
Melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan kafe itu, Milly terlihat kalang kabut saat harus berjalan mengikuti langkah kaki lebar milik suaminya. Gadis yang memadukan celana jeans hitam dan blus merah itu bahkan sampai setengah berlari demi mengimbangi langkah cepat suaminya. Tak jarang ia bertabrakan dengan pengunjung lain mall besar yang sangat ramai itu.
"Pak, jalannya nggak bisa pelan dikit?" tanya Milly dengan napas terengah. "Pak! Woy Bapak! Kalau ngambek jangan lama-lama, ini saya capek ngejarnya!"
Tak mendapat respon baik dari suaminya, membuat gadis pemilik bibir mungil itu merasa kesal, hingga menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah stand minuman segar. Menoleh tajam ke arah penjualnya, gadis itu lantas berucap, "Minuman satu Mbak. Tiba-tiba badan saya gerah nih. Yang cepet ya!" ucapnya sambil mengguncang kerah baju bagian depannya seolah benar-benar merasa kegerahan.
Tak lama kemudian, pesanannya pun sudah siap disajikan. Gadis bersurai hitam itu mengambil uang dari saku celananya lantas memberikannya pada penjaga stand itu. "Terima kasih ya Mbak, kembaliannya ambil aja." ucapnya saat menyodorkan, sebelum kemudian berlari dengan tergesa meninggalkan stand itu.
"Makasih ya Mbak, si Mbak baik banget pakai ngasih tip segala." puji penjaga stand dengan girang tanpa melihat dulu berapa jumlah uang yang kini ia genggam. Setelah sosok mungil Milly itu tak tampak lagi, barulah ia penasaran dengan jumlah tip yang ia terima.
Dengan perasaan harap-harap cemas, gadis yang mengenakan pakaian mirip dengan bungkus minuman yang dijualnya itu memberanikan diri membuka lipatan uang di tangannya. Seketika ia membelalakkan mata ketika mendapati sebuah kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. "Eh buset, gua dikerjain." gadis itu lantas mengangkat pandangannya ke arah terakhir kali Milly menghilang. "Woy Mabak! Duit Lo pas nih, kagak ada kembalian!" teriaknya begitu kencang, hingga membuat semua orang yang ada di sana seketika menoleh ke arahnya.
Gadis dengan rambut sebahu itu seketika membungkam mulutnya sendiri dengan jemari, matanya membelalak dan wajahnya seketika merona merah. Malu? Sudah pasti. Saat semua pasang mata tertuju hanya kepadanya. Mending kalau tatapan mereka penuh kekaguman seperti ketika mereka sedang melihat artis. Lah ini, bahkan ada sebagian di antara mereka yang nyinyir terhadapnya.
Sambil tersenyum kecut menahan malu, dengan sisa keberanian yang dimilikinya ia pun berucap, "Maaf sodara-sodara sekalian, saya tadi sedang mencoba spiker yang jebol. Maaf ya, maaf ...." Ucapnya sambil setengah membungkukkan badan berulang-ulang.
***
Milly yang kehilangan jejak sang suami pun tampak kebingungan mencari sosok jangkung nan tampan itu.
"Si Bapak kemana si? Padahal cuma sebentar aku tinggal beli minuman, eh udah ngilang aja kayak siluman." gumamnya pelan dengan mata yang celingukan mencari ke sembarang arah. "Astaga, susahnya nyari orang yang tak kasat mata. Benar-benar tidak terlihat." ucapnya masih sambil mencari-cari dengan pandangan.
Bahkan hingga Milly sudah berada di lobi pun batang hidung bangir suaminya itu masih juga belum kelihatan. Merasa lelah dalam upayanya melakukan pencarian, hampir-hampir saja Milly merasa putus asa. Menyerah, istri Billy pun memutuskan untuk berhenti berkeliling.
Berpapasan dengan seorang perempuan paruh baya, entah mengapa Milly merasa begitu ingin untuk bertanya. "Mau sekalian pamer juga ah, jarang lo perempuan yang punya suami tampan seperti dia." gumamnya pelan.
"Ibu, permisi dong mau nanya bentar." sapa Milly dengan sopan.
Wanita paruh baya itu tersenyum manis saat ada gadis cantik memanggil dan mendekat ke arahnya. "Iya Neng, ada apa?" tanyanya kemudian dengan sopan.
"Ibu lihat suami saya nggak? Orangnya tinggi, ganteng putih. Pakai jas hitam sama kaca mata hitam. Tingginya segini nih," Milly mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memperkirakan seberapa tinggi tubuh suaminya.
"Orang pakai jas dan kaca mata hitam mah banyak, Neng. Orang tinggi juga banyak. Memang suami Neng seperti apa?" tanya wanita bertubuh sedang dengan rambut yang dicepol rapi itu penasaran.
"Ya gitu, ganteng deh pokoknya." Jawab Milly asal, sebab enggan menjelaskannya secara detail.
"Ya ampun Mbak, orang ganteng juga banyak. Ada fotonya nggak?" Tanya wanita itu sambil tersenyum lebar dengan kedua alis yang terangkat. Membuat Milly menyipitkan mata penuh curiga. "Coba kasih lihat sini, barangkali tadi Ibu papasan di jalan."
"Bu, jangan ngeledek ya. Suami saya itu nggak pernah jalan kaki di jalanan. Kemana-mana dia selalu pakai mobil kok!" protes Milly dengan nada tak terima.
"Ye Mbak, kan saya bilang barangkali, bukan setiap kali! Sini kasih lihat fotonya, biar saya bisa bantu Eneng." Ucap wanita paruh baya itu sambil mengadahkan tangannya.
__ADS_1
"Ish ogah ...! Entar Ibu naksir suami saya, lagi!" papar Milly dengan nada penuh curiga, sambil membeliak dan bergerak mundur seolah sedang menciptakan jarak diantara merek.
"Tadi minta dibantuin! Giliran mau dibantu malah dicemburuin! Ni orang maunya apa sih?" gerutu wanita paruh baya itu kesal, lantas berlalu meninggalkan Milly sendirian di sana.
"Ye ,,, kenapa sewot." gumam Milly dengan pandangan mengawasi punggung wanita itu. "Kabur kan dia, sekarang mau nanya ke siapa lagi coba?" sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Milly bertanya pada dirinya sendiri setengah menggumam.
Melangkahkan kaki dengan santai keluar dari pusat perbelanjaan itu, Milly yang sesekali menyedot minumannya itu tak sengaja melihat seorang security tampak berjaga diarea luar. Mata bulat gadis itu berbinar senang, seolah mendapatkan makanan saat dirinya tengah lapar. Tak ingin buang waktu, ia pun bergegas menghampiri security itu.
"Pak permisi saya mau nanya," ucap Milly sedikit terengah setelah berlari maraton dengan jarak sepuluh meter.
Security itu menyambut Milly dengan senyuman, sebelum kemudian menjawabnya dengan sopan. "Iya, Nona. Mau tanya apa?" Tanya lelaki paruh baya itu kemudian.
"Bapak lihat suami saya nggak? Saya kehilangan dia wak--"
"Astaghfirullah, Innalilah ...yang sabar ya mbak, ikhlaskan." sahut pria itu cepat dengan wajah penuh iba sembari tangannya mengusap lembut puncak kepala Milly seperti seorang ayah kepada putrinya.
"Ish, Bapak sembarang deh! Saya cuma kehilangan jejak dia. Saya ketinggalan waktu saya beli minuman ini ...!" ujar Milly seraya menunjukkan minuman di tangannya.
Pria berpakaian putih dengan segala atributnya itu menurunkan pandangannya ke arah minuman di tangan Milly sebelum kemudian kembali menatap gadis itu penuh sesal. "Ya Allah Mbak, maaf sampai saya salah tanggap. Mbak juga sih, nggak ngomong dari awal." ucapnya kemudian setengah menyalahkan Milly.
"Ini saya lagi ngomong, Pak. Lagian si Bapak main sela aja, kan saya belum selesai ngomong." gerutu Milly dengan nada kesal.
"Iya, maaf deh Mbak. Saya yang salah." security itu memilih mengalah dan minta maaf, sebab ia malas berdebat. "Jadi apa yang bisa saya bantu?"
Pria itu sebelumnya tampak mendengarkan dengan seksama perkataan Milly, sebelum kemudian ia pun diam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Gimana Pak? Ada nggak?" Tanya Milly setengah mendesak.
"Wah kalau ciri-ciri seperti yang Mbak sebutkan itu sih banyak Mbak, bukan cuma suami Mbak aja yang kayak gitu." ucap lelaki itu dengan nada meragukan. Pria itu lantas menoleh ke arah lelaki yang sedang lalu lalang. "Itu orang pakai jas hitam. Yang di sana juga." Tunjuknya pula pada pria lain yang mengenakan jas hitam juga. "Mungkin suami Mbak adalah salah satu dari mereka?"
"Ish, bukan mereka Pak. Mereka udah ketuaan. Suami saya itu ganteng, masih muda pula." terang Milly dengan nada memprotes.
"Kalau gitu sini saya lihat fotonya. Barangkali saya pernah lihat dia." ucap lelaki itu sambil mengarahkan tangannya.
"Foto?" Tanya Milly setengah menggumam, sementara dahinya mengkerut menatap lelaki di depannya penuh selidik. Oh iya, dia kan laki-laki, nggak mungkin naksir juga sama Pak Billy. pikirnya dalam hati. "Oh iya, sebentar ya, Pak." ucapnya kemudian sambil tangannya bergerak mengambil ponsel dari dalam tas gendong mungilnya.
"Sebentar ya Pak, sabar ,,,." ujarnya dengan nada santai setelah ponsel di tangan. Jemari lentik itu lantas dengan lihai menggeser-geser layar ponselnya itu.
"Yang asli foto dia ya Mbak, jangan yang pakai filter, entar salah orang lagi ...." ucap pria itu memperingatkan namun dengan nada setengah meremehkan.
"Ye di Bapak, suami saya itu udah ganteng dari Sononya, jadi nggak perlu lagi pakai filter." Milly menjawab dengan nada kesal, tapi dengan tangan masih fokus pada gawainya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Milly yang semula sibuk mencari sesuatu di ponselnya pun seketika menghentikan kegiatannya ketika dirinya teringat akan sesuatu. Gadis mungil itu baru menyadari jika dia sama sekali tidak memiliki foto sang suami.
Pria paruh baya yang menangkap perubahan mimik wajah gadis itu pun menyipitkan matanya menatap Milly penuh curiga. "Kenapa mbak? Fotonya ada nggak?"
"Hehe maaf Pak, fotonya nggak ada." jawab Milly sambil tersenyum kecut.
"Kok nggak ada? Mbak nggak punya fotonya? Nggak punya foto suami sendiri? Mana ada istri yang nggak punya foto suaminya sendiri ...! Jangan-jangan Mbak cuma halusinasi ya? Ngaku-ngaku sudah punya suami ...?" cecar security itu dengan berbagai pertanyaan menyudutkan, sementara bibirnya menyunggingkan seringai penuh curiga.
"Bapak meremehkan saya? Saya beneran udah nikah dan punya suami kok." Milly yang merasa tersudut pun menunjukkan sikap tak terimanya.
"Buktinya mana? KTP, surat nikah, ada nggak?" tanya lelaki itu setengah menantang.
"Ada kok kalau cuma KTP doang mah." dengan wajah cemberut, Milly bergegas membuka tas guna mengambil KTP nya di sana. Namun saat dirinya teringat akan status masih lajang pada kartu identitas itu membuatnya mengurungkan niat dan menutup kembali tas mungil miliknya.
"Kok nggak jadi Mbak, kenapa?" tanya pria itu dengan wajah semakin curiga.
"KTP saya ketinggalan Pak, maaf ,,,." ucap Milly dengan tertunduk dan memasang wajah penuh sesal. Entah mengapa ia merasa seolah ada duri menancap di hatinya. Rasa nyeri yang tak kasat mata.
Nasipnya yang hanya dinikahi secara siri. Tak memiliki bukti apa-apa untuk memperkuat status pernikahannya di mata manusia. Pernikahannya pun tak di akui negara. Dan selalu dianggap sebelah mata.
Semangatnya yang semula menyala bagaikan api, kini meredup dan gelap bagai malam hari. Karena rasa bersalahnya tadi, ia bersikeras untuk mencari Billy. Barangkali saja dia masih ada di sini. Jejak sang suami yang tiba-tiba menghilang pergi benar-benar membuatnya frustasi.
Sebenarnya ia bisa saja kembali ke atas dan bergabung bersama teman-temannya lagi, namun ia lebih memilih untuk bersama sang suami walaupun entah apa yang akan terjadi nanti. Tak disangka, kejadiannya akan begini.
"Berarti benar kan ,,, Mbak nya belum nikah?" tanya security itu lagi dengan senyum meragukan tersungging di bibirnya.
Milly yang tertunduk pun seketika mengangkat pandangannya. Wajah murung itu hanya bisa tersenyum getir, meratapi nasip diri yang sudah bersuami namun seperti tak memiliki suami. "Iya Pak, saya memang masih sendiri." jawabnya kemudian dengan nada pasrah.
"Makanya Mbak, sekarang mendingan bersikap yang lurus-lurus aja Mbak, nggak usah kebawa-bawa teman. Nggak usah main prank-prank-an segala. Nyusahin orang loh Mbak ...." Dengan sopan, security memberikan nasihat. Berharap agar Milly tak mengulangi kejahilannya.
Sementara Milly yang sudah merasa kalah pun hanya mengangguk pasrah. Bersikeras ngeyel pun akan percuma, sebab dia tidak memiliki bukti yang nyata.
"Maafkan saya Pak," ucapnya pada lelaki di hadapannya itu dengan tulus. "Maaf sudah merepotkan Bapak."
"Nggak apa-apa ...." Balas pria paruh baya itu dengan senyuman tulus tersungging di bibirnya. Namun lelaki itu mendadak menggeser pandangannya ke arah belakang Milly dengan mata membelalak seolah sedang terkejut. Dengan sikap penuh hormat, ia pun segera membungkukkan badan sambil berucap, "Selamat datang, Tuan. Saya senang anda Sudi mampir kemari." ucapnya dengan nada seperti mengagungkan.
Milly yang menatap perubahan ekspresi pria itu hanya mengernyit bingung. Karena Didorong rasa penasaran, ia pun berbalik badan dan berniat melihat siapa yang berada di belakang. Gadis bersurai hitam itu membulatkan bola matanya dengan sempurna setelah melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
Pemuda dengan stelan jas rapi dengan postur menjulang tinggi. Ekspresinya yang datar dengan pembawaan yang tenang serta wajah tampan yang selalu menghipnotis siapapun yang memandang.
"B-Bapak??" panggilannya seolah tak percaya.
__ADS_1
Bersambung