
Hari-hari Alex kini dilewati dengan hangat dan penuh cinta bersama Lena dalam kebahagiaan. Masa-masa pacaran yang baru seumur jagung itu hanya menampilkan kemesraan keduanya.
Layaknya pasangan kekasih pada umumnya, keduanya pun sering melewati waktu kebersamaan mereka dengan berkencan atau sekedar jalan-jalan ringan. Lena bahkan menerima keadaan Alex apa adanya meski saat itu Alex baru merintis perusahaannya miliknya sendiri.
Sore itu, usai melewati makan siang bersama di sebuah restoran, Alex pun segera mengantarkan Lena pulang sebelum ia melanjutkan kembali pekerjaannya.
Mobil sudah berhenti di halaman rumah Lena, nsmun gadis itu terlihat enggan untuk turun. "Tidak mampir dulu?" Tanya Lena pada Alex sembari menatap wajah kekasihnya itu lekat-lekat dengan setengah memohon. Gadis yang mengenakan dres berwarna merah tanpa lengan dengan panjang selutut itu tampak cantik dengan tatanan rambut yang dicepol.
Sambil menatap Lena dengan wajah menyesal Alex pun berucap. "Aku buru-buru Sayang. Tolong sampaikan saja salam ku untuk Ayah mu ya," Alex membelai lembut pipi Lena. "Aku harus kembali bekerja sekarang. Maafkan aku," ucapnya memohon.
Mengalihkan pandangan, Lena pun hanya mendesah pelan. Sesaat gadis itu pun merenung sembari jemarinya yang saling bertautan. Namun sesaat kemudian sebuah senyuman pun tampak tersungging dari lengkung bibir merah jambunya.
"Baiklah Sayang, aku tidak akan memaksa. Aku tahu kau sangat sibuk, dan seharusnya sebagai seoarang kekasih aku mendukungmu dan memberi semangat padamu, bukan malah membuatmu bimbang dengan memaksakan kehendakku padamu. Maafkan aku," ucap Lena tulus dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Sayang, kau tidak salah. Aku yang tidak berguna. Di saat kau membutuhkanku, tapi aku malah mengabaikan dan membuat mu kecewa."
"Sudahlah Sayang, itu tidak benar." dengan nada kesal, Lena memcebik. Tangannya lantas bergerak berusaha melepas sabuk pengaman yang membelenggu tubuhnya. "Hati-hati do kalan ya Sayang, Aku masuk dulu ya," ucapnya sembari tersenyum. Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Alex sebelum gadis itu turun dari mobil dengan wajah yang merona malu. Dan sontak saja hal itu membuat wajah Alex berbinar senang. Lantas dengan perasaan lega Alex pun berpamitan.
Sambil tersenyum, gadis itu melambaikan tangan saat mobil Alex meninggalkan halaman rumahnya. Hingga mobil Alex tak lagi nampak, Lena masih terpaku di tempatnya.
"Kau sudah pulang Sayang," Hans yang sedang duduk di ruang tengah pun menyambut kedatangan putrinya dengan senyuman.
"Hai Ayah," Lena melabuhkan tubuhnya pada sofa empuk di samping sang Ayah. Lantas tangan rampingnya itu dengan gemulai merangkul tubuh sang Ayah dan membenamkan wajahnya disana.
"Kau terlihat bahagia sekali Sayang," ucap Hans saat menatap dua bola mata berbinar milik putrinya. Tangannya pun bergerak mengusap rambut sang putri dengan lembut.
"Ya, aku bahagia. Alex memberi ku banyak cinta." Lena menjawab pertanyaan sang Ayah dengan nada ringan. Sementara jari telunjuknya bermain menekan-nekan perut Ayahnya.
"Apa Alex bisa meluangkan waktunya untuk pergi bersama kita nanti malam?
Lena mendongak menatap sang Ayah penuh penyesalan. "Maaf Ayah, Alex tidak bisa mengundur waktu pertemuannya dengan Klien nya di luar kota. Aku tidak bisa memaksa Ayah, sebab ini kesempatan bagus untuk Alex. Dia begitu berharap pertemuan ini akan mencapai keberhasilan."
"Tak apa. Asal kau pastikan kau akan ikut bersama kami."
__ADS_1
"Tidak Ayah, aku malas. Tanpa pasangan aku akan terlihat sendirian di sana. Lagi pula aku tidak mengenal salah satu dari mempelainya. Jadi aku ingin di rumah saja ya," dengan menunjukkan senyum manisnya, Lena mencoba membujuk sang Ayah.
Mendendengar sang putri berbicara dengan nada memohon membuat Hans tersenyum seolah mengiyakan keinginan sang putri. Namun di detik lain senyuman itu berganti dengan wajah garang penuh tuntutan. "Ti-dak! Ayah ingin kau ikut, jadi kau harus ikut. Fix."
"Ayah ,,,!" wajah Lena yang semula sudah menampilkan senyumannya mendadak geram sembari menatap sebal pada Ayahnya. "Kenapa Ayah suka sekali memaksa?!"
"Ayolah Sayang, kau terlalu lama di luar megeri sehingga tak memiliki teman. Datanglah bersama Ayah ke pesta itu, Ayah yakin kau akan mendapatkan pengalaman baru disana."
Tanpa bisa menolak, Lena pun terpaksa menyetujui keinginan sang Ayah. Bersama kedua orang tuanya, Lena pun berangkat menuju pesta dengan penampilan teebaiknya sesuai dengan keinginan sang Ayah.
Pesta yang mewah dan meriah nyatanya tak bisa membuat Lena merasa nyaman dan senang berada di sana. Gadis itu terlihat murung saat duduk di sebuah kursi dengan tangan menyangga dagunya. Terlihat tak menikmati pesta, gadis itu hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya.
Sedang tak jauh dari tempat Lena duduk disana, menampilkan Hans beserta istri yang tampak tengah berbahagia sembari memeluk hangat seseorang yang ia temui di tengah pesta.
"Malik, apa kabar teman?" Hans menepuk pundak Malik saat menyapanya dengan hangat.
"Alhamdulillah baik," Malik tersenyum. "Kau sendiri?"
Para istri pun saling berpelukan sembari menyapa. Saling bertanya kabar, mengingat mereka memang akhir-akhir ini jarang sekali berjumpa. Tentunya Terkendala oleh kesibukan masing-masing.
"Apa ini Brian??" Istri Hans menatap takjup pada lelaki muda yang tampak gagah dengan penampilannya yang tampak sempurna.
"Benar tante." Brian mengangguk sopan sambil tersenyum. Pria yang tampak rapi dengan stelan jas berwarna navy dan penataan rambutnya yang dilengkapi dengan pommade membuatnya sangat terlihat menawan.
"Kau sangat tampan sekali." Puji istri Hans dengan pandangan mata yang berbinar. "Selama ini aku hanya bisa membayangkan wajahmu melalui cerita dari suamiku, tapi ternyata kau melebihi dari yang ku bayangkan."
"Ah Tante terlalu berlebihan memuji saya." sangkal Brian dengan nada merendah.
"Ini putra kami satu-satunya Jeng," Ratih menyela sembari merangkul lengan kekar putranya. "Tuhan tidak memberi kepercayaan kepada kami untuk menambah momongan lagi."
"Sama kita Jeng, saya juga cuma memiliki seorang putri." Istri Hans tersenyum lebar. "Namanya Lena."
"Terus mana Lena nya Jeng?" Ratih bertanya sambil celingukan mencari ke sekeliling dengan pandangan. Sebab Hans beserta istri tak nampak bersama seseorang gadis disamping mereka.
__ADS_1
"Itu," Istri Hans menunjuk kearah seorang gadis yang sedang duduk seorang diri sembari menyangga dagu dengan posisi membelakangi mereka. Secara serentak pandangan mereka pun terarah pada punggung gadis itu.
"Sendirian saja Lena nya Jeng?" Ratih bertanya penasaran.
"Iya Jeng, dia belum lama baru pulang dari luar negeri, jadi tidak memiliki banyak teman. Maklum, dia gadis pemalu." sambil tersenyum sang ibu pun menjelaskan.
"Benar Malik, dia datang kemari juga atas paksaan kami. Dia lebih suka berdiam diri di rumah dari pada datang ke pesta." Hans pula menimpali.
"Wah luar biasa. Zaman sekarang jarang sekali loh Jeng ada gadis yang seperti itu." Ratih menunjukkan reaksinya yang penuh kekaguman.
Lantas ia menggeser pandangannya, dan diliriknya sang putra yang berada di sampingnya. Sementara yang di tatap hanya mengernyit tak mengerti. "Brian, temani Lena Sayang. Berkenalan lah dengannya dan jadi lah temannya." Ratih pun berucap dengan nada memerintah.
Brian tersenyum tulus. "Iya bu, aku akan ajak Lena mengobrol."
"Terima kasih ya Nak Brian." istri Hans mengusap lembut bahu pemuda itu dengan tatapan penuh kekaguman.
"Tak perlu berterima kasih Tante, saya kan tidak memberi apapun terhadap Tante," Brian berbicara dengan nada bergurau dengan senyum ramah yang sekalu tersungging di bibirnya. Memang apa lagi yang bisa ia perbuat selain itu? Karena dengan bersikap sopan dan ramah lah cara yang baik untuk menghargai orang yang lebih tua.
"Kamu humoris juga rupanya." terkekeh, istri Hans menepuk bahu Brian dengan gemas.
"Saya permisi dulu semuanya," ucap Brian memohon diri pamit, lantas melangkah dengan santai kearah meja dimana Kena sedang duduk di sana. Dengan tersenyum, empat orang paruh baya itu tampak mengawasi langkah Brian dengan senyuman penuh harap.
Berdiri mengawasi dari samping, Brian menatap gadis yang tampak sedang merenung itu untuk beberapa detik sebelum akhirnya menyapa. "Permisi, boleh ikut gabung duduk di sini?" Dengan sopan Brian pun bertanya.
Gadis itu nampak terkejut dan kemudian menggerakkan lehernya menoleh kearah sumber suara. Mendongak, Lena menatap pemuda tampan yang tengah berdiri dan menatapnya dengan senyuman hangat. Namun sedetik kemudian, lelaki itu tampak terkejut begitu mereka saling bersitatap.
Lena mengernyitkan alisnya, menatap bingung pada lelaki yang baru pertama kali ia jumpai. Lantas pandangannya beralih pada dirinya sendiri. Memperhatikan penampilannya, Lena merasa tak ada yang salah dari dirinya sebab ia sudah memastikan penampilannya sangat baik sebelum ia memasuki tempat ini. Lantas apa yang membuat lelaki pemuda ini seterkejut itu?
"Maaf, apa ada yang salah dengan penampilan saya?" Lena memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa kita pernah bertemu?" Brian pun bertanya tanpa basa-basi masih dengan ekspresi wajahnya yang terkejut. Ia menatap Lena Dengan ekspresi penuh harap, menunggu gadis itu berbicara.
Bersambung
__ADS_1