
"Saya harap Bapak tidak salah paham. Saya membencinya hingga ke tulang-tulang, jadi mana mungkin hati saya menaruh iba." Milly menjawab dengan tegas dan hal itu sukses membuat Billy tersenyum senang.
"Bagus. Kalau begitu tunjukkan pada dia jika kini hidupmu bahagia dengan memiliki pendamping hidup seperti aku," bisik Billy sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Milly. Gadis itu tersentak, dan langsung menatap Billy yang tengah menyeringai itu dengan ekspresi tak percaya.
Milly tercekat. Ia menelan ludahnya susah payah. Ia bukanlah gadis bodoh yang bahkan tak mengerti arti dari kedipan nakal suami sirinya. Akan tetapi, bisakah ia berpura-pura mesra dengan orang yang begitu diseganinya? Ya, meskipun Billy adalah suaminya.
Billy mendesah pelan. Melihat Milly yang hanya memaku tubuh, ia mulai tak sabaran. Gegas ia mencium pipi mulus sang istri tanpa menunggu persetujuan sang empunya.
Melihat Milly yang terkejut hingga membulatkan bola mata ia hanya tersenyum tipis, lantas membenamkan kepala Milly ke dadanya dan mengarahkan pandangan pada Ibra yang sejak tadi memperhatikannya.
Ibra sontak menundukkan kepala demi menghindari tatapan mata dengan suami dari gadis yang pernah menjadi obsesinya. Perasaan tegang yang sempat beberapa saat sempat tenang kini kembali menegang. Tubuhnya gemetaran dan keringat bercucuran. Aroma penyiksaan kini kembali membayanginya.
"Katakan tujuanmu datang kemari." Suara Billy yang datar memecah keheningan ruangan.
Ibra sontak mendongak sesaat, menatap Billy, sebelum kemudian kembali menatap ubin yang menjadi alas bersimpuhnya. Sadar jika pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya, ia pun segera menjawab pertanyaan Billy sebelum kaki algojo yang sejak tadi berjaga di belakangnya kembali mendarat di tubuhnya.
"Saya datang kemari dengan niat tulus untuk meminta maaf kepada Milly, Tuan."
"Apa kau bilang? Kau panggil dengan sebutan apa istriku tadi?" Billy menyipitkan mata selagi bertanya. Meski intonasinya datar, tetapi aroma tak terimanya terlihat begitu kentara. Hal itu sukses membuat Ibra ketakutan. Pria itu merapatkan kelopak mata sambil menggeleng berulang-ulang. Menyesal, ia sadar telah melakukan kesalahan, maka dengan segera Ibra meralat ucapan dan meminta maaf.
__ADS_1
"Saya datang kemari dengan niat tulus dari hati untuk meminta maaf kepada Nyonya Milly, istri anda tercinta, Tuan," ucap Ibra takut-takut tanpa sedikit pun mendongakkan kepala. Ia sengaja memperjelas kedudukan Milly bagi Billy untuk mengambil hati sang sekretaris. Sebagai seorang penjilat, tentunya ia sudah terbiasa melakukan hal seperti ini, dan biasanya ampuh agar terhindar dari hukuman.
Billy tertawa meremehkan. Sesaat kemudian ia pun bertanya seolah-olah tidak paham.
"Untuk meminta maaf? Atas kesalahan apa ya?"
"Cepat, jawab yang jelas!" Karena Ibra tak kunjung bicara, maka bibir sang Algojo lah yang lebih dulu berkata, diiringi sebuah tendangan dengan kekuatan sedang, Ibra mengerang dengan posisi tubuh meringkuk.
Menyaksikan penganiayaan kembali terjadi di depan matanya, sontak saja Milly terkejut bukan kepalang. Ia hampir saja memekik tanpa sadar, akan tetapi bibir Billy telah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman hingga ia hanya bisa melotot tanpa kata.
Entah tak berani memberontak atau justru menikmati, Milly bahkan tak meronta saat Billy meraup bibirnya dengan lembut. Ia hanya mengerjap kecil ketika Billy mengakhiri pagutan, lantas tersenyum sambil mengusap bibirnya yang basah dengan menggunakan ibu jari.
"Bangun!" Sang Algojo menarik kerah belakang Ibra untuk membangunkan pria itu. Dengan susah payah dan menahan sakit, Ibra berusaha sekuat tenaga untuk bangkit.
Milly dan Billy sontak mengalihkan pandangan mereka pada pria terluka itu, dan seketika rasa iba langsung menyergap sanubari Milly. Bukan iba, lebih tepatnya tak suka jika suaminya melakukan tindak kekerasan lebih jauh lagi.
Milly bergegas memutar otak demi mencari inisiatif untuk mengakhiri semua ini. Seketika itu juga sebuah ide langsung hinggap di kepala. Namun, yang menjadi permasalahan, ia merasa sepertinya ini terlalu gila, hingga membuat Milly ragu untuk merealisasikannya.
"Kau menyukainya, bukan?" tanya Billy dengan diiringi seringai nakal, merujuk pada keadaan Ibra sekarang. Diam-diam ia memperhatikan ekspresi Milly yang sesekali terlihat geram, atau terkadang ikut meringis layaknya kesakitan ketika Ibra tengah dihajar. "Perlukah kita buat permainan lebih memanas lagi?"
__ADS_1
Milly tergagap. Bukan itu maksud dia. Mana mungkin ia suka melihat seseorang dihajar sedang ia sendiri tak menyukai kekerasan. Maka, mengabaikan rasa malu yang menguasai diri, ia segera melabuhkan kepala sambil mengusap lembut dada suaminya.
"Sayang, bisakah kau usir dia dari sini?" tanya Milly dengan nada manja yang sontak membuat Billy terperangah. Ia mengangkat dagu istrinya dan menatapnya dengan seksama.
Bukan hanya Billy. Namun, Ibra yang tengah menunduk seketika mengangkat pandangannya.
"Apa yang kau lihat!" bentak bodyguard Billy seraya menonyor kepala Ibra.
Merasa kesakitan, Ibra seketika meringis sambil mengusap kepalanya. Sedangkan netra pekatnya mengarahkan tatapan menusuk ke arah sang bodyguard.
Seolah-olah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengan dari istrinya, Billy kembali mengulang perkataan Milly dengan mata memicing.
"Mengusir dia? Maksudmu?" tanyanya seraya membingkai wajah istrinya. Sesaat kemudian ia tersenyum getir sambil menggelengkan kepala. "Apa itu artinya kau tengah melindunginya dengan cara mendepak secepat ini agar aku tak berlama-lama menyiksanya, bukan?"
"Tidak!" tegas Milly dengan intonasi tinggi. Kali ini mimik manja dan menggemaskan kembali menghias di wajahnya. "Sungguh, aku sudah tak tahan lagi melihat dia berlama-lama di sini! Cepat usir dia, Sayang ... aku sudah muak ...," lanjutnya setengah merengek.
Seketika sudut bibir Billy terangkat sempurna hingga menampakkan senyum manis yang terkembang. Tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Istrinya, ia pun mengangkat tangan sebagai bentuk isyarat pada dua anak buahnya tepat saat hendak melayangkan pukulan.
"Turuti permintaan istriku!"
__ADS_1