
Karena begitu kerasnya dorongan Brian saat membuka pintu hingga menimbulkan suara nyaring karena hentakannya, membuat sesokok wanita yang ada di dalam sana seketika terperanjat kaget melihat kedatangan Brian.
Gadis dengan dres berwarna putih yang tengah berdiri dengan posisi membelakangi itu segera berbalik badan dan menghadap kepada Brian.
Brian yang melihat tangan serta pakaian sang istri merah karena berlumuran darah itu pun segera meraih tubuh wanitanya dan memeluk tubuh kaku itu begitu erat.
Sementara yang di peluk hanya tertegun bingung sambil sesekali mengerjapkan mata, berusaha menelaah apa yang tengah terjadi dengan suaminya. Ia pun menoleh cepat saat mendengar isak kecil dari bibir sang suami.
"Sayang, kau nangis ya. Kenapa?" Tanyanya dengan nada heran. Sementara Brian seketika membelalakkan mata begitu mendengar suara sang istri yang terdengar baik-baik saja. "Cup cup cup ,,, Sayang, diam ya." Imbuhnya lagi seperti sedang menenangkan anak kecil yang sedang menangis.
Sontak saja hal itu membuat Brian melepaskan pelukannya seketika. Diremasnya kedua sisi bahu sang istri dengan lembut sambil mengamati sang istri dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Sayang kenapa memperhatikan ku sampai segitunya?" Mayang masih memperlihatkan wajah kebingungannya.
"Sayang kau baik-baik saja?!"
"Iya lah Sayang, memangnya aku kenapa?" Bertanya heran, pandangan Mayang pun terarah pada wajah basah sang suami. "Sayang kau menangis? Cie cie cie ,,, yang terlalu khawatir pada ku ,,,," ledeknya dengan diiringi kekehan kecil. Ia hampir saja mengusap wajah suaminya, namun urung di lakukan saat melihat noda merah di tangannya.
"Lalu noda merah ini apa?" Tanya Brian di susul gerakan tubuhnya yang seperti tersentak saat perutnya kembali seperti di aduk-aduk dan menimbulkan rasa mual.
"Ih Sayang, kau mau muntah?" Mayang meringis heran. "Aku yang hamil kenapa kau yang mual?"
Berusaha menguasai dirinya agar tidak muntah, Brian meneguk berat slavinanya. Lelaki dengan mata berkaca-kaca karena efek mual itu kembali mengamati tubuh sang istri. Ia baru menyadari jika sang istri sama sekali tak berbau anyir khas seperti bau darah, namun aroma lain lah yang ditangkap oleh indera penciumannya.
"Jelaskan padaku Sayang, noda apa sebenarnya ini?!" Sedikit kesal, Brian menarik mundur tubuhnya hingga membentang jarak diantara mereka.
"Oh ini," Mayang menunduk memperhatikan pakaiannya. "Aku tak sengaja menumpahkan cat lukis Sayang, he-he." Mayang berucap sambil tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.
"Cat lukis?!" Pertanyaan Brian yang bernada tinggi membuat Mayang seketika terperanjat. Lelaki dengan wajah kemerahan itu mengeraskan rahang tegasnya. Dengan kedua tangannya Brian mengusap kasar wajahnya lalu menariknya ke atas kepala dan memberi sedikit pijatan di sana.
"Sayang," Brian melempar pandangan tajamnya ke arah sang istri. "Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku padamu?!" Bertanya dengan raut muka yang kecewa membuat Mayang semakin bingung, sebab suaminya bukanlah tipe lelaki pemarah tanpa alasan.
Khawatir kenapa? Memangnya aku ini kenapa? Mayang hanya bisa menyerukan pertanyaannya hanya di dalam hati.
Wanita yang membiarkan rambut panjangnya tergerai itu masih terdiam kaku. Tak berani menyela saat sang suami sedang berbicara. Apalagi membantah setiap ucapannya. Dengan wajah terlihat pasrah ia berusaha tenang menghadapi tingkah aneh suaminya.
"Bukannya menjaga dirimu sendiri dengan baik di saat aku tidak ada, kau justru malah asik bermain-main dengan cat itu tanpa rasa bersalah." Lanjut Brian tampak kesal. "Apa kau tahu, karena ceceran cat tumpah itu membuat ku sempat berpikir telah terjadi hal buruk terhadapmu?! Sejak dari kantor aku sudah mengkhawatirkan mu setengah mati dan di rumah kau malah menambahinya dengan semua ini." Mendengkus, Brian membuang muka memalingkan wajahnya. Nafasnya naik turun tak terkendali.
Mendesah kasar, lelaki yang berbalut kemeja putih dan rompi vest itu berlalu begitu saja meninggalkan istrinya di dalam sana.
Mayang sudah selangkah maju ingin mengikuti langkah suaminya, namun menilik noda di tangannya membuatnya mengurungkan niat dan memilih melangkah menuju washtafel guna mencuci tangannya.
Melangkah tergesa menuju pintu karena ingin segera menghampiri sang suami, Mayang lantas memperlambat langkahnya saat melihat sosok Brian tengah duduk di sofa. Lelaki yang tengah duduk dengan posisi menyerong dengan kepalan tangannya menyangga kepala itu tampak muram tak bergairah. Tak seperti biasanya yang selalu dihiasi dengan senyuman dan pandangan mata penuh binar cinta.
Perlahan Mayang mendudukkan dirinya di sofa, mengambil tempat merapat dengan tubuh si lelaki. Diperhatikannya sang suami yang tampak tak bergeming dengan kehadirannya. Tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Sayang ,,,," panggil Mayang begitu lembut dengan senyuman termanisnya. Namun ternyata itu percuma, sebab Brian masih enggan untuk menatapnya, atau setidaknya menoleh sedikit saja.
"Sayang, aku tak masalah jika kau marah. Tapi setidaknya lihat aku, pandang aku! Jangan siksa aku lagi dengan kebisuanmu seperti itu ...!" Rengek Mayang dengan wajahnya yang terlihat begitu sedih.
Bergeming, Brian menggerakkan lehernya sedikit menoleh ke belakang. "Ganti dulu pakaian mu. Aku mual melihatnya." Ucapnya lirih namun penuh tuntutan.
Seketika Mayang menunduk menatap dres putih nya yang kini berubah merah. Refleks gadis itu menepuk dahinya sendiri. Akibat terlalu buru-buru ingin menyusul sang suami, ia sampai terlupa untuk menukar pakaiannya.
"Sayang, aku pamit sebentar untuk mengganti pakaian ku, ya," pamitnya Mayang sambil beranjak, yang hanya di balas anggukan tipis dari suaminya.
Tak lama kemudian, Mayang pun kembali dengan dres lain yang begitu cantik menempel di badan proporsionalnya. Melangkah pelan, Mayang sembari menghela nafas dalam. Berusaha mengusir kegalauannya dan menghampiri sang suami yang masih dalam posisi seperti sebelum ia tinggalkan tadi.
Merasakan kehadiran sang istri, Brian yang sebelumnya masih larut dalam lamunannya kini beringsut dan menoleh pada seseorang yang sedang tersenyum tulus padanya.
"Sayang ,,,," Mayang meraih jemari sang suami lalu meremasnya lembut. "Biasakah kau katakan salah ku di mana? Bisakah kau maafkan aku juga?" lirih ia berucap penuh kelembutan. Meski masih dilanda kebingungan, namun ia tahu sang suami pasti memiliki maksud baik sendiri yang belum ia ketahui, hingga membuatnya tiba-tiba bersikap aneh seperti itu.
Brian membalas tatapan lekat wanita yang tampak penuh penyesalan itu. Meski gadis itu tak bisa menutupi gurat kebingungannya, namun ia tetap bersikap lembut dan sabar menghadapi sikap kasar dirinya tadi.
Hal itu membuat Brian mendadak di dera rasa sesal yang teramat, rasanya seperti menyumbat pori-pori pari-parunya hingga mengakibatkan sesak di rongga dada.
Lelaki dengan wajah penuh haru itu meneguk slavinanya berat saat menatap sang istri yang juga tengah menatapnya penuh rasa bersalah. Tak tahan lagi, ia segera merengkuh tubuh sang istri dan memeluknya begitu erat.
"Maafkan aku Sayang," bisiknya tepat di telinga sang istri. "Aku yang salah, aku benar-benar minta maaf."
Tersenyum tulus, Mayang menepuk sayang punggung suaminya berulang kali. Setelah beberapa lama keduanya terdiam dalam pelukan, Mayang bergeming agar sang suami melepaskan pelukannya.
Menyadari ketidak nyamanan sang istri membuat Brian tersadar dan segera melepaskan rengkuhannya. "Apa perut mu sakit?" tanyanya dengan nada khawatir sambil mengusap lembut perut sang istri.
"Tidak Sayang, aku baik-baik saja." menebarkan senyuman termanis yang ia punya, Mayang ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Syukurlah," Brian menghela nafasnya lega. Lelaki yang wajahnya kini sudah merona bahagia itu tersenyum sembari meremas lembut jemari istrinya.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf tentang cat itu. Tadinya aku hanya merasa lelah karena terlalu lama berbaring tiduran. Makan terus juga mulut ku lelah mengunyah. Aku merasa bosan Sayang ,,, jadi aku ingin belajar melukis ,,,," keluh gadis yang kini menyandarkan kepalanya di bahu sang suami itu dengan manja.
Seketika Brian pun terkesiap. Seperti di tampar, ia benar-benar terlupa bahkan sama sekali tak mengerti seperti apa rasanya seseorang yang hanya terkurung di dalam rumah tanpa tahu dunua luar. Meskipun hanya seekor burung kecil, ia juga menginginkan kebebasan walaupun makanannya terjamin dan hidup di sangkar emas. Apalagi bagi seorang manusia, seperti sang istri yang sangat ia cintai.
Walaupun dia selalu terlihat bahagia di hadapannya, tapi Brian yakin dia juga menginginkan kehidupan bahagia yang penuh kebebasan dan tanpa kekangan. Bebas beraktifitas layaknya wanita pada umumnya.
Melewati waktu senggang dengan berjalan-jalan. Pergi kemanapun tanpa ketakutan. Dan bebas melakukan apapun yang di suka tanpa tekanan.
Entah mengapa pengakuan sang istri membuatnya semakin di rundung rasa bersalah. Lagi-lagi merasa tak tahan, Brian pun kembali mendekap tubuh sang istri.
Lah, kok di peluk lagi?! Mayang membatin.
Gadis yang tiba-tiba merasa sesak napas itu melenguh pelan. Berusaha menahan rasa yang tidak nyaman. Namun ternyata sang suami menyadari itu dan segera melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Maaf Sayang, aku membuat mu kesulitan bernapas.l," lagi-lagi Brian merasa bersalah. Ia mengerucut bibirnya kesal. "Padahal aku selalu ingin memelukmu, tapi kalau selalu membuatmu sesak napas, aku jadi tidak tega melakukannya kan. Dan selama kau hamil ini aku belum pernah memberimu nafkah batin kan?! Aku begitu merindukan ,,,," rengeknya manja seraya menyandarkan kepalanya di dada Mayang, sementara kedua tangannya melingkar di perut sang istri.
Mayang yang sebelumnya sempat terkejut, pada akhirnya pun tersenyum tulus dan membalas memeluk sang suami. "Sabar ya Sayang, Dokter kandungan belum mengizinkanmu memberikan nafkah batin untukku ...." Mayang menepuk pelan bahu Brian, untuk memberi dukungan. Di kecupnya pula puncak kepala sang suami dengan penuh sayang.
"Memangnya kapan dokter kandungan baru memperbolehkan?" Brian mendongak, menatap sang istri penuh tanya.
Mayang menggeleng pelan sambil mengangkat bahu. "Tidak tahu."
Brian mendengkus kesal. "Hah, memang mereka siapa kita?! Seenaknya saja melarang kita melakukannya."
"Eh Sayang nggak boleh begitu, ini semua untuk kebaikan kita kok. Kau ingin bayi kita sehat dan baik-baik saja bukan? Nanti pasti ada waktunya kau bisa 'ciluk baa' dengan bayi kita di dalam sini ...."
Brian bergeming seketika. "Benarkah?" Tanyanya dengan mata berbinar senang.
"Hemmm ...." Mayang mengngguk cepat.
"Aku sudah tidak sabar." ucap Brian dengan seringai nakalnya. Tangannya pun bergerak mengusap lembut area sensitif sang istri.
"Sayang ,,,." Mayang menatap sang suami penug isyarat.
"Sayang, ku mohon ..., aku hanya ingin menyentuhnya. Aku tidak berharap lebih!"
"Benarkah?!" Mayang bertanya dengan nada menyindir. Sementara alis matanya nsik turun berkali-kali.
"Ish apa sih?!" Brian merengut dan memalingkan wajahnya. Menyembunyikan wajah memerahnya.
"Jangan ngambek dong Sayang," Mayang meraih dagu Brian dan memaksa menghadap kepadanya. Sedetik kemudian lengkung merahnya pun tertanam di bibir sang suami dan terjadilah pertautan panas untuk beberapa saat.
"Temani aku belajar melukis, yuk." Ajak Mayang pada sang suami yang tengah terpesona menatapnya. Wanita itu segera bangkit dan menarik lengan sang suami agar mengikutinya.
"Kemana Sayang, aku belum puas ...!"
"Nanti lagi Sayang," Mayang masih berusaha menarik suaminya yang tampak enggan untuk berdiri.
"Ingat-ingat Sayang, jangan terlau mengeluarkan tenagamu." Brian menatap sang istri penuh peringatan membuat Mayang melepaskan lengan sang suami seketika.
"Ha-ha iya, lupa. Maaf Sayang."
Meski malas, namun akhirnya Brian pun bangkit dan dengan pasrah mengikuti langkah sang istri. Ternyata Mayang membawanya menuju luar kamar. Di sisi ruangan di samping sebuah jendela kaca besar. Mayang rupanya sudah menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan melukisnya.
"Semua sudah kau persiapkan dengan matang ternyata."
"Ha-ha iya. Aku kalau sedang ingin ya, begini." Mayang terkekeh pelan. Ia melangkah menuju kanvas yang sudah siap, sedang Brian melangkah menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk di sana.
"Ah kenapa pose-nya pas sekali, Sayang." Puji Mayang penuh takjub menatap pada Brian yang sedang bertopang dagu dengan begitu mempesona. Bertahan seperti itu dan jangan bergerak ya," pintanya setengah memaksa.
__ADS_1
"Benarkah kau bisa melukis ku?"
Bersambung