
"Mau dibawa ke mana minuman itu?"
Pertanyaan Billy membuat Milly yang baru berbalik badan itu berhenti melangkah. Untuk beberapa saat ia masih mematung di tempatnya sebelum kemudian memutar tubuh.
"I-iya," balasnya dengan suara terbata. Entah apa yang membuat gadis itu mendadak gugup, sampai-sampai terlupa untuk menurunkan jamuan dari nampannya.
Milly hanya menunduk saat menyajikannya. Ia bahkan begitu malu untuk sekedar menatap sepasang pria wanita yang kelihatannya tengah dimabuk cinta itu.
"Mau ke mana?" Lagi-lagi Billy mencegah istrinya yang hendak meninggalkan tempat itu.
Milly yang baru selangkah bergeser dari sana langsung berhenti dan menoleh ke belakang.
"Mau ke dapur, Pak. Balikin nampan," balasnya dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Bahkan hampir-hampir tak terdengar oleh Billy.
Sebagai wanita Milly cukup tahu diri. Meski ia dan Billy telah terikat pernikahan, tapi itu hanya siri dan dilakukan dengan keadaan terpaksa. Terlebih dengan status Billy yang memiliki derajat tinggi dan bergelimangan harta, sangat mustahil baginya untuk berharap jika ia akan Billy cinta dan menjadi wanita satu-satunya.
Dari itu ia memilih untuk menyingkir dan membuang jauh-jauh cinta bertepuk sebelah tangan yang pernah merasuk di hatinya.
Billy terdiam sambil mengamati ekspresi istrinya dengan sikap tenang. Ekspresi Billy pun terlihat datar meski di sisi ada seorang gadis cantik dan seksi tengah bergelayut manja pada lengannya.
"Duduk," Billy mengedikkan dagunya ke arah sofa di seberang, yaitu sofa yang sempat Milea tempati tadi, seolah-olah mengisyaratkan agar Milly menempatinya.
"Tapi--"
"Duduk dan layani tamu saya!" tegas Billy seolah-olah tak ingin mendengarkan bantahan apapun dari Milly.
Dengan langkah berat serta tangan yang terkepal, Milly terpaksa menempati sofa itu dengan perasaan hampa. Gadis cantik yang membiarkan surai panjangnya tergerai bebas itu hanya bisa duduk diam di tempatnya dengan ekspresi kaku. Entah apa yang sedang Billy rencanakan saat ini, yang jelas ia akan mengikuti permainannya dengan baik.
Jujur, andai bisa memilih, Milly lebih baik menenggelamkan diri ke dasar lautan daripada harus melihat kemesraan suaminya bersama wanita lain di depan mata. Meski Billy terlihat bersikap dingin, tapi ia membiarkan gadis itu menyentuh tubuhnya. Bila bukan kekasih, lantas namanya apa? Mereka tanpa malu menunjukkan kedekatan terhadapnya. Milly bahkan merasa jengah dan hampir-hampir ingin muntah.
__ADS_1
Namun, ada sesuatu yang hancur dan luluh lantak di dalam sana. Bahkan kepingan-kepingannya seolah lebur dan melayang bersama angan yang menyakitkan. Tak ada lagi yang tersisa. Cinta, bahagia serta impian masa depan, semuanya telah musnah. Hanya tersisa kehancuran dan air mata yang masih tertahan.
Diam-diam rupanya Milea mengamati bagaimana bahasa tubuh Milly. Dengan panggilan gadis itu pada Billy yang tadi sempat didengarnya, Wanita cantik itu bisa memastikan jika Milly hanyalah pelayan yang bertugas mengantar minuman saja.
Gadis itu hanyalah wanita rendahan yang tak sebanding jika harus disejajarkan dengan dia. Maka ia kini berani mengangkat dagu dan membusungkan dada penuh kesombongan, karena ia berpikir, Milly bukanlah sebuah ancaman. Terlebih melihat penampilan si gadis yang biasa saja dan meski memiliki paras cantik, tapi sama sekali tak terlihat berkelas dan elegan.
Dua orang pelayan kemudian datang dengan mendorong troli berisi beberapa macam kue yang lezat serta beberapa macam minuman. Milly lantas mengisyaratkan pada dua pelayan itu untuk pergi dan mengambil alih tugas selanjutnya.
"Berikan aku minuman dingin." Tanpa menatap istrinya, Billy memberikan perintah.
"Baik," Milly bangkit dan mengambil jus strawberry yang terdapat pada sebuah gelas cantik.
Berniat untuk memberikannya pada Billy, tapi sayang tangannya yang gemetaran saat membawa gelas itu justru menumpahi berkas-berkas di bawahnya yang saat itu sedang Billy pelajari.
Terkejut, pria itu bahkan langsung melempar pandangan ke arah Milly yang mendadak panik dan merasa bersalah.
Kesalahan Milly itu sepertinya cukup fatal, sebab membuat Milea yang semula duduk dengan tenang seketika bangkit dan menatap gadis itu dengan mata menyalang tajam.
"Dasar pelayan tidak becus. Apa kau tidak tau semua ini adalah berkas-berkas penting!" Milea tetap memarahi Milly meskipun gadis itu telah meminta maaf dan menyesal.
"M-maaf, saya benar-benar tidak sengaja." Milly yang memang sudah lebih dulu merasa hancur hanya bisa menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mudah sekali kau meminta maaf! Berkas ini begitu berharga dan bernilai milyaran. Kau bahkan tidak bisa menggantinya meski menjual diri seumur hidupmu!"
Penampilan Milea yang berkelas nyatanya tak bisa menjaga lisan meski di hadapan pria yang disukainya. Hinaan serta cemoohan lolos begitu saja tanpa penyaringan. Dia bahkan bersikap seperti wanita yang tak beretika. Ia bahkan mendorong tubuh Milly hingga kembali terduduk pada sofa.
Namun nahasnya, sisa minuman dari gelas yang Milly pegang menumpahi jas mahalnya yang tersampir di sandaran sofa dan kian mengobarkan api kemarahan Milea.
"Dasar pelayan tak berguna!"
__ADS_1
Milly hanya bisa menutup mata saat tangan Milea terangkat tinggi hendak melayangkan tamparan. Ia pasrah dan menganggap ini adalah ganjaran dari kesalahannya.
Plak!
Terdengar suara tamparan keras membahana di udara yang membuat hati Milly berkedut nyeri, disusul dengan suara pekikan tertahan wanita dan sesuatu yang membentur sofa.
Milly sontak membuka mata dan terkejut bukan main saat mendapati Milea bersimpuh di lantai dengan tangan memegangi wajah. Pandangannya langsung beralih pada Billy dan tercengang mendapati ekspresi pria itu begitu berapi-api.
Rupanya Milea kehilangan keseimbangan hingga tersungkur ketika rasa panas yang luar biasa menyakitkan menjalar di permukaan kulit pipinya yang terasa bengkak.
"Billy ... kenapa kau menamparku ...?" Milea menatap Billy dengan ekspresi bingung bercampur takut yang teramat. Ia sama sekali tak menyangka dirinya yang akan melampiaskan kekesalan justru berakhir mengenaskan. Wajahnya kini bersimbah air mata oleh rasa nyeri tak terperi.
Billy sendiri seolah tak peduli dengan tangis mengiris Milea. Bahkan terlihat tak menyesal meski telah membuat bibir gadis itu robek hingga darah hangat mengalir dari sana.
Pria dengan postur menjulang itu berdiri tepat di depan Milea yang terduduk lemah di lantai. Auranya menggelap saat mengarahkan tatapan tajam menusuk tanpa sedikitpun rasa belas kasihan.
"Katakan sekali lagi dia tidak berguna, maka aku akan membuat hidupmu seperti di neraka."
Milea hanya bisa menelan ludahnya dengan berat. Ancaman Billy tampaknya tidak main-main dengan kedua tangannya yang terkepal kuat.
"Apa! Apa yang membuatmu melindungi wanita rendahan seperti dia? Dia hanya pelayan sedangkan aku wanita berkelas yang kelak sudah pasti akan membuatmu semakin berjaya!" Meski sudah kesakitan dan terhina, gadis itu masih begitu fasih menyombongkan dirinya.
"Nona Milea yang terhormat, kau telah menghina dan merendahkan istriku."
"Istri?" Suara Milea seperti tercekat di tenggorokan.
"Perlukah aku memberi toleransi pada wanita yang tak memiliki etika seperti anda? Di mana sopan santun anda pada tuan rumah yang sedang menjamu tamu?"
Bersambung
__ADS_1