Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Spoiler


__ADS_3

Satya, pria tampan yang baru sehari menikahiku membaringkan tubuh ini tepat di atas ranjang, di mana limpahan kelopak bunga mawar tersusun rapi membentuk hati. Sangat indah, seperti perasaanku saat ini.


Harum aroma mawar langsung menusuk indra penciuman. Kuusap lembut wajah Satya yang tengah menatapku penuh puja. Sangat memesona. Dia meraih tanganku dengan lembut dan menghadiahi kecupan hangat di punggungnya.


“I love you, Sayang,” ucapnya penuh kelembutan.


Satya memang begitu. Pintar membuat hatiku berbunga-bunga. Itulah yang membuatku mantap mau dinikahinya kendati perkenalan kami belum berjalan lama.


“I love you too,” balasku tak kalah lembut.


Aku menggunakan telunjuk untuk menahan Satya menyatukan bibir kami. Pria itu mendengkus kesal dan memasang muka sebal, membuatku tergelak kencang.


“Sabar, Sayang. Jangan tergesa-gesa begitu. Aku telah resmi menjadi milikmu seutuhnya. Percayalah, aku takkan pernah lari dari kamu. Izinkan aku membersihkan diri dulu sebentar, ya.” Aku meminta pengertian.


Seharian berdiri sambil menyalami tamu undangan membuat tubuhku sangat kelelahan. Berendam air hangat barang sebentar sepertinya sangat nyaman. Jujur, yang kuinginkan sekarang hanya kasur dan bantal untuk mengistirahatkan badan. Lagi pula Satya orangnya sangat penyabar dan pengertian. Membiarkan aku istirahat sebentar sepertinya bukanlah masalah besar.


“Tidak perlu.”


Aku terkejut ketika Satya menarikku yang sudah terduduk, untuk kembali merebahkan badan. Dengan gerakan cepat dia menindih dan mengunci pergerakan.


Aku berusaha mendorong dadanya ketika wajah Satya bergerak mendekat. Sayangnya hal itu percuma saja sebab tenaga ini tak cukup kuat. Bulu halus di permukaan kulit serentak meremang kala bibir Satya berlabuh di ceruk leher. Dengan sentuhan seringan kapas. Sangat lembut. Meninggalkan sensasi geli dan gelenyar aneh yang merambat.


“Aku ingin melakukannya sekarang juga,” bisiknya parau. Suaranya yang sensual itu sukses membuatku gelagapan.


“Ta–tapi, a–ku sangat lelah, Mas.”

__ADS_1


Satya langsung menarik mundur kepalanya dan menatapku dengan tajam. Inilah kali pertama aku menangkap wajah marahnya sejak pertama mengenal.


“Ini malam pertama kita! Kau adalah istriku! Kau berdosa besar jika sampai menolakku!”


Aku tersentak saat tangan Satya bergerak cepat melucuti pakaian yang ada. Meski kesulitan, ia tetap memaksakan hingga gaun pengantinku mengalami kerusakan di mana-mana.


Perubahan sikap Satya sukses membuatku bertanya-tanya. Lenyap ke manakah kelembutan yang selama ini melekat pada dirinya?


Layaknya harimau lapar, ia menatapku seperti ingin menerkam. Aku tak berdaya saat dia menarik kain penutup terakhirku dengan kasar, lalu melepas pakaiannya sendiri dengan tak sabaran. Sehingga dalam sekejap saja, semua yang kami kenakan berpindah ke lantai berhamburan. Menyisakan dua tubuh polos tanpa sehelai benang.


Tak ada permukaan kulitku yang terlewat dari sentuhan bibir Satya setelahnya. Ia begitu mahirnya membelitku dengan candu kenikmatan. Dengan teknik mencumbu yang sangat ahli dan begitu memabukkan.


Aku yang begitu polos dan tak berdaya hanya bisa patuh mengikuti permainannya. Bibir ini bahkan sesekali mengeluarkan suara ******* nikmat tanpa sadar. Hingga ....


Sakit tak Terperi. Tubuhku tak berdaya. Tulang-tulangku seperti diremukkan. Persendian terasa lemas. Kulihat Satya tetap melanjutkan aktivitasnya dengan begitu liar, seolah-olah tak terpengaruh meski jeritan sakitku menggema di seluruh ruang kamar. Tak peduli meski tubuhku meronta ingin dilepaskan.


Bulir bening yang meleleh di sudut mata menjadi saksi bisu bagaimana Satya merenggut kesucianku dengan paksa. Dengan skill bercinta tingkat dewa yang dimilikinya, salahkah jika aku meragukan keperjakaan Satya?


 


***


 


Aku menangis sesenggukan sambil menutup wajah dengan telapak tangan. Namun, air mata ini tidak juga Satya pedulikan. Ia justru terlelap setelah menuntaskan hasratnya dengan begitu brutal. Tanpa jeda. Tanpa memberiku kesempatan untuk beristirahat barang sebentar. Lalu setelah mereguk kepuasan, ia membiarkanku sendiri dalam kesakitan.

__ADS_1


Salahkah bila aku kecewa? Aku mendambakan pernikahan yang bahagia. Malam pertama penuh cinta dan kelembutan. Tapi yang kudapat sekarang apa? Perlakuan Satya tak ubahnya sebuah pemaksaan yang berujung penyiksaan.


Seketika ingatanku berkelana pada kejadian beberapa saat lalu, ketika ‘dia’ bertanya padaku untuk yang pertama sekaligus terakhir kalinya, seolah-olah ingin memastikan keyakinanku memilih Satya sebagai partner mengakhiri masa lajang.


Dia yang kumaksud adalah Darren, pria berperawakan tinggi yang turut hadir dalam acara pernikahanku dan hanya duduk di jajaran kursi para tamu.


Bukan. Bukan aku yang mengundang dia. Aku justru terkejut saat Satya memperkenalkan Darren sebagai teman kecilnya.


“Hai.” Darren mengulurkan tangannya diiringi senyuman semanis gula.


Dia memang pernah menjadi penghuni di palung hati yang terdalam. Namun, itu tak berjalan lama. Sebab dia tidak mampu memperjuangkan hubungan kami yang terhalang restu orang tuanya. Selanjutnya, dia pun menghilang seperti ditelan bumi, membuatku terpaksa menata hati dan melupakan segalanya tentang Darren yang kupikir untuk selamanya.


Lantas, ketika sosok itu tiba-tiba hadir di depan mata dengan keadaan yang berbeda, aku harus apa?


“Sayang.”


Mataku sontak mengerjap ketika Satya mengguncang lengan ini dengan pelan. Aku hanya bisa tersenyum kikuk lantaran kedapatan memandang Darren hingga terpaku untuk beberapa waktu.


“Dia adalah Darren, teman kecilku. Apakah kau pernah melihatnya sebelum ini? Dia sedang mengurus perusahaan papanya yang ada di luar negeri dan datang ke Indonesia khusus untuk menghadiri pernikahan kita.” Satya berucap sambil menyipitkan mata. Mungkinkah ia curiga?


Hai, hai 😁


cerita di atas cuma spoiler ya. Kalau mau baca selengkapnya bisa di cek di novel aku yang lainnya 😆👇👇👇


__ADS_1


__ADS_2