Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Titik penghabisan


__ADS_3

"Bagian terbaiknya adalah, kau datang untuk menyerahkan tubuhmu sendiri. Tapi sayangnya semua itu gratis-tis. Karena kau tak akan pernah mendapatkan apapun, dariku." Ibra mendesis tepat di depan wajah Milly. Dengan seringai jahat yang tersungging di bibirnya, aura menyeramkan penuh intimidasi semakin membuatnya terlihat mengerikan.


Ibra tersenyum penuh hasrat selagi memindai setiap inci dari wajah Milly. "Sepertinya kesucianmu patut diujii coba dengan aku membuktikannya sendiri," lirihnya kemudian dengan nada menggoda yang kental.


Milly Sontak membulatkan mata sambil menarik wajahnya hingga terlepas dari cengkeraman Ibra. Ia bukanlah orang bodoh yang tak tau kemana arah tujuan pembicaraan lelaki di depannya itu.


Dengan penuh antisipasi Milly melempar pandangan ke arah pintu. Setidaknya ia bisa berlari keluar andai saja Ibra memiliki niat yang jahat terhadapnya. Tapi rupanya Lucky sudah berdiri di sana dengan tangan memegangi gagang pintu. Lelaki itu nampak tersenyum senang ke arah Ibra.


"Sepertinya aku harus pergi sekarang, kawan. So, selamat bersenang-senang!" serunya sambil tertawa jahat lalu menutup pintu itu dari luar rapat-rapat.


Tentu saja hal itu membuat Milly menjadi panik bukan kepalang. Gadis itu sontak berlari menuju pintu dan menarik gagangnya kuat-kuat. Namun sial, pintu itu telah terkunci dari luar.


"Hey, buka pintunya sekarang juga, aku mohon! Kau masih di sana, bukan! Hey!" Milly berteriak-teriak sambil menggedor pintu itu. Ia juga tak henti memutar tuasnya. Namun Lucky yang ia perkirakan masih di luar sana tak merespon teriakannya.


"Percuma, Sayang. Percuma. Kau hanya membuang tenaga saja," ucap Ibra yang masih berdiri di tempatnya dengan nada santai sambil menyeringai puas. Lelaki itu nampak begitu senang melihat Milly yang bergetar ketakutan.


Milly menolehkan kepalanya, menatap Ibra di belakang. Ia segera berbalik badan, bersandar pada daun pintu kayu dan menghadap Ibra dengan penuh kewaspadaan. Wajahnya mendadak memucat kala membayangkan riwayatnya yang mungkin saja akan tamat.


Tangannya yang gemetar sesekali bergerak mengguncang tuas pintu, barangkali saja ada keajaiban dan mau terbuka dengan sendirinya. Namun rupanya sia-sia, sebab sepertinya itu hanyalah harapan semata.


Saat sudah terhimpit seperti ini, senjata apa lagi yang akan keluar jika bukan air mata. Berdoa dan pasrah pada yang kuasa semoga segera memberi pertolongannya. Meski keyakinan akan selamat itu tipis kemungkinan, sebab Milly kini benar-benar merasa sendirian.

__ADS_1


"Bra, tolong bukakan pintunya. Lepaskan aku dan biarkan aku pulang," Milly memohon pada Ibra dengan wajah mengiba. Bahkan linangan air mata tampak menganak sungai di pipinya.


Namun bukannya kasihan, Ibra justru tertawa senang. Lelaki yang tengah bersedekap dada itu tersenyum sambil memindai tubuh Milly secara keseluruhan.


"Kau terlihat semakin cantik saja, Sayang," pujinya sambil menggeleng seolah tak percaya. Ia pun bersiul sebelum kemudian berdecak penuh kekaguman. "Malam ini adalah malam keberuntunganku. Aku akan mendapatkan dirimu seutuhnya. Hahaha!" lanjutnya sambil tertawa lebar. Ia membuka lipatan tangannya lantas melangkah perlahan mendekati gadisnya.


Semakin Ibra mendekat, tubuh Milly semakin bergetar hebat oleh ketakutan yang kian menyergap. Terlebih dengan melihat tatapan buas Ibra yang sudah seperti harimau lapar. Ia menatap Milly dengan penuh hasrat seperti tak tahan ingin melahap.


Sebelumnya Milly tak pernah menyangka jika keputusan yang ia ambil adalah sebuah kesalahan besar. Ia benar-benar menyesal telah datang. Niat hati ingin membahagiakan orang tuanya, namun siapa sangka Milly malah terjebak di dalam jerat Ibra yang mengerikan.


"Aku datang, Sayang." Ibra merentangkan tangan hendak menangkap tubuh Milly, namun sial bagi lelaki itu. Sebab Milly berhasil menghindar hingga membuat Ibra menubruk daun pintu dengan keras.


Lelaki itu hanya menyeringai menatap Milly yang berlari ketakutan. Menghindarlah sesukamu Baby, tapi kau tak akan bisa kabur dari sini," racaunya sambil menanggalkan jasnya. Melemparkan ke lantai dan kemudian melepas kemeja dengan tergesa.


Ibra mengayunkan langkahnya hendak menyusul Milly. Sorot matanya begitu menyeramkan hingga membuat Milly semakin gemetaran.


"Kumohon jangan mendekat!" pekik Milly penuh kepanikan. Namun diabaikan oleh Ibra. Pria itu terus berusaha mendekatinya. Gadis itu kemudian berlari ke arah kanan dan melompati ranjang menuju pintu depan. Kembali berusaha membuka pintu meski percuma.


Milly semakin merasa tertekan hingga tak bisa berpikir dengan tenang. Gadis itu tetap menghindar dengan segala cara. Sedangkan Ibra pun tak patah arang. Ia semakin gencar untuk menyerang. Hingga tiba saat Milly tersudut dan tak bisa menghindar lagi.


Ibra meraih tubuh mungil gadis itu sebelum kemudian menghempaskannya ke atas ranjang. Ia pun dengan sigap menyusul Milly naik ke atas ranjang dan dengan cepat memerangkap tubuh Milly hingga tak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


Milly semakin ketakutan. Gadis itu meronta sekuat tenaga. Ingin ia mendorong, mencakar, menggigit bahkan menendang. Namun apalah daya, ia hanya wanita lemah tanpa daya.


Ibra yang berhasil memerangkap benar-benar melumpuhkan pergerakannya. Tenaga Milly habis terkuras saat melakukan perlawanan hingga wanita itu lemah dalam kepasrahan.


Milly menangis sedu sedan. Hanya air mata yang bisa ia tumpahkan. Selebihnya hanya bisa memalingkan wajah sambil menutup mata. Ia jijik dan tak mau menatap lelaki iblis di depannya.


"Sayang, buka matamu dan lihat aku!" Ibra berteriak di depan wajah Milly, mendesak gadis itu agar menatapnya.


"Tidak!" balas Milly tak kalah cadas. Meski lemah namun gadis itu tetap tak mau menyerah. Ia tetap ingin mempertahankan kesuciannya hingga tetes darah penghabisan. Baginya lebih baik mengorbankan nyawa dari pada mengorbankan kesucian untuk lelaki licik di depannya.


Pada saat seperti ini hanya wajah Billy lah yang selalu membayangi pikirannya. Wajah itu selalu muncul dalam situasi apapun. Meski susah payah menghalaunya, wajah itu justru semakin kuat membayangi. Bergentayangan ke sana kemari. Muncul di mana-mana hingga membuat Milly tak bisa tenang karenanya.


Andai saja pria itu ada di sini saat ini, mungkin ia tak akan semengenaskan ini. Haruskah Milly bertaruh nyawa demi kesucian yang ia pertahankan hanya untuk Billy seorang? Bahkan Milly sendiripun tak tahu takdir akan membawanya kemana.


"Kau benar-benar keras kepala. Bahkan sampai di titik akhir perjuanganmu kau belum mau menyerah juga? Hebat, hebat. Aku suka ini." Ibra langsung tertawa terbahak-bahak usai mengatakannya.


"Bersiaplah, Sayang. Aku ingin memakanmu sekarang juga," desisnya dengan nada menggoda, lalu mulai menurun kepala hendak menyusuri wajah Milly.


Namun sebuah suara gebrakan keras yang disusul dengan daun pintu ambruk ke lantai berhasil menggagalkan usaha Ibra untuk memulai aksinya.


Sama-sama terkejut, Milly dan Ibra menolehkan kepala dan langsung membulatkan mata. Keduanya terperangah mendapati sesosok menjulang tinggi tengah berdiri di atas reruntuhan daun pintu dengan tangan terkepal dan sorot mata menyalang tajam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2