
Setelah menyela keseriusan dengan canda tawa ringan, Brian dan Mayang pun kembali mengaktifkan mode fokus pada perencanaan pernikahan Billy.
Ya, Billy secara diam-diam telah menghubungi mereka, meminta agar menjalankan misi rahasia yaitu persiapan pernikahan beserta resepsinya. Billy ingin semuanya siap dalam waktu singkat.
"Sayang, apa kau tahu ukuran baju Milly?"
Brian spontan menoleh mendengar pertanyaan itu dilayangkan Mayang.
"Sayang, kau ini yang benar saja. Kenapa menanyakan ukuran baju Milly kepadaku? Memangnya aku ini desainnya!" gerutu Brian dengan tangan masih memegangi buku.
Mayang nyengir. "Ya, kali aja kamu tau, hehe."
"Kau kan sesama wanita, pastinya tau, kan ukuran baju Milly itu apa."
Mayang tertegun sejenak, kemudian menggeser duduknya merapat pada Brian. Wanita hamil itu lantas menatap suaminya dan berbicara dengan penuh keseriusan.
"Sayang, apa Billy yakin mempercayakan rencana pernikahannya pada kita? Aku bukan ahli dalam bidang ini, Sayang. Aku takut hasilnya nanti tidak sesuai dengan harapan Billy."
"Sayang," Brian membelai rambut istrinya penuh sayang untuk menenangkan. "Jika Billy sudah mempercayakan, itu artinya dia yakin kita bisa dipercaya. Tenang, ya. Kita pasti bisa atasi ini. Lagi pula kan ada Ibu. Beliau ahlinya di bidang ini."
Mendengar itu Mayang pun tersenyum. Ia menghela napas lega kemudian mengangguk yakin.
"Janji, kita harus kerja sama, Sayang." Mayang menunjukkan kelingkingnya agar Brian menyambutnya.
Brian yang paham dengan keinginan sang istri terlihat senang hati menyatukan kelingkingnya pada kelingking Mayang.
"Janji," ucapnya dengan mantap.
"Aku cinta kamu," celetuk Mayang.
"Aku lebih mencintai kamu," balas Brian.
"Aku–"
__ADS_1
"Stop," potong Brian sambil menempelkan telunjuknya pada bibir Mayang untuk mengisyaratkan istrinya diam. "Aku tau apa yang ingin kau katakan."
"Hehe, kalau dituruti kerjaan nggak kelar-kelar, ya kan." Mayang tertawa lucu menyadari maksud dari tindakan Brian barusan. Pria itu sengaja menghentikan, sebab biasanya mereka akan mendebatkan siapa yang paling cinta tanpa ada yang mau mengalah, dan sekarang bukanlah saat yang tepat untuk melakukan itu.
"Sayang ...," lirih Mayang setelah beberapa saat terdiam.
"Heum." Brian yang semula tengah melihat-lihat gambar contoh cincin pernikahan, seketika menghentikan kegiatan. Ia menoleh, dan menatap sang istri sambil menaikkan alisnya.
"Bagaimana kalau kita nikahkan juga Alex dengan Bianca?"
Brian mengerutkan kening menanggapi perkataan Mayang barusan. Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba saja wanita itu memiliki ide gila. Terlebih Mayang mengungkapkannya dengan mimik polos tanpa rasa bersalah.
Memang, seperti yang sudah mereka tahu, kasus hukum sama yang menjerat Alex dan Bianca secara langsung membuat keduanya sering terlibat pertemuan di beberapa kesempatan saat menjalani sidang. Terlebih sebelumnya mereka memang memiliki rasa yang terpendam. Di satu sisi, Bianca yang merasa bagai pungguk merindukan rembulan. Sementara di sisi lain, Alex yang tidak menyadari cintanya pada Bianca sebab obsesi besarnya terhadap Mayang. Namun, yang membuat Brian ragu akan usul Mayang adalah kondisi keduanya kini yang berbeda dalam tahanan terlepas dari semua fakta tentang cinta keduanya.
"Sayang, menikah itu bukan perkara gampang. Orang yang bebas berada di luar saja masih bisa memiliki hambatan, apa lagi seperti Alex dan Bianca yang masih berada di tahanan. Mereka baru saja menjalani hukuman, Sayang. Masih butuh waktu lama untuk bebas dari sana." Brian menjelaskan.
"Tapi banyak kok, yang nikahnya di dalam tahanan," celetuk Mayang yang seketika membuat Brian bungkam.
Brian mendesah pelan, sementara Mayang, masih menatap suaminya dengan penuh pengharapan.
"Sayang, kita hidup di negara hukum. Jadi, patuhi hukum yang ada. Dan untuk masalah pernikahan Alex dan Bianca, ini adalah masalah hati. Keputusan tetap ada di tangan mereka. Kita tidak tahu, barangkali mereka masih butuh waktu untuk introspeksi diri, atau memahami perasaan sendiri. Bisa saja kan, perasaan yang mereka rasakan saat ini bukanlah cinta sejati."
Brian diam sejenak selagi mengamati ekspresi istrinya. Wanita itu sedikit menunduk dengan kening mengerut. Tampaknya tengah berpikir.
Melihat itu Brian hanya tersenyum lembut. Ia tahu maksud baik istrinya itu. Namun, tidak semua hal bisa dilakukan dengan gampang, dan tidak semua perkara bisa berakhir bahagia seperti keinginan manusia. Namun, yang jelas, di balik semua kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil.
"Sayang," lirih Brian sambil meraih jemari Mayang dan menggenggamnya penuh kelembutan. Mayang menoleh, dan menatap suaminya dengan wajah yang masih murung. "Percayalah, jika mereka berjodoh, pasti akan bersatu oleh karena campur tangan Tuhan."
Seulas senyum langsung menghiasi wajah cantik Mayang. Untuk sejenak tadi ia sempat lupa, jika semua yang terjadi di muka bumi ini adalah berkat campur tangan Tuhan. Kini ia sadar, untuk apa memaksakan diri jika takdir tak menghendaki?
Seketika tangan kanan Mayang bergerak menggenggam tangan Brian yang tengah menyatu dengan jemari kirinya.
"Iya, Sayang. Aku mengerti sekarang," ucapnya dengan nada mantap. Brian tersenyum lembut, lalu mengusap perlahan pipi mulus istrinya sebagai tanda sayang.
__ADS_1
Mayang hanya pasrah ketika Brian membenamkan tubuhnya ke dalam dekapan. Ia justru melingkarkan tangannya pada pinggang sang suami.
"Maafkan aku," lirih Mayang.
"Hem?" Brian menautkan alis, lalu menunduk menata wajah istrinya. "Maaf untuk apa? Kau tidak bersalah, Sayang. Aku tahu kau memiliki hati yang mulia. Maka, saat kau bahagia, kau ingin semua orang di sekitarmu juga ikut merasakan bahagia. Aku bangga memilikmu, Sayang."
"Aku yang lebih bangga memilikmu," sahut Mayang.
"Aku!" sahut Brian.
"Ish, aku!" Mayang pula tak mau kalah. Ia melepaskan diri dari pelukan Brian, dan menatap sebal pada pria itu. "Sudah dibilang aku, ya aku!" gerutunya marah-marah.
Brian mendesah pelan, lalu menggelengkan kepala. Lebih baik mengalah dari pada terjadi perang dunia pikirnya.
"Iya, Sayang. Kamu. Kamu yang bangga memiliki aku," ujarnya sambil kembali memeluk istrinya.
"Nah, gitu dong. Tapi kamu juga harus bangga memiliki aku," rengek Mayang dengan nada manja. Gadis itu tak menyadari jika suaminya tengah menggemeretak jengkel karena ulahnya.
"Sayang," panggil Brian.
"Ya," jawab Mayang sambil mendongak.
"Sini, hidungmu aku gigit."
"Hah?"
"Kamu itu bikin kesel, tau nggak."
"Apa!" geram Mayang. "Awas ya, entar malam nggak dapat jatah."
"Eh, nggak bisa gitu."
"Biar!"
__ADS_1
"Sayang ...!"
Bersambung