
"Sayang, kau benar - benar tidak ingin mengajakku?" Mayang yang tadinya duduk di sofa, kini bangkit dan mengayunkan langkahnya mendekat pada Brian yang baru saja keluar dari ruang ganti pakaian. Ia terlihat rapi dan tampan seperti biasa nya.
" Ti - dak!" Brian kembali menegaskan dengan penuh penekanan. Ia lantas mencubit pipi Mayang yang sengaja ia atur dengan mode cemberut level akut.
"Kau tega meninggalkan ku sendirian?" Mayang masih berusaha. " Ada ibu juga kan, aku pasti aman kalau ada teman..." Memohon sembari mengguncang lengan Brian.
"Aku tidak mau ambil resiko sayang, aku belum berani membawamu ke tempat umum."
"Ya sudah!" Ucap Mayang kemudian berlalu dan masuk kedalam ruang ganti pakaian.
"Kau tidak marah kan?" Brian mengekori langkah istrinya dengan pandangan nya. Namun tubuh Mayang sudah menghilang di balik pintu yang tertutup.
Brian lantas mengayunkan langkahnya menuju ke sofa. Ia memilih untuk menunggu istrinya di sana. Bagaimana pun ia harus pergi dengan izin nyonya Brian bukan?
Brian memilih menunggu sembari memainkan ponselnya. Membalas pesan dari Ratih yang telah menunggunya untuk berangkat bersama- sama menuju acara.
Hari ini ada acara peresmian yang di adakan oleh Wahana Group. Dan Brian sebagai Presdir nya pun harus menghadiri acara itu.
Namun Brian tak bisa membawa Mayang serta untuk ikut bersama nya meski Mayang merengek dan memaksa. Tentu saja semua itu demi keselamatan Mayang sendiri.
Brian yang tengah serius dengan ponsel nya pun di paksa menoleh ke arah pintu ruang pakaian yang terdengar di buka dari dalam. Pandangan nya menangkap sosok Mayang yang telah berganti pakaian dengan gaun malam berwarna gelap nan indah.
"Hey aku melarang mu untuk ikut!" Seruan nada protes Brian terlontar untuk memberi pengertian pada sang istri. Raut wajahnya seketika berubah tak bersahabat karena ia merasa istrinya kini menjadi pembangkang.
"Memangnya siapa tang mau ikut," bantah Mayang dengan nada santai sembari tetap mengayunkan langkah nya dengan anggun meninggalkan pintu ruang pakaian.
"Aku hanya mengganti pakaian ku dengan yang nyaman dan dingin. Aku merasa gerah," ucap nya sembari menarik rambutnya ke arah samping dan menunjukkan punggung putihnya yang tampak terbuka.
Ya - Mayang memang mengenakan gaun dengan model terbuka. Bahkan cenderung menunjukkan bagian dada pula. Gaun yang bahkan tak berani di sentuh nya saat merasa dirinya waras.
Fokus Brian pun kini tertuju pada punggung putih istrinya itu. Ia menelan slavina nya dengan susah payah. Merasa senang namun juga aneh dengan perubahan sikap sang istri. Tak biasa nya dia bersikap memancing seperti itu.
"Emmm ponsel ku di mana ya...?" Mayang mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan yang luas itu. Dan pandangan mata terhenti di sofa tempat Brian duduk. "Oh disitu rupanya." Mayang lalu mengayunkan langkah nya menuju ke sofa itu.
Langkah Mayang berhenti tepat dihadapan Brian yang duduk sembari menatapnya tak berkedip. Tanpa bicara Mayang pun mengulurkan tangan nya.Brian yang tak mengerti hanya menatap bingung pada Mayang dan telapak tangan Mayang secara bergantian.
__ADS_1
Di lihat nya pula yang istri yang masih tampak menunggu sembari mengibas - ngibas kan tangan nya seperti sedang mengipasi dirinya sendiri yang sedang kegerahan. Namun pandangan mata nya tertuju ke arah lain.
Karena tak kunjung mendapatkan respon dari Brian, Mayang yang tampak mendesah pun menggerakkan tubuhnya condong mendekati tubuh Brian dengan gaya yang menantang. Bahkan dadanya terlihat jelas di mata Brian.
Satu tangan nya menahan rambutnya agar tak terburai mengenai Brian. Sementara tangan yang lain dengan cekatan meraih ponsel yang tergeletak di sisi tubuh Brian sembari membungkuk.
Saat Mayang kembali berdiri, tak sengaja kibasan rambutnya mengenai wajah Brian dengan lembut. Hingga membangkitkan gairah yang sejak tadi ia tahan dengan susah payah.
Dengan cekatan Brian meraih tangan Mayang dan mencekal nya. Menahan sang istri untuk lebih menjauh darinya. Lalu menarik tubuh istrinya itu hingga terjerembab di pangkuan nya.
"Kau sengaja menggoda ku?" Tanya Brian dengan seringai khas nya.
"Tidak..."Jawab Mayang santai sembari berusaha bangkit untuk berdiri. "Pergi lah, aku akan menunggu mu di rumah." Ucapnya setelah berhasil berdiri. Karena Brian benar - benar tak menahannya.
Mayang kembali mengayunkan langkahnya mendekati ranjang. Tangan nya meraih sebuah buku yang tergeletak di nakas lalu membawanya naik ke atas ranjang.
Mayang merebahkan tubuhnya di sana menghadap ke arah Brian lalu berbalik dengan posisi tengkurap dengan dada yang menonjol karena tertekan bantal dibawahnya. Perlahan ia membolak - balikkan lembar per lembar buku itu seolah tak ada manusia lain di sana. Namun setelah itu ia mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
"Sayang kau masih di situ?" Tanya Mayang lembut pada Brian yang masih terpaku menatapnya. Mayang merubah posisi rebahan nya menjadi miring dengan tangan yang menyangga kepalanya.
Brian seketika bangkit dan berdiri. Lantas melangkah mendekati ranjang dan berdiri menatap sang istri tajam.
"Untuk apa memanggil pengawal?! Kau akan memanggil nya kemari?" Tanya Brian Brian dengan Wajah penasaran yang bercampur kesal.
"Tentu saja kemari sayang, kau melarang ku untuk keluar kamar bukan?" Ucap Mayang dengan wajah polos yang di buat - buat.
Brian Mengusap wajahnya untuk menahan amarah yang menguasainya karena cemburu. "Jangan mentang - mentang tak bisa keluar kamar lantas kau bisa membawa masuk laki - laki lain ke kamar kita seenaknya sayang...!" Ucap Brian setengah menggeram.
"Lalu kalau tiba - tiba ada penjahat masuk bagaimana? Para pengawal pasti berdatangan kemari saat aku berteriak bukan?" Mayang berucap dengan santai nya seolah sengaja memancing kemarahan sang suami. "Apa kau ingin aku celaka kalau melarang pengawal mu masuk kemari?"
"Sudah cukup! Terserah kau saja!" Brian berucap dengan nada jengkel sembari melangkah meninggalkan Mayang yang tampak tersenyum puas.
Sepanjang perjalanan Brian tampak gelisah memikirkan ucapan Mayang tadi. Bukan tanpa alasan ia merasa cemburu seperti ini.
Brian tak mungkin membiarkan istrinya dekat dengan lelaki lain. Meski pun itu anak buahnya sendiri. Meski mereka hanya bodyguard, namun rata - rata dari mereka. masih muda. Memiliki wajah tampan dengan postur tinggi dan kuat.
__ADS_1
Brian memang memperkerjakan para pengawalnya tidak sembarangan. Mereka harus melalui seleksi ketat sebelum akhirnya di terima. Dengan ilmu bela diri yang tinggi tentunya. Maka dari itu Brian berani membayar mahal untuk kesetiaan serta dedikasi mereka.
Memikirkan hal itu benar - benar membuatnya frustasi. Ia semakin merasa tak tenang meninggalkan istrinya dengan ancaman seperti itu.
Aku harus pulang. Aku harus pulang! Teriak Brian dalam hati.
Brian sudah memarkirkan mobilnya di basement tempat acara. Dan terlihat pula sang Ayah dan Ibunya tengah berdiri menunggu nya. Saat melangkah, pandangan Brian tertuju pada genangan air di lantai basement itu. Dan tak jauh dari situ ada botol kosong teronggok disana.
Rupanya air yang menggenang itu berasal dari botol air mineral tang tumpah. Dengan wajah kesal ia meraih botol itu lalu melemparnya tepat di bak sampah.
Manusia tak bertanggung jawab! Berani sekali mengotori basement ku! Merusak pemandangan saja. Brian menggumam kesal.
"Brian cepat lah!" Seru Ratih yang sydah merasa tak sabar menunggu putranya mendekat.
Brian mengayunkan langkah nya dengan lambat untuk mengulur waktu. Sembari mencari - cari alasan untuk bisa kabur dari tempat itu. Namun melihat genangan air itu tiba - tiba muncul ide di kepala Brian.
"Sebentar bu, ponsel ku tertinggal di mobil." Brian lantas berbalik cepat ke arah mobilnya. Sembari di liriknya sang ibu yang tengah sibuk dan tak mempertahankan nya.
Segera Brian menjatuhkan tubuh nya dengan posisi tengkurap. Dadanya yang tepat di air yang menggenang itu membuat baju yang Brian kenakan tampak kotor dan menjijikkan. Namun Brian tampak tersenyum karena memang itulah tujuan nya.
"Ibu, aku terjatuh!" Brian memulai aktingnya saat dia sudah berdiri sembari menunjukkan dadanya yang kotor pada sang ibu.
Ratih membelalakan mata seketika. "Brian apa Yang Terjadi pada mu?!" Ratih melangkah cepat menghampiri puteranya. "Bagaimana baju mu bisa se kotor itu!" Ratih menggeleng heran.
"Ibu bagaimana ini, aku tak mungkin masuk dengan keadaan seperti ini ibu," ucap Brian dengan nada merengek.
"Kau bawa baju ganti tidak?"
Brian menggeleng cepat.
Ratih tampak menggeram kesal. "Kenapa kau ceroboh sekali Brian!!" Ratih memukul lengan putera nya. "Cepat pulang dan ganti pakaian mu!" Teriak Ratih kesal lalu berlalu pergi meninggalkan Brian yang tampak sedih.
Namun sepeninggal orang tuanya ia tampak tertawa girang karena berhasil kabur dari tempat itu.
"Suami mu datang sayang." Ucap nya girang sembari melajukan mobilnya.
__ADS_1