Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bakso Jontor Dan Dower Part 1


__ADS_3

Karena selau mengingat kejadian yang baru dialaminya bersama Mayang tadi,membuat Brian ingin segera pulang dan menemui gadis itu.Ia benar-benar tak bisa bertahan sampai jam kerja di kantornya berakhir dan memutuskan segera pulang ketika arloji di pergelangan tangan nya menunjukkan pukul empat.


Setelah Billy mengantarnya,ia langsung bergegas meluncur menuju rumah orang tuanya dimana gadis itu tinggal disana.Saat mobil nya berhenti di halaman seperti biasa ia langsung turun dan berjalan masuk kedalam rumah.Saat baru masuk,tiba-tiba rongga di gendang telinga nya terusik dengan suara tawa orang yang tak asing baginya.


Perlahan ia mendekat dan menyelidik melihat ke dalam ruang keluarga secara diam-diam berlagak seperti detektif.


Dasar!Kenapa dia bisa tertawa seperti itu terhadap Rendy.Memang nya apa yang sudah mereka bicarakan tadi? Brian menggumam kesal.Hatinya serasa seperti di cabik-cabik melihat kedekatan Mayang dengan lelaki lain.Bahkan mereka duduk berdekatan satu sofa dan tertawa lepas begitu.Sedangkan bersama nya Mayang selalu terlihat seperti ketakutan. Memangnya apa yang lebih dari Rendy jika di bandingkan aku?!


**********


Menjelang sore hari sepulang nya dari kantor Wahana Group tadi,Mayang memutuskan untuk menonton televisi di ruang keluarga.Tak ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.Sembari menunggu kedatangan Ratih dan Bella yang sedang keluar rumah untuk sebuah urusan.


Banyak acara yang di suguh kan di layar kaca berbentuk kotak dan besar itu.Mayang memilih menonton acara hiburan wisata kuliner yang menyajikan beragam makanan dari seluruh tanah air.


Di layar kaca terlihat presenter sedang melakukan adegan makan bakso jumbo raksasa dengan isian didalam nya yang sangat menggiurkan hingga membuat air liur Mayang hampir menetes.


Ia tak berkedip sama sekali saat matanya mengarah pada layar kotak besar bergambar itu.Hingga tak menyadari keberadaan seseorang di ruangan itu meski sudah lebih lima menit yang lalu seseorang ini muncul.


Karena merasa tak dihiraukan,lelaki ini memutus kan untuk membiarkan Mayang tenggelam dalam dunianya sendiri dan tak berniat mengganggu nya.Namun disisi lain ia juga memiliki keinginan untuk mengerjai gadis yang tengah fokus pada satu titik tanpa peduli akan hal lain itu.


Lelaki itu melangkah berjinjit mengendap-endap tanpa menimbulkan suara menuju ke belakang sofa dimana Mayang sedang duduk disana.Ia mengambil remote kontrol yang tergeletak di samping Mayang di sofa itu dengan sangat hati-hati sehingga Mayang tak menyadarinya.


Ia mengarah kan remote itu mengarah pada televisi lalu menekan satu tombol yang bertuliskan off dari remote itu.Televisi yang tadinya menyala dengan gambar yang bergerak disana akhirnya pun mati dan hanya menyisakan warna gelap dari televisi itu sendiri.


"Aaaaaaahhhh kok mati si....?!"Mayang menggerutu karena kesal merasa terganggu dengan hilangnya gambar dilayar tersebut.Tangan nya bergerak-gerak mencari sesuatu disamping nya,namun yang di cari seperti hilang di telan bumi."Remote nya mana lagi ini??"Mayang menoleh ke arah sampingnya yang memang benar tak ada apapun yang tergeletak disana.


Ia bangkit dari duduk nya dan menilik tempat yang ia dyduki tadi,dengan harapan menemukan remot itu barangkali ia telah menindih nya tanpa sengaja tapi memang benda itu tak ada.


"Kemana hilang nya?!Tadi disini kok!"Mayang menggerutu lagi lalu membanting tubuh nya untuk duduk di sofa lagi dengan kesal.Karena gerskan nya yang kuat saat duduk sehingga membuat sofa empuk itu memantulkan tubuhnya beberapa kali lalu kemudian pantulan nya semakin melambat dan terhenti.


"Hahahaha!!"Suara tawa melengking terdengar dari belakang nya membuat Mayang terlonjak karena terkejut dan berdiri dari sofa itu melihat ke arah sumber suara.Ekspresi terkejut diwajah nya berubah jadi kesal setelah melihat seseorang yang tengah tertawa terpingkal sambil membungkuk memegang perutnya yang kaku karena tawa terbahaknya.


Mayang meraih bantal hiasan sofa lalu melemparnya dengan geram kearah orang yang belum berhenti tertawa itu."Rendy nggak lucu tau!!"Mayang kembali menjatuhkan tubuh nya lagi di sofa dengan kedua tangan yang terlipat didada dan wajahnya yang cemberut.


Rendy mengambil bantal yang teronggok dilantai setelah sebelumnya sempat melayang dan mampir di kepalanya."Makanya kalau nonton televisi itu jangan tegang.."Ucap Rendy saat tawanya mulai mereda.Ia menaruh bantal itu di sofa lalu kemudian ia pula duduk disana."Air liur mu saja sampai menetes begitu."Ledek nya pula sambil melirik ke arah Mayang yang seketika tampak mengusap sekitar bibirnya karena terpengaruh omongan Rendy.Padahal laki-laki itu hanya meledeknya.Mayang tak benar-benar menetes kan air liur tentunya.


"Bohong!"Ucap Mayang keras karena tak menemukan setitik liur pun di sekitar bibirnya.


"Marah nich ya?"Rendy terkekeh."Tuh remote nya."Ucapnya seraya melempar remote dari tangan nya terarah ke sofa kosong di samping Mayang.


Gadis itu dengan cepat meraih remot itu lalu menekan tombol yang bertuliskan On disana.Televisi pun kembali menyala,namun sudah menyajikan acara lain.Lebih tepatnya acara berita.


"Tuh kan,habis...!Aaah sedih nya..."Mayang membenamkan sisi wajahnya di lengan sofa yang tampak kekar namun empuk itu.


"Ya ampun,,, cuma gambar doank,enggak bikin kamu kenyang juga!"Rendy bicara dengan logika yang ada.


"Enggak bikin kenyang tapi kan aku suka nonton nya..."Bantah Mayang dengan nada lemas masih dengan posisinya tadi."Ini semua gara-gara kamu!"Tuduh Mayang sambil melempar remote ke arah Rendy yang langsung di tangkap oleh lelaki itu.


"iya maaf maaf..."Rendy mencebikkan mulutnya merasa bersalah."Sekarang banyak kok yang jual bakso begituan.Yang dekat juga ada.Kalau kamu mau aku bisa traktir.Ya hitung-hitung buat tanda terimakasih karena kamu sudah bikin Bella baikan sama aku..."Bujuk Rendi sambil tersenyum dan menaikkan kedua alisnya.


Mayang membulatkan matanya rasa tak percaya.Lantas ia beranjak dan duduk berpindah mendekati Rendy satu sofa dengan lelaki itu."Kamu beneran mau traktir bakso jumbo itu?"Mayang bertanya untuk memastikan bahwa yang ia dengar itu tidak salah.Telinga nya masih bekerja dengan baik kan?

__ADS_1


"Iya beneran..."Rendy pula memjawab denganmpenuh keyakinan.


"Kapan?Sekarang."Mayan Bertanya atau memaksa ini.


"Terserah kamu.Sekarang juga bisa mumpung aku nya lagi nganggur."


"Tapi nyonya lagi enggak ada.Beliau mengizinkan apa tidak ya??"Mayang tiba-tiba ragu.Wajahnya mulai terlihat putus asa.


"Coba saja di tanyakan dulu.Tante orang baik kok,pasti kasih izin."Rendi bicara dengan nada menghibur.


"Eh benar juga..."Ucap Mayang seperti baru sadar saja.Ia hampir menyamakan antara Nyonya dan Brian.Jelas saja mereka berbeda."Baiklah..."Mayang meraih ponsel dan menekan satu nomor.Dan singkat cerita Ratih pun mengizinkan bahkan tanpa pengajuan syarat apapun.


"Jadi mau yang Dower apa yang Jontor? " Rendy bertanya untuk menentukan tempat mereka makan nanti.


"Terserah kamu saja mau nya yang mana kalau sama-sama bikin bibir sakit."Jawab Mayang sambil tertawa membuat Rendy pun tekekeh.


Saat keduanya sedang tertawa tiba-tiba Brian muncul dari pintu dan langsung menarik tangan Mayang dengan paksa dan membawanya berjalan keluar.Pandangan Rendy mengikuti langkah mereka dengan wajah bingung dan tak mengerti.Mayang tak bisa berontak karena genggaman tangan Brian terlalu erat.Jika dia berontak maka akan menyakiti dirinya sendiri.


"Tuan kenapa anda menarik saya?"Pertanyaan Mayang membuat Brian menghentikan langkahnya dan melepaskan cengkeraman tangan nya yang membelenggu lengan Mayang.


Brian baru sadar dengan hal bodoh yang baru ia lakukan.Sekarang mau berkelit dengan alasan apa supaya Mayang tak curiga?


"Em anu.."Brian sedikit menggaruk kepalanya yang tak gatal."Bikinkan aku kopi dong?"Brian akhirnya menemukan alasan yang tepat.


"Anda mau kopi?"Tanya Mayang dengan wajah polosnya.Brian lalu mengangguk sambil tersenyum malusebagai jawaban."Kalau mau kopi kenapa malah menyeret saya keluar??Dapurnya kan di belakang?!"Mayang menyampaikan fakta yang ada sambil menahan senyum.


Sial!Bodoh bodoh bodoh!Kenapa aku melakukan kebodohan ini si!Ketahuan kan kalau aku sedang cemburu. Brian menggerutu dalam hati mengutuki sikap bodohnya sendiri.


Mereka kembali ke ruang keluarga dan Rendy masih tetap berada disana.Rendy menyambut kedatangan Brian dan Mayang dengan pandangan penuh tanda tanya.


Mayang melepaskan tangan nya dan mengisyaratkan agar Brian duduk bergabung bersama Rendy.Tatapan Brian terlihat dingin terhadap sepupunya itu.Meski malas namun ia tetap mau duduk di situ.


"Rendi mau kopi juga?"Tanya Mayang agar bisa sekalian membuatnya.


"Enggak."Rendy menjawab sambil menggelengkan kepalanya.


"Oke,,"Mayang mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


"Baru pulang dari kantor?"Rendy bertanya seperti menyelidik pada Brian.


"Iya."Brian hanya menjawab singkat sambil membuang mukanya kearah lain.Tak ada percakapan setelahnya.Sampai akhirnya Mayang datang dan membawa secangkir kopi dan menyuguhkan nya pad Brian.


"Sekarang?"Tanya Rendy pada Mayang yang langsung di balas anggukan dari gadis itu.


"Aku ambil tas dulu ya."Mayang sudah mau berdiri namun Brian menahan nya tiba-tiba.


"Mau kemana?!"Tanya Brian dengan suara keras dan wajah yang semakin tak bersahabat.Kemarahan nya sudah sukses mencuat setelah sedari tadi berusaha menahan nya.


"Kita mau keluar sebentar tuan,Nyonya juga sudah kasih izin."Jawab Mayang meyakinkan kalau dia sudah mengantongi izin nyonya berarti boleh kan?


"Enggak ada keluar rumah dengan alasan apapun!"Ucapan Brian sarat dengan larangan tegas.Ia bahkan tak menatap Mayang meski larangan itu di tujukan gadis itu.Tatapan tajam nya tertuju pada Rendy yang masih terlihat santai saja.Dialah biang kerok nya, pikir Brian.

__ADS_1


"Lho kenapa?"Mayang bertanya dengan nada kecewa.


"Cepat kembali ke kamarmu dan jangan keluar dari sana!"Perintah Brian kali ini di barengi dengan tatapan matanya yang membulat.Membuat gadis itu terpaksa bangkit dan beranjak dari situ dengan langkah kaki ysng sengaja ia hentak-hentakkan.Sebagai bentuk protesnya atas perlakuan buruk Brian padanya.


Mayang menoleh ke arah Brian yang ternyata sedang menatapnya dengan seringai licik itu.Brian tampak menunjuk kan dua jari nya ke arah Mayang setelah ia menunjuk kedua jari itu dari arah matanya sendiri seolah mengatakan "kau dalam pengawasan ku."


Mayang pun menyebikkan bibirnya ke arah laki-laki itu karena kesal.


Mayang berfikir tak akan menyerah begitu saja demi traktiran bakso jumbo jontor dan dower itu.Ia harus cari cara agar bisa jabur dari pengawasan Brian.Bagaimanapun juga ia sudah mengantongi izin dari nyonya.


Mayang mengirim chat ke nomor Rendy.Untung nereka tadi sudah bertukar nomor.


"Tunggu aku di mobil ya,,, aku sedang mencari cara untuk kabur."


"Oke."Rendi membalas cepat chat dari Mayang.


Rendy lalu bangkit dan pamit pada Brian.Brian mengira nya benar-benar pulang,padahal Rendi hanya memindahkan mobilnya ke luar pagar dan menunggu Mayang disana.


Mayang masih mondar-mandir sambil berfikir keras mencari cara agar bisa lolos dari Brian.Ia hanya akan keluar sebentar saja,kenapa tidak boleh?!


"Ahaa."Tiba-tiba mayang tersenyum karena baru saja mendapat kan ide cemerlang.Ia lalu mengintip Brian secara diam-diam.Laki-laki itu sedang asik memainkan ponsel nya.


Mayang menarik nafas nya dalam lalu menghembuskan nya pelan agar ia merasa tenang.Ia berjalan dengan membawa keranjang yang telah ia isi dengan tas nya ya ia simpan di kantong plastik agar tak terlihat oleh Brian.


"Mau kemana?!"Tanya Brian tegas saat Mayang melangkah melewatinya.


Mayang menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah Brian tanpa memutar tubuhnya."Aku hanya mau ke taman depan untuk memetik bunga.Tidak lihat saya sudah membawa keranjang begini!"Mayang menjawab dengan ketus memperlihatkan kemarahan nya.


Brian tak menaruh curiga sedikitpun.Ia melanjutkan pekerjaannnya dan membiarkan Mayang keluar.Toh hanya ke taman depan.


Seketika Brian merasa ada yang aneh dengan keranjang yang dibawa Mayang tadi.Apa isinya?


Brian lalu bangkit dan berjalan cepat menuju ke luar rumah.Ia terkejut saat melihat Maya tengah berlari menenteng tas tangan nya dan meninggalkan keranjang malang itu teronggok di lantai.


"Mayang mau kemana kau?!Berhenti!!"Teriakan Brian terdengar menggelegar di telinga Mayang.


Gadis itu menoleh dan malah mempercepat laju lari nya karena Brian tampak mengejarnya.Aksi kejar-keharan pun tak terelakkan.Mayang terlihat tergopoh.Saat berlari di jalan yang menanjak ia merasa kesulitan dan hampir terjatuh karena heels yang ia pakai.


Aaaah kenapa aku lupa mengganti alas kaki ku dengan yang lebih nyaman?Sudah tau kalau mau kabur.


Mayang berlari sambil melepas alas kaki nya satu persatu lalu menentengnya.Sekarang ia lebih leluasa berlari tanpa alas kaki itu.Ia kini sudah mencapai mobil Rendy yang masih setia menunggunya lalu menggedor pintu penumpang di mobil itu.


Saat pintu mobil sudah terbuka,Mayang menoleh ke arah Brian yang masih susah payah mengejarnya.Mayang tertawa terpingkal saat melihat Brian tampak terengah mengejarnya.


Ia melayang kan ciuman jarak hauh nya dan melambaikan tangan nya sambil berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil karena merasa bangga berhasil lolos dari laki-laki itu.Demi bakso dower apa si yang tidak.Lalu Mayang masuk dan mobil segera melesat sebelum Brian berhasil mencegah Mayang lagi.


Brian lalu kembali menuju mobil nya ingin segera mengejar mobil itu.Dengan Lamborgini nya pasti ia bisa menyusul mobil Rendi secepat kilat.Tapi sial.Saat sudah menyentuh handle pintu nya,pintu itu tak bisa di buka.


Sialan!Mana kunci mobil ku!


Brian lupa kalau meninggalkan kunci mobil nya di meja ruang tengah tadi.Kini Ia hanya bisa mengumpat kesal dengan tingkah kekanakan Mayang yang berhasil mengelabui nya sambil menyeka keringat yang mulai membasahi di pelipis nya. Sial!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2