Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Dia Ayahku Juga


__ADS_3

Setelah dua hari Mayang bertahan dengan jarum infusnya,kini kesehatan Mayang berangsur membaik.Wajah nya yang semula terlihat pucat seperti tak teraliri darah kini terlihat semakin cerah me rona.


Ia sudah bisa mengkonsumsi makanan kasar setelah sebelumnya hanya diperbolehkan makan makanan yang lunak dan juga bubur.


Brian juga menghentikan kegiatan nya sementara dari kantor dan memilih fokus untuk menjaga sang istri selama Mayang sakit.Brian nampak telaten menjaga dan merawat istrinya.


Mayang sesungguhnya tak ingin Brian melakukan hal itu.Baginya rasa sayang serta perhatian yang tercurah dari Brian itu sudah cukup membuatnya yakin.Betul-betul tak menginginkan Brian selalu di sampingnya dua puluh empat jam dalam sehari.


Bagaimanapun juga ia tahu bahwa suaminya memiliki urusan yang jauh lebih penting daripada menjaganya.Namun di sisi lain,Brian lebih mementingkan istrinya di banding apapun lain nya di dunia ini.


Brian bahkan menyuapi setiap kali waktunya Mayang makan dan juga menyisir kan rambut istrinya.Walaupun Brian telah menyewa dua orang suster untuk merawat Mayang,namun tugas mereka hanya untuk memantau kesehatan Mayang dan sekedar mengganti botol infus nya.


Sore hari yang terlihat cerah mereka tengah bersiap menuju kediaman orang tua Brian.Setelahnya berangkat dari sana untuk menghadiri undangan pernikahan dari keluarga istri Brian terdahulu.


"Sayang,apa tidak sebaiknya aku di rumah saja?" Mayang terlihat ragu saat melangkah menuruni tangga begitu keluar dari kamar mereka.


"Sayang ku mohon ikut ya," Ucap Brian yang tetap menggandeng tangan istrinya. "Aku yakin Ayah akan senang melihatmu datang ke pesta. Apa kau merasa belum sehat?" Brian bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.


"Aku baik saja, dan juga jangan memohon padaku. Aku hanya tak ingin suasana jadi tak nyaman karena keberadaan ku," Mayang menatap Brian dengan wajah cemas nya.


"Percayalah,mereka akan senang dengan kedatangan mu."


"Semoga." Mayang tersenyum sehingga membuat Brian merasa lega.


Mobil yang di kendarai Brian pun meluncur meninggalkan rumahnya menuju kediaman orang tuanya.Setelah beberapa lama dalam perjalanan,mereka akhirnya sampai.


"Sudah datang kalian," Sambut Ratih begitu melihat kehadiran Brian dan Mayang. "Kau sudah sehat sayang." Ucap Ratih sembari merangkul menantunya.


"Sudah bu." Mayang mengangguk dan tersenyum.


"Ayo ke kamar ganti,kebaya yang akan kau pakai ada di sana." Ratih membimbing menantunya menuju kamar ganti.


Entah berapa lama mereka berada di dalam sana hingga Brian yang sejak tadi di buat menunggu kini mulai bosan.


"Ibu," Brian mengetuk pintu. "Sampai kapan kalian akan berada di dalam terus.Keburu malam bu...!" Brian setengah berteriak.


"Sebentar lagi." Terdengar sahutan dari dalam.Brian menghela nafas pelan lalu melangkah menjauhi pintu.Lalu melangkah menuruni tangga dan duduk di sofa ruang tengah.Merogoh ponsel dari saku jas nya lalu memainkan ponsel itu.


Suara derap langkah kaki yang semakin mendekat memaksa Brian untuk menoleh ke arah sumber suara.Brian di buat terpaku oleh penampilan Mayang yang terlihat sangat sempurna dengan baju kebaya modern yang sama dengan yang di pakai Ratih.


Rambut panjang Mayang yang di sanggul sedemikian indah dengan di bubuhi beberapa hiasan rambut di sana.Bawahan dari kebaya dengan belahan sebatas lutut membuat kaki jenjang nya yang putih kian terlihat jelas saat melangkah menuruni tangga.


Riasan wajah yang tak berlebihan membuat Mayang terlihat semakin cantik elegan.Brian sampai tak sadar kini ia telah berdiri dan melangkah semakin mendekati istrinya dengan mata yang tak berkedip.


"Sayang,apa yang kau lihat?" Mayang terlihat gusar.Salah tingkah dengan tatapan Brian. "Apa aku terlihat jelek?"


Brian menggeleng pelan dengan tatapan yang masih terpaku pada istrinya. "Kau sangat cantik sayang." Lirih Brian memuji.


"Ibu yang membuat ku seperti ini," Mayang tersenyum malu. "Apa kau suka?" Tanya Mayang sembari menatap Brian lekat penuh harap.Ingin mendengar jawaban yang membuatnya bahagia terlontar dari bibir manis suaminya.


"Tidak." Brian menjawab singkat sembari menggelengkan kepalanya.


Air muka Mayang pun langsung berubah muram.


Kau bilang aku cantik,tapi kenapa tidak suka!

__ADS_1


Mayang menatap Brian dengan tatapan jengkelnya.


"Aku tidak suka jika kau memanjakan mata laki-laki lain dengan penampilan mu ini sayang," Brian segera memperbaiki ucapan nya sembari tersenyum kecut. "Karena aku akan sangat cemburu nanti." Meraih dan menggenggam jemari tangan Mayang.


Mayang menatap Brian penuh haru. "Tidak ada laki-laki lain yang akan berani menatap ku sayang. Justru aku yang akan kau buat cemburu dengan pandangan penuh hasrat wanita-wanita yang masih menaruh harap pada mu." Ucap Mayang dengan nada tak rela.


"Biarkan mereka berharap pada diriku yang kosong ini,karena sesungguhnya hatiku sudah kau rebut sejak pertama aku melihat mu." Mengecup punggung tangan istrinya.


"Benarkah?" Mayang menatap Brian ragu.


"Kau satu-satunya wanita yang berani mengusik ku di saat aku dalam keterpurukan."


"Tapi waktu itu kau selau marah dan menghukum diriku?" Ucap Mayang saat mengingat perlakuan Brian padanya pada awal-awal pertemuan.


"Aku berusaha keras menepis rasa yang aku pikir itu salah." Brian tetap menatap lekat pada istrinya.Tak tersirat keraguan sedikitpun di mata nya.


"Jadi, apa sampai sekarang kau masih menganggap ini suatu kebenaran?" Mayang mencoba menelisik untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"iya." Jawab Brian tegas. "Aku tak pernah salah dengan pilihan ku."


"Tapi bukankah kau menikahi ku karena desakan ibu?"


"Itu hanya tak-tik ibu yang menilai ku lamban dalam usaha ku mendekati mu." Brian sedikit tertawa geli.Menertawai diri nya sendiri. "Tapi kau malah jual mahal pada ku." Kali ini suara Brian terdengar kesal sembari memalingkan wajahnya.


"Sayang maaf." Mayang meraup wajah Brian agar menatap nya.


"Kau tidak mengerti bagaimana susahnya mempertahankan keperjakaan ku ini di antara begitu banyaknya wanita yang berusaha mendekati ku? Hanya untuk mu sayang...!" Ucap Brian sembari mencengkeram kedua sisi bahu Mayang dengan sedikit guncangan.Dengan penuh tekanan Brian meluap kan emosi di jiwanya.


Mayang hanya bisa diam tanpa kata menatap Brian dengan wajah penuh penyesalan. "Sayang maafkan aku," Lirih Mayang penuh penyesalan. "Tadinya aku belum yakin dengan perasaan mu padaku." Lanjut Mayang jujur.


"Sayang percayalah, kau adalah laki-laki paling sempurna yang pernah ku jumpai di dunia ini." Ucap Mayang dengan penuh keyakinan. "Tapi sayang, tidak semua wanita menginginkan kesempurnaan itu. Begitu pun diri ku. Aku butuh orang yang menganggapku satu-satunya, dan bukan salah satu nya...!" Ucap Mayang dengan penekanan di kalimat akhir.


Di saat suasana mulai menegang,tiba-tiba Malik dan Ratih muncul dari lantai atas.Meraka tampak serasi dengan berjalan sambil bergandengan tangan.


Mayang dan Brian tersenyum menyambut kehadiran pasangan yang selalu terlihat romantis ini.


"Ayah ibu, kalian jangan membuat kami iri dengan kemesraan kalian?!" Brian pura-pura tak suka.


"Kenapa harus iri, lakukan saja dengan istri mu sendiri." Jawab Ratih santai. "Berangkat sekarang saja ya, kita akan kemalaman kalau ibu harus meladeni mu dulu." Ucap Ratih sembari tersenyum dan melirik putranya.


"Apa maksud ibu, justru aku yang ibu buat terlalu lama menunggu! Kenapa jadi menyalahkan ku." Ucap Brian dengan nada kesal.Tapi dia tidak benar-benar sedang kesal.


****


Brian membuka siku nya yang sudah di tekuk,agar Mayang menelusupkan tangan nya dan merangkul nya.Gadis itu pun dengan senang hati melakukan nya lalu mereka melangkah memasuki gedung di mana pesta berlangsung.


Mayang berdecak kagum dengan kemewahan pesta yang menyambutnya begitu kaki nya melangkah memasuki gedung milik keluarga suaminya itu.


Mungkin kurang lebih nya seperti ini lah pesta pernikahan nya waktu itu, namun Mayang tak terlalu menikmatinya karena ia terlalu sibuk dengan kegugupan nya waktu itu sehingga tak menikmati pesta Belum lagi rasa lelah karena harus berdiri lama untuk menyambut tamu undangan.


Baru masuk saja mereka sudah harus di sibuk kan dengan sapaan dan basa-basi teman-teman dan kolega Brian yang turut hadir di pesta. Mereka ingin bertatap muka secara langsung dengan wanita beruntung yang Brian nikahi. Brian pun tak segan dan dengan percaya dirinya pamer kemesraan dengan istrinya pada orang-orang yang menyapa nya.


Brian menggandeng mesra tangan Mayang dan membimbing nya untuk melangkah mendekati seseorang yang sangat ia hormati.


"Ayah." Panggil Brian sembari merengkuh dan memeluk lelaki dengan rambut yang sudah mulai beruban namun masih bisa berdiri dengan tegap. "Apa kabar ayah." Tanya Brian yang masih dalam pelukan.

__ADS_1


"Baik," Jawab lelaki itu sembari menepuk bahu Brian membalas pelukan menantu nya. "Mayang apa kabar?" Tanya lelaki itu dengan hangat kepada Mayang setelah melepas pelukan nya dari Brian.


"Baik tuan." Jawab Mayang sembari mengangguk sopan pada lelaki yang Brian panggil ayah itu.


"Namaku adalah Hans, panggil saja aku ayah. Karena suami mu memanggil ku ayah kan." Ucap Hans di iringi tawa yang hangat membuat yang mendengarnya langsung merasa nyaman karena Hans sendiri orang nya sangat ramah.


"Panggil dia ayah sayang," Perintah Brian sembari tersenyum. "Dia juga ayah ku."


"Baik ay-ayah." Ucap Mayang dengan terbata.


"Baiklah, kalian nikmati pestanya ya." Ucap Hans mempersilahkan. "Ayah akan menemui tamu yang lain nya dulu." Hans menepuk pundak Brian.


"Baik ayah." Brian tersenyum mengiringi langkah mertuanya dengan pandangan nya.


"Apa kau takut melihatnya?" Tanya Brian merujuk pada Hans.Karena melihat ekspresi Mayang yang terlihat canggung. "Dia ayahku juga sayang. Kau harus menghormatinya." Perintah Brian terdengar memaksa. "Kasihan dia. Dia kesepian karena di tinggal oleh anaknya sayang."


Tiba-tiba wajah Mayang terlihat iba menatap Hans yang sedang berbincang dengan tamu lain dari kejauhan. Ucapan Brian menyadarkan nya yang sempat lupa kalau nyawa putrinya terenggut karena kecelakaan bersama suaminya. Wajar jika Brian sangat menyayanginya.


Tiba-tiba Brian mengangkat tangan nya untuk melambai pada segerombolan orang yang tengah melambai padanya juga.Pandangan Mayang spontan terarah kesana.Mayang bisa memperkirakan kalau itu adalah teman sekaligus kolega Brian.Ada Karla juga di sana.


"Sayang ayo kita kesana." Brian meraih pergelangan tangan Mayang.


"Sayang kau sendiri saja ya." Tolak Mayang segera.


"Kenapa sayang?" Brian bertanya heran.


"Aku lelah. Aku ingin istirahat dan duduk di sana." Ucap Mayang sembari menunjuk sebuah sofa kosong.


"Baiklah sayang. Tetap disana sampai aku datang ya, aku hanya sebentar. Ingat, jangan jauh-jauh." Brian dengan tegas memperingatkan.


"Iya sayang." Mayang meyakinkan.


"Mau ku antar kesana?" Tawar Brian.


"Tidak sayang, pergilah. Teman mu sudah menunggu." Mayang mengingatkan sembari melirik pada segerombolan orang yang tengah menatap mereka.


"Baiklah, hati-hati ya." Pesan Brian.


Kedua nya lantas berpisah.Mayang melangkah menuju sofa,sedang Brian menghampiri teman-teman nya.


Mayang duduk sembari mengamati suaminya dari tempat nya duduk.Laki-laki itu tampak sedang asik berbincang sembari tertawa dengan teman-teman nya.Sesekali.laki-laki itu menoleh kearah nya dengan tersenyum dan melambaikan tangan nya.


Namun yang membuat Mayang risih adalah wanita yang berdiri disamping Brian.Gadis yang Mayang ketahui bernama Karla itu terlihat seperti dengan sengaja mencari-cari perhatian pada suaminya.


Sesekali gadis itu melirik sengit pada Mayang sembari melakukan aksinya.Dan yang membuat nafas Mayang terasa sesak adalah ketika wanita itu pura-pura terjatuh dan dengan cekatan Brian berhasil menangkap tubuh nya.


Tubuh Mayang terasa memanas seperti terbakar karena cemburu.Mayang tak sanggup menyaksikan itu lebih lama lagi sehingga tanpa sadar ia pun bangkit dan berlari di antara banyaknya orang yang berdiri di tengah pesta.


Brugg!


Tak sengaja Tubuh Mayang menabrak sesosok tubuh kekar yang membuat Mayang hampir tersungkur ke belakang dan hampir terjatuh jika lelaki itu tidak meraih lengan nya.


"Hati-hati nona," Ucap lelaki bersuara berat itu memperingatkan Mayang sembari merengkuh tubuh Mayang ke dalam pelukan nya.


Mayang spontan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah lelaki yang telah mengurung tubuhnya dalam pelukan itu.Untuk sepersekian detik Matang sempat terpana dengan wajah tampan lelaki muda itu sebelum ia sadar dan meronta agar lelaki itu melepaskan pelukan nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2