Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Masih sakit?


__ADS_3

Mayang mengerjapkan mata saat merasakan seseorang mendaratkan kecupan di keningnya. Kesadaran yang baru terkumpul setengahnya kembali merasa kan ciuman lembut di bibirnya berulang - ulang.


Gadis itu terperanjat saat dirinya mendapati sosok suami yang tengah duduk di tepi ranjang tepat di sisinya. Reflek tangan Mayang mencengkeram ujung selimut sebagai satu - satunya pelindung tubuh polosnya agar tak merosot saat ia bergerak mundur sedikit menjauh.


"Pagi," Brian menyapa dengan suara berat nya. Tersenyum pada sang istri yang tampak terkejut dan masih menatapnya dengan bola mata membulat sempurna. Tak dapat menutupi rasa kikuk dengan jemari yang mencengkeram erat ujung selimut.


Berbanding terbalik dengan Brian. Laki - laki itu tampak segar dan bugar di pagi hari dengan terik sang surya yang telah menyapa dengan ceria di hari ini.


Wajah yang tampan dan penampilan yang sudah rapi dengan pakaian casual nya serta wangi aroma maskulin yang semerbak dari tubuhnya menyeruak masuk ke rongga penciuman Mayang yang membuat gadis itu semakin terpesona.


Sejak kapan dia bangun? Gumam Mayang dalam hati.


Entah mengapa Mayang merasa jengkel saat membandingkan keadaan dirinya dengan sang suami. Malu, tentu saja sebagai wanita dia merasa malu saat sang suami mendapati dirinya dengan penampilan se kacau ini.


Mayang menggeser pandangannya mengarah pada nakas. Asap yang masih tampak mengepul pada nasi goreng yang telah tersaji di piring itu menebarkan aroma lezat yang langsung menyeruak di indera penciuman Mayang. Yang secara spontan membuat cacing - cacing lapar di perutnya kini ber dendang ria dan minta untuk diberi makan segera.


"Selamat pagi sayang ,,," Brian kembali mengulang sapaan nya pada sang istri yang belum juga menjawabnya.


Gadis itu sontak mengalihkan pandangannya menatap sang suami dengan wajah gugup. "Selamat pagi juga." Jawabnya sembari tersenyum kaku. "Kenapa tidak membangunkan ku?!" Bertanya setengah protes sembari cemberut. Lalu menarik tubuh nya mundur dan bersandar pada kepala ranjang. Melingkarkan selimut hingga menutupi tubuhnya sebatas leher.


"Sengaja aku tak membangunkan mu." Brian menjawab dengan tak berkedip. "Ku lihat kau sangat kelelahan dan tidur mu juga sangat pulas, membuatku tak tega untuk mengusik ketenangan mu."


Tapi kau membuatku malu dengan penampilan ku yang kacau ini di hadapan mu! Mayang menggerutu dalam hati.


Brian menggerakkan tangannya untuk mengambil piring nasi goreng itu dari nakas.


"Kau lapar? Biar aku suapi." Sendok berisi nasi goreng sudah menempel di bibir Mayang yang masih terkatup.


Mayang yang masih bingung pun menunduk, keningnya berkerut saat menatap sendok itu lantas mengangkat pandangannya menatap Brian seolah ingin memastikan nya melalu ekspresi wajah sang suami.


Kau benar - benar ingin aku makan dari suapan mu? Batin Mayang ragu.


"Makan lah sayang, kau lapar kan?" Ucap Brian setengah memaksa dan membuat Mayang mau membuka mulut pada akhirnya walaupun dengan wajah malu - malu.


"Bagaimana kalau aku mandi dulu?"


Brian mengambil lagi sesendok nasi dari piring. "Makan dulu saja ...." Ucapnya santai sembari menyuapi lagi.


"Dari mana kau tau kalau aku lapar?" Mayang Bertanya ragu sembari mengunyah pelan makanan dimulut nya.


"Perutmu bernyanyi keroncong saat kau tidur tadi." Ucap Brian dengan senyum lebar yang spontan membuat wajah Mayang merona malu.

__ADS_1


Brian menyadari perubahan mimik wajah sang istri yang tiba - tiba tertunduk malu. "Sayang, apa ibuku tidak memberikan mu makan selama kau disana?" Bertanya dengan mimik wajah masam sembari tangannya bergerak menyuapi istrinya lagi.


"Sayang berhenti berbicara seperti itu. Kau membuatku merasa bersalah pada ibu mu karena aku yang memang sengaja melewatkan makan malam ku."


"kenapa? Apa karena terlalu sibuk memikirkan ku membuat mu jadi tak enak makan?"


"Seharusnya kau tak perlu tanyakan itu." Mayang menjawab dengan nada kesal saat sedang makan hingga membuatnya tersedak ketika akan menelan makanannya. Brian reflek dengan segera mengambilkan air minum.


"Jangan marah - marah saat makan sayang, kau jadi tersedak kan,,," ucap nya sembari meminum kan nya pada sang istri.


Brian memperhatikan Mayang yang tengah meringis saat beringsut tadi, seperti sedang menahan rasa yang sakit di tubuhnya.


"Apa masih sakit?" Tanya Brian kemudian dengan nada khawatir.


Mayang yang tadinya menunduk lantas spontan mendongak menatap Brian dengan salah tingkah. "A-apanya yang sakit?" Mayang pura - pura tak tahu.


"Itu nya." Melirik sepintas ke area di bawah perut Mayang yang tertutupi rapat oleh selimut tebal. Brian masih mengingat dengan jelas suara rintihan Mayang saat mereka bercinta semalam.


Namun Brian tak begitu mengerti, entah itu rintihan kenikmatan atau justru kesakitan. Namun yang jelas Brian rasakan, semakin sang istri merintih justru semakin membangkitkan gairah nya dalam bercinta.


"Masih." Mayang menjawab malu. Ia tertunduk untuk menyembunyikan wajah nya tiba - tiba merona. "Seharusnya kau melakukannya lebih pelan semalam ..."


"N-nanti?!" Mayang tergagap seketika. Pandangan nya menatap ngeri pada sang suami yang tengah tersenyum licik padanya.


Jika semalam saja Brian sudah membuatnya sesakit ini, lalu bagaimana jika dia melakukannya lagi nanti. Mayang tidak bisa menjamin dirinya bisa berjalan normal seperti sebelumnya setelah hal itu terjadi nanti.


Tepat di saat itu ponsel Brian berdering. Perhatian keduanya pun tertuju pada Ponsel yang Brian letakkan di atas nakas. Tangan Brian pun lantas menjulur dan meraih ponsel itu segera, pandangannya pun menilik ponsel yang tengah berdering. sebuah panggilan masuk dari seseorang.


"Sayang, aku akan berbicara di luar sebentar ya,,," Izin Brian sembari mengecup kening sang istri dan menyambar bibir ranum itu gemas dengan bibirnya Sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Mayang sendirian di kamar itu.


Mayang pun tak ingin menyia - nyia kan kesempatan itu. Sepeninggalnya Brian ia segera membungkus dirinya dengan selimut untuk berjalan menuju kamar mandi. Sebab ia tak menemukan pakaian nya yang Brian lempar ke sembarang arah.


Namun Mayang melihat pakaiannya itu telah berada di keranjang pakaian kotor di ruang pakaian. ternyata Brian lah yang telah memunguti pakaian kotor itu dan menaruh nya disana.


Tubuh Mayang terasa segar kembali setelah beberapa lama berendam air hangat didalam bathtub. Pandangan nya memindai seluruh sudut ruangan kamar mandi, namun tak menemukan selembar handuk pun di sana.


Mayang menggeram kesal sembari menepuk dahi nya sendiri. Karena terlalu buru - buru sampai - sampai Mayang tak memperhatikan persiapan mandinya. Selama ini dia terlalu dibuai dengan kenyamanan pelayanan di rumah suaminya sehingga membuatnya bergantung pada orang lain.


Dengan tubuh polosnya Mayang membuka pintu kamar mandi agar dia dapat mengintip keadaan luar. Namun gadis itu terkejut setengah mati saat mendapati sang suami yang tengah berdiri di depan pintu kamar mandi seolah sengaja menunggunya disana.


Secara spontan Mayang pun menarik kembali kepalanya yang sempat menjulur keluar lantas menutup kembali pintu itu rapat - rapat. Namun tanpa Mayang sadari kelakuan nya itu membuat Brian Khawatir.

__ADS_1


"Sayang kau kenapa?!" Teriak Brian panik sembari menggedor pintu kamar mandi dengan kasar.


Suaranya cukup nyaring membuat Mayang yang masih berdiri sembari bersandar di pintu hampir saja terlonjak karena terkejut.


"Aku tidak apa - apa sayang!" sahut Mayang cepat untuk menghentikan kepanikan Brian. "Bisa ambilkan handuk piyama untukku tidak? Aku melupakannya!"


"Baiklah." Jawa Brian, kemudian suasana tampak hening beberapa saat sebelum akhirnya ketukan pintu terdengar. "Sayang buka lah, aku bawakan handuk untukmu."


Brian dengan handuk di tangannya masih menunggu Mayang membuka pintu. Seketika pintu pun terdengar dibuka. Brian yang sudah tersenyum karena menyangka sang istri akan keluar dengan tubuh polosnya ternyata hanya menjulur kan tangan yang menengadah siap untuk menerima.


"Apa - apaan ini?" Gumam Brian dengan mimik muka yang langsung berubah masam.


"Sayang, mana handuknya?" Tanya Mayang yang masih menunggu di dalam sana. Ia menggerakkan jemari nya sebagai isyarat.


"Iya sayang, sabar." Sahut Brian sembari menyeringai. "Ini ya ..." Menaruh handuk itu di tangan sang istri yang langsung di tarik oleh yang di dalam sana. Lantas tangan Mayang pun dengan cekatan ingin menutupnya kembali.


Eh kenapa pintu nya tidak bisa ditutup?! Gumam Mayang dalam hati sembari berusaha sekuat tenaga mendorong pintu itu. Namun wajahnya berubah kesal saat melihat nampak kaki Brian yang tengah sengaja mengganjal pintu.


"Sayang singkirkan kaki mu dari pintu! Kau bisa terjepit!" Bujuk Mayang pura - pura perhatian.


"Tidak bisa di tarik! Coba buka dulu pintunya agak lebar supaya aku bisa menarik kaki ku!"


Modus! Gerutu Mayang kesal.


Mayang menggunakan lututnya untuk menahan pintu sementara tangannya bergerak cepat untuk mengenakan piyama itu sebelum Brian berhasil membobol pertahanannya. Karena kalau sampai ini terjadi, mungkin benar - benar Brian membuatnya tak mampu berjalan nanti.


Dan benar saja, Brian berhasil mendorong dan memaksa membuka pintu itu sehingga tubuh Mayang sedikit terdorong kebelakang. Namun ia bersyukur berhasil mengenakan piyama itu tepat pada waktunya.


"Kau tidak apa - apa?" Brian bertanya khawatir sembari mengamati tubuh sang istri dari atas hingga kebawah seperti menyelidik. "Kenapa kau suka sekali berlama - lama di kamar mandi?" Brian menarik tubuh Mayang dan merapatkan pada tubuhnya. Memeluk tubuh ramping itu dengan erat.


"Aku hanya berendam sayang, berendam membuat tubuhku terasa nyaman setelahnya."


"Ya ya aku tahu, kau sedang mempersiapkan dirimu untuk melayani ku lagi kan???" Brian mencubit gemas pipi sang istri yang terlihat tersenyum masam. Lalu membenamkan lagi pipi sang istri di dadanya.


Ih apa si sayang, kau membuat ku ngeri. Gumam - gumam takut Mayang dalam hati.


Brian menuntun Mayang untuk keluar dari kamar mandi menuju sofa panjang dan besar yang berada di samping jendela. Brian lebih dulu menjatuhkan tubuhnya di sana. Lalu dengan menyeringai, dia menjentikkan jarinya mengisyaratkan agar sang istri yang tampak masih berdiri terpaku untuk mendekat padanya.


*Kita tidak akan melakukannya sekarang dan di sini kan?


Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2