
Memeluk sangat erat, Mayang seolah tak ingin melepaskan suaminya lagi. Tanpa ragu dan malu-malu lagi, wanita yang masih mengenakan seragam SMP itu membenamkan tubuhnya di dada bidang sang suami yang juga membalas pelukannya.
Mengabaikan Billy yang sedang fokus dengan kemudinya, Mayang merasa seolah hanya dirinya dan Brian saja yang berada di dalam mobil yang tengah melaju pulang dengan kecepatan sedang.
Brian yang merasa heran dengan perubahan sikap sang istri pun berusaha mencari tau. Diraihnya dagu Mayang lembut dengan sedikit tarikan agar sang istri mendongak menatapnya.
Saat pandangan mereka bertemu, di kecupnya bibir ranum sang istri singkat sebelum Brian melontarkan pertanyaan.
"Kenapa mendadak manja begini? Ada apa denganmu hemm?" tanyanya sembari berbisik dengan mesra.
Mayang mengerjap pelan lalu tersenyum. "Aku mencintaimu." balasnya dengan berbisik. Lantas menggigit bibir bawahnya dan kembali membenamkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
Terkekeh pelan karena gemas, Brian mengusap rambut sang istri dan mengcup puncak kepala gadis itu agak lama. Sebab Mayang enggan menunjukkan wajahnya saat Brian berusaha kembali menciumnya.
"Aku juga mencintaimu Sayang, sangat mencintaimu." ucap Brian penuh cinta. Tangannya pun bergerak semakin mengeratkan pelukannya.
Dan tanpa ia sangka, satu kecupan hangat dari sang istri mendarat di pipi kirinya secara singkat, sebelum Mayang kembali bersembunyi dalam pelukan Brian. Membuat lelaki yang terkejut itu menunduk untuk menatap wajah sang istri yang tersenyum malu.
"Sudah mulai nakal ya sekarang, berani mencuri-curi cium di pipiku. Padahal kau bisa melakukan apapun yang kau mau terhadapku. Tubuh ini sudah menjadi milikmu seutuhnya Sayang," tutur Brian dengan nada gurauan sambil mencubit pipi istrinya gemas dan mengacak rambutnya.
Meraih tangan sang suami yang meeusak tatanan rambutnya, Mayang menatap Brian dengan wajah kesal. "Jangan diacak-acak Sayang, rambutku berantakan." Protesnya kesal dengan wajah cemberut, namun terlihat menggemaskan bagi Brian.
"Walaupun berantakan, kau terlihat tetap cantik Sayang ,,,, kau tetap menggemaskan seperti sepuluh tahun lalu."
Entah mengapa setiap sanjungan sang suami selalu berhasil membuat Mayang serasa bagai terbang melayang. Gadis itu mengulum senyumnya sembari memalingkan wajahnya dan berkata. "Gombal."
"Apa kau bilang?!" Dengan segera Brian menangkup wajah sang istri dan menikmati lengkung merah sang istri sesuka hatinya. Menikmati rasa manis dan memuaskan hasratnya.
Hingga sang istri tersengal, Brian baru melepaskan pertautan keduanya dengan seringai puas di bibirnya. Lantas diusapnya bibir basah sang istri dengan penuh kelembutan.
"Kenapa kau suka sekali mengejutkan ku?" Lirih Mayang lantas menggigit bibir bawahnya. Menatap sang suami kesal sambil cemberut, Mayang benar-benar terlihat seperti dirinya sepuluh tahun lalu.
"Karena aku suka melihat wajahmu yang sedang terkejut. Itu sangat menggemaskan."
"Sadarlah Sayang, aku bukan lagi gadis SMP seperti dulu. Aku sudah menua sekarang." Mayang melayangkan tangannya kembali memeluk tubuh sang suami.
Entah mengapa kehangatan serta aroma tubuh Brian benar-benar telah menjadi candu baginya. Memberikan sensasi aman dan nyaman yang membuatnya merasa tenang. Terlebih dirinya yang diam-diam menyimpan kegundahan seperti saat ini.
"Bagiku kau tetap terlihat seperti gadis SMP yang menggemaskan meskipun telah menua." Brian mengecup kening sang istri. "Sayang, aku ingin kita menua bersama. Hidup bahagia dan memiliki banyak cucu. Aku ingin selalu bersamamu hingga tubuh kita yang renta, dengan kulit yang mulai keriput, rambut yang beruban bahkan tubuh yang tak lagi mampu berdiri tegap."
Mendengar ucapan Brian, diam-diam Mayang mengulum senyum karena bahagia. Sebab ia juga memiliki keinginan yang sama seperti diinginkan sang suami, namun terbesit keraguan di hatinya tatkala Mayang teringat kembali bahwa sebuah bahaya kini telah mengancam keselamatannya.
Ia benar-benar merasa tak siap jika tiba waktunya nanti orang-orang itu menemukan dirinya. Entah mengapa memikirkan hal itu membuatnya sedih. Ia tak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Namun membicarakan hal ini pada sang suami membuat Mayang khawatir akan merusak kebahagiaan mereka saat ini.
__ADS_1
"Sayang, saat tua nanti apakah kau masih akan tetap mencintaiku meski aku tak lagi tampan?"
Pertanyaan Brian secara spontan membuat Mayang mendongak. Lantas di tatapnya bola mata yang selalu memancarkan binar penuh cinta itu dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Seharusnya aku yang takut kau tinggalkan saat aku tak lagi menarik di matamu?!" Menyembunyikan setitik air mata yang menetes, Mayang lagi-lagi membenamkan wajahnya di dada Brian. Namun terlambat, sabg suami telah lebih dulu menyadarinya.
"Sayang apa kau menangis? Apa aku membuatmu sedih?" Hening tak ada jawaban membuat Brian di dera kebingungan. Ia merasa tak ada yang salah dengan ucapannya barusan. Tapi kenapa sang istri sampai menangis. Apa sebegitu tersentuhnya dia hingga meneteskan air mata. "Sayang, maafkan aku ya," Brian mengusap punggung sang istri dengan gerakan ringan yang menenangkan. Ia lantas diam dan membiarkan sang istri hanyut terbawa perasaan sendiri dan tak ingin mengganggunya.
Tak lama kemudian Mayang pun mengangkat pandangannya sambil mengusap matanya lalu tersenyum saat pandangan mereka bertemu.
"Jangan tanyakan itu lagi lain kali." Ungkap Mayang memberi alasan. "Aku tak suka mendengarnya."
"Aku benar-benar minta maaf Sayang, aku tak menyangka akan membuatmu sesedih ini." Papar Brian dengan wajah penuh penyesalan. Di sibaknya rambut Mayang yang menutupi wajah ayu nya dan menyelipkannya kebelakang telinga.
Memeluk kembali tubuh sang istri, Brian sembari berpikir untuk meghibur hati sang istri. Namun ia masih belum tau harus mengunakan cara apa untuk menyenangkan hati cinta pertamanya. Naluri ingin membahagiakan pun menuntun bibir untuk bertanya.
"Sayang, apa yang kau inginkan sekarang?"
"Apa Sayang?" Mayang bertanya tak mengerti.
"Apa kau ingin jalan-jalan, atau makan sesuatu di sebuah restoran?"
Mayang diam sejenak sambil memikirkan apa keinginannya. Kemudian Mayang membuka mulut dan berbicara. "Aku tidak ingin apa-apa untuk sekarang Sayang, tapi mungkin nanti lain kali aku ingin pergi ke pantai. Sudah lama aku tak melihat pantai Sayang."
Sambil tersenyum Brian mengangguk paham. "Oke fix, kita ke pantai sekarang juga Sayang. Bill, putar haluan dan kita pergi ke pantai sekarang juga." Perintah Brian pada Billy dengan penuh leyakinan.
* * *
Mayang mengerjapkan mata beberapa kali untuk meyakinkan dirinya yang seolah tak percaya bahwa hamparan laut dengan panorama pantai yang indah terbentang nyata dihadapannya.
Menatap sang suami penuh rasa haru, tak henti ia melafalkan kalimat ucapan terimakasih hingga sang suami membungkam memulutnya dengan ciuman untuk menghentikannya.
Segera melepas sepatu sekolahnya, Mayang lantas memijakkan kaki telanjangnya berlari-lari kecil menuju ke pantai dengan begitu riang gembira.
Bersedekap dada, Brian mengawasi sang istri yang mulai bermain air melalui pandangan sembari tersenyum. Tawa bahagianya terdengar saat mendengar gelak tawa sang istri yang tampak terkejut saat deburan ombak yang membawa gelombang air laut tiba-tiba membasahi tubuhnya hingga mencapai dada.
"Sayang kemarilah!" Tangan Mayang melambai memanggil sang suami untuk datang mendekat.
Tanpa ragu, Brian segera melepas sepatu sekolahnya usai melempar ponsel mililnya pada Billy yang berada di belakangnya dan melangkah menyusul sang istri yang telah lebih dulu bermain air.
Sebuah semburan air tampak menyambutnya saat sang istri menyiramnya dengan sengaja.
"Oops maaf ,,,, sengaja." Ucap Mayang yang disusul kemudian dengan gelak tawanya saat berhasil membuat sang suami terkejut. Namun karena begitu senangnya dia, hingga Mayang tak memperhatikan senyum simpul sang suami yang menyimpan ancaman dibaliknya.
Dengan sigap Brian meraih tubuh sang istri yang tengah lengah dalam kebahagiaan, lantas merengkuh tubuh ramping itu kedalam gendongannya.
__ADS_1
"Sayang apa yang kau lakukan, turunkan aku!" Mayang membelalakkan mata karena terkejut. Menatap ngeri pada Brian yang tengah menyeringai nakal, ia bisa memperkirakan sang suami akan beebuat sesuatu sebagai pembalasan.
Mengabaikan rontaan sang istri, Brian membawa tubuh itu seolah tanpa beban melangkah menuju pantai dengan kedalaman air yang semakin tinggi hingga membuat sang istri ketakutan.
Brian pun berheti saat air sudah mencapai dadanya. Dengan tersenyum nakal ia pun bicara. "Beri aku sesuatu yang hangat dan nikmat sebagai bayaran agar aku membawamu semakin ke tepi." Ucap Brian memberi penawaran sembari memanyunkan bibirnya sebagai satu isyarat.
"Baiklah Sayang." Jawab Mayang menyerah sambil memanyunkan bibirnya. "Tapi janji jangan curang ya?!"
"Berusahalah untuk memberiku yang terbaik." Jawabnya cepat namun mengandung arti di balik ucapannya.
"Yang terbaik yang bagaimana?"
"Semakin aku merasa puas dan senang, maka akan berimbas pada semakin cepatnya aku melangkah mundur menuju ke tepian."
"Iya-iya aku tau." Dengan tergesa Mayang menanamkan bibirnya pada lengkung merah sang suami yang telah menanti. Namun lelaki itu terlihat kecewa saat Mayang hanya memberikan kecupan singkat saja.
"Kalau membuatku kesal aku akan semakin ke dalam." Brian berucap setengah menggeram.
"Jangan!" Cegah Mayang setengah berteriak.
"Kalau begitu lakukan dengan baik!" Geram Brian dengan penuh tuntutan.
Karena tak ingin membuang waktu, Mayang pun segera mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Lantas berusaha dengan kemampuan yang ia punya untuk memenuhi keinginan lelaki yang ia cintai itu dengan penuh cinta dan setulus hatinya.
Semakin Mayang bermain dengan indah disana, semakin cepat pula Brian menarik langkahnya mundur. Namun seolah tak puas hati, Brian yang semula hanya menikmati permainan sang istri kini tampak begitu liar bemain disana. Seolah tak mampu menahan lagi, Brian menyesap manisnya sari sang istri dengan sepuas hati dan tak memberi kesempatan pada sang istri untuk menolak lagi.
Puas dengan buaian cinta an kasih sayang, keduanya lantas bersenang-senang dengan bermain iar dan pasir di tepi pantai.
"Kau semakin terlihat seperti bocah sepuluh tahun lalu kalau sedang basah begini." Ujar Brian santai sembari memperhatikan sang istri yang tengah bermain pasir di hadapannya. "Di usiamu yang sekecil itu dulu kau pun sudah terlihat seksi dan sensual."
"Apa? Kau bercanda ya? Dari mana kau melihatnya?" Mayang menunduk, mengikuti kemana arah pandangan sang suami yang tertuju tepat di dadanya. Seketika itu bola matanya pun membulat sempurna saat mengetahui kemana arah pembicaraan sang suami.
Brian tergelak menatap wajah merona sang istri. "Memangnya untuk apa waktu itu aku memberikan jaket ku untuk mu, kalau bukan untuk menutupi tubuh sensualmu yang nampak begitu jelas di balik bajumu yang basah." Terang Brian berterus terang bahkan tanpa rasa malu saat mengungkapkan. "Kau tahu, sebagai laki-laki normal aku ingin memakan mu saat itu juga andai aku tak memiliki iman di dada." Imbuhnya lagi dengan seringai nakal di bibirnya.
Lelaki itu lantas bangkit dan berlari saat Mata Mayang membelalak dengan tangan yang mengepal siap menghujamkan pukulan."Kabur ...!" Teriak Brian sambil berlari karena Mayang tiba-tiba mengejar dirinya seperti sedang memburu mangsa.
Bersambung
___________________________
Hai readers tercinta, jangan lupa kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Terjerat cinta sang perawat
Dan berikan juga dukungan kalian untuk author ya
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏🙏