
Matahari pagi sudah terbit, menyembul malu-malu di sela Awan biru, namun gadis mungil bersuara panjang nan hitam legam itu masih enggan keluar dari selimut yang membungkus tubuhnya begitu menghangatkan.
Wajah cantik itu masih saja menampakkan semburat kemerahan tatkala kembali terngiang kejadian semalam yang begitu memalukan. Bahkan jantungnya masih saja bertalu-talu ketika teringat lembutnya ciuman itu yang masih membekas di relung kalbu.
Bergulang-guling di bawah selimut, wajahnya masih saja malu-malu meski tak ada seseorang pun yang melihat itu.
Menggigit bibir bagian bawah, Milly lantas mengulum senyum disusul dua telapak tangan yang meraup menutupi wajah meronanya, ketika sekelebatan bayangan itu masih terpatri indah di dalam ingatannya.
Bruuk! Tubuh Milly jatuh terduduk di lantai ketika tiba-tiba pandangannya terasa gelap. Tubuhnya lemas tak berdaya saat harus menahan malu yang tak terkira. Ia berkali-kali mengerjapkan mata, namun bintang-bintang kecil itu masih memenuhi pandangannya yang sedikit kabur. Hingga kemudian nampak wajah pria tampan tengah tersenyum manis kepadanya.
Mengusap kedua matanya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat, refleks ia pun menunduk serta tangan bergerak meraup menutupi wajahnya ketika menyadari rupanya wajah Billy lah yang muncul di depan mata.
"Hei, ada apa denganmu?" Billy yang mencengkram dua sisi bahu Milly pun bertanya dengan nada panik. Dengan sedikit guncangan, ia berusaha mendesak sang istri untuk menjelaskan walau hanya sepatah kata saja.
"A-aku baik-baik saja, kumohon pergilah tinggalkan aku." Dengan sikap tubuh menunjukkan penolakan, Milly pun berucap dengan nada memohon.
Billy menautkan alis dan menatap Milly seolah tak percaya. "Apa kau bilang?!"
"Milly, kau kenapa?" suara bernada panik dari Ratih yang tiba-tiba muncul pun membuat Billy terlihat kikuk. Wanita paruh baya itu segera berhambur mendekati Milly yang masih duduk bersimpuh di lantai.
Mengambil posisi di sebelah kiri Milly, Ratih menatap Billy dan Milly bergantian dengan wajah penasaran. "Billy, istrimu kenapa?" tanyanya kemudian dengan sikap penuh rasa ingin tahu.
Bingung harus menjawab apa, Billy hanya menggeleng dengan wajah memerah padam. Sementara rahangnya mengeras dan menatap Milly cemas menuntut penjelasan.
Dengan perlahan Milly menurunkan tangan dan menunjukkan wajahnya. Bingung harus menjawab apa, ia hanya tersenyum kecut menanggapi kecemasan dua orang di hadapannya. "A-aku hanya merasa sedikit oleng, Ibu. Makanya aku terjatuh." jawabnya dengan nada lirih, menatap dua orang di depannya bergantian. "Maaf membuat kalian cemas ...." imbuhnya kemudian, lantas menggigit bibir bawah menahan malu.
"Aaa sebal sebal sebal! Aku malu ...!" Milly yang sudah bangun dan duduk pun kembali meringkuk di bawah selimut. Bergulang-guling ke kiri dan ke kanan dengan wajah memerah padam--lagi. Lantas kembali bangun dan duduk setelah ia merasa tenang.
meraba-raba bibirnya sendiri, gadis yang membiarkan rambut panjangnya tergerai berantakan itu lantas mengulum senyum. "Kenapa bibirku bisa sampai kelepasan si? Pake nyosor nyium dia, lagi! Dasar bibir nakal ...!" ucap Milly penuh sesal sambil menepuk-tepuk bibirnya sendiri.
"Mill! Milly!!" Suara panggilan dari luar membuat Milly terperanjat.
"Ina?" Milly menggumam pelan, menebak pemilik suara yang ia dengar.
"Mill, Lo nggak jualan?!" ulang Ina lagi saat tak mendengar suara sahutan dari dalam kontrakan.
Segera bangkit dari tempatnya, Milly pun lantas beranjak dan melangkahkan kaki menuju keluar. "Iya, bentar!" sahutnya sambil bergerak membuka kunci pintu.
"Buset. Lo baru bangun?" tanya Ina begitu pintu sudah terbuka dan melihat sahabatnya masih mengenakan piyama tidurnya. "Ini jam sembilan Neng ,,, perawan hari gini kok masih molor aja! Semalem tidur jam berapa Lo?!" omelnya sambil mengikuti sang sahabat yang melangkah menuju kursi kayu yang berada di teras kontrakan. Lantas duduk di Milly dengan mata masih mengawasi sang sahabat penuh rasa penasaran.
"Gue emang sudah tidur semalam. Pas bangun juga males." Jawab Milly sambil nyengir tanpa rasa berdosa. Lo sendiri ngapain kaga kuliah?" tanyanya kemudian setelah mengawasi penampilan Ina yang terlihat santai dengan pakaian rumahan, dan tak memperlihatkan jika ia hendak keluar untuk kuliah.
"Entar. Hari ini jam kuliah gue entar siang." Jawab Ina santai. "Gue sengaja ke sini buat nanyain keadaan Lo! Gimana acara semala, lancar kan??" Tanyanya kemudian dengan nada penasaran. Sementara matanya mengerling dan bibir menyingsingkan senyuman menggoda.
"Ya lancar, lah ,,," Milly menjawab cepat, namun nada bicaranya terdengar penuh keraguan, sedangkan matanya menatap ke arah lain menghindari tatapan langsung dengan sahabatnya.
"Oh ya?" Mata Ina berbinar senang. "Gue ikut senang mendengarnya. Cerita dong Mill ,,, gue penasaran, tau." pintanya kemudian dengan nada penuh harap.
__ADS_1
Membeliak, Milly terlihat terkejut mendengar permintaan Ina. Tersenyum kecut, bahasa tubuhnya terlihat menunjukkan penolakan. "Entar aja ceritanya ya, gue mau nyuci baju dulu." kelitnya berusaha menghindar dengan mencari-cari alasan. "Permisi dulu ya, gue mau selesaiin pekerjaan gue yang seminggu kagak kelar-kelar. Soalnya cuma gue pantengin doang kagak gue kerjain. Sampai jumpa nanti ya," ucapnya sambil beranjak dan buru-buru masuk ke dalam meninggalkan sahabatnya yang masih ternganga menatap bingung punggung mungilnya.
***
Menerima sebuah amplop coklat berukuran besar dari seseorang suruhannya, Billy lantas membuka dan membaca dengan teliti setiap tulisan yang mengandung informasi yang terdapat pada beberapa lampir kertas di tangannya itu. Sesaat kemudian, sekretaris Brian itu tampak menipiskan bibir, dan menyunggingkan senyum penuh kepuasan.
"Terima kasih untuk informasinya. Aku akan memberikan bonus besar untukmu karena ini." tuturnya sambil meletakkan lembaran kertas itu dengan hati-hati di atas meja. Lantas kembali menyandarkan punggungnya dengan santai pada sandaran kursi kafe yang tengah ia duduki sembari mengamati lembaran kertas yang lain.
Billy memang merencanakan pertemuan dengan orang suruhannya di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kantor. Tidak ada maksud khusus ia melakukan ini. Hanya untuk mencari sedikit keterangan dalam membicarakan sesuatu di luar pekerjaan.
"Tuan," panggil pria muda dengan stelan jas rapi yang membungkus tubuh tinggi tegapnya itu. Seketika Billy pun mengarahkan pandangan kearahnya. "Mengenai penyelidikan kita tentang kasus lalu," lanjutnya lagi. "Saya hanya ingin mengingatkan kepada anda untuk meningkatkan penjagaan terhadap orang terkasih anda. Sebab tidak mungkin rival anda dan Tuan Brian akan menyerang kalian tidak secara langsung. Melainkan dari titik lemah yang kalian miliki, yaitu orang terkasih."
Dengan sikap tenang, senyum Billy mengembang tanpa beban. Bahasa tubuhnya juga sangat santai saat mendengar ungkapan penuh memperingatkan dari anak buahnya.
"Sudah berapa lama kau bekerja padaku?" tanyanya bernada mengintimidasi namun dengan sikap tenang tanpa ekspresi. Meletakkan berkas di tangannya itu di atas meja, lalu menyilangkan kaki dan bersedekap dada sambil menyandarkan punggungnya lagi.
"Sudah lama, Tuan." Pria itu menjawab pelan, sementara kepalanya menunduk sopan.
"Tentunya kau sudah tahu di bahwa di dunia ini tidak ada yang aku takuti. Aku hanya sebatang kara yang dianggap anak oleh keluarga Haris Abdullah. Sumpahku telah terikrar di dalam hati, aku akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga angkatku, meski nyawaku sendiri taruhannya. Jadi sudah bisa dipastikan aku tak memiliki titik lemah sama sekali selain dari pada Keluarga Haris Abdullah. Jadi, kukatakan aku tidak takut atas ancaman apapun." Tegasnya dengan nada penuh keyakinan.
"Baik Tuan, saya mengerti." pria tegap suruhan Billy itu mengangguk paham.
Perbincangan pun telah usai, dan kini keduanya bergerak meninggalkan kafe itu masing-masing. Berjalan dengan langkahnya yang lebar, dengan bahasa tubuh santai Billy mendekati mobilnya yang terparkir di pelataran kafe yang berukuran luas. Meskipun pembawaannya tenang, namun sorot matanya selalu mengawasi penuh selidik apapun yang ada di sekitarnya.
Sudah masuki mobil dan di belakang kemudi, Billy yang saat itu tengah mengenakan sabuk pengaman pun tanpa sengaja mengarahkan pandangannya ke arah kursi penumpang di sisinya. Seulas senyuman langsung tersungging dari lengkung merahnya tatkala sekelebatan bayangan manis semalam kembali hinggap dan memeluk sanubarinya.
Saking malunya, Milly bahkan tak mau menatap wajah Billy hingga lelaki itu pamit undur diri dan meninggalkannya seorang diri dalam keheningan malam.
Melajukan mobilnya, senyuman itu masih terpatri menghiasi wajah pemilik mata elang itu, hingga sesuatu hal pun membuatnya kemudian terperanjat dan membelalak, seolah-olah sesuatu telah menyadarkannya.
Ya-Billy telah melupakan sesuatu hal mengenai titik kelemahannya. Walaupun tanpa landasan rasa cinta, bagaimanapun juga Milly itu adalah istrinya. Yang secara langsung menjadi titik kelemahannya. Entah bagaimana bisa Billy terlupa akan hal itu.
Segera mengambil ponselnya yang ia letakkan dengan baik di dalam laci mobil, Billy lantas menggunakannya menelpon seseorang. "Kirimkan nomor gadis itu sekarang juga." ucapnya pada seseorang di ujung sana dengan nada memerintah.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel lelaki muda itu, dan seolah tak ingin membuang waktu, ia pun segera menghubungi nomor itu. Agak lama ia menunggu, hingga akhirnya suara lembut yang terdengar ragu-ragu pun menyapa di ujung sana.
"Di mana kau sekarang?" tanya Billy tanpa basa-basi.
"I-ini siapa?" Tanya seorang gadis di ujung sana dengan suara sedikit terbata dan terdengar waspada. Agak lama si gadis menjawabnya, seolah sedang memastikan suara yang baru saja ia dengar.
Billy yang kebingungan harus mengatakan dirinya sebagai apa tampak mendengkus, sebelum akhirnya berucap dengan nada mengambang. "Ini aku." jawabnya datar.
"Aku? Aku siapa? Indra ya?" Tebak gadis di ujung sana.
Indra? Indra siapa? Billy menautkan alisnya. "Bukan." Jawabnya datar.
"Roy?" Tebak gadis di ujung sana lagi.
__ADS_1
"Bukan juga." Sahut Billy setengah menggeram.
"Bukan? Lalu siapa?" Tanya gadis di ujung sana dengan nada bimbang. "Emm ,,, pasti Erlangga ya? Atau Budi? Atau mungkin Jono?"
"Hey! Sudah kukatakan ini Aku! Aku suamimu! Kau pikir ini sekolahan hingga kau absen semua nama-nama mantan kekasihmu!" Sentak Billy dengan nada kesal sampai-sampai tangannya mencengkeram kuat stir mobil yang sedang ia kendarai.
Sementara di ujung sana, seketika terdengar suara pekikan tertahan, seolah terkejut saat menyadari dirinya salah menyebut nama orang.
"B-Bapak?! I-ini benar-benar Bapak?!" Suara Milly di ujung sana terdengar terbata. Sangat jelas sekali jika gadis itu sedang merasa terkejut dan tak menyangka. "Bapak tahu nomor saya dari mana?!" Tanyanya kemudian dengan nada penasaran.
"Tidak penting saya tau dari mana. Yang kutanyakan sekarang, kau sedang apa? Di mana kau sekarang?" Tanya Billy dengan nada mengintimidasi.
"Saya sedang di kontrakan, Pak. Memangnya ada apa Bapak menanyakan hal itu?" Milly diam sejenak sebelum kemudian kembali berucap dengan nada panik. "Astaga. Astaga."
"Ada apa?" Tanya Billy terdengar mulai panik.
"Jangan dulu Ya Allah!" Suara Mill terdengar begitu panik. Namun kepanikan Milly rupanya seperti virus yang menular. Dan tak ayal, hal itu pun membuat Billy yang justru terlihat jsuh lebih panik dari si gadis yang berada di ujung sana.
Lelaki bertubuh kekar itu sampai-sampai menghentikan mobilnya secara tiba-tiba karena saking paniknya. "Hei ada apa?! Jelaskan dengan benar! Jangan membuatku penasaran!"
"Maaf saya harus menutup telepon ini Pak. Keadaannya sangat darurat dan genting!" Suara Milly terdengar tergesa di ujung sana.
"Hei ada apa! Jangan membuatku ja--"
Tut ... tut ... tut .... Sambungan pun terputus.
"Sial. Ada apa dengannya?!" Lirih Billy penuh kepanikan. Seketika wajah putih itu memerah padam. Jantungnya pun berpacu lebih lebih kencang. Entah kejadian apa yang sedang menimpa istrinya di sana, yang jelas hatinya kini di dera kekhawatiran yang teramat sangat.
Kembali menekan nomor itu, berharap sang istri akan mengangkat dan berbicara meski hanya sepatah kata, asal dia memberikan penjelasan.
Lama menunggu hingga panggilan berakhir, namun tak juga terdengar balasan dari ujung sana. Billy semakin didera kekalutan. Masih terus berusaha menghubungi, dan tetap mensugesti diri jika sang istri di sana pasti bisa menjaga diri.
"Ah sial!!" Geramnya sembari memukul stir mobil dengan begitu kencang. Masih juga tak ada sahutan hingga beberapa kali melakukan panggilan.
Tak ingin tersiksa dengan rasa penasaran serta kekhawatiran, ia pun berinisiatif untuk mendatangi kontrakan sang istri secara langsung. Dan tanpa pikir panjang, lelaki muda itu membanting stir dan memutar haluan menuju ke arah kontrakan sang istri.
Namun jarak yang terlampau jauh tak memungkinkan dirinya untuk tiba dengan tepat waktu. Hingga ia memutuskan untuk tetap menghubungi nomor sang istri di sepanjang perjalanan hingga yang di ujung sana menerima panggilan itu.
Entah demi apa Billy bisa sepanik ini. Meski ia belum bisa menerima status pernikahan ini dengan sepenuh jiwa, namun ia tak ingin orang lain yang tak tahu apa-apa menjadi korban atas dirinya. Karena bukan tidak mungkin jika Milly yang kini telah menjadi istrinya akan menjadi sasaran empuk para musuh-musuhnya yang selama ini diam-diam telah menaruh dendam terhadapnya.
Entah sekencang apa laju mobil yang dikendarainya saat ini. Yang jelas, hanya untuk cepat sampai lah yang menjadi satu-satunya keinginannya.
Seolah mendapatkan oase di padang pasir saat tiba-tiba panggilannya terjawab di ujung sana. Setidaknya ia merasa sedikit lega hanya dengan mendengar suaranya, meskipun belum bisa bertatap muka.
"Hei apa yang terjadi padamu? Katakan!" Desaknya dengan tak sabaran. Billy diam sejenak untuk mendengarkan yang di seberang berbicara. "Apa!!" Teriaknya kencang dengan disusul decitan suara rem saat mobilnya berhenti secara mendadak.
Bersambung
__ADS_1