Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Aroma dendam


__ADS_3

"Mill lo ngapain ngumpet di situ, tukang kredit langganan lo datang?" Ina yang berlagak tak mengerti berjongkok dan mengamati Milly di bawah meja. Gadis manis dengan tinggi badan 160 cm itu menatap Milly bingung saat istri Billy itu melotot padanya. "Kok lo melototin gue?" tanyanya polos tanpa rasa bersalah.


"Lo punya bibir mau gue rantai biar nggak gampang kelepasan?!" Hardik Milly dengan suara berbisik penuh ancaman. Membuat gadis bersurai coklat itu spontan membungkam mulutnya sendiri.


"Sorry gue keceplosan, lupa. He he." Cengir Ina seraya menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. "Habis gue kaget, nggak nyangka. Masa iya cowok yang bikin diabetes gitu kaga bisa senyum." Ina bahkan sampai menyebut nama penyakit disebabkan oleh gula karena saking manisnya.


"Lu nggak percaya aja. Dia itu dingin banget orangnya. Ngenes gua. Gara-gara lo nyawa gue berada diujung tanduk sekarang."


"Mana bisa Mill, ujung tanduk kan lancip. Gimana ceritanya itu telur bisa nyangkut di sana? Mendingan gue ceplok aja gimana?"


"Astaga Ina ...!" Milly menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangannya. "Gemes gue sama elu, pengen gue bunuh deh." Geramnya kesal.


"Idih Milly cantik, uluh-uluh emesh deh, tayang-tayang." Ina mencubit gemas pipi Milly sambil bergurau seperti sedang menimang bayi. "Gue cuman becanda." Kini gadis manis itu memasang wajah ketus.


"Ehemmm!!" Deheman Billy berhasil membuat dua gadis dibawah meja itu terkejut. Dan secara spontan membuat keduanya sama-sama bangkit dan kemudian ... Jedug! Kepala Milly dan Ina sukses membentur meja. Kesakitan, dua gadis itu meringis sambil memegangi bagian kepala yang terasa nyeri.


"OMG pala gue," Pekik Ina sambil memejamkan mata dan berusaha berdiri secara perlahan. "Tiba-tiba banyak bintang di sekitar gue. Barusan kenapa ya? Gue nggak lagi jalan-jalan ke luar angkasa kan?" Ina mengerjapkan mata.


"Jalan-jalan ke luar angkasa dari Hongkong, pala lo kejedug!" Milly menekan pipi Ina dengan telunjuknya. "Gue juga ...." Keluhnya sambil mengusap puncak kepalanya.


Menyadari ada yang memperhatikan, Milly dan Ina serentak menatap Billy yang tengah menatap malas kearah mereka. Menyunggingkan senyum kikuk, dua gadis itu merasa malu dengan ulah mereka sendiri barusan. Dan pada saat dua gadis itu saling melempar pandangan, "Ambyar guys," Bisik Ina pada Milly. "Nggak punya muka gue di hadapan oppa korea. Buruan bungkusin punya gue gih. Pengen cepetan kabur gue. Nggak tahan ama dentuman keras jantung gue."


"Jantung lo kenapa?" Milly pura-pura panik. "Lo kena serangan jantung?"


"Kaga! Tapi serangan cinta."


"Nggak usah ngarep deh lo, patah hati entar." Tutur Milly acuh sambil mengemas rujak di mika.


"Huaaa ...!" Ina pura-pura menangis. "Tega lo ama temen sendiri. Dukung ngapa?"


"Ya ampun ni bocah." Milly menggeleng tak percaya. Gadis yang mengurai rambutnya itu lantas mendekat di sisi Ina, lalu mengusap pundak temannya. "Udah gue bilang, dia ada yang punya. Gue kurang baik apa coba, kasih tau elo akan semua faktanya. Gue cuma nggak pengen lo sakit hati ...." Tutur gadis penjual rujak itu sok bijak.


"Hiks patah hati gue. Sedih tau Mill," Ina mencebik sedih.


"Halah nggak usah lebay. Cari yang lain aja." Milly menepuk pundak temannya untuk memberi dukungan.


Usai mengemas sebungkus rujak, Milly menyodorkannya pada Ina. "Nih, kurang baik apa lagi gue, Lo yang datangnya belakang malah gue duluin. Buruan pulang sono." Desak Milly saat Ina tak merespon kata-katanya. Mahasiswi fakultas jurusan ekonomi itu justru malah asik tebar pesona pada Billy yang tampak tersenyum kepadanya.

__ADS_1


Sialan nih orang nggak ada akhlak, berani nikung temen rupanya. Batin Milly kesal.


"Heh, di usap tuh liur," bisikan Milly sontak mengejutkan Ina. Gadis yang tengah tengah terpesona itu spontan menggerakkan tangannya mengusap sudut bibirnya.


"Kering." Gumam Ina. Lalu menatap kesal pada Milly. "Sialan, lo ngerjain gue."


"Rujak lo udah siap noh, buruan pulang!" Sinis Milly pada Ina. "Mau sekalian gue bungkusin dia juga? Kalau perlu gue kasih karet warna merah dua biji, biar kagak ketuker ama yang laen."


Ina spontan terpingkal. "Lu kata dia rujak?! Hahaha ...!" Namun seketika gadis itu membungkam mulutnya untuk menahan tawa setelah melihat sosok yang berdiri di belakang Milly. "Gue balik ya, Mill. Bay." Pamitnya kemudian, lalu entah sebelum Milly sempat menjawab pamitnya.


"Lah, dia terbirit. Takutkan lo ama gue! Dasar nggak ada akhlak, mau nikung teman sendiri." Milly menyebik bangga saat menatap punggung Ina yang semakin menjauh. "Eh, tapi apa yang bikin dia takut ya? Ngelihat perewangan gue yang tak kasat mata kayaknya." Gumam Milly pada diri sendiri.


Gadis yang mengenakan celana jeans yang berpadu dengan kaus oblong itu memutar tumit dan berbalik badan. Seketika gadis itu terperanjat dan memekik saat tak sengaja menabrak sosok menjulang yang berdiri di belakangnya.


Dengan delapan jari yang menelusup masuk di dua saku celana bahannya, Billy menunduk menatap Milly penuh ancaman.


"Ha-ha, Bapak." Ringis Milly getir saat mencium aroma dendam menguar dari tubuh Billy.


Huaaa aku sendirian. Aku tak punya teman.


Mayang menaruh dua potong roti panggang di piring makan milik Brian lantas menyajikannya dihadapan sang suami. Tak lupa pula dia mengambil dua potong untuk dirinya sendiri.


Pagi ini mereka mulai menikmati sarapan di meja makan. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Mayang merasa sangat sehat, dari itu ia tak membutuhkan lagi pelayanan makan dan sebagainya di dalam kamar.


Wanita hamil itu begitu lahap menyantap makanan di piringnya, hingga dua potong roti itu tandas hanya dalam waktu beberapa menit saja.


Tanpa banyak kata, Brian mengambil dua potong lagi dan menaruhnya di piring sang istri.


"Terima kasih," ucap Mayang sambil tersenyum malu-malu. Lalu menyantap lagi roti ketiga tanpa ragu.


Brian hanya tersenyum senang melihat selera makan sang istri yang meningkatkan sejak kehamilannya. Tidak ada makanan yang istrinya tidak suka, hingga ia tak perlu mengkhawatirkan asupan nutrisi untuk istri dan bayinya. "Makan yang banyak ya," tuturnya seraya mengusap puncak kepada istrinya.


Ponsel Brian yang berada disisi kiri pemiliknya mendadak berderit. Sambil mengunyah makanan yang baru disuapkannya, Brian melirik pada benda pipih itu.


Melirik sekilas pada sang istri, lelaki yang tampak rapi dengan stelan jasnya itu terlihat tak tertarik menerima panggilan di ponselnya, sehingga memilih mengabaikan dan melanjutkan sarapan.


"Sayang siapa? Kenapa tidak diangkat?"

__ADS_1


"Dari Billy, Sayang. Sebentar lagi kami bertemu di kantor. Jadi tidak masalah kalaupun tidak diangkat."


Mengangkat bahunya, Mayang memilih tak bertanya dan tidak ikut campur urusan suaminya. Namun beberapa detik kemudian ponsel itu kembali berderit. Tetap mangacuhkan, sikap Brian yang tak biasa ini tak ayal mengundang rasa penasaran di hati Mayang.


"Sayang, kalau kau sibuk biar aku saja yang angkat ya." Sudah hampir meraih ponsel Brian, niat Mayang pun urung saat Brian tiba-tiba mencegahnya.


"Nggak perlu, Sayang." Sergahnya seraya menyimpan ponsel itu kedalam saku jasnya. "Aku memang sengaja membiarkan Billy bersama istrinya. Aku saja nanti bawa mobil sendiri ke kantor." Imbuhnya terlihat salah tingkah. Terlebih saat Mayang menatapnya penuh selidik.


"Tapi sepertinya itu tadi bukan nomor Billy ,,,." Protes Mayang ragu.


"Billy kok," bantah Brian seketika.


"Aku yakin tadi bukan nama Billy." Kekeuh Mayang tak percaya begitu saja.


Segera Brian bangkit. dari tempatnya ketika roti di piringnya habis tak tersisa. "Aku berangkat dulu ya, Sayang." Pamitnya lalu mengecup puncak kepala sang istri. Seolah terburu-buru, Brian meninggalkan istrinya dengan tergesa. Padahal biasanya sang istri selalu mengantarnya sampai di depan pintu.


Menatap bingung punggung suaminya, timbul rasa gelisah di hati Mayang hingga wanita hamil itu bangkit dan berniat menyusul suaminya. Entah mengapa tingkah suaminya pagi ini terlihat berbeda dari biasanya. Tentu saja hal ini membuat Mayang menjadi curiga.


Melihat mobil Brian yang semakin jauh meninggalkan rumah, Mayang hanya bisa mendesah getir. Ada desiran aneh di hati kala sang suami berusaha menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Apapun itu, bukankah pasangan suami istri itu semestinya jujur dan saling percaya?


"Hah kenapa aku jadi sebal begini si?!" Memanyunkan bibir, Mayang juga menghentakkan kakinya di selagi berdiri di pelataran. Mendengkus kesal, diusapnya setitik air yang tiba-tiba luruh dari pelupuk mata.


"Salahku apa coba? Kenapa tiba-tiba kau bohong padaku?!" Isaknya sembari menatap jalanan kosong yang tadi dilalui suaminya.


"Nyonya," sapa Kuswara yang berada di belakang Mayang. "Mari masuk ke dalam rumah. Tuan melarang Nyonya berada di luar karena tidak aman."


"Biarkan saja! Tuan juga tidak peduli padaku." Rajuk Mayang tak menghiraukan ucapan Kuswara.


"Nyonya marah pada Tuan?" risik Kuswara berusaha mencari tahu.


"Nggak, cuma kesal." Mayang menjawab ketus sembari memutar tubuhnya. Berniat masuk kedalam rumah, langkah Mayang dan para pelayan yang mengikutinya pun terhenti saat sebuah mobil tampak berhenti di depan gerbang yang tertutup.


Memutar tubuhnya, Mayang memperhatikan para penjaga yang tampak sedang menginterogasi pengendara mobil itu. Wanita dengan dres berwarna gold panjang selutut itu membelalakkan mata saat melihat dua orang lelaki berseragam coklat tampak keluar dari sana.


"P-polisi?!" Pekik Mayang tak percaya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2