
Mayang dan Malik serentak menoleh ke arah datangnya Ratih. Bersamaan, keduanya menyambut wanita paruh baya kesayangan mereka itu dengan senyuman.
Ekspresi Mayang dan Malik yang berubah drastis itu membuat Ratih yang tengah melangkah mendekat merasa aneh. Ditaruhnya nampan itu di atas meja dengan posisi tubuh setengah membungkuk, sementara matanya mangawasi menantu dan suaminya itu penuh curiga.
"Pada ngomongin apa sih?" tanyanya sembari membenamkan bokong di atas sofa empuk, mengambil posisi duduk di samping menantunya. Ditatapnya dua orang kesayangannya itu secara bergantian sebelum akhirnya berucap, "Sepertinya serius sekali. Tapi begitu Ibu datang tiba-tiba kalian diam. Hah ... Ibu jadi curiga." Desahnya sembari mengerucutkan bibir dan bertopang dagu.
Aksi menggemaskan wanita paruh baya ini mengundang gelak tawa Malik dan Mayang secara bersamaan. Merasa lucu saat wanita berusia lima puluh tahun itu bertingkah layaknya putri kecil yang sedak merajuk.
"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Ratih seraya mengalihkan kepalan tangan yang menyangga dagunya, menatap suami dan menantunya dengan penuh kemarahan. "Ibu ini sedang kesal ya! Bukannya malah menghibur, kalian justru menertawakan Ibu! Memangnya wajah Ibu ini lucu seperti badut?!" Sentaknya dengan ekspresi wajah yang tak bersahabat. Sementara sorot matanya tajam dan tak berkedip saat sedang berucap.
Kemarahan Ratih itu seketika membuat Mayang dan Malik menghentikan tawanya. Tak menyangka jika niat mereka bercanda ternyata membuat Ratih tersinggung dan terluka hatinya, sedangkan biasanya justru dia lah yang paling suka mencairkan suasana.
Perilaku tak biasa Ratih ini sontak saja membuat Malik dan Mayang terkejut tak menyangka. Keduanya saling melempar pandangan sebelum kemudian menatap Ratih dengan keheranan.
"Tuman!" Rutuk Ratih lagi masih dengan ekspresi kemarahan, membuat alis Mayang dan Malik bertaut semakin kebingungan.
Namun wajah Ratih yang semula tegang dan penuh amarah itu seketika luruh berganti dengan senyuman. Bibirnya yang terkatup rapat seolah tak sanggup lagi untuk menahan, hingga pertahanannya jebol dan tawanya pun meledak seketika.
Wanita paruh baya itu bahkan tertawa hingga menitikkan air mata, dengan wajahnya kian memerah. Seolah tak bisa mereda, ia semakin tergelak hingga tubuhnya setengah membungkuk sembari memegangi perut yang terasa kram akibat kebanyakan tertawa saat dua orang dihadapannya itu hanya tertegun bingung menatapnya.
"Kaget kan kalian melihat Ibu tiba-tiba marah?" tanya Ratih kemudian di sela tawanya. "Akhirnya prank Ibu berhasil, yes!" ucapnya kegirangan. "Hore ...! Ibu berhasil. Kalian kena Prank ...!" serunya bahagia dengan tawa renyah yang lolos dari bibirnya.
"Prank?!" Tanya Mayang dan Malik bersamaan dengan mata membelalak.
"Iya. Kalian tahu Prank itu apa, kan??" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tanpa rasa berdosa.
Malik menggelengkan kepala seolah tak percaya. "Astaga Sayang, kau mengerjai kami?!" geramnya sembari bangkit, lalu melangkah berpindah tempat dan duduk di sisi istrinya. Menatap Ratih dengan ekspresi kesal, ia pun berucap, "Kau tahu, kau telah membuat kami khawatir dengan tingkahmu yang seperti orang gila itu, kau tau?!" Imbuh lelaki paruh baya itu seraya mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas sebagai luapan luapan kekesalannya.
"Apa kau bilang?" Ratih menepis tangan suaminya dengan kesal. "Tega sekali kau mengatakan aku gila. Aku ini istrimu!" protesnya sembari mecebik sedih. "Sudah lama aku ingin melakukan ini. Kulihat di medsos banyak kok, orang yang nge-prank seperti ini. Tidak ada yang mengatakan mereka gila! Giliran aku ikut-ikutan, malah dibilang gila sama suamiku. Aku kan kesel!" ucapnya dengan nada dan mimik wajah sedih sembari menarik ingus di hidungnya yang kering, sementara tangannya bergerak mengusap mata yang tidak basah.
Seketika itu juga, ekspresi Malik pun melembut lalu mendesah pelan. Dengan memasang mimik wajah merasa bersalah, ia pun berucap, "Kemari Sayang," Malik lantas. menggerakkan tangannya merengkuh tubuh sang istri yang melemah kedalam pelukannya, sementara jemarinya mengusap sayang kepala istrinya. "Maaf Sayang, aku hanya bercanda tadi. Kenapa kau menanggapinya dengan serius begitu?"
"Kau mengatakan aku gila tadi? Bagaimana bisa aku menganggap ini hanya bercanda?!" Protes Ratih yang wajahnya masih terbenam di dada Malik dengan nada manja. Sementara tangan kirinya mencengkeram ujung kerah jas yang dikenakan Malik sebagai pegangan.
"Sepertinya kau salah dengar, Sayang. Maksudku kau bisa membuatku gila jika kau membuatku khawatir kepadamu." tutur Malik seraya tersenyum. Kepalanya pun menunduk untuk menatap wajah istrinya yang menyatu dengan dadanya.
"Bohong." Balas Ratih yang masih betah bersandar di dada suaminya.
"Lihat aku." Tangan Malik mengangkat dagu istrinya supaya mendongak menghadap kearahnya. "Tatap mataku, Sayang. Kapan aku pernah membohongimu." Bisik Malik dengan suara parau selagi dirinya menatap sang istri penuh kelembutan. Hal yang selalu Ratih suka saat Malik berusaha membujuk agar kemarahannya mereda. Hal yang selalu Ratih rindu saat mereka lama tak bertemu.
Wajar, hanya memiliki satu orang putra membuat Ratih merasa kesepian. Terlebih kini putra dan menantunya memilih tinggal dan membangun rumah tangga di rumah mereka sendiri, sehingga Ratih tak memiliki tempat bermanja lagi selain pada suaminya.
Perasaan Ratih pun seketika melembut menyadari betapa besarnya cinta sang suami kepadanya. Walau Malik tahu kemarahan dirinya hanyalah gurauan semata, namun lelaki yang begitu mencintainya ini tetap membujuknya dengan penuh cinta. Meski kekesalan tampak tersirat dari matanya, namun ia rela melupakan demi kebahagiaan istrinya.
Menangkup dua sisi pipi suaminya, Ratih lantas menghadiahi kecupan lembut di bibir Malik dengan penuh cinta. "Aku mencintaimu, Sayang." Tutur Ratih lembut setengah berbisik.
"Ayah, Ibu. Tidakkah kau kasihan padaku?"
__ADS_1
Suara Mayang yang terdengar memohon seketika membuat kedua manusia yang sedang bergulung dalam kemesraan itu membelalak seolah tersadar jika ada orang lain di antara mereka.
"Sayang, kenapa kita sampai lupa kalau ada menantu kita di sini." Bisik Ratih pada Malik geram sambil mencubit perut suaminya itu.
Dengan cepat Ratih melepaskan pelukan suaminya dan memutar tubuh menghadap ke arah menantunya. "Iya, kenapa Sayang?" Tanyanya kemudian dengan nada canggung.
"Tega sekali Ayah dan Ibu bermesraan di depanku tanpa tahu malu, kalian menodai kepolosanku ...!" Balas Mayang dengan nada sedih.
Tergelak, bukannya ikut merasa sedih, Ratih justru terpingkal mendengar keluhan menantunya. "Polos kau bilang? Katakan pada Ibu polosnya di mana kalau kau saja sampai hamil begini Mayang?! Hahaha ,,, ada-ada saja kau ini."
"Ibu tega sekali padaku," ucap Mayang dengan memasang mimik wajah sedih. "Huaaa ... suamiku ... aku rindu pelukanmu ...!"
***
Brian yang baru turun dari mobil langsung bisa menebak saat sebuah mobil mewah yang sudah tak asing baginya tampak asik nangkring terparkir halaman rumahnya.
Dengan tergesa ia melangkah memasuki rumah dengan tanda tanya besar memenuhi kepalanya. Mengabaikan Kuswara dan para pelayan yang menyambut dan menyapanya, ia berlalu begitu saja.
Lantai atas yang Brian tuju, di mana terdapat ruang leluarga yang nyaman di gunakan untuk bersantai selain di kamarnya yang tentunya menjadi tempat kesukaannya bersama sang istri.
Ratih yang pertama menyadari kedatangan putranya segera melemparkan senyum guna memberikan sambutan. "Sayang, kamu sudah pulang?" tanyanya kemudian.
Brian yang semula berdiri di ambang pintu pun melangkah ringan mendekati sang ibu. Diraihnya jemari sang ibu lantas mencium punggung tangan wanita yang melahirkannya itu dengan kasih sayang.
"Sejak kapan Ayah dan Ibu berada di sini?" Tanya Brian penasaran selagi menatap ibunya. Brian lantas bergeser menatap sang ayah dan kemudian mencium punggung tangannya pula.
"Iya ,,," Malik menjawab pelan sembari menganggukkan kepalanya.
Melirik Mayang yang ternyata juga sedang menatapnya, Brian lantas menghampiri istrinya itu yang duduk sendiri di sofa panjang yang terletak di seberang orang tuanya.
Setengah membungkuk, dikecupnya dengan lembut puncak kepala sang istri sebelum akhirnya duduk di sisinya dan merengkuh tubuh Mayang agar lebih merapat kepadanya lantas merangkulnya. "Kau baik-baik saja Sayang?" tanyanya kemudian dengan suara begitu lembut menenteramkan, sementara pandangannya lekat menatap sang istri begitu menghanyutkan.
"Baik Sayang," balas Mayang tak kalah lembut, dengan dibubuhi senyuman yang meyakinkan.
Meremas lembut bahu istrinya, pandangan Brian lantas beralih pada kedua orang tuanya. "Tumben Ibu dan Ayah kemari tanpa mengabariku?" tanyanya kemudian setengah menyelidik.
"Kenapa harus mengatakannya padamu? Ibu kan rindunya pada istrimu." Tandas Ratih dengan nada ringan sambil bersedekap dada. "Lagipula Ibu juga bingung padamu, kenapa sebegitunya kau menyembunyikan istrimu dari dunia luar. Dia juga jalan-jalan dan menyegarkan pikiran, Brian ...!"
"Iya Bu, aku tahu. Tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk membawa dia keluar rumah Bu, istriku sedang dalam proses pemulihan rahimnya. Mayang tidak boleh kelelahan untuk sementara ini." Ucap Brian mencoba menjelaskan sembari menoleh dan tersenyum pada istrinya. Meskipun sebenarnya bukanlah itu alasannya.
Menatap Brian dengan lekat, dalam hati Mayang pun berucap, Sayang, inilah alasanku menerima kerja sama dengan polisi untuk mengungkap kejahatan Alex dan sekutunya. Aku ingin hidupku bebas dari segala bahaya yang mengancam. Aku ingin membebaskanmu dari segala ketakutan. Aku ingin keluarga kita merasakan kebahagiaan yang seutuhnya, tanpa menghantui ketakutan. Tapi kenapa kau tak mau mengerti?
"Apa Ayah dan Ibu mau menginap juga?" tanya Brian yang sebenarnya ingin mengalihkan topik pembicaraan.
Saling melempar pandangan, Ratih dan Malik yang sama-sama menyandarkan punggung pada sandaran sofa seolah belum terpikirkan akan hal itu.
"Bagaimana?" Tanya Ratih pada suaminya meminta ketegasan.
__ADS_1
"Sepertinya untuk malam ini tidak bisa. Ada pekerjaan di rumah yang belum Ayah selesaikan." Sambil menatap istrinya, Malik berucap penuh keyakinan.
"Pekerjaan apa? Cuci piring??" Goda Ratih dengan nada gurauan yang kemudian mengundang gelak tawa Brian, Mayang dan Malik secara bersamaan.
"Pasti hanya alasan Ayah saja kan, pasti Ayah hanya ingin berduaan dengan Ibu saja tanpa ada gangguan dari anaknya." tebak Mayang asal namun dengan nada gurauan. Membuat yang ada di situ lagi-lagi tertawa bersamaan.
"Makan malam yuk," ajak Ratih sembari bangkit dari duduknya."Ibu tadi myempetin waktu buat masak makanan kesukaan kamu bareng istrimu loh." tuturnya bangga sembari melempar senyum kepada menantunya. Sementara Mayang hanya tersenyum kaku saat Brian tiba-tiba menatapnya seolah ingin memastikan.
"Kau ke dapur untuk masak, Sayang?" setelah diam untuk beberapa saat, pada akhinya Brian memutuskan untuk bertanya. Sebab Brian memang melarang sang istri memasak untuk makanannya sendiri setelah ia memergoki sang istri makan makanan penuh cabai hasil masakannya sendiri setelah hamil.
"A-aku hanya menemani Ibu saja, Sayang. Ibu yang memasak semuanya untuk kita. Bahkan menu makanannya tidak ada yang pedas. Benar kan, Bu." Mayang menatap Ratih untuk meminta persetujuan.
Ratih mengernyitkan kening saat beradu tatap dengan Mayang, lantas wanita paruh baya itu pun berucap? "Benar Brian, istrimu bilang dia bosan duduk terus, makanya ibu ajak masak." Timpal Ratih seolah mengerti maksud dari tatapan menantunya. "Apa kamu keberatan?" tanya Ratih setelah melihat keraguan di mata putranya.
Menggeleng samar sembari tersenyum, Brian pun berucap, "Tidak Bu, justru aku senang kalau istriku mulai beraktifitas lagi. Itu tandanya istriku sudah benar-benar sehat."
"Istrimu sudah sehat Brian, jadi tak ada yang perlu kau khawatirkan." tutur Ratih pelan yang seketika berhasil meluruhkan kekhawatiran di hati Brian terhadap Mayang.
***
Usai makan malam bersama, Malik dan Ratih latas berpamitan untuk pulang. Mengantar kedua orang tuanya hingga ke depan mobil, Brian masih merangkul sang istri dengan mesra seolah tak ingin melepasnya.
"Benar Ayah dan Ibu tak mau menginap barang semalam di sini?" Mayang bertanya berusaha memastikan lagi.
"Malam ini benar-benar tidak bisa Sayang, mungkin nanti lain waktu ya ,,,," Jawab Ratih pelan dengan nada menyesal sembari menatap putra dan memantunya bergantian. Tangan kanannya lantas bergerak mengusap perut sang menantu dengan lembut. "Kamu hati-hati selalu ya, Sayang. Jaga diri dan bayi kamu dengan baik." Tatapan Ratih lantas beralih pada Brian. "Jaga istrimu dengan baik ya." Ucapnya tegas yang di tujukan pada putranya. "Jangan nakal. Kalau nakal nggak dapat jatah nanti kamu."
"Sudah lama kali Bu nggak dapat jatahnya." jawab Brian enteng sambil mengalihkan pandangannya. Mayang yang membelalak tak menyangka suaminya akan menjawab seperti itu dengan cepat menarik permukaan kulit perut Brian yang di lapisi kemeja putih. "Aoww!" Pekiknya kesakitan hingga membeliak. "Apa sih Sayang cubit-cubit. Sakit tahu." Keluhnya sembari mengusap perut sixpack nya yang terasa nyeri.
"Yang nyubit juga siapa, Sayang. Aku cuma merangkulmu seperti ini loh," tutur Mayang sembari melingkarkan tangannya di pinggang Brian.
"Bohong, orang tadi kamu nyubit kok." keukeh Brian tak terima. Kepalanya tertunduk sementara matanya menatap lekat sang istri penuh ancaman.
"Sudah, jangan ribut. Apa kalian sengaja pakai cara ini untuk menahan Ayah dan Ibu pulang?" sela Ratih menengahi.
"Bukan Bu, itu tidak benar. Menantu Ibu ini yang sebenarnya nakal." Sahut Brian seolah masih tak terima.
"Diam!" Sentak Ratih yang seketika membuat Brian mengatupkan bibirnya. "Ibu mau pamit sama cucu Ibu dulu." Ratih lantas membungkukkan tubuhnya. Tangannya bergerak mengusap perut Mayang. "Nenek pulang dulu ya Cu, nanti kalau kamu sudah lahir, nenek akan sering-sering main dan menginap di sini." Ucapnya seolah sedang bicara pada anak kecil saja.
Wanita yang mengenakan gaun malam berwarna pastel itu menegakkan tubuhnya dan mengarahkan pandangannya pada Brian. "Kau bisa atur waktu untuk makan malam di rumah Ayah bersama Billy dan istrinya kan?" tanyanya setengah memberi perintah.
"Kapan Bu?" Brian yang setengah terkejut lantas bertanya karena tak mengerti.
"Kebiasaan tidak mendengarkan Ibu ya," ucap Ratih sembari mencubit perutnya, yang lagi-lagi membuat Brian memekik sakit. "Kalau Ibu minta kau atur waktu ya berarti terserah kamu. Gimana si, masih nggak ngerti." Desahnya kesal.
"Iya Bu, Brian ngerti. Tapi jangan cubit-cubit di perut lah, aku bukan anak kecil lagi ...! Ini juga." tutur Brian sambil mengeratkan rangkulannya pada Mayang dengan tatapan penuh ancaman.
"Ibu ... tolong aku ...!" rengek Mayang dengan nada memohon dan membuat Ratih memutar bola mata malas.
__ADS_1
Bersambung