
Sudah lebih tengah malam saat Brian sampai di kediamannya. Di tengah kantuk dan lelah yang mendera, ia harus tetap terjaga saat harus mengendarai mobilnya sendiri saat pulang.
"Selamat datang, Tuan." Kuswara yang selalu terlihat bugar meskipun telah lewat tengah malam tetap menyambut kedatangan Brian. Wanita dengan pakaian formal yang selalu melekat di badan itu mengambil alih jas serta koper kerja dari tangan majikannya. "Nyonya sudah tidur sejak tadi, Tuan. Hari ini beliau terlihat sangat lelah, jadi memutuskan untuk istirahat lebih dulu." seolah tahu apa yang dipikirkan oleh tuannya, wanita paruh baya itu mendahului berbicara sebelum sang tuan menanyakannya.
Brian tersenyum getir. Ia menyadari seperti apa beratnya hari-hari yang di lalui sang istri belakang ini. Ia harus menjalani latihan fisik berat sebagai pembekalan dirinya nanti. Ia begitu bekerja keras menerima pelajaran baru sebagai persiapan perlindungan dirinya sendiri.
Sudah lebih sepuluh hari Mayang menjalani masa itu. Ia digembleng keras oleh para pelatih terbaik yang sengaja ditunjuk khusus untuk melatihnya. Mayang dilatih banyak hal. Mulai dari pertahanan untuk melindungi bagian perut dari Serangan lawan, maupun cara pemakaian berbagai senjata, termasuk senjata api yang memang baru pertama kali disentuhnya.
Dan seiring berjalannya waktu, semakin dekat waktu itu tiba semakin tinggi pula rasa takut yang Brian rasa. Waktu di mana misi akan di mulai.
"Apa Tuan ingin makan malam? Saya akan segera menyiapkannya untuk Tuan." Kuswara menawarkan selagi mengikuti langkah Brian dari ruang tamu menuju ruang tengah.
"Tidak Bu Kus, terima kasih. Aku sudah makan malam bersama Billy di kantor tadi."
"Baiklah, Tuan." ucap Kuswara dengan kepala mengangguk samar. Wanita paruh baya itu menghentikan langkah saat kaki Brian berayun menuju tangga. "Selamat beristirahat Tuan, semoga tidur anda nyenyak."
Brian yang sudah menginjak anak tangga pertama mendadak berhenti dan menoleh ke belakang dengan posisi tubuh setengah berputar. "Selamat beristirahat juga Bu kus." balasnya kemudian. Seulas senyum tersungging ketika menatap wanita yang telah membantunya sedari kecilnya. Sementara wanita paruh baya itu mengangguk patuh dengan senyuman formal namun penuh ketulusan.
"Beristirahatlah Bu Kus. Terima kasih sudah menyambutku pulang setiap hari. Kau selalu mementingkan diriku hingga mengabaikan dirimu sendiri."
__ADS_1
"Anda ini bicara apa sih Tuan." Kuswara terkekeh pelan menanggapi perkataan Brian. Tawanya terdengar riang menyapa indera pendengaran. Sama sekali tak menampakkan sejejak kepura-puraan. "Ini kan memang tugas saya, Tuan. Lagi pula saya merasa senang dan sama sekali tak merasa terbebani saat melakukannya. Jadi Tuan tak perlu merasa bersalah seperti itu."
"Terima kasih." Brian berucap dengan senyuman yang masih terpatri. "Aku tidak akan melupakan jasa-jasamu Bu Kus."
"Tuan, saya benar-benar senang melakukannya. Saya tidak mengharapkan apresiasi apapun dari anda. Kebahagiaan keluarga anda adalah kebahagiaan saya juga. Jadi mohon jangan melebih-lebihkan yang saya lakukan."
"Baiklah-baiklah," kehabisan kata-kata, Brian akhirnya menyerah juga. Tak ada lagi yang dibicarakan, ia kemudian berbalik badan dan melangkah meniti satu persatu anak tangga. Sementara Kuswara hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh hingga tak terlihat.
***
Dengan jubah tidur yang membungkus tubuh kekarnya, Brian yang baru keluar dari kamar mandi mengayunkan langkah menuju ke arah ranjang. Setelah datang tadi ia memang menahan diri untuk tidak menyentuh sang istri sebelum membersihkan diri terlebih dulu.
Duduk di tepi ranjang tepat di sisi istrinya, Brian memindai tubuh Mayang yang tengah tertidur dengan seksama, memastikan kondisi sang istri dalam keadaan baik-baik saja. Rutinitasnya sebelum tidur, yang ia lakukan berulang beberapa hari belakangan ini.
Embusan napas yang terdengar lembut, pelan dan teratur, akhirnya meyakinkan Brian jika tidur Mayang berada pada titik pulas dan nyaman. Gadis bersurai panjang itu meringkuk dengan posisi miring dengan menjadikan punggung tangan sebagai bantalan pipi kirinya. Wajah cantik polos tanpa dosa itu terlihat sangat lelah akhir-akhir ini. Memandangnya dengan kondisi seperti ini, Brian tersenyum getir. Mana tega ia membangunkannya di tengah sang istri terlihat nyaman menjelajahi alam mimpi.
Mendesah pelan, tangan Brian bergerak menyentuh pipi mulus istrinya dengan gerakan seringan kapas, berusaha sepelan mungkin agar tidak mengusik ketenangan istirahat wanita tercintanya. Menggemertakkan giginya, Brian yang gemas menggunakan ibu jari untuk mengusap pipi istrinya yang begitu kenyal.
Tak tahan untuk memeluknya, ia segera naik ke atas ranjang, menyatukan tubuh mereka dan ikut masuk ke dalam gulungan selimut hangat yang membungkus raga sang istri hingga mencapai ke atas dada. Dengan penuh cinta ia merapatkan raga si istri ke dalam dekapannya yang hangat, lantas menghadiahkan kecupan lembut di puncak. Sementara tangan kanannya bergerak melingkar di pinggang dan mengusap lembut perut sang istri, di mana buah cinta mereka sedang bertumbuh di sana.
__ADS_1
Gerakannya tersebut rupanya mengusik lelapnya tidur Mayang, hingga gadis itu bergerak pelan setelah menyadari kehadiran suaminya. Gadis itu mengerjap pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk, lantas menoleh ke belakang dan tersenyum manis setelah mendapati tubuhnya dalam rengkuhan suami. Wanita yang berbalut lingerie satin berwarna merah muda itu bergerak pelan berbalik badan dan menghadap tepat ke arah suaminya.
"Sayang, sudah pulang?" lenguhan pelan itu terlontar selagi tangan sehalus sutra itu membelai pipi lelakinya. Seketika iris coklat itu berbinar bahagia hingga tangannya bergerak melingkari tubuh suaminya dan semakin mengeratkan pelukan. "Aku benar-benar merindukanmu ,,,." tutur Mayang manja dengan mata terpejam menikmati kehangatan.
Tingkah manja Mayang itu tak ayal membuat Brian gemas namun juga kesal. Ia sudah sekuat tenaga untuk menahan segala hasrat, istrinya justru terbangun dan malah membangkitkannya. Entah disengaja atau tidak, nyatanya kini yang di bawah sana kembali bangun dan menuntut lebih.
Menipiskan bibir, tersenyum penuh sayang selagi menunduk menatapnya puncak kepala wanitanya. "Aku juga, Sayang." tangannya bergerak mengeratkan pelukan, dan menghadiahi kecupan lembut di ubun-ubun istrinya dengan mata yang terpejam. "Tidur dan beristirahatlah, aku ada di sini untuk menjagamu." imbuhnya pelan setengah berbisik. Sementara tangannya bergerak menepuk pelan pantat sang istri dengan gerakan intens, seolah sedang berusaha menina bobokan.
"Tidak mau." Suara bantahan pun terdengar, bahkan disusul dengan gerakan kepala menggeleng meski wajah Mayang tersembunyi di dada bidang suaminya. "Tidak dengar tadi aku bilang rindu?"
Menautkan alis sembari menunduk, tangan Brian bergerak menyentuh dagu sang istri dengan sedikit tarikan. Seolah mengisyaratkan agar Mayang mendongak ke arahnya. "Maksudnya?" Pertanyaan itu terlontar ketika kedua netra saling bertemu dan saling menatap begitu lekat.
Tak menjawab dengan kata, Mayang justru mengulum senyum. Menikmati ekspresi suami yang didera bingung. Tangan sehalus sutra yang melingkar di pinggang Brian itu kembali bergerak ringan membelai dan menjelajahi tubuh si suami dan berakhir mendaratkan cubitan gemas di pipi.
"Sayang sakit." keluh Brian sambil bergerak cepat menggenggam tangan istrinya. Lelaki itu terlihat sebal, sudah di buat merinding dengan sensasi lembut dengan setiap sentuhan dan belaian, istrinya justru mengakhiri dengan sebuah cubitan. "Kau benar-benar menyebalkan. Apa kau sengaja ingin menantangku heumm??" Brian mengeratkan genggamannya saat Mayang berusaha melepaskan diri. Brian benar-benar di buat geregetan, terlebih dengan senyuman menggoda yang tercetak di wajah ayu milik istrinya.
Brian segera bangkit dan mengurung tubuh sang istri dengan menjadikan lutut dan siku sebagai tumpuan, hingga Mayang yang berada di bawah pun terkungkung dan tak bisa berkutik. Namun gadis bersurai panjang itu justru menikmati dan terlihat senang menerima perlakuan Brian.
Seringai nakal pun tersungging di bibir Brian selagi menatap lekat manik istrinya. "Aku sudah berusaha keras menahan tapi kau malah membangkitkan. Jangan salahkan aku jika malam ini kau tak kulepaskan." desis penuh ancaman.
__ADS_1
Bersambung
Hai semua 😚😚 Aku senang deh, akhirnya bisa menyapa. Selamat membaca ya, maafkan diriku yang seperti ini 🙏🙏