
Mayang melangkah masuk ke kamar Weni tanpa mengetuk karena pintu nya yang terlihat terbuka lebar.Ia duduk di bibir ranjang sembari mengamati dengan heran tingkah kekanakan adiknya yang sedang mengobrak abrik hasil buruan nya hingga berserakan di atas kasur.
"Puas kan sekarang?"Tanya Mayang dengan suara tenang dan tak lagi menunjukkan kemarahan.
"Tentu saja."Bicara tanpa perasaan.Tanpa rasa bersalah.Masih tetap dengan kegiatan nya,sembari mencoba yang telah ia beli tadi dengan perasaan senang.Di lirik nya Mayang yang terlihat murung dengan tangan yang menyangga dagu nya."Kakak,,,"Weni mendekat dan memeluk kakak nya dari samping.
"Apa?"
"Terimakasih ya,,,"Ucap Weni tulus semakin mengerat kan pelukan nya.
"Iya."Mayang menepuk pelan lengan Weni.
"Kak apa aku boleh bertanya?"Weni melepas pelukan nya dan menatap lekat mata kakak nya.
"Tanyakan saja."Ucap Mayang sembari membalas tatapan adiknya.
"Kakak bekerja apa disana?"
"Kenapa itu lagi yang kau tanyakan!"Tiba-tiba Mayang marah."Apa tidak ada pertanyaan lain nya yang bisa kau tanyakan!"Menusuk Weni dengan tatapan nya yang tajam.
"Kakak apa ini benar-benar kartu mu?"Weni menyodorkan kartu milik Mayang yang langsung di sambar oleh pemilik nya.
"Tentu saja ini milik kakak!"Mayang masih terlihat kesal.
"Kak,saat berbelanja aku di perlakukan baik karena kartu ini.Dan pelayan toko mengatakan ini kartu tanpa batas.Kakak jawab aku dengan jujur,apa yang kakak lakukan di sana?"Weni mengguncang tubuh Mayang,mendesaknya agar Mayang jujur.
Ia merasa aneh dengan sikap kakak nya yang cenderung tertutup mengenai kehidupan nya di kota.Yang merasa janggal dengan kemewahan serta perlakuan bos nya yang sampai harus mengerahkan bodyguard untuk menjaga nya.
"Kakak tidak merayu bos kakak yang om om untuk menjadi istri simpanan nya kan?!"
Plakk!
Mayang refleks menampar pipi Weni tanpa sengaja.Jantung nya berdetak kencang dan tangan nya bergetar,menyesali perbuatan nya.Ia menatap pipi yang meninggalkan jejak tangan nya dengan warna kemerahan.
Seketika air matanya menetes tak terbendung.Bagaimana tangan ini bisa menyakiti adik,hanya karena ia ingin menyembunyikan kehidupan nya sebagai tawanan."Maaf kan kakak,,,"Ia menyentuh wajah gadis dengan mata yang tampak berkaca-kaca itu lalu berlari menuju kamarnya.
Mayang membenamkan tubuh nya di ranjang dan membungkus dirinya dengan selimut.Berusaha menyembunyikan isak tangis yang belum juga mau mereda.Dadanya masih terasa sesak akibat perih hati yang ia alami.
Ia terperanjat saat merasa seseorang menarik selimut nya.
"Kakak maaf kan aku,,,"Weni dengan suara nya yang terisak sudah menyelusup masuk kedalam selimut dan memeluk kakak nya erat."Aku janji nggak akan tanyakan itu lagi,,, hiks... hiks..."
Mayang mengelus pipi gadis itu dan mengusap air matanya."Apa kamu maafin kakak?"
"Aku yang salah kakak,aku tidak menghargai pengorbanan kakak,,, hiks,,, hiks,,,"Weni makin terisak.
Mayang meraih tubuh adik nya dan memeluknya erat.Air mata nya semakin deras mengalir.Bagaimana pun juga ikatan batin antara saudara selalu terikat kuat meski sangat jauh jarak yang membentang.Harus saling mendukung satu sama lain.Karena saudara lah tempat berkeluh kesah dan sebagai pengganti orang tuanya saat mereka tuada nanti.
Malam ini mereka melewatkan malam bersama.Tidur berpelukan dibawah selimut yang sama dan dengan perasaan yang bahagia.Ibu menutup pintu kamar Mayang dengan pelan agar tak mengganggu tidur kedua putrinya tang terlihat sangat pulas.
Pagi hari,
"Kak,,,bangun dong,,,"Weni mengguncang tubuh Mayang agar gadis itu membuka matanya.
"Hemmmm."Mayang hanya menggeliat dan berguling membelakangi Weni yang sudah mandi sejak tadi.
"Hemmm hemmm.Memang nya ini lagu nya kak Nisa Sabyan!Bangun dong kak!"Weni menarik tangan Mayang dengan paksa dan membuat gadis itu terduduk.
"Kenapa mengganggu ku!"Ucap Mayang sembari mengerjapkan mata nya."Aku ingin bermalas malasan hari ini!"
"Iya,,, tapi mandi dulu ya.Aku ingin mendandani kakak hari ini."Weni menarik lengan kakaknya agar turun dari ranjang.
"Untuk apa aku berdandan?"Ucap Mayang sambil mengenakan sandal rumah nya.
"Mandi saja dulu,,,"Weni mendorong tubuh kakak nya hingga masuk kamar mandi.
Beberapa saat kemudian,,
__ADS_1
"Duduk di sini saja dengan santai ya,,,"Weni menyuruh Mayang untuk duduk di bibir ranjang.Mayang hanya menurut sembari memain kan ponselnya."Ku keringkan dulu rambut mu ya,"Weni membuka handuk yang melilit di rambut Mayang dan mengeringkan ramnut panjang itu dengan Hair drayer."Hari ini aku akan memanjakan mu kak,,, nikmati saja ya."
"Memanjakan apa?"Tanya Mayang karena merasa tak yakin dengan adiknya.
"Kau diam saja dan patuh ya."Ucap Weni memerintah.
"Hah terserah lah.."Ucap Mayang pasrah.
"Kau akan ku dandani dengan alat make up ku yang baru ku beli kemarin dengan uang mu kak."
"Oh ternyata aku ksu jadikan model percobaan ya!"Gerutu Mayang."Awas kalau gagal ya!"
"Tidak akan.Sekarang aku semakin pintar merias tau kak."
"Oh ya,,,?Siapa yang mengajari mu."
"Dari nonton video vlog orang dong kak,aku kan nggak pernah kursus."
"Terserah lah,tapi jangan menor ya."
"Iya iya,,,"Weni memulai kegiatan nya mendandani Mayang dengan lihai.Mungkin karena terlalu bersemangat sehingga ia menyapu kan spons bedak itu agak kasar ke wajah Mayang.
"Yang pelan dong,,,make up artis kok kasar gitu!"
"Iya iya maaf."Weni melembutkan sapuan tangan nya.
Tangan Mayang meraba raba mencari sesuatu di kasur."Kaca mana kaca."
"Eh jangan lihat kaca dulu!"Weni menepis tangan Mayang agar tak menjalar kemana-mana.
"Aku sudah pasrah jangan di kerjain ya!"Ucap Mayang dengan nada mengancam.
"Hemmmm."Jawab Weni pendek.
"Hemmm hemmm.Memang nya ini lagu nya kak Nisa Sabyan!"Membalas Weni dengan konotasi yang sama seperti Weni tadi.
Mayang hanya mencebikkan bibir nya.
"Nah riasan wajah sudah selesai,,,"Ucap Weni sembari menatap wajah Mayang dengan senyum penuh arti.
Mayang meraih kaca yang berada di samping nya dan melihat wajah nya dari pantulan cermin itu."Hah!!Apa-apa an ini!"Mayang membelalak kan matanya dan bergegas meraih tisu."Nanti ibu fikir aku baru saja makan ayam hidup kalau begini!"Ucap Mayang sembari mengusap bibirnya kasar agar warna merah di bibirnya karena lipstik Weni itu hilang.
Sementara Weni hanya tergelak."Maaf ya,,aku ganti dengan yang ini deh."Weni mengambil lipstik dengan warna yang sesuai di bibir Mayang dari kotak make up nya.
"Sudah tidak perlu."Rajuk Mayang dengan wajah cemberut.
"Enggak usah ngambek lah,,, sekarang gantian rambut kakak ya.Hari ini kita main Salon-salonan,,,"Weni mulai menyisir rambut Mayang."Wah rambut kakak semakin panjang saja."Ucap nya sembari mengepang rambut Mayang dari atas hingga ke samping kanan nya.Menarik rambut itu sedikit demi sedikit hingga menjadi anyaman yang terlihat indah,dan semakin indah saat Weni menambah kan hiasan jepitan bunga di sela-sela rambut itu."Kakak,,,kau cantik sekali,,,"Ucap Weni dengan tatapan takjup saat melihat hasil karya nya.Ia menarik rambut panjang Mayang ke depan di sisi kanan."Kau seperti bidadari.Andai saja kau cepat menikah,,,"
"Hey kalau aku tiba-tiba menikah kau bisa apa!"Bentak Mayang kesal.Namun Mayang terlihat senyum-senyum sendiri saat menatap wajah nya dari pantulan cermin.Weni memang pintar merias sekarang.
"Kenapa kau mendandani ku seperti ini?!Aku kan mau ke perkebunan."Mayang menatap sedih pada adiknya."Dandanan begini tidak cocok untuk ke kebun,tapi kalau di lepas juga sayang,,,"Mayang dalam dilema.
"Untuk apa ke perkebunan?!Ayah saja libur hari ini."
"Tapi aku rindu perkebunan.Aku hanya ingin kesana sebentar saja."
"Tidak usah!"Weni melarang."Makan yuk,,, lapar ni."Weni melangkah kan kaki nya menuju ruang makan dan di susul Mayang di belakang nya.
"Wah putri ibu cantik banget hari ini"Sambut Asmia yang memang sudah berada di ruang makan untuk menyiapkan sarapan mereka di bantu dengan mbak asisten rumah tangga mereka.
"Weni yang maksa bu,katanya main salon salonan."Jawab Mayang santai.Weni hanya nyengir mendengar namanya di sebut.
"Tapi anak ibu beneran cantik kok."Puji Asmia sembari tersenyum.
"Ya iya lah,,,siapa dulu ibu nya.."Mayang mengedipkan matanya.
"Siapa dulu dong perias nya!"Sahut Weni pula dengan bangga.
__ADS_1
Sesaat kemudian Hasan tampak muncul di ruang makan.Lalu keluarga dengan formasi lengkap itu pun melewati sarapan bersama dengan suka cita setelah beberapa bulan lalu terpisah.
Setelah selesai sarapan keluarga itu lantas berpindah ke ruang keluarga untuk mengobrol di sana.Di tengah obrolan mereka,tiba-tiba terdengar bunyi bel dan Mayang bergegas keluar untuk menyambut tamu walaupun pintu tidak tertutup.
Namun Mayang terperangah seketika melihat orang-orang yang berdiri di depan pintu.
Apa se begitu nya otak ku ini di penuhi dengan mereka?Sampai-sampai mereka muncul seperti nyata di hadapan ku begini.
Mayang masih berdiri terpaku di depan pintu hingga Weni datang menghampiri nya.
"Kakak,siapa tamu nya?!Kok nggak di suruh masuk?"Weni pun terbelalak melihat satu orang wanita cantik dan tiga orang pria bertubuh tegap berpakaian rapi dengan stelan jas nya.Dan satu orang di antara nya yang ia kenal adalah Sekretaris Billy.
Untu apa mereka kesini?
Pandangan Mayang bertemu dengan Brian yang tampak tersenyum padanya membuat tubuh gadis itu seperti melayang seketika.
Weni sigap merangkul tubuh Mayang yang seperti lemas seperti tak berdaya."** Tuan,,,"Ucap Weni terbata."Kakak."Weni mencubit pinggan Mayang agar gadis itu sadar dari halu nya dan bersikap wajar."Apa mereka bos mu?"Bisik Weni di telinga Mayang.Dan Mayang hanya mengangguk pelan walau masih seperti mengambang.
"Silahkan masuk tuan."Weni yang lebih bisa mengontrol diri pun menarik tubuh Mayang agar memberi jalan pada para tamu ini.
Hasan dan Asmia pun muncul karena penasaran dengan siapa yang datang.Namun kali ini mereka benar-benar di buat terkejut oleh kedatangan tamu mereka kali ini.
Semua sudah duduk di sofa ruang tamu dalam keadaan tegang.Ada banyak pertanyaan yang masih belum terjawab kan karena belum ada obrolan yang serius di antara kedua keluarga ini.Terlebih lagi saat Mayang menatap wajah Ratih yang terlihat begitu tak bersahabat.
Apa salah ku sampai mereka datang kemari?
"Tuan Malik,sebuah kehormatan keluarga kami mendapat kunjungan anda sekeluarga kemari."Ucap Hasan dengan tenang."Kiranya ada sebab apa yang membuat keluarga anda sudi berkunjung ke gubuk kami ini?"Hasan bertanya dengan sangat hati-hati agar tidak salah bicara dan menimbulkan kekacauan.
"Begini pak Hasan.kedatangan kami kemari karena ingin putri bapak bertanggung jawab atas sesuatu yang ia curi dari rumah kami."Ucap Malik langsung ke topik pembicaraan yang membuat Hasan,Asmia dan Weni sontak menatap Mayang dengan tatapan tak percaya.
Apa kakak mencuri kartu yang sudah ku pakai untuk belanja itu? Weni bergumam takut.Jadi kecurigaan nya benar kan!
"Apa yang kamu curi nak?"Desak Hasan pada Mayang yang terlihat bingung dan mulai ketakutan.
"Ayah aku tidak mencuri apapun dari rumah tuan besar Ayah."Mayang menggelengkan kepalanya berkali-kali dan matanya mulai berkaca-kaca.Ia berusaha meyakinkan orang tuanya.Ia mengalihkan pandangan nya pula pada Ratih."Nyonya percayalah.Saya tidak mengambil apapun dari rumah anda kecuali yang memang sudah sekretaris Billy berikan pada saya."Mayang menatap Brian dan Billy bergantian.Kedua lelaki itu tampak mengabaikan nya.
"Mayang bukan itu yang kami maksud,,,"Ratih kini terlihat menenangkan."kemarilah."Ia mengulurkan tangan nya agar Mayang mendekat dan duduk di samping nya.
Meski ragu Mayang pun duduk di samping Raih dan Malik seperti permintaan Ratih.Ia memberanikan menatap wanita yang kini tengah mengusap lembut punggungnya itu dengan kasih sayang.
"Apa kami menakuti mu Mayang?"Tanya Ratih dan hanya di jawab gelengan kepala oleh Mayang."Apa kau tau yang kau curi dari kami Mayang?"Sekali lagi Mayang hanya menggeleng karena ia sendiri tak tahu jawaban nya.
Ratih melirik ke arah Brian yang terlihat malu-malu dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.Ia sebenarnya tak setuju dengan ide gila ini,tapi karena ibunya memaksa ia pun tak bisa menolak nya.
"Yang kamu curi adalah hati Brian Mayang,,,!"Ucap Ratih dengan senyum lebar lalu memeluk tubuh Mayang yang masih terperangah tak percaya.Di susul tawa Malik sembari mengusap pucuk kepala Mayang.
"Kami datang kemari untuk melamar mu menjadi istri Brian."Ratih melepas pelukan nya.
Mayang menatap ke arah orang tua nya dan Weni yang tampak tersenyum lega.
"Apa kau menerima pinangan kami?"Tanya Ratih dengan tatapa mata penuh pengharapan.
Mayang masih diam tanpa kata sembari menatap orang-orang ini satu per satu.Melihat ekspresi wajah mereka.Ia masih merasa tak percaya karena ini terlalu mendadak bagi nya.Mayang tahu ini pasti terjadi karena peristiwa saat ia jatuh bersama tuan Brian malam itu.
Kenapa Tuan Brian seperti diam saja dan menerima hal ini.Kenapa dia tidak berusaha memperjuangkan hidup dan cinta nya?Rasanya tidak mungkin jika dia benar-benar menginginkan ku jadi istrinya.Apa dia se lemah itu jika berhadapan dengan orang tuanya sehingga tidak bisa melawan demi hidup nya sendiri?
Mayang menatap Brian,berusaha mencari tahu seperti apa isi hati nya melalui sorot mata nya.Namun tatapan lelaki itu terlihat datar sehingga Mayang tak bisa mengartikan apa pun.
"Mayang bagaimana?"Desak Ratih lagi.Mayang sungguh merasa bingung akan hal ini.Ia tak ingin membuat malu tuan Malik sekeluarga dengan melakukan aksi penolakan.Namun di sisi lain ia juga tak ingin merenggut kebahagiaan Brian bersama kekasih nya.
Tuhan aku harus bagaimana sekarang?Semoga keputusan yang ku ambil tidak akan melukai hati siapa pun nantinya. Mayang berdoa dalam hati
"Saya,,,"Mayang menggantung ucapan nya.Ia kembali menatap mata Ratih yang terlihat begitu penuh harap.Mayang tak ingin mengecewakan nya.
"Bagaimana Mayang?"Suara Ratih semakin tak sabar.
"Saya menerima nya nyonya."
__ADS_1
"Alhamdulillah!"Ratih pun bersyukur sembari memeluk tubuh Mayang dengan erat.Pandangan Mayang bertemu dengan Brian yang duduk di samping Ratih.Namun ia tak bisa mengartikan ekspresi Brian kali ini.Karena mereka hanya saling memandang tanpa saling berbicara.