
Semua orang di tempat itu tengah sibuk berkutat untuk menjatuhkan lawannya. Tak ada yang diam dan berpangku tangan, begitupun dengan Mayang.
Wanita hamil itu terlihat sama sekali tidak kewalahan menghadapi Bianca yang notabenenya adalah seorang mafia wanita.
Pelatihan yang ia lakukan sebelumnya benar-benar sangat berguna. Kini ia semakin menguasai trik untuk menjatuhkan lawan.
Berbanding terbalik dengan Bianca. Wanita cantik namun bertubuh kekar itu justru tampak kelimpungan menghadapi Mayang. Ia terlihat berusaha sangat keras untuk mencari kelemahan Mayang.
Di sisi lain, Brian yang sudah sangat begitu geram tampak meluapkan amarahnya habis-habisan. Berulang kali ia berhasil menjatuhkan dan membantai Alex dengan pukulan serta tendangan. Namun seolah mendapatkan kekuatan baru, Alex kembali bangkit untuk menyerang Brian lagi.
Sementara Billy, ia tampak tersenyum puas melihat Wang yang telah terkapar dengan tubuh serta wajah yang memar. Namun anehnya pria itu tampak menyunggingkan senyum seolah tak merasakan sakit meskipun keadaannya mengenaskan.
Sedangkan Rezi, ia masih berkutat sama kuat dengan salah seorang tangan kanan Alex, yang semula adalah temannya, tapi kini telah berubah menjadi musuhnya.
Amarah pria tinggi bertubuh dempal itu tampak bergolak dan meluap-luap melihat penghianatan yang Rezi lakukan. Ia terlihat geram dan begitu ingin menghabisi penipu yang menyamar menjadi temannya. Namun tak semudah itu, sebab Rezi memiliki keahlian yang mumpuni di bidang pertahanan diri.
Satu persatu anak buah Alex dan Wang tumbang dan berakhir dengan borgolan. Sebagian terluka parah dan memutuskan untuk menyerah, dan sebagian lagi tampak limbung tak sadarkan diri.
Brian dan Alex masih bergulat penuh dendam. Tetesan keringat serta bercak darah mewarnai tubuh polos keduanya. Seperti tak merasakan lelah, keduanya sama-sama memiliki energi yang cukup untuk melanjutkan pertarungan sengit penuh kebencian.
Berbeda dengan Mayang. Wanita hamil itu justru sudah tampak kelelahan. Meski tak mendapatkan luka yang begitu berarti, namun tenaganya terkuras saat menghadapi Bianca. Terlebih dia harus berusaha menjauhkan perut dari jangkauan wanita itu.
Pertarungan semakin panas saat Bianca meraih sebuah belati yang menempel di dinding sebagai hiasan. Mayangpun tak tinggal diam. Ia segera meraih belati lain agar pertarungan tetap imbang.
Kedua wanita itu masih berdiri terpaku di tempatnya dengan sebilah belati tajam di tangan. Dada mereka terlihat naik turun akibat napas yang masih memburu.
Bulir-bulir keringat tampak membasahi tubuh ramping keduanya, hingga membasahi pakaian yang dikenakan.
Mayang tak bisa menutupi rasa gugupnya hingga berimbas pada tangannya yang bergetar. Hal itu tak luput dari pengawasan Bianca, dan tentu saja hal itu membuatnya menyeringai penuh kepuasan. Mengingat ia begitu ahli dalam permainan tembak dan pedang.
"Apa kau takut?" tanya Bianca dengan sebelah alis yang terangkat. Sementara bibirnya menyunggingkan senyuman meremehkan.
__ADS_1
"Aku tidak pernah takut selama berada di jalan yang benar." Mayang menjawab tegas tanpa berkedip untuk meyakinkan Bianca atas ucapannya.
Namun Bianca justru tergelak geli dengan nada mencemooh. Sesaat kemudian tawa itu terhenti saat Mayang mengerutkan kening karena heran. Bianca menyeringai dan pandangan tajamnya tertuju pada tangan Mayang yang gemetar.
"Terserah kau bilang apa. Tapi tanganmu itu tak bisa menutupi ketakutanmu." Bianca mendesis penuh ejekan. "Berdoalah, sebelum maut menjemputmu."
Berusaha bersikap tenang, Mayang menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. "Halusinasimu terlalu tinggi Bianca," balas Mayang dengan bangga. "Lihatlah ke sekelilingmu."
Tanpa pikir panjang Bianca memutar kepalanya, memindai area sekitar dengan pemandangan memperlihatkan anak buahnya yang terkapar. Wanita berpendirian teguh itu nampak terkejut, tapi tetap berusaha untuk tenang di depan Mayang.
Satu-satunya keinginan terbesarnya saat ini adalah menuntaskan dendamnya terhadap Mayang, maka ia harus berpikir keras untuk mencari kelemahannya.
Bianca menggemertakkan giginya penuh amarah melihat senyuman penuh kemenangan Mayang.
"Menyerahlah Bianca!" seru Mayang memberi peringatan.
"Tidak akan! Lebih baik mati daripada menyerah dan menjatuhkan harga diri!"
Mayang dan Bianca sama-sama mengerahkan tenaganya untuk mempertahankan diri agar tubuh merasa tidak tergores oleh belati. Keduanya terlihat begitu gahar memainkan trik pedang yang dimiliki.
Sambil meladeni permainan pedang Bianca, rupanya Mayang diam-diam mengamati gerak-gerik gadis itu. Berusaha mencari kelemahan agar bisa mendapatkan celah untuk menjatuhkannya.
Dengan berbekal pengalaman serta materi yang telah ia pelajari, Mayang menangkap tangan Bianca saat wanita itu mengarahkan belati itu ke wajahnya. Namun tentunya setelah ia menghindar.
Dengan gerakan cepat, Mayang memlintir tangan Bianca ke belakang punggungnya. Bianca yang memekik kesakitan spontan membuka genggaman tangannya hingga melepaskan belati itu.
Hal itu tak dilewatkan begitu saja oleh Mayang. Dengan kekuatan penuh, ia mengempaskan tubuh Bianca hingga terjatuh dan membentur ke lantai dengan keras.
Bianca kembali memekik sakit saat tubuh bagian depannya menghantam kerasnya lantai dengan puing-puing bangunan. Belum lagi beban tubuh Mayang, sebab wanita hamil itu dengan cekatan menindihnya.
Mayang yang terlihat geram tampak meluapkan kekesalannya. Tanpa ampun, ia mengunci tubuh Bianca dan memutar lengan gadis itu untuk melemahkan.
__ADS_1
Bianca tak bisa berkutik lagi. Ia berteriak dan mengerang kesakitan karena Mayang hampir saja mematahkan tangannya. Sekelebat bayangan buruk akan melewati sisa hidup dengan tangan cacat melintas di kepalanya begitu saja.
Meskipun berakhir dalam penjara, tapi ia ingin kondisi fisiknya tetap utuh dan baik-baik saja. Hingga pada akhirnya hal itu mendorong Bianca terpaksa untuk menyerukan kalimat yang selama ini begitu pantang ia ucapkan.
"Sakit ...! Kumohon hentikan, Mayang! Lepaskan aku!"
"Tidak, Bianca! Kau wanita jahat. Kau akan tetap berusaha membunuhku jika kulepaskan!"
"Kau mematahkan tanganku, Mayang! Kau membuat aku cacat fisik!" teriak Bianca sambil menggerakkan tubuh mencoba melawan. Namun hal itu percuma sebab Mayang begitu kuat menahan tubuhnya. Napasnya terasa sesak dan tubuhnya semakin merasa kesakitan.
Tak urung, air mata pun membanjiri sebab Bianca akhirnya menangis. "Hentikan, Mayang ...! Hentikan! Aku menyerah!" jerit Bianca histeris yang membuat Mayang semakin menguatkan tekanan. "Kau bedebah, Mayang! Di mana hatimu sebagai petarung sejati! Kau tak bisa seperti ini! Kau tak bisa membunuh musuhmu yang sudah tak berdaya!"
Mayang seketika tersentak. Entah apa yang merasukinnya hingga ia menjadi buas dan menyeramkan seperti ini. Ia bahkan menganiaya sesama wanita hingga Bianca tak berdaya. Tetap menyakitinya meski Bianca telah berteriak dan memohon pengampunan.
Seketika wajah merah padam Mayang berubah melemah penuh sesal. Rasa bersalah mendadak menghujam dada, terlebih ia sadar kini tengah berbadan dua, hingga ketakutan akan imbas buruk terhadap janin atas kejahatannya langsung bergulung dan menyisakan rasa takut luar biasa.
Mayang sontak melepaskan tangan Bianca. Ia segera menarik diri hingga terduduk lemas di lantai tak jauh dari tubuh Bianca yang tiarap. Sejenak keduanya terdiam dengan napas yang terengah. Berusaha menguasai diri dan pikiran masing-masing.
Di saat bersamaan, Alex pun tersungkur usai Brian mengarahkan tendangan tepat mengenai ulu hati. Darah segar menyembur dari mulutnya saat tubuh Alex membentur tembok dengan keras.
Tak sampai di situ saja. Seolah belum puas, Brian segera menyusul dan mencengkeram rambut Alex yang sudah terkapar di lantai untuk membangunkan.
Alex yang sudah lemas mau tak mau ikut bangkit akibat jambakan Brian. Darah kembali mengucur saat kepalan Brian mendarat tepat di pipinya hingga kembali membuat Alex limbung.
Dengan geram, Brian menjatuhkan diri dengan menjadikan siku sebagai tumpuan tepat di di perut Alex. Tubuh Alex melenting hingga setengah terduduk. Darah segar kembali menyembur dari mulut, serta erangan kesakitan lolos begitu saja dari bibirnya. Tak bisa melawan, Ia kembali menjatuhkan tubuh hingga terkapar tak berdaya.
"Ini untuk kematian Lena!" teriak Brian sambil mengarahkan bogem mentahnya pada pipi kanan Alex. Lantas menghadiahi satu lagi pukulan lebih keras di kiri Alex hingga lelaki itu kembali memuntahkan darah. "Dan ini untuk kejahatanmu terhadap Mayang!"
Di sisi lain, Mayang yang sudah merasa tenang menoleh dan menatap seorang prajurit yang tengah menyiapkan borgol untuk Bianca. Ia menghela napas lega sebab telah menyelesaikan misinya.
Ingin enyah dari sana, maka dari itu Mayang segera bangkit dari duduk. Namun belum sempat ia melangkah, tanpa disangka sebuah kaki jenjang dari bawah lebih dulu bergerak menendangnya dengan kuat, hingga membuatnya terpelanting dan terjatuh. Tubuh wanita hamil itu membentur lantai dengan keras, hingga membuatnya mengerang kesakitan.
__ADS_1
Bersambung