Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Untung teman


__ADS_3

Mengekori Ina yang telah lebih dulu berjalan di depannnya, Milly pun tanpa segan mengikuti sahabatnya yang langsung masuk ke dalam kamar. Tak canggung, ia lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan nyaman.


"Woy, ngapain tiduran sih? Bukannya mau belajar dandan buat persiapan entar malam?!" Sambil berkacak pinggang, Ina pun menggeleng memperhatikan kelakuan sahabat mungilnya itu keheranan. "Ck ck ck, dasar ya. Masih pagi juga, udah mau molor aja!" Decaknya saat Milly justru tersenyum sembari memejamkan mata.


"Ngantuk gua." Milly menjawab santai sambil memeluk bantal guling yang berada di sisinya.


"Busyet ini bocah, ya!" Kesal, Ina lantas bergerak mengangkat satu kakinya duduk di bibir ranjang, sementara tangannya merebut bantal guling dalam dekapan Milly dan mengamankan di belakang tubuhnya. "Bangun kagak!" Bentaknya dengan intonasi suara keras.


Milly yang merasa terusik lantas mengerutkan kening karena kesal kehilangan benda dipelukannya. Membuka matanya dengan malas, ia pun berucap. "Ina, kembalikan bantal guling itu padaku!"


"Tidak!" Bantah Ina sembari menepis tangan Milly yang berusaha merebut guling di belakangnya.


Tak berhasil dalam upayanya, Milly akhirnya bangkit dan duduk dihadapan Ina sambil menyebik kesal. "Kenapa kau mengusik ketenanganku? Tidak bisakah kau biarkan aku tidur sebentar saja."


Pletakkk! Sentilan tangan Ina berhasil membuat Milly memekik kesakitan. "Ya Allah, kenapa kau jitak aku pula!" Protesnya sambil mengusap dahinya.


"Biar Lo nya sadar!" tegas Ina dengan mata mendelik geram.


"Lihat aku." Milly menyibak rambutnya ke belakang dan menunjukkan wajahnya pada Ina. "Aku ini masih waras, Ina! Aku tidak hilang kesadaran ...!" papar Milly dengan penuh penekanan.


"Iya, gua tau. Tapi bisa nggak sih Lo fokus sama rencana semula? Udah bagus gue mau bantui. Bukannya bersemangat, lo malah enak-enakan tidur!"


"Acaranya juga masih entar malam, Na ...! Nyantai dulu bentar ngapa."


"Oke deh, terserah Lo aja." Ina pun akhirnya menyerah.


"Nah, gitu dong." Berhasil, Milly pun tersenyum puas sebelum akhirnya kembali merebahkan tubuhnya.


Eh, ini kenapa seperti dia si tuan rumah saja? Batin Ina.


"Woy ... siapa yang nyuruh lo tidur?" Ina mengguncang tubuh Milly yang berbaring miring membelakanginya. "Gue nggak kasih izin lo tidur!"


"Memang Lo siapa berani larang gue tidur." Bersikap acuh, Milly mengabaikan Ina yang dengan sengaja mengganggunya.


"Gue tuan rumah di sini! Mau apa Lo?!"


Milly yang semula memejamkan matanya acuh, lantas mendelik begitu Mendengar perkataan Ina. Bangkit dan kemudian duduk, gadis mungil itu lantas tersenyum masam merasa tersentil mendengar sindiran Ina.


"Hehe iya, gue lupa." cengir Milly sambil nenggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. "Saking nyamannya kontrakan Lo Na, jadi berasa kayak di rumah sendiri."


"Nggak ada akhlak Lo!"


"Biarin. Lo kan sahabat gue."


"Terserah ya, yang penting sekarang buruan Lo ceritain ke gue gimana caranya Lo bisa nikah siri sama si Babang ganteng itu?!" Bertopang dagu, Ina terlihat antusias menunggu Milly bercerita.

__ADS_1


"Aaa, tapi aku lapar ..., bisakah kau buatkan aku mie instan dulu?" pinta Milly dengan memasang wajah memelas.


"Apa kau bilang?" Ina membelalak tak percaya. "Siapa kau, berani menyuruhku?"


"Bukankah kau minta aku untuk bercerita? Ceritanya sangat panjang, aku butuh tenaga untuk melakukannya. Nah kalau tidak ada tenaga, bagaimana aku akan bercerita?"


"Hadeehh ...," Ina memutar bola mata malas. "Iya-iya. Tunggu bentar gue bikinin. Yang penting habis ini Lo cerita." ujarnya dengan nada terpaksa, lalu bangkit dari duduknya.


"Jangan lupa tambahkan telur juga ya." Pesan Milly sambil mengekori langkah Ina dengan pandangannya, lantas mengatupkan bibir menahan tawa.


Mendengar perkataan Milly, Ina pun menghentikan langkah secara tiba-tiba. "Eh tunggu deh, kok gue merasa sedang diperbudak di rumah gue sendiri ya." Gumamnya pelan lantas menoleh cepat ke arah Milly dan menatap gadis yang tengah duduk bersila di atas ranjangnya itu dengan sinis.


"Apa? Katanya kau ingin dengar cerita?" tanya Milly dengan memasang wajah polos tanpa dosa, dengan nada mengingatkan.


"Busyet, makin ngelunjak ya! Untung teman." Celetuk Ina lalu melangkah meninggalkan Milly.


"Kalau bukan teman lantas Lo mau apa?!" tanya Milly setengah berteriak pada Ina yang sudah tidak nampak.


"Gua rebus, campur sama mie instan!" Ina pula menjawabnya dengan berteriak dari dapur yang hanya dibatasi oleh dinding penyekat.


Milly pun seketika terkesiap ngeri sembari membungkam mulutnya rapat dengan jemarinya. "Gila, sadis amat!"


Tak lama kemudian, Ina pun datang dengan mangkuk berisi mi kuah lengkap dengan telurnya. Melebarkan senyum tanpa dosa,


Milly pun menyambut kedatangan Ina dengan begitu antusias. Diterimanya mangkuk panas itu dari tangan Ina.


Menyusul Milly naik ke atas ranjang, Ina pun duduk bersila dengan tangan bertopang dagu. Menatap Milly dengan antusias, seolah siap menjadi pendengar yang baik. "Sekarang buruan cerita."


"Bentar lah, makan dulu gua. Laper banget ini ...!" jawab Milly enteng sembari tangannya bergerak mengaduk-aduk mie panas itu.


Menggaruk kepalanya kasar, Ina benar-benar merasa frustasi. Menggemertakkan gigi, ia menatap jengkel pada Milly yang tengah menyantap mie instan itu dengan penuh kenikmatan.


Bertopang dagu sambil menatap sahabatnya itu lelah, Ina lantas bertanya, "Waktu hamil dulu emak Lo ngidam apaan si?"


"Mana gua tau!" Milly menjawab cepat tanpa menatap lawannya bicara dengan mulut penuh makanan.


"Pasti menderita banget dia, gue jadi iba."


"Iba kenapa? Emak gue baik-baik aja, menderita dari mana?"


"Menderita punya anak kaya E-lu!" geram Ina sambil menjitak keras jidat Milly.


"Aaaa sakit!" Lagi-lagi Milly dibuat berteriak memekik kesakitan. Mengusap dengan pelan dahinya yang terasa nyeri, ia lantas berkata. "Ini pasti lebam. Bayar denda atas kejahatan yang udah Lo buat!" todong Milly sambil menadahkan tangannya.


"Matre Lo! Sama teman sendiri minta denda. Kurang baik apa aku in, coba! Di perbudak oleh tamuku sendiri.

__ADS_1


"Lo kan tau gua miskin. Sedekah dikit lah biar pahala Lo nambah."


"Ogah gua sedekah sama Lo."


Bertopang dagu dengan siku bertumpu pada bantal di pangkuannya, Ina hanya terdiam memperhatikan Milly yang sedang menyantap makanannya. Sembari sesekali menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Lo habis nyangkul, ya?"


Menghentikan aktivitas mengunyahnya, Milly lantas mengangkat pandangannya menatap Milly bertanya-tanya. "Kenapa? Gue rakus ya?"


"Lo kelaparan." Ina menjawab singkat karena melihat cara Milly menghabiskan semangkuk mie dengan waktu singkat.


"Lo nggak tau aja, orang kalau makannya cepat, berarti kerjanya juga cepat." jawab


Milly lugas, lalu menteruput sisa kuah di mangkuk. Meraih tisu yang berada di atas nakas, ia. menggunakannya untuk mengusap mulut. "Alhamdulillah kenyang ...!" ucapnya sambil tersenyum lebar, sementara tangannya bergerak mengusap perut yang sedikit melar.


Sudah hampir menyodorkan mangkuk kosong itu pada Ina, namun hal itu urung ia lakukan sebab sang sahabat sudah lebih dulu mendelik padanya.


"Haha iya-iya, aku akan cuci sendiri piringnya." gelaknya sambil bangkit dari duduk, dan melangkah menuju dapur.


Sambil mengusapkan sabun pada mangkuk kotor bekas dirinya makan tadi, Milly pun bersenandung. "Ibu tiri, hanya cinta, kepada, ayahku saja ... selagi ayah, di sampingku, ku dipuja dan di manja, tapi bila, ayah pergi, ku disiksa dan di caci, sebagai anak tak berbakti, tiada menghirauku lagi, aduuuuhhh!" pekiknya saat telinga kanannya terasa di tarik dari belakang. Menoleh, pandangannya pun bertemu dengan Ina yang sedang melotot padanya. "Kenapa gue di jewer? Salah gue apa?"


"Apa Lo! Lo ngatain gua jahat kaya ibu tiri, mentang-mentang gua suruh nyuci mangkuk bekas makan Lo sendiri?! Nggak ada akhlak Lo!"


Milly tersenyum masam mendengar perkataan Ina. Baru tersadar, niatnya bernyanyi untuk menghibur diri, justru membuat telinganya sakit larena ditarik.


Jelas saja Ina marah, setelah Milly kenyang bukannya berterima kasih, ia justru bernyanyi dengan nada dan mimik wajah sedih.


Nyengir sambil mengusap telinganya yanh memerah, ia pun berucap dengan malu-malu. "Hehe maaf, gua salah lagu."


Dasar Milly, sudah tau perutnya kenyang, masih juga ngintip-ngintip tempat penyimpanan makanan milik Ina di ruang makan. Matanya membelalak melihat yang tersaji di sana.


"Na, ini kok ada rendang daging?!" Tanyanya setengah berteriak, sebab Ina sedang berada di kamarnya.


"Emang ada," jawaban Ina terdengar santai.


"Lah kok ngak ngasih tau aku."


"Lah emang kamu kapan nanya?"


"Ya kalau ada rendang ngapain lu ngasih gua mie instan?!" Milly terduduk lemas sambil memanyunkan bibirnya kesal.


"Lah, Lu kan mintanya mie instan. Ya gua bikinin dong, gua kurang baik apa coba?" Ina yang bersandar pada bingkai pintu sambil bersedekap dada pun tersenyum lebar penuh kepuasan.


"Aaaa gua pingin rendang ...!"

__ADS_1


"Ya makan lah, susah amat!"


"Huaaa ...! Perut gue udah nggak muat ...!"


__ADS_2