
Mayang masih terduduk diam di bibir ranjang sembari memandang suami nya yang tengah terlelap dalam tidur nya yang nyaman.Nafasnya berhembus teratur dan sesekali terdengar dengkuran halus di sana.
Ini sudah yang ke tiga kali nya Mayang bolak-balik kamar untuk membangun kan suami nya,namun Mayang tak kuasa melakukan nya melihat begitu nyenyak nya dia tidur.
Mayang bisa melihat wajah kelelahan yang tampak dalam lelap nya tidur sang suami.Ia bisa di memastikan suami nya tak tidur semalaman hanya untuk memastikan keselamatan nya.
Tapi kali ini Mayang harus benar-benar membangun kan nya,mengingat saat ini mereka berada di rumah mertuanya dan ibu mertua menyuruh nya untuk segera membangunkan nya.
Brian sengaja membawanya Mayang ke rumah orang tua nya karena merasa tempat ini adalah tempat aman untuk bersembunyi.Dengan penjagaan yang ketat serta banyak nya penghuni di rumah ini.Selain itu juga agar istrinya bisa dekat dengan orang tua dan adik nya yang lama tak bertemu.
Memang masih banyak keluarga besar Brian yang masih bertahan disini karena merasa cemas dengan keadaan pengantin baru itu yang tiba-tiba menghilang dari pesta pernikahan mereka.
Begitu pula keluarga Mayang yang terlihat sangat shock saat tau nyawa putrinya sedang terancam.Meski pun mereka sudah memperkirakan itu sejak Hasan menemukan buku itu.Tapi bagaimanapun juga,tak ada orang tua yang bisa bernafas dengan tenang jika tau hari-hari putrinya di lalui dalam bahaya yang selalu mengancam nya.
Mayang terperanjat saat tiba-tiba Brian membalik tubuhnya dari yang tadi nya miring menjadi terlentang,terdengar gumaman pelan dari mulutnya.
Apa dia sedang mengigau?Haha lucu sekali.Dia sedang mimpi apa ya?
Mayang benar-benar harus membangun kan nya sekarang.Tapi dia bingung bagaimana caranya?Meski Brian harus bangun,tapi Mayang juga tak ingin membangunkan nya dengan cara mengejutkan suami nya.
Mayang mendekat kan tubuh nya.Mengangkat tangan membelai pipi suaminya dan menggerakkan ibu jari untuk mengusap lembut pipi nya."Sayang,,, bangun yuk,,,?"Bisik nya lembut di telinga Brian.
"Hemmm,,,"Gumam Brian bereaksi sembari menggeliat merasa terusik karena seseorang mengganggu tidur nya namun matanya masih terpejam.Ia menggerakkan kepalanya mungkin merasa geli oleh sentuhan tangan Mayang di wajah nya sehingga membuat tangan nya refleks meraih pergelangan tangan Mayang lalu menariknya dengan kuat.
Dan Buugg! Tubuh mayang pun ambruk menindih tubuh Brian yang masih terlentang di kasur akibat kuatnya tarikan Brian.Bukan nya merasa sesak atau kesakitan,Brian malah memeluk tubuh Mayang dengan erat lalu berguling membalik tubuh Mayang hingga kini tubuh Mayang terperangkap di bawah tubuh Brian.
Mayang masih Bisa melihat mata Brian yang masih dalam kondisi terpejam sebelum lelaki itu membenamkan wajah nya di ceruk leher jenjang Mayang,apa mungkin dia mengigau melakukan ini?
Hembusan nafas Brian terasa hangat menyapu lembut di lehernya membuat bulu kuduk Mayang jadi merinding.Ia menarik tangan nya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Brian yang membelenggu nya.
Ah kenapa kuat sekali.Tangan ku tak bisa lepas.
"Sayang bangun lah,,,"Bisik Mayang lirih di telinga Brian."Kau mengurung ku begini membuat ku tak bisa bergerak.Aku tak bisa bernafas sayang,,,"Mayang sengaja menambah volume suaranya di kalimat terakhir.
Brian sepertinya mendengar Bisikan Mayang di alam bawah sadar nya sehingga melemah kan cengkeraman tangan nya.Ia mengecup lembut pipi Mayang sebelum menjatuhkan tubuh nya kembali ke kasur.Namun ia kembali menarik tubuh Mayang dan merengkuh nya dalam pelukan yang hangat.
"Sayang bangun dulu sebentar ya,,, nanti bisa sambung lagi tidurnya setelah makan,,," Bujuk Mayang lagi dengan halus sembari membelai lembut pipi Brian.Lelaki itu tak menjawab,ia malah semakin membenamkan wajah Mayang di dada bidangnya dan mengecup puncak kepala Mayang agak lama.
Bagaimana ini?Kenapa kau tak mau bangun si,,,?
"Sayang,,, orang tua ku akan pulang hari ini.Apa kau tidak mau mengucapkan salam perpisahan pada mereka???Ucap Mayang lagi dengan nada merengek.
Sepertinya berhasil karena Mayang merasa tubuh Brian sedikit berjingkat seperti terkejut.
"Kenapa cepat sekali?Kenapa tidak bertahan di sini dulu lebih lama?Bukan kah kau masih ingin mereka di sini?"Brian semakin mengerat kan pelukan nya.
Oh jadi dia sadar?Berarti dia tidak sedang mengigau memperlakukan ku seperti ini?!
"Sayang,, setelah aku pergi ayah sendirian mengurus perkebunan kami.Jadi dia lebih sibuk sekarang."
"Apa kau mau aku mengirim kan beberapa orang staff ahli dari sini untuk membantu ayah mu?"Bertanya masih dalam mata tang terpejam untuk menikmati hangat nya pelukan Mayang.
"Tidak perlu,,, ayah ku juga pasti tak akan setuju.Ayah ku juga punya anak buah yang cekatan kok.Jadi tuan tenang saja ya,,,"
"Apa kau bilang?!"Ucap Brian cepat sembari mendongakkan kepala Mayang agar beradu tatap dengan nya.Wajah nya terlihat marah.
Kenapa tiba-tiba marah begitu?Salah ku apa?
"Memang nya apa,,,?"Mayang tak mengerti.
"Aku suami mu sekarang!Jadi jangan panggil aku lagi dengan sebutan itu!"Membenamkan lagi wajah Mayang ke dalam pelukan nya.
Astaga,jadi dia marah karena aku memanggilnya tuan,,,
"Maaf ya,,, aku belum terbiasa.Perubahan ini terlalu drastis bagi ku."
"Tapi sekarang kau harus membiasakan nya."
__ADS_1
"Iya baik,,,"
π·π·π·
Brian keluar dari kamar dengan penampilan yang rapi seperti biasa.Tapi hari ini ia mengenakan pakaian santai untuk di rumah,namun tetap terlihat menawan.Ia mengayun kan langkah nya menuju ruang tengah dimana keluarga besarnya tengah berkumpul di sana.
Ia tersenyum begitu melihat Mayang yang tengah duduk diantara kedua mertua nya.Kemudian ia memilih duduk di sofa kosong di samping Weni.Dan melempar senyum saat ia beradu pandang dengan adik ipar nya itu sembari menggerakkan tangan nya menyentuh puncak kepala Weni dan mengacak rambutnya.
"Kakak ipar...!"Rengek Weni cemberut tak terima sembari membetulkan lagi tatanan rambut nya.
"Kenapa tak kau bawa serta pacar mu?"
"Siapa?"
"Anak yang bersama mu itu pacar mu kan?"
"Kami sudah putus kak."
"Kenapa mudah sekali putus.Mungkin besok kalian sudah balikkan lagi."Ledek Brian pada ipar nya.
"Tidak kak,kami benar-benar putus."Bantah Weni tak terima.
"Seharusnya lanjutkan saja.Aku suka gaya mu berpacaran.Aktif."Ucap Brian dengan seringai nya sembari melirik Mayang yang tengah menatap nya bingung."Tidak seperti dia yang terlalu pasif."Tambahnya lagi dengan nada menyindir.
"Kakak ipar ini sedang meledek ku atau menyindir kakak ku?"Ucap Weni sembari menatap Brian dan Mayang bergantian.
Lalu kemudian Weni beringsut mendekati Brian."Benarkah kakak ku terlalu pasif?"Bisik Weni pada Brian.
"Iya.Dia berbeda dengan mu."Jawab Brian sembari menyebikkan bibir nya.
"Itu karena kakak ku belum berpengalaman kakak ipar,"Ucap Weni sembari menepuk paha Brian."Kakak ipar harus lebih giat mengajarinya..."
"Benar kah?Tapi dia kan pintar,seharusnya dia lebih tau dari aku kan."Brian sengaja meninggi kan suara nya agar di dengar jelas oleh Mayang yang sedang mencuri-curi dengar pembicaraan mereka.
"Tapi kak,kakak ku tidak cukup pintar kalau masalah lelaki..., aooww!Kakak!Sakit tahu!"Pekik Weni sembari mengelus telinga nya yang baru saja di tarik oleh Mayang.
"Aku tidak bicara apapun!Aku hanya sedang bergurau dengan kakak ipar ku saja."
"Dan kau?"Di tujukan pada Brian."Apa yang kau katakan?Jangan mengajari anak kecil hal yang tidak-tidak ya!"Ucap Mayang dengan nada mengancam.
"Aku tidak mengajari nya apapun.Aku saja tidak cukup pintar untuk hal semacam itu."Ucap Brian sok acuh.
"Bohong."Bantah Mayang kesal.Ia kemudian kembali duduk di tempat nya semula sembari memperhatikan suami dan adiknya yang masih meneruskan obrolan mereka yang terlihat sangat akrab.
Tiba saat nya orang tua Mayang akan kembali pulang dan meninggalkan Mayang bersama suami dan keluarga baru nya.Sebelum berpamitan,Hasan menyempatkan berbicara dengan Brian,pembicaraan seorang ayah dengan menantu nya.
Hasan menitip kan Mayang pada Brian agar ia menjaga putri nya dengan baik.Brian pun mengucapkan janji sebagai pria dewasa untuk menjaga,menyayangi,membimbing dan mencintai Mayang dalam kondisi apa pun.
Mayang dan keluarga Brian mengantar orang tua Mayang menuju helikopter yang sudah siap yang akan mengantar mereka pulang dengan di antar oleh Billy.Mayang terlihat sedih sat melepas kepulangan orang tua nya.Matanya tampak berkaca-kaca sembari menatap keluarga nya yang sudah berada di dalam heli itu.
Brian mendekap Mayang untuk menguatkan istri nya yang sedang di rundung sedih itu.Ia menyeka bulir air mata yang tampak menetes dari sudut mata Mayang yang tak mampu istrinya bendung.
"Sayang jangan sedih.Jangan menangis.Kita akan sering-sering mengunjungi mereka nanti."Ucap Brian tulus untuk menghibur istri nya.
Mayang spontan mendongakkan kepalanya menatap Brian.Matanya terlihat berbinar."Benar kah?"
Brian mengangguk yakin.
"Janji?"
"Janji sayang,,,"Ucap Brian meyakinkan.Hingga tersungging senyum di bibir istrinya membuat Brian merasa lega.Kebahagiaan istri nya itu yang utama bagi nya untuk sekarang nanti dan selama nya.
Semua nya melambaikan tangan saat baling-baling Helikopter sudah berputar lalu kemudian mengudara hingga benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.Ekspresi wajah Mayang kian terlihat kesedihan nya.
"Hey,,, jangan pasang wajah seperti lagi!Aku tidak suka!"Ucap Brian penuh penekanan sembari merengkuh dagu istri nya dengan lembut agar sang istri menatapnya.
"Tapi aku memang sedang sedih,,,"Mayang mulai tersedu.
__ADS_1
"Ku mohon jangan menangis sayang,,,"Brian membenamkan wajah Mayang di dada nya penuh kasih sayang agar tangisan sang istri mereda.
Ratih mengusap lembut punggung Mayang untuk memberi dukungan.Lalu menatap putranya."Bawa istri mu masuk kedalam rumah Brian.Jangan terlalu lama di luar."Ucap Ratih yang bergandengan tangan dengan Malik lalu melangkah meninggal kan keduanya.
"Kau dengar itu?"Ucap Brian mengingat kan Mayang."Ayo cepat masuk.Bukan nya kau harus bersiap untuk acara tujuh bulanan Renata?"
Mayang berjingkat seketika seperti baru mengingat sesuatu."Oh iya benar juga.Tapi...,"Mayang menggantungkan ucapan nya.
"Kenapa?"Brian menggandeng tangan Mayang,membimbing nya melangkah menuju masuk ke dalam rumah.
"Sayang,bisa kah kita di rumah saja.Tak apa kan kalau kita tidak hadir di acara itu?"
"Kenapa?Apa kau sengaja untuk menghindari memakai baju hamil?"
Aaah kenapa dia tau si,
"Bukan,, memang nya tidak apa kalau kita keluar?"
"Apa kau takut?"
"Tidak,,"Bantah Mayang cepat."Baik lah,kita berangkat."
"Cepat lah bersiap.Mungkin Bella sudah menunggu mu."
Mayang segera masuk dan menemui Bella.Dan benar saja,dia sedang menunggu Mayang di sana.
"Jadi kan kita?"Tanya Bella saat melihat Mayang muncul menghampiri nya."Aku sudah suap kan baju hamil dan bantal nya untuk kita."
"Mana aku mau lihat."Mayang terlihat antusias.
"Yang ini hamil lima bulan,"Bella menunjukkan bantal dengan tali dengan ukuran agak kempes."Dan yang ini hamil sembilan bulan."Bella menunjukkan bantal lain yang lebih tebal.
"Aku yang lim...,"Mayang hendak meraih bantal bertuliskan lima bulan namun kalah cepat dengan Bella."Hey itu untuk ku!"Protes nya kemudian.
"Hey ini untuk ku."Bella tak mau kalah.
"Kenapa kau tak pakai yang ini saja?!"Mayang menunjuk pada bantal yang lebih tebal.
"Mayang,,, kau tahu kan aku ini masih perawan dan belum menikah?"
"Memang nya kenapa?"
"Harga diri ku May?Harga diri ku mau di taruh dimana kalau tiba-tiba aku terlihat hamil sembilan bulan?!"
"Kau fikir aku apa?Bukan kah lebih memalukan lagi jika baru kemarin menikah dan sekarang sudah hamil sembilan bulan!Ayo lah Bell,,,"
"Ti-dak!"Tegas Bella."Lagi pula kau yang memberi ide ini pada Renata kan??Nah sekarang kau rasakan sendiri hamil sembilan bulan karena ide mu sendiri."
"Aku tidak sengaja mengatakan nya.Aku hanya bercanda waktu itu."
"Makanya jangan bicara sembarangan pada orang hamil."
"Ya tuhan,aku benar-benar menyesal telah bicara dengan Renata waktu itu,,,,"Ucap Mayang penuh penyesalan sembari menjatuhkan tubuh nya di sofa.
"Cepat lah,,, mungkin suami mu sedang menunggu.Jangan sampai rambutnya beruban dengan jenggot yang panjang karena terlalu lama kau buat menunggu."Gurau Bella sembari tertawa.
"Astaga apa yang kau katakan Bella."Ucap Mayang tak terima dan membuat nya bergegas untuk bersiap.
Brian dan Rendy tengah duduk di sofa,sambil memainkan ponsel masing-masing sembari menunggu wanita mereka bersiap.Perhatian mereka serentak tertuju pada suara langkah kaki yang terdengar semakin mendekat dari arah dalam.
"Hahahaha!"Tawa Rendi meledak ketika melihat seseorang yang muncul dari sana.
Bersambung
*************************************
Tinggalin jejak kalian ya readers
__ADS_1
Kasih komentar like favorit voting untuk dukung author dan rating bintang lima ya sayangπππ jangan cuma minta up saja π’π’