Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Boy dan baju warna merah


__ADS_3

"Sudah siap?" Ina yang sudah berdiri di ambang pintu bertanya pada Milly yang tengah duduk setengah membungkuk sebab tengah mengenakan sepatu.


"Huum," Milly menggumam tanpa mengalihkan pandangan dari kakinya. "Sebenarnya gue malas, tau! Gue ogah pergi-pergi ngemall." ucapnya kemudian dengan wajah cemberut.


"Malas kenapa sih?" Tanya Ina sambil melangkah mendekati Milly lantas duduk di sisi gadis bersurai panjang itu.


"Ya malas aja." Jawab Milly sambil menyandarkan punggung setelah selesai dengan urusan memakai sepatu. Gadis bermata bulat itu menoleh pada temannya dengan pipi yang menggembung sebelum kemudian berkata, "Ngemall cuma ngabisin duit."


"Yah elah, ngapain mesti ngabisin, Ngemall kan nggak harus beli seluruh isinya juga kan ,,,." Sahut Ina cepat namun dengan nada ringan. "Jelong-jelong aja kita, cuci-cuci mata. Palingan cuma minum di kafe."


"Tapi gue suka nggak nahan kalau lihat barang-barang lucu! Bawaannya pengen bawa pulang. Apalagi kalau lihat cowok lucu, ihhh, pengen Minang ...." ucap Milly gemas, sampai-sampai menempelkan kepalan tangannya di pipi.


"Woy! Inget, Elo udah milik orang!" ucap Ina sambil menekan dahi Milly dengan menggunakan jari telunjuknya.


"Ahaha lupa." Balas Milly sambil nyengir. "Habisnya gue masih merasa seperti lajang walaupun udah married. Gue aja masih bebas lakuin apa aja." imbuhnya sambil menyunggingkan senyum bangga.


Ekspresi berbeda justru di tunjukkan Ina. Gadis bersurai coklat itu malah menatap Milly dengan seksama seolah sedang menelitinya.


Merasa dirinya sedang diperhatikan oleh sahabatnya, alis Milly pun bertaut heran membalas tatapan Ina. Diperhatikannya penampilannya sendiri sebelum kemudian kembali mengarahkan pandangannya kepada gadis di sampingnya itu. "Ngapain Lo ngeliatinnya kayak gitu? Lo naksir sama gua?" tanyanya kemudian penuh curiga.


"Gua?" Ina menuding dirinya sendiri. "Naksir sama Elu?!" jari telunjuk Ina beralih menuding Milly. "Plis ya Mill, hueek," Ina bergaya seolah dirinya sedang muntah. "Gue bukan apel yang suka apel ya, gue cuma miris lihat nasip Lo!"


"Lah emang gue kenapa? Gue baik-baik aja kok. I'm fine." Milly meyakinkan dengan nada tinggi. Lalu bangkit dan beranjak dari kursi. "Biar sendirian gini gue bahagia kok. Kan ada kalian! Ayo buruan berangkat. Gue udah siap banget ini." ucapnya dengan kemantapan hati. Lantas menatap Ina yang masih tetap berada di posisinya. "Hey ,,, ayo! Mana coba yang lain? Nggak mungkin kan kita cuma pergi berdua?" tanyanya seolah tak percaya.


"Iya tenang. Yang lain juga pada ikut kok, kita pergi rame-rame." jawab Ina sambil bangkit dari duduknya lantas menyusul Milly yang sudah berdiri terlebih dulu.


"Ya udah, yuk berangkat." ajak Milly sambil berlalu terlebih dulu. Ina pun mengikuti langkah gadis mungil di depannya. Berdiri di teras kontrakan, Milly membetulkan penampilannya. Melihat pintu kontrakan yang masih terbuka, ia pun berkata, "Pintu kontrakan tuh, masih kebuka. Di tutup ngapa." Tuturnya ditujukan pada Ina.


"Oh iya, hampir aja kelupaan." Ina lantas tergopoh menghampiri pintu, sementara Milly berpaling dan mengatupkan bibir. Gadis jangkung itu menarik pegangan pintu lantas menutupnya. Gantungan kuncinya kok nggak ada? Perasaan tadi masih. Gumam Ina dalam hati sambil memperhatikan kunci di tangannya. "Anjiirr! Gue dikerjain. Sialan Lu Mill! Ini kontrakan Lu ngapain gue yang disuruh ngunci?! Rese Lu ya." umpatnya kesal sambil melemparkan kunci kontrakan yang langsung di tangkap oleh Milly.


Milly yang sudah berhasil mendapatkan kuncinya hanya terpingkal menanggapi kekesalan sahabatnya. Lantas memukul pelan pundak sahabatnya sembari berucap, "Sabar Ina, ini ujian." lantas kembali terpingkal menuntaskan hasrat yang tak bisa ditahan.


"Awas entar, gue balas juga Lo." tutur Ina penuh ancaman sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis bersurai coklat itu lantas menoleh menatap sahabatnya dengan curiga, pasalnya Milly yang sebelumnya masih tergelak kencang mendadak bungkam seketika. "Lo ngapa tiba-tiba diam seribu bahasa? Muka Ampe disetel pucet kaya lagi di tagih duit kontrakan Ama Empok Leha. Lu kesambet?" tanya Ina dengan penuh keheranan.


"Kaga kesambet gua, tapi emang lagi ditagih duit kontrakan Ama Empok Leha ...." lirih Milly dengan wajah meringis miris, menatap seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. "Gue sembunyi dulu ya. Kalau dia nyariin gua, bilang gua nggak ada." pesan Milly sebelum kemudian berlindung di belakang punggung Ina.


"Buset ,,, ngapain ngumpetnya di belakang gua? Lu pikir badan gua ini tembok?" umpat Ina sambil menoleh ke belakang meski hanya puncak kepala Milly saja yang terlihat olehnya. "Jangan ngumpet Lu, tanggung jawab sama diri Lu sendiri sana." desak Ina saat melihat sosok tambun Empok Leha yang semakin mendekat ke arah mereka.


"Samleikom." ucap Empok Leha setelah mencapai kontrakan Milly.


"Waalaikum salam Mpok," jawab Ina sambil menarik tangan Milly dan memaksa sahabatnya agar menampakkan batang hidungnya.


Terpaksa, Milly pun maju dan selangkah berada di depan Ina. "Waalaikum salam, Empok Cantik ,,,. Tumben banget nih Empok main-main ke sini? Biasanya sebulan sekali ...." Ucap Milly dengan senyum kecut di bibirnya.


"Jangan pura-pura amnesia deh Neng, kan ini udah sebulan." Balasnya dengan nada sindiran.


"Ah masa? Perasaan baru lima hari yang lalu deh Mpok."


"Itu kan batas terakhir Eneng bayar kontrakan ,,, nah sekarang udah jatuh tempo lagi ... gimana tuh???" ucap Mpok Leha dengan nada mengingatkan, sementara bibirnya menyunggingkan senyum penuh peringatan.


"Oh gitu ya," balas Milly sambil tersenyum kecut, sementara jemarinya bergerak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Milly lantas melempar pandangan kepada Ina berharap sahabat di sampingnya itu mau membantunya memberi sedikit solusi. Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam namun berbicara dengan isyarat melalui pandangan mata.

__ADS_1


Mpok Leha pun ternyata diam-diam memperhatikan dua gadis di hadapannya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Penampilan dua gadis ini memang terlihat tak seperti hari-hari biasanya saat sedang bersantai di kontrakan. "Oh iya, ini kok udah pada cantik aja. Pada mau kemana?" tanyanya kemudian dengan wajah penasaran.


"Emm itu dia Mpok," sahut Milly cepat sambil melangkah mendekati Leha dan berdiri tepat di samping perempuan tambun itu. "Kita-kita kan lagi nggak ada duit, nah kita lagi usaha nih. Kami mau keluar sebentar, siapa tau pulang-pulang bawa uang. Barang kali Empok Leha berkenan jagain lilin yang masih nyala tuh, di dalam." ucap Milly mantapp dengan wajah polos tanpa dosa.


"Eh buset. Apa kalian mau ngepet??" Mpok Leha membelalak kaget.


Milly dan Ina tertawa bersamaan menanggapi keterkejutan Mpok Leha. "Ya kagak lah Mpok, gadis cantik dan kece kayak kita masa iya ngepet, jaman sekarang mah Ngemall. Maka dari itu kita butuh modal. Dipending dulu lah kontrakan Milly untuk bulan ini ,,, nggak pa-pa kan Mpok ,,,," bujuk Ina sambil menyunggingkan senyum semanis gula.


"Iya Mpok, kasih hati lah dikit buat gadis sebatang kara macam saya ,,,." imbuh Milly pula dengan wajah yang mengiba.


"Ya Allah, ini Mpok harus gimana? Masa iya harus pulang dengan tangan hampa. Empok kan juga butuh duitnya ...." keluh Leha dengan mimik wajah sedihnya.


"Yah, gimana dong Mpok ,,, gagal dong acara ngemall kita." keluh Ina sambil memanyunkan bibirnya.


"Emm kalau dicicil aja gimana? Sepuluh ribu sehari, gitu?" Usul Milly dengan nada merayu.


"Yah kok dicicil! Ini kontrakan Milly, bukannya kredit panci ...!" ucap Mpok Leha dengan nada gemas. Namun beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu menghela napas dalam.


Menatap dua gadis di hadapannya itu entah mengapa dia merasa iba. Selain mereka memang telah mengenal lama, namun selama mengontrak di tempatnya kedua gadis ini memang baik dan sopan perangainya. Dari itu Leha merasa tidak tega membuat keduanya merasa kecewa.


"Ya udah, dibayar belakang juga nggak pa-pa deh, asal jangan kelupaan ya." tutur Leha penuh penekanan.


"Beneran Mpok?!" Milly dan Ina terperangah bersamaan. "Ya ampun Mpok, Mpok Leha baik banget sih. Bikin kita makin sayang deh." ucap Milly dan Ina bersamaan. Saling memandang dengan wajah penuh haru, dua gadis muda itu lantas berhambur dan memeluk Leha bersamaan.


"Ya ampun Neng, ngapain peluk-peluk Mpok?" tanya Leha yang merasa terkejut dengan pelukan mendadak dua gadis itu.


"Karena kita sayang sama Mpok Leha." Milly mewakili menjawabnya.


"Iya, Mpok ngerti. Mpok juga sayang kalian kok." jawab Leha kemudian. Tidak nampak kepura-puraan di wajahnya, wanita paruh baya itu tersenyum lembut sembari membalas pelukan Milly dan Ina. "Tapi maap-maap yak, tapi ngomong-ngomong Empok belum mandi ini dari kemarin ...!"


"Hahaha gitu aja percaya! Kalau beneran nggak mandi dari kemarin pasti Mpok udah dibikin lauk sama kucing anak Mpok." tutur Leha dengan diiringi tawa kencang.


"Ikan asin dong Mpok ,,,." celetuk Ina kemudian.


"Lah iya." sahut Leha tanpa merasa tersinggung.


Saling memandang, Milly dan Ina lantas tertawa bersamaan. "Hahaha Mpok Leha lucu juga." ucap Milly sambil menepuk bahu Leha dengan pelan.


"Gara-gara kalian jahil, jadi Mpok ngikut kebawa kayak kalian."


Milly tersenyum kecut, sebelum kemudian mengusap punggung ibu kontrakannya dengan lembut. "Makasih ya Mpok udah sabar ngadepen kejailan kita."


"Lah Neng, Mpok sabar karena Mpok punya hati. Coba kalau punyanya batu, mungkin udah Mpok tabokin ke mukamu."


"Hah?! Yah Mpok ,,, kok gitu."


"Haha, Mpok cuma becanda, jangan di bawa sampai ke hati. Apalagi ke dalam mimpi." jawab Leha dengan asal namun berhasil membuat dua gadis itu tertawa lega. "Sudah sana buruan ngemall, keburu ngantuk ntar yang jagain lilin.


***


Empat gadis itu kini sudah berada di dalam sebuah mall besar di Ibu kota. Menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman memang menyenangkan. Terlebih mereka berada dalam satu server.

__ADS_1


Berempat, mereka terlihat sedang bersenang-senang. Meski uang yang mereka miliki hanya pas-pasan, meski besok mereka harus ngirit dengan hanya makan mie instan, setidaknya hari ini mereka melupakan kepenatan dengan bahagia dalam kebersamaan.


Berpindah dari toko sepatu satu ke toko sepatu yang lain, keluar masuk dari butik satu ke butik yang lain, mereka sudah terlihat bahagia meskipun cuma lihat, belinya kagak (clbk).


Puas dengan bermain-main, mereka berempat pun lantas singgah di sebuah stand minuman kekinian. Karena begitu banyaknya pengunjung yang datang, membuat mereka harus rela mengantri hanya untuk mendapatkannya.


Berada di barisan paling belakang, paling tidak mereka membutuhkan waktu setengah jam untuk dapat mendapatkan satu cup minuman yang menyegarkan, sehingga mereka memutuskan untuk bercanda agar panjangnya antrian tidak begitu terasa.


Minuman menyegarkan sudah berada di tangan, sambil berjalan menuju meja yang di sediakan, Milly pun sesekali menghisapnya menggunakan sedotan untuk membasahi kerongkongan yang sudah terasa kering kerontang.


"Milly?" Suara berat yang terdengar memanggil membuat Milly yang saat itu sedang menyedot minuman seketika menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke sumber suara. "Iya, kamu Milly kan??" Ulang orang itu lagi dengan penuh keyakinan.


Menatap lelaki muda dengan postur menjulang di hadapannya membuat Milly mengernyitkan dahinya hingga membentuk beberapa lapisan. Merasa heran di kota besar begini masih ada orang asing yang mengenal namanya. "Maaf, anda siapa ya?" tanyanya kemudian dengan wajah keheranan.


"Mill, masa udah lupa sama aku sih. Aku Boy. Kita teman seangkatan dari SMP sampai SMA." terang lelaki dengan kaus kerah tinggi warna gelap yang dipadukan dengan jas warna senada itu dengan begitu antusias.


"Boy!" Terperangah, Milly pun seketika membungkam mulutnya yang ternganga. "Beneran ini kamu si Boy?" tanyanya berusaha memastikan.


"Iya! Masa iya kamu lupa." terang lelaki itu dengan dibumbui senyum manis di bibirnya. "Udah lama ya kita nggak ketemu. Kamu tinggal di kota ini juga ternyata?"


"Em iya. Sudah beberapa bulan." Jawab Milly singkat, dengan pandangan yang tak bergeser dari pria tampan di hadapannya itu.


Ya ampun, ini beneran di Boy? Sumpah, dia ganteng banget sekarang. Udah gitu penampilannya juga keren. Semalam aku mimpi apa ya? Nggak nyangka ada bidadara di mall ini. Batin Milly dalam hati.


"Sama siapa kamu ke sini?" pertanyaan Boy membuat Milly yang masih terperangah seketika mengedipkan mata. Lalu menoleh menatap ketiga temannya yang berada di belakangnya.


"Aku bareng sama teman-temanku. Ayo kenalan." ucap Milly setengah memberi perintah pada teman-temannya.


Usai perkenalan, perbincangan mereka pun berlanjut di meja kafe. Entah mengapa Milly menyetujui saat Boy mengajaknya duduk terpisah dengan teman-temannya.


"Kamu makin cantik sekarang Mill," puji Boy secara terang-terangan kepada Milly yang sedang menyedot minuman dari gelasnya, membuat gadis itu tersedak karena saking terkejutnya.


Dengan cekatan, Boy pun bangkit dari duduknya dan mendekat di samping Milly. Pria berkulit kuning langsat itu lantas menepuk punggung Milly untuk memberikan pertolongan karena tersedaknya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Boy dengan wajah penuh kekhawatiran. Sementara tangan kirinya masih senantiasa bergerak mengusap punggung Milly dengan lembut.


"Iya, a-aku baik-baik saja." jawab Milly dengan suara terbata. Soal wajah, jangan ditanyakan lagi. Wajahnya yang memanas sudah bisa dipastikan berubah warna menjadi kemerahan seperti udang balado, menu favoritnya sendiri.


Astaga, dia puji aku makin cantik. Benar-benar idamanku banget. Cuma dia yang bisa ngertiin aku dari SMP dulu. Tidak seperti Bapak itu. Boro-boro dia muji aku cantik. Ngejelek-jelekin mah iya.


"Gimana? Udah enakan?" Tanya lelaki yang saat ini tengah bertekuk lutut di sampingnya itu berusaha memastikan.


Menyimpul senyum di bibirnya, Milly pun menjawab malu-malu. "Iya, udah enakan kok."


"Bagus deh." Balas Boy dengan nada santai. Tak lantas beranjak dari sana, Boy seolah masih betah dengan posisinya berada dekat dengan Milly. Lelaki berhidung mancung dan memiliki alis tebal itu tampak memperhatikan wajah Milly dengan seksama seolah tengah menyelidik, membuat Milly merasa gusar dibuatnya.


Dengan bibir mengulum senyum dan mata yang menyipit, Boy pun lantas melontarkan satu pertanyaan. "Mill, apa kau suka baju berwarna merah?" tanyanya dengan memasang wajah penasaran.


Milly yang merasa saat itu tengah mengenakan blus berwarna merah membuatnya langsung menjawab namun dengan nada setengah penasaran. "Kok tau?"


Melihat wajah Milly yang mendadak penasaran membuat Boy seketika tergelak kencang. "Pantes wajahmu juga ikut memerah?" ucapnya kemudian di sela-sela tawa.

__ADS_1


OMG, astaga ... astaga. Apa tadi dia bilang. Ternyata jailnya nggak berubah dari dulu ya! Hu hu malu ...!


Bersambung


__ADS_2