apa yang tengah mengintainya dalam kebisuan.


Perlahan tangannya pun bergerak meremas liontin di dadanya. Hanya liontin itu satu-satunya harapan agar sang suami datang menyelamatkannya. Sebuah harapan yang begitu kecil kemungkinan, namun ia memasrahkan segalanya pada sang pencipta. Karena hanya dengan seizinnya semua akan berjalan dengan semestinya.


Suara derap langkah yang terdengar mendekat memaksa Mayang untuk menoleh ke arahnya. Mayang mendapati Bianca telah berada di sampingnya sambil menatap dengan penuh selidik.


"Lagi ngapain lo?!" Bianca bertanya setengah membentak.


Tak menjawab, Mayang malah membuang muka. Menunjukkan ketidak sukaannya pada perlakuan gadis itu padanya. Namun ternyata sikap angkuh Mayang itu semakin memicu kemarahan Bianca. Gadis yang terlihat kesal itu semakin bergairah memancing kemarahan Mayang.


Melihat Mayang yang seolah begitu menyayangi benda mungil yang menggantung di lehernya membuat Bianca tampak tertarik dengan liontin itu.


"Kalung apa yang kau pakai ini?" Tanyanya sambil mencoba merebutnya, namun Bianca harus menelan kegagalan karena di waktu yang tepat Mayang berhasil menepis tangan gadis itu.


"Jangan sentuh apapun milikku!!" hardik Mayang sembari bangkit dan menarik langkah nya mundur menjauhi gadis itu. Mayang menggenggam erat liontin itu untuk melindunginya dari rampasan Bianca.

__ADS_1


"Kalung jelek seperti itu?" Bianca tertawa mencemooh. "Asal kau tau, bos bisa memberikan apapun yang kau mau!"


"Aku tidak butuh. Suamiku jauh lebih mampu memberikan apapun yang aku mau."


"Oh ya," Bianca berdecih meremehkan. "Aku jadi penasaran, memangnya sekaya apa suamimu itu sehingga lebih mampu dibandingkan bos kami yang seorang pengusaha dan mavia."


Mayang terkejut hingga bola matanya membulat sempurna. Kata terakhir Bianca membuatnya berpikir bahwa Alex adalah dalang dibalik penculikannya ini.


"Katakan siapa bos kalian?!" Lagi-lagi Mayang berteriak dan mencoba mendesak, namun hanya tawaan mencemooh saja yang tiga gadis itu tunjukkan. "Ku mohon berhenti menertawaiku!! Bebaskan aku dari sini!" Menjerit frustasi, air mata Mayang tak mampu di bendung lagi.


Di saat suara tawa bergema memenuhi ruang kamar kedap suara itu, tiba-tiba ponsel berada di meja pun berdering. Seketika ketiga dara itu pun menghentikan tawa, dan Bianca pun melangkah cepat dan menyambar ponsel itu.


"Bos." Ujarnya sembari menatap kedua temannya sebelum Bianca mengangkat telepon itu. Menekan icon berwarna hijau, Bianca lantas menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Halo Bos," ucapnya membuka percakapan. "Dia aman bersama kami, bos tenang saja." Bianca diam sejenak untuk mendengarkan yang di seberang berbicara. "Baik, saya akan suruh Kim dan Joy untuk turun ke lobi sebentar. Mereka akan mengambil kiriman anda." Bianca lantas memutus sambungan telepon. Gadis itu duduk di sofa usai meletakkan kembali ponselnya di meja.


Kim yang tampak penasaran karena namanya disebut pun segera duduk di samping Bianca. "Bos bilang apa?" Tanya dengan ekspresi wajah penuh rasa ingin tahu.


"Kalian berdua turun ke bawah gih. Ada barang yang harus di ambil di lobi." Perintah Bianca pada kedua temannya.


Bianca berdecih meremehkan. "Cuma gadis lemah. Bisa apa dia, palingan juga cuma bisa nangis." Ucapnya enteng disusul tawa mencemooh dari tiga gadis itu.


Mayang yang masih berdiri terpaku di tempatnya hanya bisa diam membisu meski batinnya meronta. Akalnya yang masih waras menuntun logikanya untuk berpikir melawan sekarang bukanlah sebuah cara yang tepat jika hanya ingin memamerkan seberapa kuat. Karena otot tanpa otak itu hanya akan menjerumuskannya kedalam lembah kekalahan yang semakin dalam. Bukankah lebih baik diam namun menyimpan sebuah siasat.


Sepeninggal Kim dan Joy yang keluar, kini hanya tinggal Mayang dan Bianca saja yang berada di dalam ruangan itu. Mayang merasa inilah saat yang tepat untuk melakukan aksinya dalam upayanya melarikan diri sebelum lelaki yang mereka sebut-sebut sebagai bos itu datang.


Melihat Bianca yang tengah asik memainkan ponselnya membuat Mayang tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia meraih tali gorden dan melangkah mengendap-endap mendekati Bianca dari belakang.


Bianca yang tengah lengah itu tak menyadari jika bahaya tengah mengancamnya. Menanggalkan kewaspadaannya, gadis itu sama sekali tak mengetahui bahwa wanita yang ia tawan tengah mengincarnya penuh ancaman.


Mengumpulkan keberaniannya, Mayang lantas dengan sigap mendorong tubuh Bianca dari belakang hingga gadis itu tertelungkup di sofa panjang di depannya.

__ADS_1


Menindih untuk menahan tubuh mungil gadis yang tengah meronta berusaha melepaskan diri itu, Mayang lantas mengikat tangan Bianca ke belakang hingga gadis itu tak bisa berkutik di bawah ancamannya.


Meraih pistol di meja, Mayang menggunakannya untuk mengancam Bianca. "Bawa aku keluar dari sini atau kau kuhabisi!!" Gertaknya dengan nada keras meski tangannya gemetar memegang benda mengerikan yang bahkan seumur hidup baru sekali ia sentuh.


"Lo nggak akan bisa keluar dari sini kalau elo benar-benar bunuh gue! Karena bos gue pasti akan nyakitin elo!" Seolah tak gentar dengan ancaman Mayang, Bianca justru balik mengancam Mayang.


"Kau pikir aku akan main-main dengan ancaman ku!!" Mayang bergerak cepat menukar pistol itu dengan pisau buah yang tak jauh dari jangkauannya. "Aku mungkin tak akan membunuhmu, tapi aku bisa melukaimu!" Ucapnya sembari menempelkan sisi pisau yang tajam pada leher Bianca. Mayang menunjukkan bahwa ia tak main-main dengan ucapannya.


"Kau mau aku penggal kepalamu sekarang juga?! Cepat bangun!" Bentak Mayang dengan nada perintah sambil menarik tubuh Bianca yang terjerembab tak berdaya dengan kasar. Tak lupa pula ia membawa pistol itu sebagai perlindungan.


Bianca melirik tajam pada Mayang sambil merutuki kebodohannya sendiri yang begitu mudah terperdaya oleh wajah polos gadis yang telah berhasil menguasai dirinya dengan begitu mudah.


"Kenapa? Kaget?" Tanya Mayang sambil menyeringai puas dengan satu alisnya yang terangkat. "Inilah rupa asli gadis lemah yang kau sandra." Desisnya sambil memelintir tangan Bianca hingga gadis itu memekik kesakitan.


"Aku bisa saja mematahkan tanganmu hingga kau mengalami cacat seumur hidup jika kau tak menuruti perintahku. Cepat jalan!" Mayang mendesak Bianca untuk melangkah menuju pintu.


Tangan kiri Mayang mengunci dengan erat tangan Bianca yang terikat, sementara tangan kanannya yang menodong leher Bianca dengan pisau benar-benar membuat gadis itu tak bisa berkutik.


Tak ada pilihan lain baginya selain menyerah dan mengikuti perintah Mayang. Bagai berdiri di atas ribuan beling kaca. Tetap berdiri di sana ia akan terluka, tapi berusaha melangkah keluar dari sana pun ia tetap terluka. Ia hanya bisa menanti detik-detik kehancurannya, entah di tangan Mayang ataukah di tangan bos nya.


"Bagaimana cara membuka pintunya?!" Tanya Mayang saat mereka berada di depan pintu.


"Bagaiman aku bisa membuka pintu jika tanganku masih terikat begini?" Seolah ingin mengulur waktu, Bianca mencoba mencari-cari alasan. Namun ternyata Mayang bisa membaca niat buruk Bianca itu.


"Kau pikir aku sebodoh itu hingga ingin melepaskanmu? Cepat berikan kunci atau passcontac atau apapun agar pintu ini terbuka! Cepat!!" Bentak Mayang tak sabaran. Ia benar-benar tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.


Dengan bibir bergetar dan suara yang terbata, Bianca pun memberikan nomor kode pintu kamar itu. Mayang yang tanpa berpikir panjang segera mengulurkan tangannya untuk menekan tombol satu persatu tanpa curiga gadis yang tengah ia ancam itu memiliki niatan buruk dibalik sikap patuhnya, sehingga pada saat pintu terbuka, Bianca pun tak melewatkan kesempatan itu untuk menyerang Mayang.


Secara mendadak Bianca memutar tubuhnya berbalik dan menyerang Mayang menggunakan kakinya. Serangan tiba-tiba itu berhasil mengenai tepat di perut Mayang. Rasa sakit yang teramat membuat Mayang tersungkur dan memekik kesakitan sembari memegangi perutnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2