
"A-Alex," suara Mayang tampak terbata saat menyebut nama pria dihadapannya itu. "Lepaskan tanganku." ucap Mayang sembari berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Alex, namun sia - sia. Alex tampaknya sangat bersikeras menahan Mayang pergi dari tempat itu.
"Kau," Alex menatap Mayang seperti tak percaya. "Jadi kau gadis kecil berseragam SMP sepuluh tahun lalu?!" Alex bertanya dengan nada mendesak.
Mayang pun tampak tercengang mendengar apa yang Alex ucapkan. Gadis itu lantas menatap lekat wajah Alex dengan seksama sembari mencoba mengingat kembali kejadian sepuluh tahun lalu.
"Bagaimana kau tahu itu?" Mayang bertanya penasaran. Entah mengapa dirinya kini merasa tidak aman saat melihat bagaimana cara lelaki itu menatapnya.
Tatapan matanya yang tajam itu seolah menebarkan ancaman terhadap Mayang, membuat bulu kuduk gadis itu pun seolah berdiri.
Mayang kembali berusaha melepaskan tangannya yang mulai terasa nyeri dan memerah. Tatapannya pun menyorot tajam pada lelaki yang tengah menyeringai puas itu seperti mengancam.
Namun sebuah bola basket tiba - tiba melayang di udara dan kemudian menghantam dengan sangat keras tepat di dada Alex. Lelaki itu pun spontan terhuyung kebelakang dan cengkeraman tangannya pun terlepas dari pergelangan tangan Mayang.
Alex tampak meringis kesakitan sembari memegangi dadanya. Dan dari arah datangnya bola itu tampak Brian tengah melangkah mendekat kearah Mayang dengan kilatan mata dipenuhi amarah yang menyorot tajam kearah Alex. Direngkuhnya tubuh sang istri kedalam pelukannya sebagai tanda kepemilikannya.
Tangan Brian bergerak meraih pergelangan Mayang yang masih tampak memerah akibat cengkeraman kuat jemari Alex. Lalu diremasnya dengan lembut bekas merah itu.
"Sayang, aku tidak sengaja bertemu dengan nya. Sungguh Sayang, percayalah padaku." dengan takut - takut Mayang mencoba menjelaskan pada Brian yang masih menatap Alex dengan tatapan penuh ancaman.
Rasa takut Mayang itu pun bukan lah tanpa alasan. Ketakutan Mayang itu tentu saja merujuk pada peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu saat dirinya berdansa dengan Alex dengan tujuan untuk memancing kecemburuan Brian.
Masih membekas diingatannya bagaimana mengerikannya kemarahan Brian saat itu, hingga keributan pun tak terelakkan di acara reuni itu. Dan tentu saja Mayang tak ingin hal itu terjadi lagi.
"Sayang, kita ke kantin yuk. Aku haus." ucap Mayang berusaha menarik perhatian Brian yang masih beradu tatapan sengit dengan Alex.
Namun Brian tampaknya mengabaikan ajakan Mayang, sehingga gadis itu terlihat semakin takut dan khawatir suaminya akan bertindak gegabah tanpa berpikir panjang.
Kekhawatiran Mayang semakin bertambah saat Brian melepaskan pelukannya. Brian meremas lembut kedua bahu Mayang dan mendorong nya pelan mengisyaratkan agar istri nya itu menjauh. Namun tatapan Brian sama sekali tak berpaling dari Alex.
Tangan yang mulai mengepal sudah menandakan bahwa lelaki itu sudah berada di ambang batas kesabaran. Mayang tahu betul bagaimana suaminya yang bahkan tanpa ampun menghajar siapapun yang mencoba menyentuhnya. Terlebih pada Alex yang memang sebelumnya telah memiliki perkara dengan suaminya.
"Sayang jangan," tangan Mayang yang gemetar berupaya menarik lengan Brian. Menahan lelaki itu agar tidak melanjutkan niatannya.
"Lepaskan tangan mu Sayang." ucap Brian dingin penuh peringatan.
"Ku mohon tenangkan dirimu Sayang. Jangan buat kekacauan disini." Mayang memohon dengan wajah yang mengiba, meski Brian tak mau menatap wajahnya.
Brian yang sudah akan membuka mulutnya pun urung berbicara, sebab di saat yang bersamaan ponselnya pun berdering. Tangan kanan Brian segera merogoh ponsel itu dari saku celananya dan menggeser icon berwarna hijau untuk mengangkat telepon.
"Kau dimana." ucap Brian membuka percakapan. "Kita bertemu di ruang tunggu sekarang juga." Brian meremas ponsel itu usai mengakhiri pembicaraan. Rahangnya pun tampak mengeras saat lagi - lagi dirinya harus menahan amarah yang tak tersalurkan.
Mayang sedikit bernafas lega saat Brian merangkul bahunya dan membawanya melangkah menjauhi Alex. Sembari melangkah Mayang pun mendongak berusaha menatap wajah merah padam sang suami yang tampak berusaha keras menyembunyikan dari tatapannya.
Kejadian ini benar - benar di luar dugaan Brian. Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan. Bagaimana bisa lelaki itu muncul di tempat yang sudah di disterilkan hanya untuk diri nya dan Mayang saja. Untuk apa dia datang di acara yang khusus di adakan untuk dirinya saja.
__ADS_1
Emosi Brian yang begitu sulit ia kendalikan ternyata berimbas pada langkahnya yang semakin lebar karena kakinya yang panjang. Hal ini membuat Mayang merasa kalang kabut saat harus mengimbangi langkah suaminya.
Kaki Mayang yang harus bersusah payah melangkah cepat pun keseleo dan membuat tubuhnya oleng seketika. Tubuh gadis itu hampir saja terjatuh andai saja Brian tak meguatkan rengkuhannya.
"Sayang kau tak apa- apa?" tanya Brian yang tiba - tiba panik sembari menahan tubuh sang istri yang tampak meringis kesakitan.
"Kakiku sepertinya terkilir." jawab Mayang sembari menatap kakinya yang tersembunyi di dalam sepatu kets itu.
"Di mana nya Sayang, di bagian mana?" Brian berjongkok dan meraba - raba kaki istrinya untuk memastikan.
Kemudian lelaki itu pun mendongak menatap ke arah gedung sekolah dimana ruang tunggu yang mereka tuju sudah dekat.
"Sayang aku pijit kaki mu di ruang tunggu saja sekalan kau beristirahat ya," tanpa aba - aba Brian pun merengkuh tubuh sang istri kedalam gendongannya dan membawa sang istri menuju ruang tunggu.
Tak ayal aksinya itu menjadi sasaran empuk jepretan kamera ponsel para murid yang tampak terkagum - kagum pada sosok Brian.
* * *
Brian menarik Billy yang tampak baru saja muncul di ruang tunggu dan membawanya menjauhi sang istri yang masih duduk selonjoran di dalam. Dihempaskannya tubuh Billy hingga tersudut pada dinding kokoh di belakangnya.
Mata Brian yang tampak menyalang tajam membuat Billy bisa memastikan bos nya kini sedang di kuasai oleh amarah.
"Kau pasti tahu semua yang terhadi disini kan?! Kenapa tak kau katakan padaku kalau Alex juga ada di sini!!" Teriak Brian dengan wajah merah padam.
"Memangnya apa yang telah Alex lakukan padamu tadi?" Billy bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Kalian sudah bertemu?"
"Apa!!" Billy terbelalak kaget.
"Dia bahkan sudah tau kalau istriku adalah gadis kecil yang membuatnya mendapatkan hukuman berat sepuluh tahun lalu. Aku takut! Aku takut dia menuntut balas atas semua itu disaat Mayang tak bersama ku Bill!" Brian yang semula di kuasai oleh amarah kini tampak melemah dengan ketakutan yang tersirat dari sorot matanya.
"Aku ingin melenyapkannya sekarang juga Bill!! Lenyap dari dunia ini! Agar dia tak bisa lagi mengganggu istriku! Cukup Lena saja yang mati karena dia!" Suara Brian menggema di lorong yang hening itu.
Brian melepaskan cengkeraman nya dan membanting tubuhnya bersandar pada dinding di samping Billy. Lelaki itu diam untuk sejenak sembari memejamkan matanya. Desahan pelan lolos dari bibirnya.
"Ketakutan mu itu sangat lah berlebihan." Billy mencoba menenangkan Brian yang tampak sangat cemas.
"Berlebihan bagaimana?! Kau tau kan apa yang telah istriku alami tempo hari! Andai saja dia bukan wanita tangguh dia pasti sudah celaka oleh ulah Hans!"
"Kalau begitu kau harus lebih hati - hati dalam menjaga istrimu. Oh iya, ada informasi yang ingin ku sampaikan."
"Apa?!" Brian mendesak Billy dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Aku sudah mendapatkan informasi tentang Alex. Tentang kekayaannya yang berkembang pesat ternyata bukan hanya di dapat dari perusahaan nya saja. Dia memiliki bisnis gelap dalam dunia malam. Dari informasi yang kudapat, beberapa bulan lalu barang selundupan miliknya yang di sembunyikan di sebuah bankas besar tak dapat di buka. Dan kau tau, saat itu mereka menyembunyikan brankas itu di sebuah gedung tua di kampung halaman istrimu." Billy menjelaskan panjang lebar.
Brian tampak menipiskan bibirnya usai mendengar penjelasan Billy. "Jadi sedang ada masalah dalam usahanya?" Brian bertanya kemudian.
__ADS_1
"Iya. Dia sedang memburu gadis pintar yang telah mengganti nomor kode brankas itu."
"Gadis pintar kau bilang?!" tanya Brian seperti tak percaya. Keningnya berkerut menatap Billy, merasa seperti ada yang mengganjal.
"Iya, ada apa memangnya?"
"Tidak." Brian menggeleng pelan dan kembali menyandarkan kepalanya. "Katakan padaku untuk apa Alex datang kesini."
"Dia juga bagian dari acara ini."
Brian membelalak terkejut. Tangan nya pun reflek meraih kerah jas Billy lalu meremasnya dengan kuat. "Bagaimana bisa kau membiarkan hal ini terjadi! Kau tau dia selalu punya niatan Buruk padaku!"
"Dengarkan dulu!" Potong Billy setengah berteriak. "Aku sudah tau ini sejak lama. Tadinya aku ingin memberimu kejutan dengan membiarkan lelaki itu datang. Tapi karena kau sudah tau jadi lebih baik ku katakan."
Billy diam sejenak sembari menatap Brian yang tampak menunggunya untuk bicara dengan lekat.
"Alex mempunyai niat untuk mempermalukan mu di acara ini. Dia memberikan donasi melebihi dari yang kau beri. Tapi kau tenang saja. Aku sudah menggagalkan Semua rencana jahatnya."
Ucapan Billy barusan membuat Brian berbinar senang. Lelaki itu tersenyum lebar sembari memeluk Billy dengan penuh suka cita.
"Terimakasih Bill, kau memang yang terbaik." Brian menepuk bahu Billy dengan begitu bangga. "Kau memang selalu bisa ku andalkan."
"Sudah la, memang sejak dulu kan aku begitu." timpal Billy sok angkuh.
"Dasar!"
"Aku membawakan mu pakaian ganti."
"Tidak perlu. Aku suka begini." Brian tersenyum bangga sembari memperhatikan dirinya yang seperti anak SMA.
"Bukan kah kau akan naik panggung nanti, kau tidak malu dengan penampilan mu yang seperti ini?!" Billy menatap heran pada Brian.
"Tidak." Jawab Brian dengan percaya diri sembari beranjak pergi meninggalkan Billy yang tampak berdecak.
"Hey kau mau kemana?!
"Aku rindu istriku!" Suara Brian terdengar sedikit tenggelam karena si pemiliknya yang sudah tak nampak lagi, menghilang di balik tembok yang membatasi.
"Dasar Bucin. Tapi aku lebih merasa bahagia jika kau sedang bahagia." ucap Billy tulus dari hatinya.
Bersambung
______________________________________
Hai readers tercinta, kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara
__ADS_1
dan berikan juga dukungan kalian ya
Terimakasih 🙏🙏