Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Munafik


__ADS_3

Pagi sudah menyapa menggulir malam yang gelap gulita. Sinar matahari mulai menelisik masuk melalui celah sebuah jendela yang minim akan cahaya. Di dalam sana, dua anak manusia masih terlelap dalam sisa-sisa mimpi indahnya. Bahkan kehangatan yang tersalurkan dari pelukan keduanya mampu menangkal dinginnya malam yang terasa menusuk tulang.


Si wanita yang tidur dengan posisi miring berbantalan lengan si pria tampak menunjukkan pergerakannya. Gadis dengan balutan piyama motif bunga-bunga itu terjaga dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk menyapa kedua netranya.


Sementara itu tangan kirinya bergerak meraba-raba sesuatu yang bidang namun terasa hangat dan membuatnya nyaman. Aromanya bahkan terasa begitu menenangkan, hingga seulas senyum pun tersungging dari bibir wanita cantik yang masih enggan melepaskan kehangatan ini. Dia sangat menyukainya hingga membuatnya kembali memejamkan mata.


Namun lama-kelamaan ia mulai merasa aneh dengan sesuatu yang tengah di dipeluknya. Terlebih lagi ia merasakan hangatnya embusan napas yang lembut menyapu wajahnya, ditambah pula suara dengkuran halus yang terdengar dari atas puncak kepala itu membuat Milly semakin merasa curiga hingga memaksanya kembali membuka mata.


Dan seketika itu juga Milly terperanjat. Bahkan bola matanya pun membulat sempurna serta mulutnya ternganga karena saking terkejutnya. Ekspresi wajah gadis itu pun menegang. Pikirannya berusaha menelaah, kembali mengingat-ingat kejadian semalam. Ia masih mengingat dengan jelas jika semalam dirinya tidur seorang diri. Lalu sekarang bagaimana bisa ada tangan kokoh yang melingkar di tubuhnya.


Belum habis keterkejutan serta tanda tanya di benaknya, Milly yang masih sibuk mengamati lengan berbalut kemeja putih itu bertambah terkejut lagi setelah mendengar suara lenguhan seorang pria, bahkan disusul dengan gerakan menggeliat yang semakin mengeratkan pelukan di tubuhnya.


Gerakan itu begitu kuat dan tiba-tiba, hingga dalam sekejap wajah Milly sudah membentur dada kerasnya tanpa bisa melawan. Lelaki itu memerangkap Milly ke dalam pelukannya, mendekap begitu erat hingga terasa menyesakkan.


Milly yang merasakan tekanan pun seketika memekik tertahan. Terlebih lagi setelah menyadari rupanya Billy lah orang yang memeluknya saat ini. Gadis mungil itu seketika menggerakkan tubuhnya berusaha meronta sekuat tenaga. "Astaga. Pak, tolong lepaskan saya ...!" pekiknya dengan nada sesak. Gadis itu benar-benar kesulitan bernapas sekarang.


Gerakan tubuh Milly itu rupanya berhasil mengusik lelapnya tidur si lelaki, hingga di saat bersamaan, si lelaki pun terjaga dan seketika berteriak selagi melepaskan rengkuhannya. "Hey apa yang kau lakukan padaku?!" sentak Billy dengan wajah tegang penuh keterkejutan selagi bangkit dari posisinya berbaring. Lelaki terlihat ke bebingungan mendapati istri sirinya itu berada dalam pelukan.


Keduanya menarik diri secara bersamaan begitu pertautan mereka terlepas. Berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, dan sama-sama menempati ujung sofa dengan ekspresi wajah tegang serta kebingungan.


Si gadis yang tak kalah panik segera meraih bantal kursi yang yang terletak di sisinya sebelum kemudian memeluknya dengan tujuan untuk menutupi tubuh bagian depannya. Gadis itu tertunduk gusar, sementara tangannya yang gemetar tanpa sengaja meremas-remas ujung bantal yang berada dalam dekapannya.


Perasaan yang mengganjal memaksanya memberanikan untuk mengangkat pandangan dan menatap lelaki di depannya. Hanya sekilas, sebelum kemudian ia kembali tertunduk dengan rasa malu yang luar biasa. Terlebih saat itu Billy tengah mengawasinya dengan pandangan penuh curiga. Napasnya memburu, sementara tangannya terkepal kuat.


Tiba-tiba ketakutan pun menyergap. Sekelebat bayangan ngeri pun membayangi. Bagaimana jika ia salah berkata maka bogem mentah itu yang bicara. Lelaki dingin ini pasti tak akan mengampuninya begitu saja jika ia merasa tak terima.


"Kenapa kau diam!" suara Billy di keheningan berhasil menyentakan Milly dari lamunan.

__ADS_1


Tubuh Milly seketika bergetar ketakutan. Entah mengapa dirinya pagi ini merasa sial. Setelah semalam merasa tersiksa dalam kesendirian seperti diasingkan, lalu bangun pagi membuka mata sudah berada dalam pelukan. Dan kali ini ia justru dihadapkan pada sebuah tuduhan yang tak berdasar. Bukankah ini jatuhnya fitnah jika memang dirinya tak bersalah?


"M-mak-maksud Bapak apa?! Seharusnya saya yang bertanya, apa yang Bapak lakukan terhadap saya?" pada akhirnya Milly memberanikan diri untuk bertanya, meskipun dengan suara terbata-bata. Namun ia masih dalam posisi yang tertunduk, tak sanggup membalas tatapan Billy yang sudah seperti singa yang seolah siap melahap habis sang mangsa.


Mendengar pertanyaan Milly, Billy seketika berdecak tak terima. "Memangnya apa yang kulakukan?! Bukankah seharusnya pertanyaan ini memang di tujukan kepadamu!" Billy yang yang terima berucap kasar, bahkan dengan nada tuduhan.


Mendengar perkataan Billy yang kental akan tuduhan itu sontak membuat Milly mendongak. "Kok saya Pak? Saya ingat betul saya tidur nya sendirian, semalam. Bahkan saya tidak tahu kapan Bapak datang hingga pagi ini terbangun dalam keadaan seperti ini. Bukankah Bapak yang seharusnya dipertanyakan?!" papar Milly mengingatkan, namun kental akan sindiran. Gadis itu bahkan sekarang berani membalas tatapan Billy, dengan bermodalkan keyakinan serta sisa keberanian yang ia miliki.


"Kau menuduhku?!" balas Billy tak terima sambil menudingkan telunjuknya ke arah Milly.


"Tidak. Saya hanya menyampaikan fakta." tegas Milly penuh keyakinan.


Billy menautkan alisnya usai mendengar perkataan Milly. Lelaki bersurai hitam legam itu memalingkan wajahnya dan terlihat berpikir. Berusaha mengingat-ingat lagi kejadian semalam. Bukankah ia tertidur dalam keadaan memangku kepala Milly yang dengan tanpa izin menjadikan pahanya sebagai bantal. Lalu kenapa mereka berakhir dalam sebuah pelukan?


Benar-benar tidak masuk akal. Tidak mungkin juga kan tubuhnya merosot ke bawah lalu tanpa sadar bergera memeluk Milly. Bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Bisa saja kan Milly yang mengatur semuanya. Gadis itu sengaja membuat mereka tidur berpelukan. Sial! Jika benar-benar itu terjadi, bukankah dia itu licik sekali? Menyabotase semua ini hanya untuk kepentingannya saja. Apa dia tidak tau hal ini bisa merugikan orang lain.


Mendesah kasar, tangan Billy lantas bergerak mengusap kasar kepala dan mengacak-acak rambut hitamnya. Ia menghela napas frustasi lantas memijat pelipisnya yang mendadak terasa pusing.


Billy yang tengah memijit dahinya itu pun seketika berhenti, lantas menoleh ke arah Milly, dan menatap gadis dengan rambut acak-acakan yang tengah tertunduk itu dengan sorot tajam. Setelah diam beberapa saat, sebelum akhirnya berucap dengan nada setengah bertanya. "Apa kau tidak dengar apa yang ku perintahkan kemarin?!"


Milly mengangkat pandangannya dan memberanikan diri menatap Billy dengan pandangan kebingungan. "Yang mana ya Pak?"


Billy mendengkus sebelum menjawab. "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur di kamar, kan! Lalu kenapa kau malah tidur di sofa! Dengan keadaan televisi masih menyala pula!" Bentaknya keras sebelum kemudian kembali memijit dahinya.


"Maaf Pak, tadinya saya mau tidur di kamar, tapi--" Milly menghentikan ucapannya, gadis itu menggigit bibir bawahnya seolah takut untuk mengatakannya.


"Tapi apa?!" Desak Billy tak sabaran.

__ADS_1


"Tapi kan kamar Bapak cuma satu. Kalau saya tidur di sana lalu Bapak mau tidur di mana? Kan saya jadi nggak enak ...!"


"Kalau nggak enak ya kasih aja buat kucing. Gampang kan! Atau kalau perlu dibuang sekalian." Tutur Billy masih dengan tangan memijat kepalanya.


Sementara Milly yang mendengar perkataan Billy hanya mengerjap-ngerjap kebingungan. Ini apa hubungannya sama kucing, sih? Bukannya tadi ngomongin kamar? Kok malah larinya ke kucing?


"Kucing yang mana ya, Pak? Kok dari kemarin saya Nggak lihat ada kucing?" setelah bergulat dengan rasa kebingungan, pada akhirnya Milly pun memutuskan untuk bertanya. Gadis itu mencondongkan wajah polosnya dengan posisi miring mendekat ke arah Billy, dan memasang muka penuh rasa ingin tahu.


Billy yang terkejut muka Milly mendadak ada di sebelahnya pun seketika membeliak kaget. "Kenapa dekat sekali, sih?! Mengejutkanku saja."


Milly pun segera menarik mundur posisi tubuhnya. Sambil tersenyum kecut, ia pun berucap, "Ya maaf, Pak, saya nggak sengaja."


"Nggak sengaja bagaimana?! Jelas-jelas kau sengaja mendekat tadi." protes Billy dengan nada tak terima. Lelaki itu lantas bangkit dari tempatnya dan seketika menimbulkan tanya di benak Milly.


"Bapak mau kemana?! tanya Milly cepat sambil mendongakkan kepalanya, menatap punggung lelaki menjulang di hadapannya.


"Mau mandi lah! Memang apa lagi!"Billy menjawab ketus. Lelaki yang masih mengenakan kemeja dan rompi itu lantas melirik ke arah istrinya dengan seringai nakal di sudut bibirnya. "Kenapa? Kau mau ikut?"


Mendengar perkataan bernada menggoda yang terlontar dari bibir Billy itu sontak membuat Milly membelalak. Bahkan wajahnya yang putih itu seketika memerah panas. Sebagai wanita dewasa tentu ia tahu kamar mandi itu tempat apa. Entah disengaja atau tidak, nyatanya perkataan Billy itu berhasil membuatnya malu tak terkira. Kesal, Milly pun seketika melemparkan bantal dalam dekapannya itu ke arah Billy dan mengenai tepat di kepala lelaki itu. "Bapak jangan macam-macam sama saya ya!" hardiknya dengan nada mengancam.


Meraih bantal yang tergeletak mengenaskan di lantai itu, Billy lantas melemparkan balik mengenai tepat di wajah Milly. Dengan seringai meremehkan di bibirnya, ia pun berucap, "Dasar. Kau pikir aku benar-benar mengatakan itu? Memangnya aku ini lelaki apa, hah!"


Mendengar ucapan Billy sontak saja membuat Milly semakin geram. Diremasnya bantal yang sempat mendarat di wajahnya tadi dengan gemas. Sementara matanya menatap Billy dengan sorot memburu.


"Yang penting saya tidak munafik." sahut Milly cepat, dan berhasil menghentikan langkah Billy yang sudah dua meter meninggalkannya.


Lelaki itu lantas memutar tumit dan berbalik, menatap Milly penuh ancaman, ia pun membuka mulut dan berkata, "Apa maksudmu?!" tanya Billy dengan nada tak terima.

__ADS_1


"Yang penting saya tidak munafik. Jelas?" Tanya Milly setelah mengulangi perkataannya. Gadis yang kini sudah berdiri itu kini bersedekap dada lantas berucap penuh keyakinan. "Saya tau, Bapak kan yang sengaja memeluk saya saat kita tidur semalam?"


Bersambung


__ADS_2